
2018
Waktu berlalu sangat cepat.
Abang dan aku makin giat bekerja. Mamak juga makin lancar jual-belinya.
Setelah menabung selama 3 tahun, mamak merasa kalau kami sudah bisa memulai pembangunan rumah di tanah yang kebetulan dijual murah pada mamak 5 tahun yll, sebelum Bapak pergi.
Tetangga rumah lama kami, sangat ingin kami kembali ke sana dan membuat rumah disana. Mereka menjual sedikit sudut tanah mereka dengan harga murah pada mamak.
Kami pun mengirim surat ke Kampung Bapak. Ada Abang Bapak-Bapatua- yang masih hidup, yang harus kami kabari tentang rencana ini. Dalam adat Batak, yang menganut paham Patrilinial, sebab mamak sudah Janda, maka ada baiknya semua rencana baik disampaikan ke keluarga Bapak, agar tetap bisa dipantau perkembangan kami, anak-anak mereka.
Bapatua pun segera tiba, sehabis menerima surat dari Abang dan langsung membicarakan rencana pembangunan rumah kami. Bertanya berapa dana yang tersedia, bagaimana konsep rumahnya, berapa kamar, dan lain sebagainya.
Akhirnya Bapatua memutuskan, beliau sendiri langsung yang akan mengawasi pembangunan rumah tersebut.
Kami sangat senang. Walau Bapak sudah tiada, Bapatua masih memperhatikan kami.
__ADS_1
Sebulan penuh Bapatua di kota kami mengawasi pembangunan. Adek laki-laki ku mendampinginya mengawasi pembangunan dan tukang, sebab Aku dan Abang tetap harus bekerja begitu pula mamak musti pergi berjualan ke luar kota.
Waktu yang ditinggu-tunggupun tiba.
Rumah kami selesai dibangun "Tegak-Payung" dan kami segera pindah.
Sebelum pindah kami sempatkan berkunjung ke rumah Bapak Is yang mengijinkan kami menompang selama 5 tahun ini. Mereka juga bersyukur kami bisa pindah dan mandiri.
Terimakasih keluarga baik.
Suasana perpisahan juga terasa mengharu-biru saat pamitan pada tetangga kami Opa-nyong Ambon.
Kami berjanji meski sudah pindah, akan sering berkunjung, sebab Opa sudah seperti Bapak bagi kami. Opa hampir tak pernah marah, malah sering senyum dan tertawa tiap bercerita. Ah..kami sungguh amat beruntung selalu dikelilingi orang-orang baik.
Saat masuki Rumah Baru, kami berdoa sekeluarga di rumah. Makan ala kadarnya dan melepas Bapatua untuk pulang kembali ke kampung, Pulo Samosir na uli.
Bapatua juga berpesan padaku, agar jika ada rencana menikah, untuk datang berkunjung ke kampung sebelum pernikahan. Akupun mengangguk sebagai jawaban, dan meminta doa dari Bapatua untuk setiap rencana baik.
__ADS_1
"Hatiku sudah senang.. kalian sudah di rumah ini, selama Bapak kalian meninggal, aku tak bisa senang memikirkan kalian yang masih menompang di tanah orang lain itu. Jadi baik-baiklah kalian disini, damai-damai Abang-beradik, jangan buat banyak pikiran mamak, biar panjang umur mamak!" itulah kalimat Bapatua yang membuat kami semua terharu sampai meneteskan air matađ
Aku sangat bersyukur..
Meski sangat lelah sebab pindahan hari ini, tapi kami bisa tidur nyenyak malam ini.
Benar kata syair lagu itu...
"Lebih baik disini...
rumah kita sendiri...
segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa..
semuanya ada disini..
rumah kita...
__ADS_1
rumah kita.."
Untuk semua kebaikan Tuhan dalam hidup kami, aku hanya mampu mengucap syukurđ