For You -Oneshoot- (BOBOIBOY)

For You -Oneshoot- (BOBOIBOY)
(Alchemist potion) For You


__ADS_3

Tema : Comedy, slice of life


Request : @Fantasy World


πŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“šπŸ“š


Seorang remaja bertopi jingga dengan ciri khas seperti dinosaurus berjalan menelusuri setiap rumah, mencari tempat tujuannya yang sudah jauh-jauh kembali kesini. Tenang saja, dia tidak tersesat. Bahkan, dia sudah sangat mengingat daerah disini.


"Akhirnya, sampai juga di rumah atok" Dia menaruh tas beratnya dan mengetuk pintu, tidak lupa memberikan salam juga.


"Iya, tunggu sebentar" Bisa terdengar suara yang kerap ia rindukan dari dalam rumah.


Tak lama kemudian, sang kakek membuka pintu rumahnya. Pandangan pertama yang dilihat adalah cucu laki-laki kesayangannya, langsung saja sang kakek memeluk cucunya itu. Mereka memasuki rumah bersama, setelah saling menyalurkan rindu.


"Kenapa kamu tiba-tiba balik kesini, Boboiboy?" Tanya sang kakek, melihat ada beberapa tas yang dibawa cucunya.


"Kalau itu, coba tok Aba bicarakan dengan Solar dan yang lainnya" Boboiboy menggaruk rambutnya, bingung harus menjelaskan bagaimana ke kakeknya.


Setelahnya, Boboiboy pun berpecah menjadi tujuh. Membuat rumah kakeknya yang sepi menjadi ramai secara tiba-tiba, para elemental juga melepaskan rindu bersama tok Aba. Maklum, berarti cucu tok Aba ada tujuh kan?


"Nah Solar, atok mau tanya sebentar" Panggil tok Aba, karena melihat Solar sibuk sendiri membaca sebuah buku.


"Boleh, mau tanya apa tok?" Bukunya pun di tutup, mengalihkan fokusnya kepada tok Aba.


"Tadi, Boboiboy bilang untuk tanya ke kamu perihal pulang kesini. Memangnya, apa yang terjadi di tapops?"


'Mulutmu bocor juga ya, Boboiboy!' Batin Solar.


"Eum, itu tok-" Belum sempat Solar menjelaskan, tiba-tiba Thorn datang dengan wajah polos tanpa dosanya.


"Oh, Solar baru saja meledakkan setengah bagian bangunan tapops tok" Thorn tersenyum, seolah hal tersebut bukanlah apa-apa.


'Boi, kok sifatmu begini amat sih?' Batin Solar.


Cukup satu kata untuk mendeskripsikan apa yang Solar rasakan saat ini, merinding. Bagaimana tidak, tok Aba yang biasanya lembut dan tertawa menjadi diam seribu bahasa. Jangan lupakan siluet bayangan hitam disekeliling tok Aba, kalau Fang ada disini mungkin Solar akan menuduhnya.


"Kenapa kamu meledakkan bangunan tapops lagi, Solar?" Jangan tanyakan dimana Thorn, yang membocorkan informasi justru kabur entah kemana.


"Aku membuat ramuan penelitian, tok" Jawab Solar, dengan nada suara yang kecil karena gugup.


"Begitu? Ikut atok sekarang, Solar"


Keenam elemental lainnya langsung memandang ke arah Solar, mungkin mendoakannya agar tetap selamat dari jeweran kuping ayam kampung tok Aba. Padahal, awalnya Taufan dan Blaze sedang sibuk menonton acara televisi. Halilintar dan Gempa membahas buku yang sudah selesai mereka baca, sedangkan Ice mau tidak mau harus bersabar menghadapi celotehan Thorn.


"Maaf tok, Solar gak bakalan coba-coba bikin ramuan aneh lagi"


"Buka ruangan ini, Solar" Tak menghiraukan permintaan maaf Solar, tob Aba masih sibuk dengan ruangan didepannya.


"Ruangan apa ini, Tok?"


"Buka saja dulu, Solar"


Dengan keberanian yang sudah dikumpulkan sejak tadi, akhirnya Solar berani membuka ruangan yang diminta tok Aba. Walaupun, bisa saja tiba-tiba dia dimasukkan kesana dan dikunci sampai kering. Itulah alasan kenapa Solar menutup kedua matanya, saat membuka pintu ruangan tersebut.


"Buka ruangan kenapa malah menutup mata, Solar? Memangnya, ada yang bisa dilihat kalau mata tertutup?" Sindir Ice, mungkin efek berbicara bersama Thorn membuat setengah otaknya mendadak polos seketika.


'Sabar Solar, anak ganteng dan pintar banyak pahalanya' Batin Solar.


Ingatkan Solar untuk tidak bertengkar dengan salah satu elemental, karena Boboiboy lah yang pasti merasakan sakitnya. Dan lagi, sejak awal Boboiboy sudah membuat peraturan kalau dia adalah elemental paling bungsu. Jadi, tidak sopan kan kalau melawan kakak sendiri?


"Bagaimana dengan ruangan ini, Solar?" Lamunan Solar terbuyarkan, saat mendengar pertanyaan tok Aba.


"Eh, maaf Solar baru mau lihat tok"


Betapa terkejutnya Solar, ini bukanlah ruangan seram seperti yang ia bayangkan. Nyatanya, ruangan ini terlihat seperti sebuah lab penelitian yang unik. Solar mengedarkan pandangannya ke setiap sisi ruangan. Tok Aba yang melihatnya pun tersenyum senang, jarang melihat Solar mengekspresikan diri seperti ini.

__ADS_1


"Ruangan apa ini, tok?" Hilang sudah perasaan takut dan gugup Solar tadi, menguap entah kemana.


"Dulu, ini adalah ruangan penelitian atok. Kemudian, dipakai juga oleh ayahmu. Tapi, sudah lama tidak digunakan beberapa tahun belakangan" Terlihat wajah tok Aba yang sedang bernostalgia.


"Lalu, kenapa tok Aba menunjukkan ruangan ini ke Solar?"


"Karena, atok tahu kamu suka melakukan penelitian juga. Jadi, atok mau berikan ruangan ini ke kamu Solar"


Solar cukup terkejut dan kembali bertanya, "Atok yakin? Kalau, meledak nanti bagaimana tok?"


"Tenang saja, ruangan ini sudah dimodifikasi oleh ayahmu. Jadi, tahan dari berbagai ledakan dengan skala tertentu" Maklum, tok Aba memiliki anak dan cucu yang sama-sama superhero.


"Wah, ayah keren juga tok. Kirain, selama ini kerjaannya hanya manusia berprinsip berdikari"


"Eleh, berdikari konon. Dia saja masih belum bisa berdikari, banyak ceramahnya" Selamat tinggal Amato, salah sendiri malah mengganggu cucu-cucu kesayangan tok Aba.


'Wah, atok kita seram-seram halus ya' Batin ketujuh elemental.


"Sudah, intinya ruangan ini buatmu Solar. Sekarang, atok mau berangkat dulu"


Tok Aba berjalan memasuki kamarnya, setelah itu keluar sambil membawa tas yang cukup besar. Ketujuh elemental menunjukkan ekspresi kebingungan. Mereka baru saja sampai, kemana atoknya akan pergi? Dan lagi, dengan tas yang sebesar itu?


"Lho, atok mau kemana?" Sembari membawa barang-barang tok Aba, Gempa pun bertanya.


"Atok ada janji, mau berkumpul dengan teman-teman atok. Memangnya, kalian doang yang punya teman? Atok juga, dong!" Dengan tampang bangganya, sang kakek bergaya keren.


"Iya tok, hati-hati aja untuk atok dan teman-teman atok ya" Taufan tertawa kikuk, tidak heran kenapa ayah mereka luar biasa percaya diri.


"Terima kasih ruangannya, tok Aba" Ujar Solar dengan wajah senangnya.


"Sama-sama, yang rukun ya semuanya"


Beberapa menit kemudian, tok Aba dijemput oleh salah satu temannya. Tanggung jawab rumah seperti biasa diberikan kepada Gempa, sedangkan kebersihan rumah ditanggung oleh semuanya. Kerusuhan pun sudah di mulai, sejak tok Aba pergi bersama temannya.


Contohnya seperti, trio troublemaker yang sibuk menjahili Halilintar disaat sedang membaca buku dengan santai. Kemudian, Ice yang tertidur dengan nyenyak di sofa. Serta, Thorn sendiri sibuk mengurusi tanaman atok di halaman rumah. Kalau, ada yang bilang menjadi Gempa adalah anugrah. Maka, silahkan rasakan sendiri kenikmatan menjadi seorang Gempa.


"Mungkin, ada di ruangan yang baru diberikan tok Aba?" Jangankan melihat ke arah Gempa, melirikpun tidak dilakukan Halilintar.


"Oh iya, kak Hali ada benarnya juga"


"Aku bilang, berhenti menaruh bukuku di pinggir jalan raya sana!!" Wah, memang luar biasa ya amukan pengendali elemen kilat ini.


"Tangkap kami kalau, kak Hali bisa!" Sayangnya, ketiga anggota trio troublemaker itu malah semakin senang karena ditanggapi oleh kakak sulung mereka.


Niatnya Gempa ingin menghampiri Solar, namun saat melihat dibalik pintu sepertinya Solar sedang sangat serius terhadap penelitiannya. Jadi, Gempa mengurungkan niatnya dan ke dapur untuk memasak makanan. Sampai malam hari pun, keadaan rumah lebih ramai dari biasanya.


Keesokan harinya, para elemental diwajibkan untuk sekolah. Sebagai hukuman dari komander, karena sudah merusak sebagian markas. Akhirnya, mau tidak mau mereka harus menurut. Dan kurang lebih, mereka harus memenuhi hukuman mereka itu selama dua minggu sebelum kembali ke markas.


"Solar, ayo cepat sebelum telat!" Panggil Blaze, yang sudah semangat untuk bersekolah.


"Tunggu sebentar, aku lagi bawa ramuan" Jawab Solar, membuat keenam saudaranya yang lain saling memandang heran.


Karena penasaran Ice pun bertanya, "Ramuan? Untuk apa ke sekolah bawa ramuan?"


"Bukan untuk dibawa ke sekolah, kak Ice" Solar masih sambil membenarkan dasi sekolahnya.


"Lalu, untuk apa ramuannya Solar?" Kali ini, Gempa yang bertanya pada Solar.


"Tentu saja, ramuan pertama untuk kak Hali!"


"Untukku? Tidak mau" Tanpa basa basi, Halilintar langsung menolak ramuan yang disodorkan Solar.


"Ayolah kak Hali, aku sudah semalaman nih buatnya" Bujuk Solar, hingga akhirnya Halilintar luluh dan meminum ramuan itu.


Hari pertama adalah ramuan untuk Halilintar, awalnya Halilintar tidak merasakan efek apapun. Namun, tiba-tiba selama seharian ia terkena kesialan. Saat berangkat sekolah, Halilintar tercebur ke dalam got. Akhirnya, dia terlambat ke sekolah dan berakhir di hukum. Waktu istirahat, nampannya jatuh karena tersenggol oleh murid lainnya.

__ADS_1


"Biar kuberi paham satu hal Solar, jangan pernah beri ramuan bodoh itu lagi padaku" Dengan wajah kusutnya, Halilintar masuk ke dalam kamarnya.


"Wah, kenapa mood kak Hali bisa seburuk itu deh?" Terpampang jelas, wajah Taufan terlihat kagum dengan ramuan Solar.


"Setelah kesialan hari ini, saat pulang di dalam tas kak Hali ada dua kecoa" Merinding rasanya, setiap Thorn mengingat kejadian di kelas saat jam pulang tadi.


"Duh, ramuan uji coba pertama gagal"


Hari kedua adalah giliran Taufan yang harus mencoba ramuan Solar, sepertinya Solar belum kapok juga setelah dimarahi Halilintar. Tapi, akhirnya semuanya memutuskan untuk membantu uji coba ramuan Solar.


"Perasaanku gak enak nih, semoga hari ini semuanya lancar" Gumam Taufan, hanya takut kalau dirinya berakhir seperti Halilintar kemarin.


Sama seperti Halilintar, awalnya Taufan tidak merasakan apapun. Sampai tiba-tiba, perutnya terasa sakit. Waktu untuk sekolah hari ini pun, dihabiskan hanya untuk bolak balik ke toilet. Sebelum akhirnya, Taufan dilarikan ke rumah sakit karena kekurangan cairan dalam tubuh.


'Kapok deh, itu ramuan atau cairan pengaktif diare sih?!' Batin Taufan, yang sedang terbaring di rumah sakit.


"Lagi, ramuan uji coba kedua masih gagal" Solar mencoret beberapa tulisan di bukunya dan membuat ulang ramuan.


Hari ketiga, sudah waktunya untuk Gempa mencoba ramuan Solar. Bedanya, kali ini bukan kesialan atau diare yang menghampiri Gempa. Tapi, sesudah meminum ramuan Solar semalam. Pagi ini, Gempa terbangun dengan rambut sepanjang rapunzel.


"Ini sih, siapa juga yang mau memotong rambut sepanjang ini? Gimana caraku sekolah kalau begini?" Astaga, tolong ingatkan Gempa untuk selalu bersabar atas segala cobaan yang berasal dari kebodohan saudara-saudaranya.


"Maaf, kak Gem. Ya, ramuan uji coba ketiga masih gagal" Sebenarnya, kau merasa bersalah gak sih Solar?


Hari keempat, waktunya seorang hiperaktif seperti Blaze untuk mencoba ramuan Solar. Sejujurnya, Solar berharap banyak pada Blaze. Karena, Blaze memiliki semangat yang membara. Jadi, bisa saja ramuan uji cobanya kali ini berhasil.


Sayangnya, ekspetasi Solar terlalu tinggi untuk Blaze. Karena, sekarang mereka memiliki dua Ice di rumah. Bagaimana tidak, tiba-tiba Blaze yang ceria berubah menjadi dingin dan pendiam. Jika dilihat bersama, mereka benar-benar mirip. Kecuali, warna mata mereka yang menjadikan perbedaan.


"Blaze, tidak mau mencoba ramuan baruku lagi ya?"


"Ya" Lihat, sudah dibilang Blaze terkena virus Ice, bisa berbahaya nih bagi dunia.


Di hari kelima, Ice sejujurnya sangat enggan membantu uji coba ramuan Solar. Namun, mereka semua sepakat untuk berbagi penderitaan bersama. Alhasil, Ice tidak bisa mundur. Setelah meminum ramuan Solar, seharian di sekolah Ice tertawa tanpa henti seperti orang gila. Mau tidak mau, Ice pun dirujuk ke rumah sakit jiwa terdekat. Sungguh malang, mari kita doakan Ice tidak keluar dari sana.


'Aku gak gila, yang gila itu Solar dan otak ramuan bolongnya itu!' Batin Ice.


"Gak apa-apa, kak Ice. Semua ramuanku hanya bertahan satu hari, itu minimal sih. Kalau maksimal, mungkin bisa sekitar tiga hari" Begitulah, cerita kenapa Ice bisa tersasar ke rumah sakit jiwa hanya karena ramuan Solar.


Untungnya, di hari keenam. Hari dimana, Thorn yang menjadi uji coba untuk meminum ramuan Solar. Hasilnya, hanya ada keberuntungan yang berpihak pada Thorn. Saat menuju kesekolah, Thorn bertemu dengan temannya dan diantar orang tua temannya naik mobil. Waktu istirahat, Thorn dapat tambahan susu kambing perisa apel hijau secara gratis. Dan, perjalanan menuju ke rumah pun Thorn mendapatkan cookies gratis dari Yaya, nah kalau itu keberuntungan atau bukan?


"Akhirnya, ramuan uji cobaku yang ke 6 ini berhasil juga!" Seru Solar, berpura-pura mengelap air matanya yang kering.


"Sebenarnya, apa sih yang kau buat selama ini Solar?!" Seru keenamnya, ya mereka merasa cukup dipermainkan oleh Solar dan ramuan anehnya itu.


"Aku? Aku sedang buat ramuan keberuntungan, dijamin kalian akan merasa senang" Nada bicara Solar diubah, seolah-olah dia adalah kucing neko-neko ni.


Bukannya merasa senang, keenamnya malah merasa sangat kesal dengan Solar. Akhirnya, malam itu Solar langsung diserbu oleh keenam saudara elemental jadi-jadiannya. Mari kita doakan saja, semoga Solar tidak selamat. Eh jangan, nanti Supra dan Sori jadi absen ya. Yasudah deh, terpaksa kita doakan selamat.


THE END.


Ayok tebak-tebakan lagi, kira-kira kali ini aku mengetik berapa kata? πŸ€”


Behind the scenes


Solar : Jangan ditiru ya adiks-adiks, hanya untuk orang sesat seperti saya 😎


All (-) Solar : SESAT KOK BANGGA?!?! πŸ’’πŸ’’


Solar : Sesat tapi, tetap tampan dan berani πŸ˜€πŸ€


All (-) Solar : Boi, hapus satu elemental jadi cupu gak sih? πŸ™‚


Boboiboy : Sok atuh, aku ikhlas luar dalam :)


Maaf ya, kalau bagi kalian banyak yang kurang seru.. Tapi, mohon dukungannya untuk cerita kali ini ❀️ terima kasih~

__ADS_1


Oh iya, ayo ikutan juga request ceritanya bagi yang belum.. Bantu aku membuat ide cerita baru, yuk! πŸ˜‰


__ADS_2