
Tema : Mafia, Action, Brotherhood
Request : @Lily
WARNING β οΈ : Trigger, harsh words
ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ
Seorang pemuda dengan manik berwarna hijau muda terlihat sedang memesan makanan dikantin kampusnya, wajahnya terlihat tidak sabar untuk memakan makanan pesanannya tadi. Sampai tiba-tiba, ada tiga orang pemuda yang menghalangi jalannya dan berdiri didepan Thorn.
'Heum? Kayaknya, kakak kelas Thorn nih' Batin Thorn.
"Permisi kak, Thorn mau lewat" Dengan wajah tersenyum kaku, Thorn mencoba berbicara dengan sopan.
"Misi kik, Thirn miwi liwit" Ejek salah satu pemuda yang menghalangi Thorn, dibagian sebelah kiri.
"Haha, mahasiswa baru dikuliahan sekarang manja-manja amat" Sama seperti temannya, yang disebelah kanan juga ikut mengejek Thorn.
"Jangan begini kak, sebentar lagi Thorn harus masuk kelas. Jadi, Thorn mau makan dulu ya" Thorn berusaha berjalan melewati mereka, namun tasnya ditarik oleh pemimpin geng tersebut.
"Siapa yang bilang boleh lewat seenaknya?" Dari tatapan matanya, sepertinya kakak kelas ini tidak menyukai Thorn.
"Eum, karena Thorn mau makan?" Melihat Thorn sedikit tersenyum, ketiganya merasa kesal.
"Oh, segitu lapernya ya?" Wah, sepertinya Thorn akan terlibat masalah lagi hari ini.
Sang ketua kelompok tersebut pun mengambil nampan makanan Thorn, kemudian menuangkan seluruh makanan itu sampai membasahi dan mengotori semua pakaian serta tas milik Thorn. Melihat Thorn hanya terdiam, diapun menyuruh kedua anak buahnya untuk menarik Thorn ke suatu tempat.
Walaupun, diseret dengan kasar Thorn hanya terdiam. Sepertinya, mereka sudah sampai ditempat yang diinginkan sekelompok kakak kelas tak jelas tujuannya itu. Thorn dipaksa ikut masuk ke gedung tua yang cukup lusuh, pasti ini salah satu gedung tua yang pembangunannya diberhentikan ditengah-tengah proses.
"Kenapa Thorn dibawa kesini ya, kak?"
"Sifat yang begini, yang bikin kau kami bawa kesini b0d0h"
"Memangnya, salah Thorn dimana kak?" Sungguh, Thorn tidak sedang berpura-pura. Dia benar-benar tidak tahu letak kesalahannya, Thorn juga tidak mengenal siapa mereka.
"Yah, masih nanya dimana salahnya bos" Kedua pemuda terlihat memancing amarah sang ketua.
"Salahmu? Salahmu itu, menjadi mahasiswa menonjol di universitas ini. Padahal, tidak ada hal bagus sama sekali tentang dirimu" Sang ketua melirik malas ke arah Thorn, kenapa juga Thorn harus sepopuler itu?
"Tapi, Thorn hanya ingin belajar dengan damai kok disini"
Kenyataan yang dijawab oleh Thorn memang benar apa adanya, dia benar-benar hanya ingin belajar dan bersosialisasi secara normal. Seperti, teman-temannya yang lain. Thorn berharap, bisa tinggal dengan aman dan damai. Namun, sepertinya keinginannya harus musnah.
"Halah, palingan juga cuman tipe mahasiswa sok polos yang sebenarnya mau terkenal!"
"Tahan dia, bakalan kutunjukkan siapa pemimpin dikampus ini sebenarnya" Perintah sang ketua geng tersebut, kedua anak buahnya pun langsung menahan Thorn.
Satu tendangan tertuju ke perut Thorn, padahal Thorn belum makan apa-apa hari ini. Seakan belum puas, Thorn langsung dihujani oleh tonjokkan dan tamparan bertubi-tubi. Sampai-sampai, bibirnya robek.
"Ugh, jangan begini kak. Nanti, kakak-kakak menyesal" Pinta Thorn, namun tetap saja tidak ditanggapi oleh mereka.
"Menyesal? Ceh, banyak juga lagaknya. Kenapa? Anak orang kaya? Sama!" Selesai mengejek dan membalas ucapan Thorn, mereka kembali memukul Thorn.
Namun, ditengah-tengah kesenangan mereka menghajar Thorn. Tiba-tiba, ada yang mengetuk pintu ruangan gedung tua yang sedang mereka pakai. Entah mereka sadari atau tidak, namun Thorn tersenyum kecil.
"Masuk" Jawaban singkat dari Thorn, membuat ketiga kakak kelas menatapnya penuh kebingungan.
Pintu ruangan tersebut terbuka, menampilkan sekelompok orang. Bisa dihitung, sepertinya jumlah mereka sepuluh orang. Ketiga kakak kelas itu mundur perlahan, bisa mati mereka jika sepuluh melawan tiga orang. Sedangkan, ketua mereka saja adalah Fang si mata tajam. Namun, anehnya sepuluh orang tersebut menunduk dan meminta maaf.
"Maafkan keterlambatan kami, Godfather Thorn" Semuanya menunduk ketakutan, Thorn hanya tertawa kecil.
"Jangan begitu, memangnya aku sesering itu menghukum kalian?" Terlihat ramah, tapi yang sudah lama mengenal Thorn pasti bisa membaca maksud ekspresinya.
"Godfather? Thorn? Siapa kalian?!" Thorn suka suasana seperti ini, dimana seseorang menjadi lebih marah saat mengetahui kebenarannya.
Biasanya, manusia yang salah akan bersikap lebih marah saat disudutkan oleh sesuatu. Mengapa? Sudah jelas kan, untuk menutupi kesalahan mereka dan melindungi harga diri mereka yang tinggi. Tapi sebenarnya, mereka tidak lebih dari seorang pengecut. Jadi, lawan saja mereka dengan kepala dingin.
'Karena, orang berkepala panas akan bertindak tanpa pikir panjang dan itu sangat menguntungkan' Batin Thorn.
"Hei, bicara yang sopan pada ketua kami!" Teriak salah satu pengikut Thorn, namun Fang menahannya.
"Wah, Thorn merasa tersanjung nih karena dibela kalian~" Selesai sudah, kalau Thorn sudah berbicara dengan nada dan ekspresi seperti saat ini.
"Ketua kami tidak berkewajiban untuk menjawab pertanyaan kasar kalian, jadi tutup saja mulut kotor kalian" Ucap Fang, menatap tajam kearah ketiganya.
__ADS_1
"Eih, jangan kasar dan kejam begitu dong Fang~"
Salah satu pengikut Thorn membawakan jas miliknya, Thorn langsung memakai jas tersebut. Sungguh, sangat berbeda dari Thorn yang dikenal selama ini. Biasanya, orang-orang melihat Thorn sebagai anak periang, pemaaf, polos, dan murah senyum. Namun, disini Thorn terlihat kejam, pendendam, dan tegas. Sebenarnya, yang benar adalah sikap Thorn yang mana?
"Kalian pasti bertanya-tanya, aku yang sebenarnya seperti apa kan?" Tepat sasaran, ketiganya mendengarkan dengan serius.
"Aku yang sebenarnya adalah keduanya, tergantung situasi dan kondisi. Karena, aku tidak bodoh seperti kalian yang berbuat sesukanya" Mata hijau muda yang biasanya cerah itu, sekarang menajam dan menyala dengan aura kekejaman.
"Walaupun, lebih condong ke yang kejam sok polos" Gumam Fang, yang masih terdengar ditelinga Thorn.
"Terus saja, Fang. Kau mau latihan menembak denganku, Fang?" Tanya Thorn, dengan senyuman kesalnya.
"Saya belum pantas untuk menyaingi kemampuan anda, Godfather" Sejujurnya, Fang hanya menjawab sarkas sih.
'Untung saja, kau berbakat Fang' Batin Thorn.
Disaat itu juga, ketiga anggota geng tersebut sadar. Kalau, mereka sudah salah mengganggu orang. Mereka tidak benar-benar paham siapa Thorn sebenarnya, tapi yang pasti aura kepemimpinannya cukup kuat. Membuat siapa saja yang ada dihadapannya bisa merasakan ketakutan, jangan tertipu dengan sikap polosnya.
"Apa ada yang membawa makanan disini?"
"Saya membawa enam kotak susu dan sepuluh sandwich, Godfather" Pertanyaan dari Thorn adalah perintah, langsung saja salah satu anggota Thorn memberikannya.
Thorn berjalan perlahan mendekati ketiga kakak kelasnya, kemudian menyuruh anggota-anggotanya untuk menahan mereka. Ketakutan menyelimuti ketiganya, tidak ada lagi sosok kakak kelas dengan segala kesombongan mereka. Sekarang, mereka terlihat seperti tikus kecil.
"Tenang, Thorn gak akan melakukan hal yang sama seperti kakak-kakak tadi. Karena, Thorn benci membuang makanan. Tahu tidak, berapa banyak anak-anak yang kekurangan makan diluar sana?"
Setiap bungkus sandwich dibuka oleh Thorn, begitu juga dengan susu kotaknya. Lalu, Thorn memberikan kode agar ketiga kakak kelas dihadapannya ini membuka mulut. Namun, sepertinya mereka masih enggan untuk menurut pada Thorn.
"Wah, yang ini harus pakai cara kasar dong~" Thorn mengambil satu pistol dari tasnya, diarahkan pistol itu tepat diatas kepala mereka masing-masing.
"Kalau Thorn suruh makan, ya dimakan dong kak~" Mau tidak mau, ketiganya pun menuruti Thorn.
Masalahnya, mereka bertiga sudah makan dan merasa sangat kenyang hanya dengan satu sandwich. Sedangkan, masing-masing dari mereka harus memakan tiga sandwich dan meminum dua kotak susu. Thorn tidak senang melihat hal itu, dia membuka paksa mulut ketiganya. Memasukkan sandwich dan susu secara paksa, merekapun mengunyah sambil menahan muntah.
"Jangan pasang wajah begitu, banyak lho yang mau disuapin oleh Thorn~" Thorn memakan sisa satu sandwich, karena dia masih merasa lapar.
"Apa yang harus kami lakukan pada mereka, Godfather?" Karena Thorn itu aneh, jadi Fang harus memastikan terlebih dahulu.
"Apa ya, kira-kira hukuman apa yang cocok menurut kalian?"
'Ya, aku suka mereka yang seperti ini~' Batin Thorn.
"Godfather, waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Anda sudah terlambat untuk mengikuti mata pelajaran kuliah, hari ini juga anda memiliki rencana makan malam bersama kakak-kakak anda" Fang mengingatkan Thorn, mengenai semua jadwalnya.
Benar saja, untung saja Fang mengingatkan Thorn akan rencananya hari ini. Kalau, perihal kuliah tidak terlalu penting bagi Thorn. Karena, dia selalu bisa mengejar ketertinggalannya dalam pelajaran apapun. Yang dipikirkan olehnya adalah janji makan malam bersama kakak-kakaknya, apalagi rumahnya saat ini cukup jauh dari rumahnya yang dulu.
Dulu, Thorn memang tinggal bersama kakak-kakaknya. Namun, Thorn memutuskan untuk pindah saat akan kuliah. Ditambah lagi, orang tua mereka meninggal disaat Thorn akan lulus tingkat SMA. Karena itu juga, kakak-kakaknya tidak bisa melarang Thorn saat memutuskan untuk pindah.
"Gawat, aku belum mandi dan ganti baju. Kalau begitu, aku akan pinjam rumah dan kendaraanmu dulu. Ayo cepat, Fang!" Thorn menarik Fang dengan terburu-buru.
"Selalu begini, seenaknya saja" Untung saja, Fang sudah lama berteman dengan Thorn.
"Oh, benar juga Thorn lupa! Soal mereka bertiga, terserah mau kalian apakan. Yang pasti, jangan lupa dibereskan seperti biasa ya" Merasa belum puas, Thorn berjalan mendekat dan membisikkan sesuatu kepada ketiganya.
"Kan sudah Thorn bilang kak, nanti kalian pasti menyesal" Setelahnya, Thorn pergi menarik Fang sambil tertawa puas.
Mari kita tinggalkan para pengikut Thorn untuk bersenang-senang, entah apa yang akan terjadi pada ketiga kakak kelas yang kurang beruntung itu. Dengan seenaknya, Thorn meminjam kamar mandi dan pakaian Fang. Melihat kelakuan temannya, Fang hanya bisa menghela nafas dengan sabar.
"Hei, jangan bersikap begitu dengan sahabatmu dong Fang" Sambil sibuk mencari baju, Thorn mengocehi Fang.
"Pertama, kau seenaknya meminjam rumah dan bajuku. Kedua, kau bukan sahabatku" Jawab Fang, yang dibalas tawa oleh Thorn.
"Benar juga, kita hanya simbiosis mutualisme"
"Sudah, cepat pilih bajunya dan ku antar kerumah kakak-kakakmu" Diluar pekerjaan, Fang diperbolehkan Thorn untuk bersikap santai padanya.
"Kau dan kakak sulungku benar-benar mirip, Fang"
"Aku memang diminta Hali untuk mengawasimu, kalau kau lupa"
"Ya, kau memang mengawasiku dengan sangat~ baik~"
Selesai bersiap-siap, Thorn langsung menuju kerumahnya yang dulu. Jangan lupakan, Fang yang menjadi supir pribadi Thorn. Walaupun, mereka selalu berkata kalau hubungan mereka itu sekedar simbiosis mutualisme. Nyatanya, mereka sudah sedekat sahabat. Fang akan membantu Thorn disaat apapun juga, begitupun sebaliknya.
"Terima kasih sudah mengantarku, Fang. Kau yakin tidak mau ketemu kak Hali dulu?" Tanya Thorn, lewat jendela mobil Fang.
__ADS_1
"Tidak perlu, aku tidak mau menjadi tamengmu. Kalau, dikasih pertanyaan dadakan oleh kakak-kakakmu" Terakhir kali Fang ikut, yang ada malah Fang yang menutupi semua kelakuan Thorn.
"Sayang sekali, padahal kupikir kali ini aku hanya perlu tertawa lagi"
Sekeras apapun Thorn mencoba membujuk Fang untuk menjadi tamengnya, tidak mengubah keputusan Fang. Akhirnya, Thorn mengikhlaskan Fang untuk pulang. Walaupun, dia sudah berencana untuk menjadikan Fang boneka latihan tembaknya. Mohon diingat, Thorn itu salah satu tipe pendendam.
"Kapan kamu datang, Thorn?" Dengan senyuman khasnya, Gempa berjalan mendekati Thorn.
"Oh, kak Gem!!" Senyuman tulus menghiasi wajah Thorn, dia langsung memeluk kakak kesayangannya.
"Thorn juga baru sampai, kak Gem habis darimana?"
"Aku baru turun dari halte bus diujung jalan sana, Thorn" Lelah karena berdiri, Gempa pun mengajak Thorn untuk masuk kedalam.
Suasana dirumah lamanya ini masih sama, tidak banyak yang berubah. Thorn menyukai perasaan hangat ini, setiap kali dia pulang kerumah. Namun bedanya, kali ini mereka tidak disambut oleh kedua orang tua mereka. Itulah, yang membuat Thorn cukup enggan pulang kerumah. Namun, tetap saja Thorn tidak bisa menolak ajakan kakak-kakaknya.
"Apa ini? Adik bungsu kita terlihat semakin lucu, walaupun sudah kuliah!" Blaze memukul punggung Thorn dengan semangat, salam sambutan katanya.
"Kayaknya, yang paling bungsu itu aku deh" Celetuk Solar dengan wajah tidak terima, biasa namanya juga anak bungsu.
"Sama saja, kalian berdua lahir terakhirkan" Bagi Taufan, tetap saja Thorn yang akan dibelanya.
"Kak Gem, lihat bagaimana kelakuan kak Taufan dan kak Blaze padaku" Adu Solar, dia sengaja pergi kedapur hanya untuk mengadukan kedua kakaknya itu pada Gempa.
"Hoi, kenapa aku juga dibawa-bawa?!" Blaze tidak terima, dia kan hanya mengatakan fakta.
"Makanya, berhenti berbicara kak Blaze. Apa yang diucapkan kak Blaze itu, sepertinya terkutuk" Ice yang sedang tiduran disofa ikut memanasi Blaze, padahal Ice memang suka saja mempermainkan emosi Blaze.
"Kalian sepertinya kurang dimarahi, ya?" Mendengar ancaman dari sang kakak sulung, membuat mereka cepat-cepat menuju keruang makan.
Halilintar memperhatikan adik-adiknya satu persatu, sudah lama rasanya ia tidak merasakan suasana seperti ini. Apalagi, sekarang mereka semua sudah sibuk dengan kehidupan masing-masing. Seperti dirinya, yang sedang bekerja sambil kuliah. Sedangkan, Taufan dan Blaze memfokuskan diri untuk menjadi atlet. Gempa juga, kuliah sambil menjadi asisten dosen. Sisanya Ice, Thorn, dan Solar hanya memfokuskan diri pada kuliah mereka.
"Bagaimana lingkungan kuliahmu, Thorn?" Pertanyaan tiba-tiba Halilintar sukses membuat Thorn tersedak.
"Baik-baik saja, kak Hali" Jawab Thorn, sesudah minum.
"Tidak ada yang membuatmu kesusahan, kan? Kamu juga, tidak membuat masalah kan?" Halilintar itu cukup peka, dia bisa merasakan ada aura aneh pada Thorn.
"Tentu saja tidak, kak Hali!" Melihat senyuman polos Thorn, membuat semua kecurigaan Halilintar menguap hilang.
Merasa tidak ada lagi yang harus dicurigai dari Thorn, merekapun melanjutkan acara makan malam mereka dengan tenang. Jangan lupakan, suasana hangat dan tawa mereka bersama. Ditengah-tengah perkumpulan mereka, Thorn ijin sebentar untuk mengangkat panggilan teleponnya.
"Godfather, ketiganya tadi mencoba untuk kabur. Namun, untungnya tertangkap dan berhasil diamankan oleh kami. Bagaimana keputusan selanjutnya, Godfather?" Tanya salah satu pengikutnya dalam panggilan, Thorn terlihat berpikir sebentar.
"Habisi semuanya, jangan tinggalkan jejak sedikitpun" Sebuah senyum puas tergambarkan diwajah Thorn, dia sudah tahu kalau jadinya akan begini.
Mengerti apa maksud ketuanya, pengikutnya pun langsung mematikan sambungan telepon. Keenam saudara Thorn, yang mendengar percakapan telepon Thorn pun berjalan mendekati Thorn. Dengan ekspresi yang sulit dijelaskan, mereka memuji Thorn.
"Ish, sudah Thorn bilang tidak ada masalah" Thorn menggembungkan pipinya, kenapa tidak ada yang percaya?
"Kan, aku hanya ingin membantu jika ada yang sulit dibereskan" Halilintar menatap datar kearah Thorn.
"Jangan, lebih baik berikan saja ke aku dan kak Taufan!" Dengan semangat, Blaze dan Taufan menunjuk diri mereka.
"Mau aku yang habisi saja, Thorn?" Dibalik wajah malas Ice, terlihat mata yang semangat seperti menantikan sesuatu.
"Kak Thorn tahu kan, kalau masalah membereskan jejak aku ahlinya" Masih saja sombong, ya namanya juga Solar.
"Astaga, kalian ini mengajarkan yang tidak-tidak saja ke Thorn" Gempa menggelengkan kepalanya, yang lain menatap datar kearah Gempa.
"Kalau kau lupa Gem, kita menghabisi orang-orang yang mengganggu Thorn bersama ya" Celetuk Taufan, Gempa hanya tertawa kecil.
Ya, jangan kalian kira hanya Thorn yang memiliki rahasia. Nyatanya, keenam saudaranya yang lain pun sama. Mereka bertujuh adalah ketua dari masing-masing kelompok, dibalik sikap ramah dan senyuman mereka. Jadi, jangan heran darimana Thorn mendapatkan sikap kejamnya itu. Karena, saudaranya yang lain pun sama saja seperti Thorn. Intinya, mereka bertujuh mematikan.
THE END.
Ayok tebak-tebakan lagi, kira-kira kali ini aku mengetik berapa kata? π€
Bagi yang belum tahu, cerita ini up dari hari senin-jumat dan libur di hari sabtu minggu ya~
Gimana nih plot twistnya, oke gak nih? π€π Ada yang ketipu kalau, hanya Thorn yang kejam? π€
Maaf ya, kalau bagi kalian banyak yang kurang seru.. Tapi, mohon dukungannya untuk cerita kali ini β€οΈ terima kasih~
Oh iya, ayo ikutan juga request ceritanya bagi yang belum.. Bantu aku membuat ide cerita baru, yuk! π
__ADS_1