
Tema : Zombie Apocalypse
Request : @xxboyvers96
...π§π§π§π§π§π§π§π§π§π§π§π§π§π§π§π§π§π§...
Di sebuah rumah berukuran sedang, terlihat ada tujuh saudara yang sedang berkumpul bersama sambil menonton acara televisi dengan santainya. Berhubung hari ini juga sedang libur sekolah, jadi siapa yang akan melarang mereka?
"Eh iya, ayah dan ibu masih sibuk ya di luar kota?" Tanya si bungsu, bernama Solar.
"Mungkin, katanya sih bakalan pulang minggu depan" Sambil memakan snacknya, Taufan menjawab pertanyaan Solar.
"Ish, jorok banget sih ngomong sambil makan kak Taufan!" Melihat kelakuan kakaknya, bagaimana bisa Gempa tidak menegur?
"Biasa kak Gem itu, biasanya yang Thorn tau kak Taufan lebih jorok :3" Mendengar ucapan Thorn, langsung saja Taufan mendelik tajam.
"Mana ada, jangan kasih tau yang aneh-aneh Thorn!"
"Astaga, mau tidur aja susah amat" Ice mendudukkan dirinya, yang sebelumnya sedang tiduran.
"Makanya, jangan kebiasaan tidur dimana-mana" Ingatkan Blaze, bahwa bisa saja Ice mengusirnya dari kamar malam ini.
"Sudah-sudah, aku cuman bicara sekali. Kenapa jadi pada berantem?" Pada akhirnya, Gempa juga yang harus melerai mereka.
Berbeda dengan adik-adiknya yang semangat dalam hal perdebatan ataupun pertengkaran, Halilintar malah hanya duduk diam memainkan laptopnya sambil sesekali memperhatikan apa yang kali ini di ributkan lagi oleh mereka.
"Lagi bikin apa, kak Hali?" Solar mencoba mengintip laptop kakak sulungnya itu.
"Cuman, tugas makalah sekolah" Jawab Hali singkat.
"Waduh, tugas yang mana lagi kak Hali?" Dengan terburu-buru, Blaze melihat laptop Halilintar juga.
"Heum? Itu tugas makalah sejarah? Bukannya di kumpul minggu depan?" Tanya Ice.
"Biasa Ice, kamu tau kan kak Hali gak suka menunda tugas" Ucap Gempa, sambil membaca buku novelnya.
"Yah, Thorn juga jadi harus kerjain deh kalau begitu :(" Karena, biasanya Thorn tidak mau ketinggalan dari saudaranya.
"Duh, hari libur masih ada ngerjain tugas!" Ya, sepertinya Taufan sudah muak dengan tugas.
"Mendingan, kalian dengerin nih apa yang mau aku sampein. Di jamin, kalian gak bisa tidur saking mind blowingnya"
"Jangan aneh-aneh, Taufan" Halilintar tahu benar, pasti lagi-lagi Taufan itu mau meracuni pikiran adik-adiknya.
"Astaga, berburuk sangka itu dosa lho kak Hali"
"Coba bayangkan, gimana kalau tiba-tiba dunia ini zombie apocalypse??" Saat ini, Taufan memasang wajah seriusnya.
"Mana mungkin sih, kak Taufan" Solar yang menjunjung tinggi fakta pun menolak percaya.
"Mendengarnya saja bikin ngantuk, topiknya gak seru" Menguap, hanya itu yang Ice lakukan saat ini.
"Sebodoh-bodohnya aku, gak akan ketipu sama hal begitu kak Taufan" Mungkin Blaze tidak sadar, dia baru sama mengatai dirinya sendiri.
"Tapi, memangnya itu mungkin ya?" Thorn memiringkan kepalanya, khas setiap ia sedang berpikir.
"Jujur saja, aku sendiri tidak yakin Thorn" Dengan tertawa pelan, Gempa menjawab pertanyaan Thorn.
"Dih, kalian ini gak seru banget sih! Aku serius!" Taufan melipat kedua tangannya dan melirik ke arah Halilintar.
"Diam, aku lagi dengar berita ini" Sadar kalau Taufan menantikan responnya, Halilintar mencoba mengalihkan topik.
Sayangnya, mungkin melihat berita di kala siang itu adalah pilihan yang sedari awal sudah salah mereka perbuat. Karena berita baru saja mengumumkan bahwa, saat ini negara mereka sudah 80% terinfeksi virus zombie yang bocor.
"Gusti, kalau tadi karena mulut dan omonganku tolong tarik kembali" Baru saja, Taufan merutuki topik bodohnya itu.
Halilintar bingung bukan main, dia benar-benar masih kesulitan mencerna berita yang di lihatnya tadi. Namun, tiba-tiba bel di rumahnya berbunyi dan Thorn berlari kecil ke arah pintu untuk membuka pintu itu.
"Kurang ajar, Thorn jangan buka pintu itu!" Halilintar segera berlari secepat kilat, menutup kembali pintu yang hampir di buka oleh Thorn.
"Astaga, kamu gak apa-apa Thorn? Kak Hali gimana?" Dengan panik, Gempa langsung menghampiri kedua saudaranya.
"Aku gak apa-apa, kak Gem" Thorn menunduk, karena terkejut tadi.
__ADS_1
"Aku juga, Gem" Jawab Halilintar, sembari mengunci pintu rumahnya.
"Suara aneh, aku akan coba cek sedikit dari jendela" Blaze mengintip sedikit dari tirai jendelanya.
"Bagaimana keadaan di luar, kak Blaze?" Ice yang biasanya mengantuk pun, menjadi sangat aktif.
"Aish, ku pikir berita itu hanya bohongan!" Gumam Blaze.
"Kak Hali, kita harus bagaimana sekarang?" Solar bertanya pada Halilintar.
"Taufan, bantu aku kunci seluruh pintu di rumah ini" Dengan sigap, Halilintar membagi tugas pada adik-adiknya.
"Siap, kak Hali" Taufan berdiri dari posisinya dan menjalankan perintah Halilintar.
"Sementara yang lain, tutupi jendela dengan barang apapun. Kita harus buat pandangan mereka terhalangi"
"Baiklah, kak Hali!" Tanpa berisik, mereka menjalankan komando dari Halilintar.
"Solar, bantu aku melihat persediaan makanan di rumah ini"
"Oke, akan aku data semuanya dengan cepat kak Hali!"
Solar pun berlari ke dapur, walaupun mereka semua sebenarnya di landa kepanikan. Tapi, untungnya mereka bertujuh masih bisa berpikir realistis dan cepat di saat-saat genting seperti ini. Karena, panik tidak akan menyelesaikan masalah.
Halilintar sendiri dan yang lainnya sibuk mencari kardus-kardus untuk di gunting, kemudian di tempelkan ke jendela. Seperti kata Halilintar tadi, mereka mencoba menghalangi pandangan sekaligus pendengaran para zombie.
"Kak Hali, apa menurutmu ini akan berhasil?" Tanya Gempa.
"Aku sendiri tidak bisa menjamin apapun, Gem"
"Thorn takut, apa kita akan baik-baik saja kak Hali?" Melihat Thorn ketakutan, Halilintar mengelus rambutnya.
"Aku tidak tahu apapun tentang zombie, tapi aku akan menjaga kalian dengan aman"
Sesudah selesai menutup dan mengunci semuanya, mereka bertujuh pun dengan perlahan menuju sebuah kamar yang cukup luas. Karena, mereka harus mulai mendiskusikan rencana untuk keluar dari rumah ini dengan selamat.
"Bagaimana dengan sumber makanan, Solar?" Halilintar melihat ke arah Solar.
"Aman, kak Hali. Menurut data ku, kemungkinan makanan yang kita punya akan cukup untuk seminggu ke depan" Untungnya, Solar sangat pintar dalam membuat data.
"Seharusnya cukup, ada yang handphonenya memiliki sinyal?" Halilintar mengambil handphonenya dari saku celana.
Mendengar pertanyaan Halilintar, sontak mereka berenam langsung mengecek handphone masing-masing yang tentu saja nihil hasilnya. Karena, tidak mungkin di saat seperti ini mereka bisa mendapatkan sinyal dengan mudahnya.
"Eh, tiba-tiba aku dapat sedikit sinyal!" Ucap Ice dengan sedikit senang.
"Bagus, diam disitu Ice"
Halilintar berjalan mendekati Ice dan menelpon suatu nomor menggunakan handphone milik Ice, untungnya sinyal berpihak pada mereka. Sehingga, nomor yang di hubungi oleh Halilintar pun tersambung.
"Halo, apa benar ini tim perlindungan masyarakat negara?"
"Oh, ternyata kak Hali menghubungi badan tim perlindungan" Gempa menghela nafas lega, karena Halilintar ada untuk mereka.
"Benar, saya dan keenam adik saya terjebak di rumah. Karena, virus zombie yang tiba-tiba menyebar. Bisa tolong lacak kami dan kirimkan bantuan secepatnya? Karena, persediaan makanan kami hanya cukup untuk seminggu"
"Astaga, aku benar-benar berharap badan perlindungan bisa membantu" Sebenarnya, Taufan masih merutuki mulutnya tadi.
"Sama, Thorn juga gak mau terjebak disini selamanya" Dengan sedikit terisak, Thorn memikirkan kemungkinan terburuk.
"Baiklah, saya mengerti. Kalau begitu, tiga sampai lima hari lagi kami akan menunggu di atap rumah. Terima kasih"
Sambungan telepon akhirnya terputus, Halilintar mengembalikan handphone milik Ice. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk makan, tidak ada keributan seperti biasanya di antara mereka.
Karena, jujur saja mereka tidak ingin menarik perhatian para zombie di luaran sana. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana cara mereka bertahan hidup sampai bantuan datang. Kalian juga pasti akan melakukan hal yang sama, kan?
"Sekarang, ayo kita bicarakan perihal patroli saat tidur" Selesai makan, Halilintar kembali membagi tugas pada adik-adiknya.
"Maksudnya, bagaimana kak Hali?" Taufan mencoba memahami perkataan Halilintar.
"Saat tidur nanti, dua orang dari kita harus tetap bangun untuk patroli. Dan berganti-gantian, seterusnya juga begitu. Paham?"
"Paham, kak Hali" Semuanya mengangguk paham.
__ADS_1
"Jadi, siapa yang akan patroli pertama malam ini?" Tanya Thorn.
"Bagi jadi 3 ronde dari jam 9 malam sampai jam 6 pagi, semuanya masing-masing per tiga jam"
Akhirnya, mereka bertujuh pun memutuskan untuk menentukan urutan patroli dengan menggunakan undian. Hari menjelang malam, Blaze dan Solar yang terpilih untuk patroli pertama pun berjaga. Di lanjut oleh Taufan dan Ice, terakhir baru Gempa, Thorn, dan Halilintar.
Beberapa hari berlalu dan ini sudah hari kelima mereka mencoba bertahan hidup di rumah ini, setiap harinya mereka harus saling berpatroli dan berdiam diri tanpa bisa bercanda sebebas biasanya satu sama lain.
"Ayo, kita harus menunggu bantuan di atap sekarang" Ajak Halilintar, kepada adik-adiknya.
"Tapi, apa kita benar-benar akan di selamatkan kak Hali?" Lagi-lagi, Thorn dan ketakutannya.
"Dengarkan aku, pasti kita bertujuh akan selamat. Oke?"
"Oke, kak Hali" Tidak ada bantahan, keenam adiknya menurut.
Sesampainya di atap, mereka bertujuh melihat langit dengan tatapan yang sangat lega. Karena, ini pertama kalinya mereka keluar dari semenjak lima hari yang lalu. Tidak perlu kata-kata, dari wajah saja mereka terlihat sangat bersyukur.
"Aneh ya, langit tetap terlihat cerah. Walaupun, dunia sedang kacau" Solar menghela nafas, bertanya-tanya bagaimana bisa semua jadi begini.
"Tenang saja, kita semua pasti selamat Solar" Melihat Solar gelisah, Gempa pun menepuk pelan bahu Solar.
Mereka bertujuh menguatkan satu sama lain, sungguh tidak ada yang lebih indah di bandingkan hubungan erat persaudaraan. Kemudian, dari jauh mereka pun melihat sebuah helikopter yang cukup besar datang ke arah mereka.
"Lihat, kita semua selamat" Halilintar tersenyum lega, akhirnya sekarang ia dan adik-adiknya bisa lebih tenang.
Namun, sepertinya takdir senang mengganti alur kehidupan seseorang. Karena sebelum Halilintar membantu adik-adiknya untuk naik bersama ke dalam helikopter. Tiba-tiba, pintu bagian atap rumah mereka tumbang karena ulah para zombie.
"Gawat, cepat pegang tanganku!!" Teriak Halilintar.
"Gak bisa, nanti malah kak Hali yang jatuh ke bawah" Taufan menolak.
"Lupakan tentang itu, setidaknya kalian selamat!"
"Kak Hali, makasih ya sudah menjadi kakak yang baik" Gempa tersenyum, tapi anehnya Halilintar membenci senyuman itu.
"Kita bisa bertahan sejauh ini, semua karena kak Hali" Baru kali ini, Halilintar melihat Taufan terkekeh lagi.
"Sehat-sehat ya, kak Hali. Kami sayang kak Hali, selamanya!" Aneh, ini pertama kalinya Halilintar melihat Blaze dan Ice bisa akur.
"Thorn dan Solar juga, pokoknya gak akan pernah lupain kak Hali selamanya" Bukan Thorn yang berbicara, namun Solar karena Thorn sedang menangis.
"Tidak, tidak.. Jangan.. Adik-adikku.."
"Selamat tinggal, kak Hali!" Ucap keenam adiknya, dengan senyuman yang harus Halilintar akui sangat menyakitkan.
"JANGANNNNN!!!! ADIK-ADIKKU MASIH DI SANA!!!" Tangisan Halilintar pecah, bersamaan dengan itu kesadarannya pun menghilang.
"Kak? Kak Hali!!"
"H.. Huh?? Apa aku bermimpi?" Halilintar menengok ke kanan dan kirinya.
"Kak Hali bicara apa sih? Kan, tadi kak Hali sendiri yang melamun sewaktu bikin makalah sejarah" Taufan menggelengkan kepalanya heran.
"Syukurlah, semuanya gak nyata" Halilintar menghela nafas.
"Eh, berita apa tuh Gem?" Tanya Taufan.
"Entahlah kak Taufan, katanya sih virus zombie bocor dari lab" Jawab Gempa, yang sedang membaca berita.
"Berita yang sama???" Halilintar melihat berita tersebut.
Dan benar saja tebakan Halilintar, sehabis berita itu sekarang terdengar suara-suara aneh di depan pintu rumah mereka. Halilintar tertawa sarkas, apa takdir benar-benar suka bercanda terhadap alur kehidupan setiap orang?
"Biar Thorn aja, yang buka pintunya" Thorn beranjak menuju ke arah pintu.
"Kurang ajar.." Gumam Halilintar.
THE END.
Merinding aku ngetiknya, cerita zombie pertamaku nih.. Gimana menurut kalian? Menegangkan gak?? π§ Oh iya, paham kan ending ceritanya? Kalau gak paham, akan aku jawab pertanyaan kalian di komen ππ
Kelihatannya dikit, kan? Percaya lah, ini udah 1.800 kata aslinya T_T tanganku menangis..
__ADS_1
Oh iya, ayo ikutan juga request ceritanya bagi yang belum.. Bantu aku membuat ide cerita baru, yuk! π