For You -Oneshoot- (BOBOIBOY)

For You -Oneshoot- (BOBOIBOY)
(6 Princes & 1 King) For You


__ADS_3

Tema : Historical, Another world, Brotherhood


Request : @xxboyvers96


🏰🏰🏰🏰🏰🏰🏰🏰🏰🏰🏰🏰🏰🏰🏰🏰🏰🏰


Seorang remaja yang masih terlelap diusik secara paksa oleh terangnya sinar matahari, tak lama kemudian alarm yang dipasangnya pun berbunyi. Kelopak matanya terbuka perlahan, menampilkan sepasang mata berwarna merah ruby yang sangat unik sekaligus indah.


"Semoga hari ini semuanya menyenangkan, aku harus mandi" Halilintar berdiri untuk mengambil handuknya dan memulai ritual mandi paginya.


Langit terlihat sangat cerah hari ini, bisa terlihat dari warna biru cantiknya. Jangan lupakan, awan putih nan halus yang menyempurnakan kehadiran matahari. Halilintar tersenyum tipis, pasti kali ini dia akan mendapatkan hari keberuntungannya. Sesuai dengan, keinginan logikanya.


Belum ada lima menit, semenjak Halilintar berharap akan nasib baiknya hari ini. Tiba-tiba, ketiga adiknya yang luar biasa berisik memasuki kamarnya tanpa permisi. Dengan nafas terengah-engah, selayaknya baru saja dikejar oleh hantu.


"Masuk kamar seenaknya, kayak gak pernah diajarin sopan santun" Cibir Halilintar, dia kembali merapikan tempat tidurnya sambil mengoceh.


"Pagi-pagi gak boleh mengeluh, kak Hali" Taufan mengingatkan, bukankah sebagai saudara harus saling mengingatkan?


"Betul tuh, nanti rejekinya dipatok ayam katanya" Ketiganya langsung menatap Thorn dengan tatapan datar.


"Dipatok ayam itu kalau bangunnya siang, Thorn" Sungguh Blaze heran, apa kapasitas otak mereka berbeda sampai dia bisa mendapatkan adik sepolos ini?


"Hehe, salah rupanya" Lupakan kebodohan Thorn tadi, yang penting dia lucu.


"Jadi, kenapa kalian mengganggu waktu santaiku pagi ini?" Halilintar menekankan setiap ucapannya, terlihat jelas tidak suka diusik oleh ketiga adiknya.


"Woah, santai sedikit dong kak Hali" Taufan membuka handphonenya dan mencari sesuatu.


Merasa penasaran, Halilintar pun ikut melihat kearah handphone Taufan. Dia sedang memikirkan alasan adiknya itu membuka sebuah aplikasi ********, padahal jelas-jelas Halilintar hanya suka kisah berdasarkan kenyataan atau fakta. Tidak pernah membaca cerita fiksi sekalipun, ya hidup Halilintar memang membosankan.


"Ada apa sih ribut-ribut tadi, kak Taufan?" Gempa yang sedang memasak akhirnya mengecek, takut jika tiba-tiba kedua kakaknya itu bertengkar lagi.


"Aku gak ikutan ya, kak Gem" Dasar Blaze, selalu mencari aman sendiri kalau sudah melihat Gempa.


"Iya, kita cuman diajak sama kak Taufan" Kalau, Thorn tidak mungkin dimarahi Gempa.


"Perasaan aku belum bilang apa-apa kok, kenapa kayak bakalan aku hajar?" Walaupun Gempa terlihat bingung, tapi mereka melihat kalau Gempa sudah bersiap-siap membawa panci kesayangannya.


"Oh, kebetulan kamu ada disini Gem!" Bukan Taufan namanya, jika takut dengan aura kematian.


"Aku juga ada disini, please" Sambil berbicara, sambil menguap itulah Ice.


"Karena berisik, aku jadi tidak bisa meneliti dengan serius" Solar melepaskan kacamatanya, setidaknya auranya tidak seburuk Halilintar dan juga Gempa.


Keringat dingin bercucuran dipelipis Taufan, baru sekarang dia menyadari tindakannya dan merasa takut akan kematian. Ternyata, dia sudah mengganggu semua saudaranya. Jika dia tidak memberikan hal yang bagus, benar-benar bisa jadi hari terakhirnya kali ini. Diserbu oleh enam orang sekaligus, siapa yang bisa selamat?


"Mumpung sudah berkumpul, ayo duduk dulu semuanya" Basa basi adalah senjata andalan Taufan, dikala sedang terpojok.


"Memangnya ini kamarmu? Jangan jadikan kamarku sebagai tempat berkumpul aneh, Taufan"


"Ayolah, kak Hali. Masa iya, kak Hali mau melihat adik kesayangannya ini mati muda?"


"Boleh, tapi aku yang jadi pelakunya" Ingatkan Taufan untuk menutup mulutnya, memang mulut merupakan sumber perkara terbesar.


"Nah, ini dia yang mau aku perlihatkan ke kalian semua" Mata Taufan berbinar-binar, sementara yang lainnya menatap datar.


"Apa? Hanya sebuah web novel kerajaan?" Ayolah, sepertinya ramuan Solar jauh lebih berharga.


"Makanya, aku mau menceritakan sinopsisnya dulu ke kalian. Pokoknya, cerita ini jauh lebih rumit dan bagus dari yang kalian kira. Awas ya, kalau nanti kalian malah suka!"


Taufan memulai ceritanya, akhir-akhir ini web novel maupun komik kerajaan memang sedang naik daun. Karena, banyak kalangan tanpa batasan usia yang bisa membacanya. Dan, cerita yang Taufan tunjukkan adalah cerita baru. Web novel yang baru saja rilis dan langsung mencapai puncak tren nomor satu.


"Bagaimana? Bukannya web novel ini sangat menarik?" Taufan melihat saudara-saudaranya secara bergantian, menantikan reaksi mereka.


"Apa tadi judul web novelnya?" Tanya Solar, tidak bisa dipungkiri ia cukup tertarik.


"Judulnya '6 Princes & 1 King', web novel online!" Seru Taufan.


Tiba-tiba saja, keluar sebuah cahaya terang dari handphone Taufan. Saking terangnya, mereka bertujuh langsung menutup kedua mata. Pertama kali yang Halilintar lihat adalah ruangan kamar seluas taman, tapi Halilintar tidak panik seperti orang-orang pada umumnya.


'Bagaimana bisa aku sampai disini?' Batin Halilintar.


Halilintar mengedarkan pandangannya keliling ruangan, kemudian mencoba memikirkan serta membuat kesimpulan apa yang terjadi padanya. Bahkan, dia saja tidak tahu apa yang terjadi dan dimana adik-adiknya sekarang.

__ADS_1


"Jangan-jangan, aku masuk kedunia web novel yang diceritakan Taufan tadi?!" Gumam Halilintar, kemudian menggelengkan kepalanya.


'Pasti, aku terlalu banyak memikirkan hal aneh akhir-akhir ini' Batin Halilintar.


Lamunan Halilintar terhenti, karena ada seseorang yang mengetuk pintu kamar. Halilintar pun mengatur ekspresinya dan membiarkan mereka masuk, bisa ia lihat ada beberapa orang dengan pakaian seperti pelayan. Dan, satu laki-laki yang terlihat seperti pengatur mereka.


"Maaf mengganggu tidur anda, pangeran Harvert Lin Linskar" Laki-laki berpakaian jas tersebut menunduk, Halilintar hanya berdeham menjawabnya.


'Pangeran? Aku?' Batin Halilintar.


"Jadi, ada apa?" Untung saja, Halilintar bisa menyesuaikan pembicaraan formal disini.


"Baginda raja meminta seluruh pangeran untuk hadir dan makan bersama"


"Baiklah, bantu aku bersiap-siap"


Walaupun pertama kali Halilintar berada dalam situasi seperti ini, namun dia bisa dengan baik beradaptasi secara cepat. Halilintar itu pintar, bahkan bisa dibilang kalau kemampuan logikanya luar biasa.


Selesai dibantu bersiap-siap, Halilintar berjalan sambil dijaga oleh beberapa pengawal dan diikuti beberapa pelayannya juga. Jujur saja, sebenarnya dia merasa risih. Tapi, saat ini dia adalah seorang pangeran. Jadi, tidak heran kalau dijaga seketat ini. Akhirnya, dia pun sampai didepan pintu ruang makan.


"Pangeran pertama, pangeran Harvert Lin Linskar memasuki ruangan!" Biar Halilintar tebak, orang itu pasti penyampai pesan.


Pintu ruangan makan terbuka, kemegahan mendominasi suasana ruangan tersebut. Dapat disimpulkan, pasti kerajaan ini sangatlah makmur. Halilintar berjalan ke salah satu bangku yang ada, lebih tepatnya di dekat sang raja. Entahlah, tapi Halilintar tidak menyukai aura disekitar raja.


"Sepertinya, salah satu penerusku melupakan salam bukti tanda hormat" Sindir sang raja, Halilintar paham benar bahwa itu ditujukan padanya.


"Salam hormat, yang mulia ayahanda" Tunggu, apa salam yang diberikan Halilintar benar?


"Duduklah" Hanya jawaban singkat yang Halilintar dapatkan, tandanya tidak ada yang salah dengan salamnya.


Kecanggungan saat ini membuat Halilintar ingin marah, lagipula untuk apa dia tiba-tiba berada didunia aneh ini. Lebih baik, dari awal dia mengusir Taufan dari kamarnya. Tapi, sejujurnya dia cukup kepikiran akan keberadaan adik-adiknya saat ini. Tentu saja, tidak ada kakak yang akan membiarkan adiknya.


Ditambah lagi, Halilintar sebenarnya lapar karena belum sarapan. Tapi, dia harus menunggu beberapa pangeran bodoh lainnya, yang entah mengapa lama sekali datang kesini. Lima menit kemudian, Halilintar mendengar suara berisik dari luar pintu. Halilintar menghela nafas, akhirnya datang juga mereka.


"Pangeran kedua, pangeran Taurens Fandorqn memasuki ruangan!" Halilintar sedikit tersentak, namanya terdengar mirip dengan Taufan.


"Salam hormat, yang mulia ayahanda"


'Lho, kak Hali?!?!' Batin Taufan.


"Pangeran ketiga, pangeran Gemstone Parma memasuki ruangan!"


"Kak Hali dan kak Taufan?" Gumam Gempa, setelah bertatapan dengan kedua kakaknya itu.


"Pangeran keempat dan kelima, pangeran Blakex Zeros dan pangeran Ictern Acevedo memasuki ruangan!"


"Pangeran keenam dan pangeran ketujuh, pangeran Thovare Rnowern dan pangeran Solity Larkendsor memasiki ruangan!"


Lengkap sudah, padahal Halilintar sudah pusing tujuh keliling memikirkan nasib adik-adiknya. Ternyata, mereka bertujuh malah masuk kedunia ini secara bersamaan. Sekarang, bagaimana mereka bisa bebas kalau semuanya tertahan disini?


Selesai makan bersama sang raja, mereka bertujuh memutuskan untuk bertemu secara diam-diam. Karena, sang raja dan para pelayan terlihat tidak senang. Saat melihat mereka mencoba berbicara bersama, tandanya ada hal yang harus mereka selidiki. Seperti, bagaimana hubungan para pangeran satu sama lain.


"Bagaimana ini, tamatlah kita kalau selamanya tertahan di dunia aneh" Keluh Taufan, mereka sedang berkumpul di salah satu ruangan rahasia.


"Bagaimana apanya, kan semuanya terjadi gara-gara kau Taufan!" Kalau saja, Taufan tidak menganggu Halilintar tadi pagi.


"Kak Hali, jangan cuman salahin kak Taufan doang dong!" Blaze tidak terima, tentu saja Blaze akan lebih membela Taufan.


"Ya, setidaknya tempat tidur disini empuk" Celetuk Ice, terlihat tidak peduli terhadap pertengkaran kakaknya.


"Iya, Thorn juga suka makanannya enak-enak!" Satu dikali satu, sama saja Thorn dengan Ice.


"Kak Ice, kak Thorn tolong lebih serius dikit dong" Solar menghela nafas, sebenarnya siapa yang kakak dan siapa yang adik sih?


"Kalian tidak mau mencari solusi? Mau bertengkar saja nih?" Wah, sepertinya mereka melupakan keberadaan Gempa dan aura mematikannya.


Pertengkaran selesai, lebih tepatnya tidak jadi terjadi. Karena, Gempa sudah lebih dulu mengamcam semuanya agar berhenti menyalahkan satu sama lain. Akhirnya, mereka bertujuh pun mencoba memikirkan rencana untuk bertahan hidup.


"Bagaimana alur cerita web novel yang kau baca, Taufan?"


"Yang aku ingat, ceritanya berfokus pada cara setiap pangeran untuk naik takhta. Lalu, pemeran utamanya adalah pangeran pertama. Soalnya, ceritanya memang belum tamat" Jelas Taufan, setelahnya Halilintar memikirkan sesuatu.


"Karena, tokoh utamanya adalah pangeran utama. Menurutku, hanya akan ada dua cara. Pertama, pangeran pertama membunuh keenam pangeran lainnya. Atau, keenam pangeran membunuh si pangeran pertama" Masuk akal, inilah kenapa Halilintar bisa dipanggil jenius.

__ADS_1


"Tapi, kita tidak mungkin membunuh kak Hali!" Seru keenamnya.


"Sama, aku juga tidak mungkin membunuh kalian"


"Jadi, apa yang harus kita lakukan kak Hali?" Kali ini, Solar membuka suaranya.


"Mendekatlah, aku akan jelaskan rencana ini. Tapi kalau gagal, tidak ada jaminan lainnya"


Cara yang di berikan oleh Halilintar adalah mereka masing-masing harus mengumpulkan sponsor dari para bangsawan lainnya, sekaligus berpura-pura akan menjatuhkan satu sama lain. Diluar dugaan, para bangsawan sepertinya menyukai pertengkaran mereka.


Sehingga, banyak dari mereka yang berlomba-lomba untuk menjadi sponsor para pangeran. Karena, jika salah memilih maka kepala mereka juga akan dipenggal. Dengan alasan, mereka melakukan pemberontakan karena mendukung pangeran secara sepihak. Tapi tidak apa-apa, karena hal ini juga membawa keuntungan bagi ketujuh elemental bersaudara.


"Bagus, semakin banyak sponsor. Maka, semakin banyak yang akan terperangkap" Gumam Halilintar, terkadang adik-adiknya merinding melihat sang kakak sulung.


"Tapi, kak Hali yakin rencana ini akan berhasil?" Jujur saja, Blaze juga bisa merasa khawatir apalagi jika taruhannya nyawa.


"Mari kita lihat saja setiap kemajuan yang ada, Blaze"


Sudah dua bulan mereka bertujuh terjebak didunia kerajaan web novel ini. Dan, dalam dua bulan tersebut mereka berhasil mendapatkan sponsor yang sesuai dengan kriteria masing-masing. Sekarang, mereka tinggal menunggu seminggu lagi. Sebelum, acara penyerahan takhta berlangsung.


"Kalian mengerti kan Ice, Thorn, dan Solar?" Halilintar memastikan untuk terakhir kalinya, habis sudah jika rencana mereka gagal padahal sudah sejauh ini.


"Mengerti, serahkan saja pada kami kak Hali!" Seru ketiganya, Halilintar mengelus rambut ketiga adiknya.


"Apa kalian sudah siap Taufan, Gempa, dan Blaze?" Mata Halilintar memancarkan semangat, namun juga kehangatan disaat yang bersamaan.


"Siap, kak Hali!" Siapapun pasti akan merasa nyaman dan yakin, jika Halilintar orangnga.


Hari penyerahan takhta datang juga, seluruh bangsawan dan rakyat sudah berkumpul menjadi satu. Walaupun, tetap terlihat perbedaan layanan antara kasta yang berbeda. Sang raja menunggu ketujuh pangeran, yang akan menjadi penerusnya.


"Kami menghadap baginda, yang mulia ayahanda" Ketujuh pangeran memberi salam dari posisi masing-masing.


"Mari kita mulai, pertandingan pedang penerus kerajaan" Titah sang raja, namun Halilintar menghentikannya.


"Tunggu sebentar, yang mulia ayahanda"


"Pangeran pertama? Dimana sopan santunmu?"


"Jikalau boleh ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan kepada rakyat, yang mulia ayahanda"


"Silahkan" Walaupun terlihat kesal, untungnya sang raja tetap memberikan kesempatan pada Halilintar.


"Kepada para rakyat kerajaan Jedinstvo, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan. Kami para pangeran, memutuskan untuk tidak melanjutkan tradisi pertandingan pedang penerus kerajaan"


Seluruh bangsawan maupun rakyat yang ada disana terkejut, karena baru kali ini ada yang menentang tradisi didepan sang raja. Halilintar melirik kearah sang raja, anehnya dia hanya terdiam dan menatap tajam kearah Halilintar.


"Pangeran kelima Ictern Acevedo, pangeran keenam Thovare Rnowern, dan pangeran ketujuh Solity Larkendsor. Memutuskan untuk mundur dari posisi penerus takhta dan ingin menyerahkan diri mereka sepenuhnya terhadap kuil, begitu juga dengan ketiga pangeran tertua. Pangeran kedua Taurens Fandorqn, pangeran ketiga Gemstone Parma, dan pangeran keempat Blakex Zeros memutuskan untuk menerima gelar Granduke dan mundur dari persaingan takhta" Semakin Halilintar berbicara, maka semakin banyak bisikan dari seluruhnya.


"Dan saya, pangeran pertama Harvert Lin Linskar. Bersedia menerima seluruh kewajiban sebagai penerus kerjaan Jedinstvo" Halilintar berlutut didepan sang raja.


Sang raja hanya terdiam, melihat apa yang dilakukan oleh para pengeran. Bisa ia lihat, keenam pangeran lainnya bersiap mengeluarkan pedang. Jika, dia berani menyakiti pangeran pertama. Sang raja pun berdiri, meminta Halilintar berdiri disebelahnya.


"Hari ini, saya menyatakan bahwa tradisi pertandingan pedang penerus kerajaan dihapuskan. Dan, pangeran pertama Harvert Lin Linskar akan menjadi satu-satunya penerus kerajaan Jedinstvo" Berbeda dari perkiraan Halilintar, ternyata sang raja hanya keras diluar pada anak-anaknya.


'Nyatanya, dia raja sekaligus ayah yang baik' Batin Halilintar.


"Kami menyambut putra mahkota, Harvert Lin Linskar" Tidak ada yang membantah ucapan raja, semuanya memberikan salam hormat kepada Halilintar.


Melihat pemandangan yang ada didepannya saat ini, membangunkan rasa tanggung jawab dalam diri Halilintar. Membuatnya cukup terharu dan juga sedikit berpikir, sambil melihat ke arah senyuman adik-adiknya. Mungkin saja, memulai kehidupan didunia ini tidak sepenuhnya buruk?


THE END.


Ayok tebak-tebakan lagi, kira-kira kali ini aku mengetik berapa kata? πŸ€”


Aku minta maaf lagi, karena hari ini updatenya juga terlambat πŸ™πŸ˜₯


Karena, aku masih kurang sehat dan sejujurnya tema kerajaan itu susahhhhhhh bangettttt alurnya T_T


Tapi gapapa, aku suka mempelajari tema baru πŸ‘πŸ˜‰


Maaf ya, kalau bagi kalian banyak yang kurang seru.. Tapi, mohon dukungannya untuk cerita kali ini ❀️ terima kasih~


Oh iya, ayo ikutan juga request ceritanya bagi yang belum.. Bantu aku membuat ide cerita baru, yuk! πŸ˜‰

__ADS_1


__ADS_2