
Tema : Brotherhood, Psychology
Request : β
WARNING β οΈ : Trigger
ππππππππππππππππππ
Katanya kalau tidak kenal, maka jadinya tidak sayang. Jadi, perkenalkan namaku Taufan Aditya Heyran. Bukan heran ya, tapi H-e-y-r-a-n. Soalnya, teman-teman laknatku suka mengubah namaku menjadi Taufan Heran.
Orang-orang di sekelilingiku selalu bilang, kalau aku ini anak yang bersemangat dan ramah senyum. Dengan kata lain, siapapun orangnya pasti aku ajak berteman. Memang, tidak bagus kan jika kita hanya menambah musuh?
"Hoi, Tauran!!" Panggil seorang pemuda berambut ungu dari kejauhan.
"Astaga Gusti, kurang sabar apalagi hamba" Taufan menghela nafas, karena teman laknatnya yang bernama Fang ini.
"Kurang ajar, di panggil malah makin cepat jalannya" Protes Fang, saat menahan Taufan yang berniat kabur.
"Kau lihat sendiri lah landak, kita di liatin satu kampus. Cuman, gara-gara nama aneh baru buatanmu lagi" Tidak terima di protes oleh Fang, akhirnya Taufan membela diri.
"Wow, santai dong. Namaku aja kau ganti seenaknya, malah jadi binatang landak"
"Memangnya salah? Rambutmu memang tajam, Fang"
"Aku juga benar kalau begitu, Tauran"
"Apalagi arti nama baru buatanmu itu, serasa kampus kita benar-benar bakal tawuran" Taufan berdecak, dia tidak mau berurusan dengan dosen sadis.
"Tauran, TAUfan heRAN. Disingkat, jadilah Tauran. Bagus, kan?" Tanya Fang, dengan akhlak minimnya.
"Nama belakangku Heyran, Fang. Biar ku perjelas, H-e-y-r-a-n" Ucap Taufan, sambil menekankan setiap nada kalimatnya.
"Ah, menurutku pokoknya lebih keren Tauran!" Malas mendengar ocehan Taufan, Fang tersenyum tanpa dosa.
"Terserah deh, aku mau masuk mata kuliah dosen killer dulu"
Taufan membenarkan tasnya yang sempat di tarik oleh Fang, karena tadi dia berencana untuk kabur saat di panggil. Namun, sweater yang di pakainya lebih dulu tertarik oleh sang rambut landak. Jadi, Taufan hanya bisa berpasrah campur emosi tadi.
"Duh, setia kawan sedikit dong Fan" Taufan tahu, Fang ada maunya jika memanggilnya dengan waras.
"Jangan ajak-ajak aku dengan ide sesatmu, Fang"
"Yasudah, kalau begitu aku ikut juga mata kuliah dosen killer itu deh" Akhirnya, mengikuti jejak Taufan yang rajin masuk kuliah.
"Bagus, jadinya kan bisa cepat-cepat sarjana kalau begini" Baru kali ini, Taufan memandang bangga ke arah Fang.
"Tatapanmu, malah membuatku merinding dan merasa terhina" Fang menatap tajam ke arah Taufan.
Setelah menertawakan apa yang barusan Fang katakan, Taufan dan Fang pun dengan buru-buru langsung menuju ke ruangan pembelajaran dosen yang terkenal mematikan tersebut, untuk menjadi anak rajin itu bagus kan?
"Tauran, kafe biasa yuk!" Ajak Fang, setelah berpura-pura menerima penjelasan mata kuliah.
"Boleh, sekalian bikin tugas pak Didit ya?" Tanya Taufan memastikan.
"Ish, iya-iya kerjain tugas pak Didit. Percuma juga, kalau aku menolak mengerjakan tugas" Keluh Fang, memang sulit baginya punya teman rajin seperti Taufan.
"Kan, teman mau membantumu lulus dengan cepat malah mengeluh begitu"
"Lagi-lagi, aku kena semprot amarahnya Tauran"
"Aku tidak marah, Fang" Beda ucapan, beda pula ekspresi Taufan.
"Sudah-sudah, ayo kita ke kafe sekarang!"
Sebelum Taufan mengoceh lebih lanjut, Fang langsung menariknya dan berjalan menuju kafe tujuan mereka. Lagi pula, sejujurnya dia sudah lapar dan ingin cepat-cepat mengisi perutnya juga. Sekali belajar, Fang selalu mudah lapar.
"Akhirnya, sampai juga di tempat terindah" Dengan lebay, Fang berdiri di depan kafe.
"Kau membuat kita terlihat seperti orang aneh, sebentar lagi kita akan di usir Fang" Taufan melihat ke arah sekelilingnya, ia merasa tidak nyaman.
"Kan, kau selalu merendahkan dirimu sendiri Fan. Jangan terlalu terpaku dengan tatapan orang lain, itu tidak baik" Berbeda dengan tadi, sekarang malah Fang yang menasehati Taufan.
"Baiklah maaf, aku hanya bercanda kau tahu" Taufan terkekeh.
"Oke, kau mau minum dan makan apa Tauran?"
"Memangnya, kau mau mentraktir Pang?"
"Boleh, anggap saja rasa terima kasih sudah di ingatkan kelas dosen killer" Memang, sejujurnya Fang pasti telat jika bukan karena Taufan.
"Kalau begitu, aku pesan ice americano seperti biasa saja"
"Sip, minumannya ice americano. Lalu, makanannya?" Tanya Fang.
"Aku masih kenyang, tadi makan di rumah Fang" Tolak Taufan, walaupun dia tidak sepenuhnya jujur.
"Kau yakin? Ku lihat, lama-lama kau semakin kurus Fan"
"Ini biasa, kan aku juga ikut klub skateboard. Sudah ya, aku cari tempat duduk dulu" Bingung harus menjawab apalagi jika Fang bertanya, Taufan pun mencoba kabur.
"Baiklah, aku tidak akan memaksa Fan" Fang mengalah, dia tahu benar jika Taufan tidak ingin di tanya lebih jauh.
__ADS_1
Taufan mencoba mencari tempat duduk untuknya dan juga Fang, untungnya hari ini kafe langganan mereka itu tidak terlalu ramai. Sehingga, Taufan bisa mengerjakan tugasnya dengan tenang tanpa hambatan. Selesai mengerjakan tugas, Taufan dan Fang pun memutuskan untuk pulang.
"Aku pulang" Ucap Taufan, sambil menutup pintu rumahnya.
"Kak Taufan, sudah makan belum?" Tanya Gempa, dengan tatapan mata sedikit berharap.
"Belum Gem, aku tau kamu pasti akan masak makan malam"
"Tunggu sebentar, kak Taufan. Aku akan masak dengan cepat, sebentar lagi juga kak Hali pasti pulang" Gempa menuju ke dapur dengan semangat.
Melihat Gempa yang semangat, Taufan terkekeh. Sampai dia lupa, bahwa saat ini di ruang tamu hanya ada mereka berempat. Yaitu Taufan, Blaze, Ice, dan Thorn. Kecuali Ice, mereka bertiga saling terdiam satu sama lain. Sudah cukup lama, mereka perang dingin seperti ini.
"Eum, hai Blaze, Thorn, dan Ice?" Panggil Taufan, sambil sedikit tersenyum.
"Halo, kak Taufan" Jawab Ice, sambil menyandarkan dirinya dengan nyaman di sofa.
"Kalau begitu, aku ke kamar duluan ya" Masih dengan senyuman yang sama, Taufan berjalan ke arah kamarnya.
"Sekarang, gak mau jawab panggilan kak Taufan sama sekali?" Tanya Ice, dengan tatapan datar ke arah Blaze dan juga Thorn.
"Thorn mau, tapi Thorn masih kecewa sama kak Taufan" Thorn kembali sedih, mengingat pertengkarannya dengan Taufan.
"Lagian, kak Taufan sendiri yang tiba-tiba marah begitu. Kita kan gak pernah maksa kak Taufan, untuk jadi sesuai keinginan kita" Blaze mencoba membela dirinya sendiri, walaupun dia sendiri tidak mau bertengkar dengan Taufan.
"Gak maksa tapi, sikap kalian begini? Ingat, kak Taufan itu juga manusia yang bisa buat salah. Jangan terlalu cuek, nanti malah menyesal" Selesai memberikan saran, Ice berjalan memasuki kamarnya.
Sesampainya di kamar, Taufan langsung mengunci pintunya dan terduduk di lantai yang dingin. Lagi-lagi, dia mendapatkan tatapan dingin bercampur benci itu dari kedua adik kesayangannya. Apakah mereka berdua masih belum bisa memaafkan Taufan?
"Tidak boleh begini, Taufan. Kamu seharusnya bersyukur, kamu masih memiliki keluarga" Gumam Taufan, dia berdiri dan melihat ke arah sebuah foto usang.
"...walaupun, tanpa sosok seorang ayah"
Ya, itu adalah foto keluarga lengkapnya dulu. Semuanya terlihat bahagia, sebelum akhirnya ayah dan ibunya memutuskan untuk berpisah. Sekarang, mereka bertujuh pun tinggal bersama ibu mereka yang sibuk bekerja.
"Salahkah aku kalau, mengharapkan keluarga yang utuh kembali?" Taufan memulai monolognya lagi, seperti biasanya.
"Dan, apakah adik-adikku benar-benar menyayangiku?" Siapa yang tidak merasa sakit jika, mendapatkan tatapan tajam bercampur benci dari adik sendiri?
Awalnya dia, Blaze, dan juga Thorn sangat akur. Mereka sering bermain bersama, sebelum akhirnya Taufan kelepasan. Taufan bisa akur dengan Blaze dan Thorn karena, dia mengubah sifat dan sikapnya agar bisa memenuhi ekspetasi sosok kakak yang di idam-idamkan oleh mereka.
"Namun, bodohnya aku malah merasa muak sendiri dan mengatakan pendapatku sendiri" Taufan tertawa pelan, mengingat kebodohannya yang saat itu jujur kepada kedua adik kesayangannya.
Benar, Taufan mencoba jujur kepada Blaze dan Thorn. Karena sebelum Taufan jujur, mereka bertiga memang cukup sering ribut akibat beda pendapat. Taufan pun muak, jika harus mengalah seperti biasanya dan jujur kepada Blaze dan Thorn akan apa yang dia rasakan.
Sayangnya, respon yang dia dapatkan tidak sesuai dengan harapannya. Ternyata Blaze dan Thorn tidak mau mencoba memahaminya, mereka merasa Taufan melebih-lebihkan semuanya. Semenjak itupun, Taufan mendapatkan sikap seperti tadi dari mereka.
"Awalnya, aku mencoba biasa saja. Tapi, lama-lama sakit juga. Padahal, aku sudah mencoba lebih dulu mengajak mereka bicara lagi" Satu tetes air mata Taufan jatuh, dia tidak berbohong. Rasanya, benar-benar sakit bagi Taufan.
Taufan berbaring di atas tempat tidurnya, mencoba mencari ketenangan. Karena, dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya. Dia tidak memiliki obat penenang atau apapun, yang bisa dia lakukan hanyalah memendam emosinya dan terus tersenyum di depan banyak orang.
"Aku ingin sendirian, tolong berikan aku kebebasan. Rasanya, ruangan ini terlalu menyesakkan" Taufan membuka handphonenya, seperti biasa mengetikkan buku hariannya.
...Dear Dairy #37...
Terkadang, aku penasaran dan ingin bertanya
"Apa mereka benar-benar sayang padaku?"
Maksudku, adik-adikku
Karena, aku terkadang iri dengan orang-orang di sekelilingnya
Saat adik-adikku berbicara dengan teman mereka, mereka akan berbicara dengan nada lembut
Tapi, tidak denganku
Saat melihat teman, mereka akan menatapnya dengan tatapan mata senang
Tapi, tidak denganku
Mereka berbicara dengan nada dingin padaku
Menatapku dengan tatapan tajam
Seakan-akan, mereka membenciku
Atau mereka memang membenciku?
Entahlah, aku padahal berulang-ulang kali
Berusaha merubah diri ku agar bisa sesuai seperti sosok kakak yang mereka inginkan
Tapi, berkali-kali juga pada akhirnya aku lelah menghadapi sikap mereka yang selalu ingin di mengerti
Sakit?
Tentu saja haha..
Kakak siapa yang mau di benci oleh adiknya sendiri?
Aku salah dimana lagi?
__ADS_1
Apa aku tidak cukup berusaha?
Atau aku tidak cukup berubah?
Kepribadian seperti apa yang akan membuat mereka menyayangi ku?
:)
...
Selesai menuliskan buku hariannya hari ini, Taufan menaruh kembali handphonenya ke atas meja. Tidak lama kemudian, Gempa mengetuk pintu kamar Taufan, mengajaknya untuk makan bersama. Karena, makan malam sudah jadi.
"Kak Hali sudah pulang kerja, Gem?" Tanya Taufan saat keluar dari kamar, sesudah ganti baju tadi.
"Sudah, tapi lagi mandi kak Taufan" Jawab Gempa, mereka berdua berjalan bersama ke ruang makan.
"Kalau, Solar masih kerja kelompok?" Taufan hampir lupa kalau, adik bungsunya itu ada kerja kelompok hari ini.
"Masih kak Taufan, tapi sekarang bukannya udah kemalaman ya?" Sejujurnya, Gempa sedikit khawatir jika ada yang kerja kelompok sampai malam.
"Sekarang, aku akan jemput Solar" Gempa dan Taufan menengok bersamaan, ternyata kakak sulung mereka yang menjawab.
"Tapi, kak Hali bukannya baru pulang kerja?" Bahkan, Taufan masih bisa melihat rambut Halilintar yang masih basah sehabis mandi.
"Hm, tapi ini sudah kemalaman" Halilintar melihat ke arah jam di dinding, yang menunjukkan pukul 7 malam.
"Aku mau menjemput, tapi aku gak bisa bawa motor ataupun mobil" Jangan tanya kenapa, Gempa trauma karena pernah jatuh dari motor.
"Makanya, aku saja yang- hatchu!" Belum selesai Halilintar bicara, malah bersin yang melanjutkannya.
"Nah kan, kak Hali bersin. Pasti tanda-tanda flu tuh, sudah aku aja yang jemput Solar" Dengan cepat, Taufan mengambil jaket dan helmnya.
"Hati-hati, kak Taufan" Gempa pun membantu Taufan kabur dari ocehan Halilintar.
Taufan memakai helmnya dan menyalakan motornya, setelah itu dia pun berangkat untuk menjemput Solar. Taufan sudah di beri tahu Gempa tadi, rumah teman kerja kelompok Solar. Dan, untungnya rumah teman kelompok Solar tidak terlalu jauh.
"Heum? Solar mau apa di pinggir jalan begitu?" Gumam Taufan, yang baru saja turun dari motornya untuk memanggil Solar.
Belum sempat Taufan memanggil Solar, tiba-tiba saja sebuah mobil melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Bisa Taufan sadari, kalau rem mobil tersebut pasti rusak. Sayangnya, Solar tidak sadar dan hendak menyeberangi jalan tersebut.
Reflek, Taufan langsung melempar asal helm yang baru saja di lepasnya tadi dan berlari sekuat tenaga ke arah Solar. Sambil memohon dalam hati, Taufan berharap semoga dia bisa tepat waktu. Sedikit lagi, Taufan bisa menarik Solar.
Mobil tersebut menabrak pembatas jalan, orang-orang berkerumun karena peristiwa tersebut. Taufan sibuk melirik mencari Solar, rupanya dia berhasil mendorong Solar ke bagian pinggir jalan yang aman. Solar berlari dengan panik, saat melihat keadaan Taufan.
"KAK TAUFAN!!!" Seru Solar, sambil meminta siapa saja untuk menelpon ambulans.
"Kenapa panik begitu? Aku baik-baik saja" Bodohnya, Taufan masih bisa terkekeh walaupun darah mengalir dari kepalanya.
"Kak Taufan bicara apa sih?! Diam dulu, kak Taufan harus tetap sadar sampai ambulans datang" Solar menelpon saudaranya di rumah dan mengatakan keadaan Taufan.
"Syukurlah, aku berhasil menyelamatkan adikku sendiri. Setidaknya, aku bukan kakak yang buruk kan Solar?" Lagi, Taufan bertanya kepada Solar sambil tersenyum.
"Bukan, kak Taufan gak pernah menjadi kakak yang buruk" Solar terisak, berharap seandainya dia lebih berhati-hati.
"Solar, tolong lihat note di handphoneku. Kata sandinya 'Keluargaku', aku cuman mau kalian tahu. Tapi, jangan menyesali apapun ya. Karena, aku sudah cukup bahagia sama kalian" Taufan terbatuk, sekarang darah juga mengalir dari mulutnya.
Sebelum benar-benar menutup matanya, Taufan berkata pada Solar kalau dia menyayangi semuanya. Di saat Taufan dibawa ke rumah sakit, sayangnya malah kenyataan pahit yang harus keenam saudara tersebut dengar. Ya, Taufan memilih untuk tertidur dengan tenang.
Solar mengingat keinginan terakhir Taufan, kemudian membaca buku harian di handphone Taufan bersama-sama dengan saudara lainnya. Mereka kembali menangis, menyesali bahwa mereka terlambat untuk sadar. Yang paling terpukul adalah Blaze dan Thorn.
"Kak Taufan, maaf. Kami minta maaf, kami sangat menyayangi kak Taufan" Ucap Blaze dan Thorn bersamaan, sembari memeluk erat handphone Taufan seolah-olah itu adalah Taufan sendiri.
Sesudah itu, Blaze dan Thorn memutuskan untuk memakai kamar Taufan. Karena, mereka masih merasa bersalah sekaligus kehilangan sosok kakak kesayangan mereka itu. Jika ada waktu, coba minta maaf dan berbaikan. Karena, kita tidak akan tahu kapan seseorang akan pergi kan?
THE END.
Apakah kalian menikmati cerita dengan 2000+ kata ini? T_T
Sesekali sad ending kan, biar seru MUAHAHAHA
#AuthorDoyanMenistakan
Oh iya, ayo ikutan juga request ceritanya bagi yang belum.. Bantu aku membuat ide cerita baru, yuk! π
...~Bonus~...
...Behind the scenes...
Blaze : Buset, berasa durhaka banget peran kali ini π
Thorn : Iya kan, Thorn gak sanggup jadi begini :(
Taufan : Capek woi, peran pura-pura matinya tadi π
Ice : Wow, jadi cenayang lagi disini -_-
Halilintar : Biasanya, aku pemeran utama #Mikir
Gempa : Aku senantiasa menjadi pemeran tambahan :) #SenyumSabar
Solar : Astaga, akting ku bagus ya kayak aktor pro π
__ADS_1