For You -Oneshoot- (BOBOIBOY)

For You -Oneshoot- (BOBOIBOY)
(The End) For You


__ADS_3

Tema : Mafia, Action, Brotherhood


Request : @Egao


WARNING ⚠️ : Trigger, harsh words, blood


🕳️🕳️🕳️🕳️🕳️🕳️🕳️🕳️🕳️🕳️🕳️🕳️🕳️🕳️🕳️🕳️🕳️🕳️


Pemilik mata bermanik merah tajam itu tersadar, setelah pingsan selama satu jam. Dia melirik kearah kanan dan kirinya, mencoba memikirkan kemungkinan dimana dirinya berada sekarang. Tapi nihil, yang dilihat hanyalah bangunan tua yang bercahaya remang-remang.


'Ugh, kepalaku sakit' Batin Halilintar.


"Setahuku, bukannya aku tadi sedang berjalan pulang kerumah sehabis kerja?" Gumam Halilintar, mencoba mengingat-ingat kembali.


Memang benar, beberapa saat lalu Halilintar baru saja pulang dari tempat kerjanya. Dan, hendak pulang kerumah. Namun, tiba-tiba ada beberapa orang tinggi dan besar mencegat jalannya. Setelah mencoba melawan saat ingin dibawa, Halilintar disemprotkan cairan aneh yang membuatnya pingsan seketika.


"Oh, dia sudah bangun?" Halilintar menjaga jaraknya, saat mendengar suara hentakan kaki.


"Siapa disana?" Tanya Halilintar, tanpa rasa takut sedikitpun.


Bisa Halilintar lihat, ada seorang pria paruh baya yang berjalan mendekatinya. Penampilannya aneh dan menakutkan, pria itu memakai jas hitam yang terkesan mewah. Halilintar tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya, serta kenapa dia bisa berakhir disini.


"Tatapan yang tidak terlihat Ketakutan, hasrat bertahan yang kuat" Gumam pria paruh baya itu, sambil memperhatikan Halilintar secara keseluruhan.


"Hentikan omong kosong ini, cepat lepaskan aku!" Seru Halilintar.


Langsung saja, Halilintar dihadiahkan pistol disisi kepalanya oleh salah satu pengawal pria paruh baya tersebut. Terkejut? Tentu saja, tapi Halilintar tidak boleh terlihat lemah. Dia harus terlihat kuat, jika masih ingin bertemu dengan adik-adiknya.


"Berani-beraninya, mulutmu itu berbicara seenaknya didepan bos besar!"


Untung saja, sepertinya hari ini kepala Halilintar belum bernasib akan bolong akibat tertembak pistol. Karena, pria paruh baya yang disebut sebagai bos besar itu meminta bawahannya untuk menurunkan pistolnya.


"Turunkan pistolmu, apa yang kau pikirkan? Dia ini aset berharga, lihat tatapannya itu" Padahal, Halilintar merasa dirinya tidak saling mengenal.


Benar, Halilintar merasa kepalanya akan pecah. Jika, terus memikirkan alasan penculikannya oleh pria paruh baya aneh yang ada didepannya. Halilintar tidak merasa pernah mengenalnya, bertemu pun tidak pernah. Ditambah lagi, Halilintar benci melihat senyuman dan tatapannya yang seolah-olah melihat Halilintar sebagai benda bukan manusia.


"Lepaskan aku, apa yang kalian inginkan dariku sebenarnya?!" Teriak Halilintar, kemudian pipinya ditampar oleh pria paruh baya tersebut.


"Diam si@l@n, aku tidak tuli. Padahal, sudah kuperlakukan dengan baik. Tapi, sepertinya kau ingin lidahmu ku potong ya?"


Senyum pria paruh baya itu menghilang, digantikan oleh tatapan tajam seperti ingin membunuh Halilintar. Berhubung Halilintar adalah anak yang pintar, jadi dia langsung menutup mulutnya.


"Bagus, ternyata anak ini cerdas dalam membaca situasi" Senyuman puas terlihat dari ekspresi bos besar.


"Aku akan diam, tapi sebagai gantinya berikan aku penjelasan. Tentang kenapa aku diculik dan berapa uang yang kalian inginkan, aku akan membayar berapapun itu" Bukannya menjawab, sang bos besar malah tertawa.


"Benar-benar, anak ini jauh lebih luar biasa daripada yang aku kira"


"Ceh, sok-sokan membuat sistem barter dengan bos besar" Bisik bawahan yang ada disisi samping Halilintar.


"Menarik, akan aku jawab pertanyaanmu. Pertama, sudah lama aku mengincarmu. Kedua, aku tidak memerlukan uang. Jadi, uang tidak akan mempengaruhi keputusanku" Halilintar terbelalak, ternyata selama ini dia diikuti?


"Kalau, kau bertanya-tanya kenapa aku mengincarmu. Salahkan saja ayahmu yang tidak bertanggung jawab itu, dia menjualmu padaku sebelum kabur entah kemana. Sayangnya, kau terlihat cocok sebagai senjata baruku" sebuah pisau diarahkan ke leher Halilintar, mau tidak mau Halilintar mengangkat kepalanya.


'Si@l, rupanya semua ini kerjaan orang tua itu!' Batin Halilintar.


Dari awal, Halilintar sudah tahu kalau ayahnya masuk kedalam organisasi berbahaya. Dapat diperkirakan, ayahnya kemungkinan seorang anggota mafia. Namun, Halilintar tidak menyangka dirinya akan dilibatkan dalam urusan ayahnya.


Padahal, jelas-jelas sudah 7 tahun ayahnya meninggalkan dirinya beserta keenam adiknya. Selama ini, Halilintar yang sibuk bekerja mencari nafkah demi kehidupan mereka. Tapi, apalagi sekarang? Dirinya diculik dan berniat dijadikan senjata, hanya karena ayahnya yang menjualnya dan kabur begitu saja?


"Jangan berekspresi seperti itu, semua alat senjataku harus menghilangkan ekspresi mereka"


"Kumohon, sekali ini saja. Tolong, lepaskan aku. Aku masih punya orang-orang berharga, aku tulang punggung mereka" Tidak ada cara lain, Halilintar mencoba memohon.

__ADS_1


"Oh, maksudmu adik-adikmu?" Pria paruh baya itu melemparkan foto keenam adik Halilintar, tepat kewajah Halilintar.


"Bagaimana bisa?" Gumam Halilintar, padahal dia sengaja tidak menyebutkan adik-adiknya.


"Memangnya, kau pikir aku orang yang baik hati? Lalu, kenapa memangnya kalau kau tulang punggung mereka? Aku tidak peduli, mulai sekarang kau senjataku!"


Pria paruh baya itu memberikan kode kepada anak buahnya, agar Halilintar dibawa dan dimasukkan kedalam sebuah penjara gelap. Sekuat apapun Halilintar memberontak atau berteriak, semuanya sia-sia. Tidak akan ada yang mendengarnya ataupun menyelamatkannya, Halilintar tahu itu.


"Duduk dan hidup dengan manis senjata baruku, atau aku tidak akan segan-segan membantai seluruh adik-adikmu" Ancam pria paruh baya, sebelum pergi dari sana.


Semenjak itulah, kehidupan bak neraka Halilintar dimulai. Dia benar-benar dijadikan manusia percobaan, hanya untuk sebagai senjata sang bos besar. Jangankan perlakuan kasar, bisa dibilang setiap hari dia selalu dihajar habis-habisan. Katanya, untuk melatih fisik Halilintar.


"Ini makananmu, jangan coba-coba membuat ulah seperti beberapa hari lalu" Kata penjaga yang ada disana.


"Pergi dari sini, b@jing@n!" Selalu seperti ini, Halilintar akan meneriaki siapa saja yang mendekati wilayahnya.


Ya, Halilintar menjadi kasar dan sangat haus akan dendam. Karena, setiap hari ia kerap diperlakukan seperti binatang. Diberi makan seadanya, dirantai, dihajar setiap harinya. Jawab, manusia mana yang sanggup jika diperlakukan seperti itu selama kurang lebih tiga bulan?


Bahkan, Halilintar beberapa hari lalu mencoba untuk bunuh diri. Dengan cara, menolak semua makanannya. Sayangnya, kematiannya pun harus diatur oleh sang bos besar. Halilintar menjadi setengah gila, disatu sisi dia masih memikirkan dan merindukan adik-adiknya. Tapi, disisi lain dia tidak tahan lagi dengan semuanya.


'Baiklah, aku akan susun rencana balas dendam untuk menghabisi kalian semua' Batin Halilintar.


"Bersikaplah lebih sopan jika bertemu denganku, senjata nomor satu" Sejak tadi, Halilintar manatap tajam kearah orang yang membuatnya sengsara.


"Bos besar, apa perlu saya ajarkan tata krama padanya?" Tanya salah satu pengawal dengan gemetar.


"Pertama-tama, biar aku yang memberikan pelajaran bagimu" Diambilnya sebuah pisau dan pistol, menyeret paksa pengawalnya itu.


Wajah Halilintar berubah pucat, sang bos besar menyeringai senang melihat perubahan ekspresi Halilintar. Dia tahu, Halilintar cukup dekat dengan pengawalnya yang satu ini. Karena, Halilintar memiliki kemampuan untuk meluluhkan seseorang. Dan lagi, hanya satu pengawalnya ini yang memiliki sedikit hati nurani.


"Sudah kubilang, kalau kau berulah akan aku hancurkan semua orang disekelilingmu"


"JANGAN, DIA TIDAK SALAH APA-APA!!" Halilintar memberontak, mencoba keluar dari penjaranya.


"Katakan selamat tinggal padanya, ini tidak akan lama" Satu lagi, tambahan memori traumatis untuk Halilintar.


'Aku bersumpah, kau akan kuhabisi dengan tanganku' Batin Halilintar.


"Jangan menatapku seperti itu, bawa dia keruang hukuman. Ajarkan lagi padanya, cara bertata krama pada atasannya" Sesuai perintah sang bos besar, Halilintar diseret kesebuah ruangan.


Suara teriakan Halilintar terdengar sampai keluar, bos besar tersenyum mendengarnya. Itulah akibat, jika menentang dirinya. Biarkan Halilintar belajar, cara menjadi patuh selayaknya hewan pada majikannya. Kemudian, pria paruh baya itu berjalan pergi dari sana. Tidak peduli, siksaan apa yang diberikan kepada Halilintar.


"UGH, KURANG AJAR KALIAN SEMUA! AKAN KUBUNUH!" Seru Halilintar, menahan rasa sakit dipunggungnya.


"Jangan cengeng, baru dua puluh cambukan yang kami berikan. Masih ada tiga puluh lagi, dasar lemah"


'Akan aku balas, kalian rasakan sendiri nanti bagaimana sakitnya' Batin Halilintar.


Tidak suka dengan tatapan Halilintar, beberapa cambukan diberikan secara kasar. Halilintar tidak lagi berteriak, dia mengigit bibirnya. Menahan rasa sakit yang umumnya tidak akan bisa ditahan manusia biasa, tapi Halilintar berbeda.


Sejak awal, Halilintar memang diperlakukan bukan selayaknya manusia. Jadi, fisiknya jauh lebih kuat dari pada manusia biasanya. Darah keluar dari mulut dan punggungnya, sepertinya hari ini lagi-lagi dirinya harus tidur dengan rasa sakit. Halilintar dikembalikan begitu saja kepenjaranya, biasanya dia baru akan diobati keesokan harinya.


"Jangan berulah lagi, merepotkan kalau kami jadi harus menghukummu terus" Celetuk salah satu orang yang menghukumnya tadi.


"Aku juga tidak minta disiksa, si@l@n!"


"Ceh, anak ini semakin kasar dan liar seperti hewan" Mereka menggelengkan kepalanya, kemudian meninggalkan Halilintar sendirian.


"Ugh, aku rindu rumah. Apa Taufan masih tertawa seperti biasanya? Apa Gempa masih mengurus rumah dengan baik? Apa Blaze masih sering menjahili saudaranya? Apa Ice tertidur dimana-mana lagi? Apa tanaman Thorn tumbuh dengan baik? Apa Solar masih saja bergadang untuk meneliti? Entahlah, aku tidak tahu kabar apapun tentang mereka"


Halilintar menundukkan kepalanya, sangat sulit rasanya ketika merindukan keluarga. Jauh lebih berat, dibandingkan hukumannya. Halilintar lebih merasakan sakit, setiap mengulang memori bersama adik-adiknya. Apa bisa waktu dia ulang kembali? Seandainya, semua semudah membalikkan jam pasir.


"Maaf ya, kakak akan pulang sebentar lagi" Gumam Halilintar, sebelum terlelap dalam tidurnya.

__ADS_1


Semenjak hari itu, Halilintar menjadi berbeda. Dia menjadi patuh, tidak berbuat ulah apapun. Perintah seperti apapun diselesaikannya tanpa bantahan dan dengan sempurnya terselesaikan, karena itu Halilintar sudah diperbolehkan keluar dari penjaranya. Namun, tetap saja dijaga oleh banyak orang.


"Nah, lebih bagus jika kau patuh begini dari awal. Jadinya, tidak merasakan hukuman juga kan?"


"Paman benar, aku belum dewasa waktu itu. Jadi, masih termakan emosi" Halilintar tertawa, tapi semua itu hanyalah topengnya.


Dimalam harinya, Halilintar memantapkan dirinya untuk menghabisi semua orang yang ada disini. Jangan salah, sebulan ini dia menjadi diam karena rencana yang disusunnya. Semuanya sengaja, jadi jangan kalian pikir Halilintar akan patuh dan pasrah begitu saja.


"K-kurang ajar, akan k-kami laporkan pada b-bos besar" Darah tumpah dimana-mana, suasana saat ini sudah sangat mengerikan.


"Coba saja, kalian pasti akan mati duluan ditanganku paman" Sekali lagi, Halilintar menyalurkan segala amarahnya.


Begitu bos besar sampai dibangunan tersebut, Halilintar langsung meledakkan gedung tersebut. Halilintar tertawa lega, bodoh sekali pria paruh baya itu pikirnya. Bisa-bisanya, selama ini Halilintar takut dan tunduk pada orang sepertinya. Hanya mulutnya yang besar, nyatanya berotak kosong.


"Akhirnya, kakak bisa pulang Taufan, Gempa, Blaze, Ice, Thorn, Solar!" Halilintar berlari dengan wajah senangnya.


Halilintar berlari dan terus berlari, bahkan dia tidak memakai alas kaki apapun. Dia sangat tidak sabar ingin bertemu dengan adik-adiknya. Sudah 4 bulan, mereka tidak bertemu. Jelas saja, Halilintar merasa luar biasa senang.


Matahari mulai terbit, sayangnya Halilintar sudah lupa dimana rumahnya. Untungnya, belum banyak orang yang keluar disekitar sini. Sehingga, Halilintar tidak perlu menutupi wajahnya. Merasa buntu, akhirnya Halilintar memutuskan untuk bertanya pada seseorang dijalan.


"Permisi, apa anda tahu dimana alamat ini?" Halilintar mengeluarkan kertas bertuliskan alamat rumahnya, yang sudah disimpannya selama 4 bulan.


"Rumah ini ada disana dik, kalau tidak salah dibagian ujung perumahan ini" Tunjuk orang tersebut.


"Baiklah, terima kasih" Langsung saja, Halilintar berlari lagi.


Sampai, akhirnya Halilintar sudah sampai didepan rumahnya. Perasaan ini, sudah lama Halilintar tidak merasakan perasaan hangat seperti ini. Halilintar mengetuk pintu rumahnya, tidak sabar menantikan ekspresi adik-adiknya saat membuka pintu nanti. Namun, Halilintar merasa aneh dengan keadaan sepi dirumahnya.


"Kemana mereka semua?" Gumam Halilintar, biasanya pasti ada salah satu adiknya yang menjaga rumah.


"Permisi, cari siapa ya?" Salah satu tetangga disamping rumahnya mendekati Halilintar.


"Oh, saya cari penghuni rumah ini. Dimana ya, bu?"


"Lho, semua penghuni rumah ini kan sudah meninggal dik" Detak jantung Halilintar seakan berhenti, apa ini mimpi?


"M-maksudnya, apa ya?" Wajah Halilintar memucat, bibirnya bergetar.


"Empat bulan yang lalu, katanya kakak sulung mereka menghilang entah kemana. Walaupun, sudah dicari kepolisian tetap tidak ketemu. Akhirnya, keenam adiknya coba ikut mencari. Namun, mereka terkena kecelakaan lalu lintas. Dan sayangnya, keenamnya meninggal dunia ditempat"


Tanpa berterima kasih, Halilintar pergi begitu saja. Langit bertambah gelap, pertanda hujan akan turun. Halilintar tidak peduli, ia tetap berjalan kesuatu tempat tujuannya.


Hujan turun, tepat saat Halilintar sampai ditempat tujuannya. Gedung tua lagi, mengingatkannya pada awal mula kejadian buruk ini. Halilintar melihat kearah langit, bertanya-tanya apa kesalahannya sampai semua ini terjadi padanya. Halilintar tertawa, tertawa dengan sangat lepas. Air matanya tertutup oleh hujan, disini lah Halilintar berada. Dibagian tertinggi gedung, melihat bagaimana dunia bekerja dengan normal.


"Memuakkan, padahal aku hidup seperti hewan didalam kandang"


Halilintar melihat kebawah, cukup tinggi. Dia menyeringai puas, setidaknya dipikir lebih baik mati ditempat seperti ini. Agar, dia bisa membalaskan dendamnya suatu hari nanti. Halilintar menutup matanya, kemudian merentangkan kedua tangannya. Benar, Halilintar memilih untuk mengakhiri hidupnya. Daripada, dia harus hidup sendirian didalam dendam, penyesalan, dan rasa kesepian.


'Tunggu aku, aku juga ingin ikut bersama kalian' Batin Halilintar.


THE END.


Ayok tebak-tebakan lagi, kira-kira kali ini aku mengetik berapa kata? 🤔


...[PENGUMUMAN]...


Sebelumnya, terima kasih banyak atas dukungan dan request dari para readers. Berkat kalian, akhirnya ceritaku ini bisa tamat dengan memuaskan. Lalu, perihal aku akan membuat cerita baru lagi atau tidak belum bisa aku janjikan. Apakah aku akan tetap menjadi author atau kembali ke kenyataan, seperti yang kalian tahu. Selama ini, aku menulis cerita sambil bekerja. Jadi, terkadang banyak waktu yang seharusnya kugunakan untuk istirahat malah kugunakan untuk bikin cerita. Akibatnya, aku jadi sering drop. Tapi, aku benar-benar tulus bikin ceritanya. Karena, aku juga merasa senang setiap mengetik cerita. Namun, kali ini aku sepertinya harus lebih fokus kekehidupanku dulu. Karena, aku sendiri adalah tulang punggung keluarga. Jadi, terima kasih atas pengertian para readers. Semoga, aku bisa kembali lagi sebagai author nanti 🙏❤️.


...-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-...


...(FOR YOU) THE REAL END....


...-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-...

__ADS_1


Maaf ya, kalau bagi kalian banyak yang kurang seru.. Tapi, mohon dukungannya untuk cerita kali ini ❤️ terima kasih~


...^^JustMe^^...


__ADS_2