For You -Oneshoot- (BOBOIBOY)

For You -Oneshoot- (BOBOIBOY)
(Gone) For You


__ADS_3

Tema : Psychological, Brotherhood


Request : @Karina


WARNING ⚠️ : Trigger, harsh words


πŸ”ŽπŸ”ŽπŸ”ŽπŸ”ŽπŸ”ŽπŸ”ŽπŸ”ŽπŸ”ŽπŸ”ŽπŸ”ŽπŸ”ŽπŸ”ŽπŸ”ŽπŸ”ŽπŸ”ŽπŸ”ŽπŸ”ŽπŸ”Ž


"Kak Hali, kamarku diberantakin lagi sama tiga kurcaci!" Teriak Solar dari luar pintu kamarnya, siapa yang tidak marah jika kamarnya diberantakan?


Halilintar menghentikan kegiatan memasaknya, apalagi sekarang? Baru beberapa menit yang lalu, Blaze bertengkar dengan Ice. Sekarang, dia malah mengikuti Taufan dan Thorn memberantakan kamar Solar. Bisakah Halilintar mendapatkan ketenangan dirumahnya ini?


"Tunggu sebentar, aku kesana sekarang" Setelah menutup pancinya, Halilintar berjalan menuju ke kamar Solar.


Memiliki enam adik dengan sifat berbeda memang menyulitkan, apalagi hanya Halilintar yang bisa mengurusi mereka. Orang tua mereka meninggal karena, kecelakaan pesawat saat akan pulang. Sudah 5 tahun berlalu, Halilintar pun terbiasa menangani segalanya sendirian. Untungnya, mereka memiliki cukup tabungan. Selain itu, baru-baru ini Halilintar juga memiliki pekerjaan sampingan.


Ya, setidaknya sekarang dia bisa lebih fokus mengurus adik-adiknya. Seperti sekarang, dia sedang mengikat ketiga adiknya yang luar biasa nakalnya. Siapa lagi jika bukan Taufan, Blaze, dan Thorn. Untung saja, Halilintar bukan sesabar Gempa yang mudah memaafkan.


"Ampun, bukan aku yang mulai kak Hali" Lebih baik Blaze bertengkar dengan Ice, karena Ice pasti akan melindunginya.


"Bukan Thorn juga, ini idenya kak Taufan" Taufan menatap tajam ke arah Thorn, bagaimana bisa dia dibuang begitu saja?


"Kak Hali, tidak akan terjadi kebakaran tanpa kayu bakar" Dengan wajah bangganya, Taufan berceletuk.


"Yang benar, tidak akan ada asap tanpa adanya api" Walaupun kesal, Solar tetap menjunjung tinggi pelajaran.


"Iya itu, intinya aku melakukan kejahatan ini bersama dengan kedua sekutu ini" Lebay memang, tapi Halilintar harus menerima kenyataan kalau Taufan adalah adiknya.


Blaze dan Thorn membelalakan kedua mata mereka, tiba sudah hari kematian mereka. Biasanya, mereka bisa kabur dengan mengorbankan Taufan. Tapi, sepertinya Taufan menjadi semakin pintar jika terus-terusan dikhianati. Taufan tertawa puas dalam hati.


'Makanya, jangan jadikan aku tumbal terus' Batin Taufan.


"Berhenti bertelepati satu sama lain, jawab pertanyaanku daritadi" Baru saja ditinggal masak sebentar, ketiga adik nakalnya ini sudah bertingkah lagi.


"Betul tuh, jawab pertanyaan kak Hali!" Solar yang berperan sebagai kompor, membuatnya ditatap tajam oleh ketiga kakaknya.


'Anak kurang ajar itu, awas saja kalau malah membuat kak Hali semakin marah' Batin ketiganya.


Mendapatkan tatapan tajam penuh dendam dari ketiga kakaknya yang baru saja membuat kamarnya berantakan, Solar langsung berlindung dibalik punggung Halilintar. Membuat Halilintar semakin ingin memarahi ketiga adiknya yang sedang diikat ini, susah sekali mereka untuk akur.


"Jadi, kenapa kalian membuat kamar Solar berantakan begini?" Belum mendapatkan jawaban, Halilintar mengintrogasi ketiga adiknya lagi.


"Itu, aku mencari handphoneku kak Hali"


"Kau yakin, Blaze? Karena, handphonemu ada dimeja ruang tamu tadi" Waduh, alasan pertama berhasil digagalkan oleh Halilintar.


"Eum, Thorn tadi lagi mencari boneka bunga matahari kesayangan Thorn"


"Boneka matahari kesayanganmu itu ada dikamarku, Thorn. Bukannya, semalam kamu yang menitipkannya?" Lagi, alasan kedua dengan mudahnya digagalkan lagi oleh Halilintar.


"Aku ingin memperdalam ikatan persaudaraan bersama Solar" Entah sengaja atau memang tidak bisa membaca keadaan, mulut Taufan memang suka seenaknya saja.


"Oh, memperdalam ikatan persaudaraan ya?"


Setelahnya, jangan tanyakan apa yang terjadi dengan nasib mereka bertiga. Tentu saja, Halilintar mewariskan warna merah pada kuping mereka bertiga. Blaze berlindung dikamar Ice, sedangkan Thorn menangis dan mengadu kepada Gempa. Taufan? Sepertinya, dia senang-senang saja tuh asal menarik perhatian kakak sulungnya.


"Kak Hali, bukannya ada bau gosong ya dari arah dapur?" Tanya Solar, sambil membereskan kamarnya.


"Astaga, masakanku!" Halilintar langsung berlari menuju ke dapur, Taufan juga mengikuti kakaknya itu.


Begitu sampai didapur, Halilintar langsung mendapatkan pemandangan asap hitam dari panci yang digunakan untuk masakannya tadi. Langsung saja, Halilintar mematikan kompor dan membuka jendela agar asap hitam itu keluar dari rumahnya.


"Wah, hitam suram seperti aura kak Hali" Niatnya, Taufan hanya ingin menghibur Halilintar.


"Taufan, berhentilah membuat kekacauan setiap hari" Tapi, Halilintar malah membuat Taufan merasa tersinggung.


"Haha, kekacauan? Setiap hari?"


"Tolong, aku juga lelah mengurus kalian setiap hari"

__ADS_1


"Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu, aku ke kamar dulu" Taufan berjalan dengan cepat ke kamarnya, Halilintar hanya melirik sekilas ke arah Taufan.


Sejujurnya, selama ini Taufan berbuat ulah karena Halilintar. Dia hanya ingin melihat kakak sulungnya tertawa lagi, jadi dia sebenarnya sama sekali tidak berniat merepotkan Halilintar. Semenjak kepergian kedua orang tuanya, Halilintar sudah sibuk menjadi tulang punggung dan panutan bagi keenam adiknya.


"Ada apa, kak Hali?" Ice berjalan memasuki dapur dan melihat kearah panci yang sedang dipegang Halilintar.


"Ini, tadi makanannya gosong Ice"


"Lalu, kenapa tadi kak Taufan pergi ke kamarnya dengan wajah masam?"


"Begitulah, seperti biasa Ice" Halilintar tidak banyak bercerita, Ice sendiri sudah paham apa maksud Halilintar.


"Bertengkar lagi? Coba saja, sesekali bicara berdua sama kak Taufan" Usul Ice, dia tahu kalau sebenarnya kedua kakaknya itu hanya salah paham.


"Iya, nanti akan kucoba" Halilintar membuka kulkas dan mencari bahan makanan, dia berencana memasak ulang.


"Mau masak ulang? Sini, biar kubantu kak Hali" Dengan hati-hati, Ice memotong beberapa sayuran.


"Terima kasih, Ice"


Selesai memasak, Ochobot pun pulang kerumah dengan membawa beberapa tamu. Awalnya, ochobot memang pergi berbelanja bersama Yaya dan juga Ying. Namun, tiba-tiba saja dirumah ini sekarang ada Gopal dan Fang juga.


"Tumben, lama belanjanya Ochobot?" Tanya Halilintar, padahal dia sudah menawarkan untuk menemani Ochobot tadi.


"Tadi, aku tidak sengaja bertemu Gopal dan Fang. Jadinya, mengobrol sebentar" Jawab Ochobot, sambil menaruh beberapa barang belanjaannya.


"Lalu, kenapa kalian makhluk tidak diundang ada disini?"


"Dey, bicara yang halus dengan teman sendiri tak bisa?" Bicara saja lantang, tapi Gopal sendiri malah bersembunyi dibelakang Fang.


"Jangan begitu Hali, sudah bagus kita mau menjadi temanmu" Musuh bebuyutan memang beda, jawaban Fang mengandung fakta kuat.


"Haiya, kalian ini berisik ya setiap ketemu. Tak bisa diam, ya?" Ying bingung, ada apa sih dengan para lelaki akhir-akhir ini?


"Benar apa kata Ying, sesama teman tidak boleh bertengkar atau menyinggung" Semua terdiam, jika Yaya sudah menasihati.


"Jangan melamun, tidak baik kak Hali" Lamunan Halilintar menguap begitu saja, saat tahu siapa yang datang.


"Kenapa ada disini, Gem?"


"Sengaja, mau menemani kak Hali aja"


"Pulang, ini sudah sore dan hampir malam" Bukannya mendengarkan, Gempa malah tersenyum ringan.


"Kak Hali, habis bertengkar lagi sama kak Taufan?" Tepat sekali, bahkan Gempa sendiri tahu jawabannya dari wajah Halilintar.


"Setiap orang punya alasan masing-masing, kesalahpahaman tidak akan selesai tanpa pembicaraan" Halilintar tidak bodoh, dia paham benar apa maksud ucapan Gempa.


"Terima kasih, aku mengerti Gem. Tapi, sekarang kamu pulang dulu ke rumah. Aku masih mau duduk disini, mungkin 10 menit lagi baru pulang"


"Yasudah, kalau begitu Gempa pulang dulu ya kak Hali" Gempa melambaikan tangannya pada Halilintar.


Matahari yang tadinya bersinar terang mulai bersembunyi, langit berganti warna menjadi gelap. Bulan sendiri sudah menunjukkan diri, Halilintar pun memutuskan untuk pulang. Setelah, berdamai dengan berbagai pikiran dan perasaan egoisnya.


'Ya, mungkin aku terlalu keras pada Taufan' Batin Halilintar.


Sayangnya, ada yang menculik Halilintar sebelum meninggalkan taman. Halilintar yang terkejut dan terkena gas tidurpun gagal melawan, ditambah lagi tidak ada saksi mata disana. Tanpa ada yang tahu apa yang terjadi, Halilintar dibawa pergi dengan sebuah mobil hitam.


Sudah sebulan, semenjak Halilintar hilang akibat penculikan. Malam itu, karena khawatir semuanya pergi mencari Halilintar. Namun, hasil yang didapatkan pun nihil. Akhirnya, keenam adiknya, Ochobot, dan teman-temannya menunggu waktu untuk lapor ke pihak berwajib. Namun, tetap saja tidak ada yang berhasil menemukan Halilintar.


"Ini salahku, seharusnya waktu itu aku gak bertengkar sama kak Hali" Dan, Taufan masih saja menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa Halilintar.


"Fan, aku berteman dengan Halilintar sudah lama. Tidak mungkin, dia juga merasa ini salahmu" Fang mencoba menenangkan Taufan, sepertinya itu cukup efektif.


"Halilintar! Halilintar ditemukan!" Teriak Ochobot, yang baru saja mengangkat panggilan dari kepolisian.


Menurut laporan dari kepolisian, Halilintar diculik oleh musuh bisnis orang tuanya dimasa lalu. Untungnya, polisi berhasil mengamankan pelaku dan langsung membawa Halilintar ke rumah sakit. Karena, kondisinya yang cukup mengenaskan.


'Apa yang terjadi sampai polisi berkata kondisi Halilintar separah itu?' Batin Ochobot.

__ADS_1


Semua pertanyaan Ochobot terjawab setibanya mereka dirumah sakit, Halilintar terkunci dalam sebuah kurungan dengan banyak luka yang tidak manusiawi. Halilintar langsung diperiksa dan diobati, setelah proses pembukaan kurungan selesai.


"Berapa lama kak Hali harus dirawat, Ochobot?" Tanya Gempa, melihat kakaknya seperti ini sangat menyakitkan.


"Kata dokter, setelah tiga hari sudah boleh dirawat dirumah. Karena, Halilintar sendiri enggan didekati oleh para perawat. Kemungkinan, karena trauma mendalam yang dialaminya"


"Hiks, kak Hali" Thorn menangis, Blaze mencoba menenangkannya. Sementara, yang lain mencoba menguatkan diri mereka.


Tiga hari berlalu, Halilintar sudah boleh dirawat dari rumah. Namun, Halilintar terus mengunci diri dikamar dan tidak mau keluar. Didekati Ochobot, keenam adiknya, dan teman-temannya pun dia enggan. Entah seberapa parah trauma yang dialaminya, sampai terkadang mereka mendengar Halilintar suka berbicara sendiri dimalam hari.


"Ayolah Hali, kau tidak akan bisa hidup tanpa kehadiranku" Itu reverse, penyelamat sekaligus awal mula mimpi buruk Halilintar.


"Tidak, aku hidup karena diriku sendiri" Sejak kembali, reverse selalu mencoba mengambil alih kesadaran Halilintar.


"Jangan bercanda, bed3b@h! Bahkan, kau tidak bisa membunuh si penculik itu!" Benar, saat ditemukan si penculik nyaris terbunuh oleh reverse dari Halilintar. Untungnya, Halilintar mengambil alih kesadarannya dan menghentikan reverse.


"Kau tidak akan bisa mengambil alih kesadaranku lagi, kau bisa melukai orang-orang disekelilingku!"


"Benarkah? Kau mau coba? Baiklah, akan ku buktikan kau pengecut yang mudah kuambil alih Halilintar"


Tubuh Halilintar bergetar, ketakutan menyelimuti pikirannya. Sayangnya, semakin ia takut maka semakin mudah juga reverse mengambil alih kesadarannya. Perlahan, rambut Halilintar berubah warna menjadi putih dan mata merah rubynya tergantikan dengan manik hitam gelap.


"Lihat? Sudah kubilang, kau hanya p3cund@ng Halilintar" reverse tertawa, akhirnya dia bisa bebas lagi.


Sudah seminggu, Ochobot dan keenam adiknya mengawasi Halilintar. Ada yang aneh dan berbeda dari kakak sulung mereka itu, seperti bukan dirinya sendiri? Ochobot sendiri sulit untuk memindai, karena Halilintar selalu kabur dan berakhir mengunci diri dikamar.


"Tidak bisa begini terus, kita harus minta bantuan teman-teman yang lain" Usul Taufan, bagaimanapun juga dia akan mengembalikan kakaknya.


"Biar aku dan kak Blaze yang menjemput teman-teman lainnya" Mendengar ucapan Ice, Blaze hanya mengangguk setuju.


"Kalau begitu, aku dan Ochobot akan meneliti dan merencanakan sesuatu" Solar dan Ochobot langsung menuju ke kamar Solar.


"Sedangkan aku, kak Taufan, dan Thorn akan bersikap seolah-olah tidak ada apapun" Mereka setuju pada Gempa, semua pun mencoba menjalani peran masing-masing.


Untungnya, reverse tidak sepintar Halilintar. Jadi, dia tidak bisa menebak apa yang direncanakan oleh yang lainnya. Sesudah makan, yang lainnya pun langsung menahan tubuh Halilintar yang sedang diambil alih reverse. Kemudian, dengan cepat Ochobot memindai Halilintar.


"Argh, lepaskan aku! Kubunuh kalian semua!" Teriak reverse, dia benci disentuh orang lain.


"Bagaimana, Ochobot?" Sungguh, Fang merasa seperti kekuatan Halilintar bertambah dua kali lipat.


"Halilintar sedang diambil alih oleh reverse, kita harus mengembalikan Halilintar!" Bukan hanya Ochobot, semuanya pun terkejut.


Selain menjadi lebih kuat, reverse membuat Halilintar seperti manusia tidak berhati. Segala usaha sudah dicoba, agar bisa membebaskan reverse dari Halilintar. Namun, semuanya sia-sia.


Reverse yang marah melempar semuanya, beberapa tidak sanggup berdiri. Reverse bersumpah, dia akan membunuh mereka yang sudah berniat menyingkirkannya. Dia berjalan mendekat ke arah Taufan, membuat Taufan gemetar ketakutan. Dia tidak takut pada Halilintar, tapi dia takut dengan reverse.


"Rasakan ini, akan ku cabik-cabik wajahmu" Reverse berjalan semakin dekat, membawa pensil tajam kedekat leher Taufan.


"JANGAN! KEMBALIKAN KAK HALI!" Taufan berteriak sekencang mungkin, tiba-tiba kepala reverse terasa sangat sakit.


"Argh, dasar hama pengganggu!"


Sedikit demi sedikit, rambut Halilintar kembali seperti warna awal. Matanya juga, bukan lagi hitam gelap melainkan merah ruby uniknya. Halilintar terkejut, kesadarannya sudah kembali sepenuhnya. Tapi, karena kelelahan Halilintar pun pingsan. Mungkin, ini hal baik untuknya jika lupa akan reverse dan traumanya.


"Aku bersyukur, semua orang yang kusayang baik-baik saja dan berusaha untukku. Masa lalu buruk akan kujadikan pelajaran, sehingga kedepannya aku bisa berubah menjadi lebih kuat dan baik" Gumam Halilintar, setelah dirawat selama beberapa hari dan akhirnya kembali sehat.


Halilintar memutuskan untuk berdamai dengan reverse dan juga traumanya. Bukan melupakan keduanya, tapi belajar menerima dan mengikhlaskan. Sekarang, dia sudah banyak mendapatkan kemajuan. Bagaimana dengan kalian? Apa kalian juga sudah terbebas dari bayang-bayang masa lalu?


THE END.


Ayok tebak-tebakan lagi, kira-kira kali ini aku mengetik berapa kata? πŸ€”


Bagi yang belum tahu, cerita ini up dari hari senin-jumat dan libur di hari sabtu minggu ya~


Gimana? Menurut kalian seru gak? Soalnya, aku agak kesulitan di request chapter kali ini nih 😭 semoga sesuai dengan keinginan kalian ya, aku akan berusaha! πŸ€—


Maaf ya, kalau bagi kalian banyak yang kurang seru.. Tapi, mohon dukungannya untuk cerita kali ini ❀️ terima kasih~


Oh iya, ayo ikutan juga request ceritanya bagi yang belum.. Bantu aku membuat ide cerita baru, yuk! πŸ˜‰

__ADS_1


__ADS_2