
Tema : Brotherhood, Slice of life, Comedy
Request : @mey0324
ππππππππππππππππππ
Bulan puasa sudah tiba, banyak orang yang menanti-nanti hari puasa. Karena, dihari puasa katanya kita akan mendapatkan banyak hal yang menguji kesabaran. Pasti, akan ada rasa bangga tersendiri saat diri berhasil menyelesaikan puasa tanpa gagal sedikitpun. Tandanya, kita berhasil melewati cobaan dari-Nya.
"Sahur! Sahur! Bangun sahur!" Teriak para warga, yang bertugas membangunkan sahur satu komplek hari ini.
"Uh, sudah waktunya sahur ya?" Matanya terbuka, menampilkan manik berwarna hazel bersinar.
Gempa berdiri dari tempat tidurnya, melihat kearah jam. Benar, sudah waktunya sahur. Jadi, dia harus segera memasak untuk kakak dan adiknya. Setelah meregangkan badannya, Gempa mengambil handuk dan pergi menuju ke kamar mandi.
Sama seperti manusia biasanya, mereka bertujuh juga menjalani hari puasa. Ini merupakan hari pertama berpuasa, jadi pasti akan banya cobaan yang terasa berat. Seorang Gempa saja, masih sangat mengantuk dan ingin kembali tidur. Untungnya, Gempa selalu taat pada prinsipnya.
"Hari ini masak apa ya? Heum, mungkin masak bayam, ayam gulai, dan potong beberapa buah apel saja kali ya" Gempa menyisir rambutnya, sambil memikirkan menu sahur hari ini.
Setelah selesai, Gempa turun menuju kearah dapur yang ada dilantai bawah. Rumah mereka memang tingkat, namun tidak terlalu luas. Jadi, jarak antara kamarnya dan dapur memang tidak jauh. Biasanya, Gempa menjadi penanggung jawab gizi keenam saudaranya setiap bulan puasa.
Kenapa? Jelas, karena Gempa pintar sekali dalam hal memasak. Itu juga, karena Gempa mengambil klub tataboga. Atau, biasa dikenal sebagai klub memasak. Begitu sampai didapur, Gempa mengambil bahan-bahan masakan yang ada dikulkas.
"Biar semua tahu, ini dunia baru~" Kalau sedang memasak, entah mengapa mulut Gempa tidak mau diam.
"Kak Gem!" Panggil salah satu adiknya dari arah belakang, membuat Gempa nyaris serangan jantung.
"Astaga, bisa berhenti bikin kaget tidak Blaze?"
"Hehe, maaf tidak sengaja kak Gem. Oh iya, kak Gem masak apa untuk sahur ini?"
"Aku masak sayur bayam dan gulai ayam, untung bumbunya sudah kubikin kemarin. Jadi, tinggal ditumis dan masukkan saja"
"Selamat pagi, hari pertama puasa bagaimana?" Satu lagi pengacau yang datang, Taufan datang tanpa wajah bersalahnya.
"Kak Taufan, satu hari puasa aja belum lewat tolong" Gempa menghela nafas, siapa lagi yang mau mengganggunya?
"Wuih, mau masak apa nih Gem?" Baru saja bertanya, Taufan ditatap tajam oleh Gempa.
Kemudian, Gempa hanya menarik tangan Taufan dan juga Blaze untuk keluar dari wilayah dapurnya. Keduanya hanya terdiam, jelas saja Gempa terlihat menakutkan hari ini. Mereka lupa, hari pertama puasa bersama Gempa rasanya seperti dilempar dari pesawat terbang.
"Jangan banyak tanya dan jangan ganggu aku, silahkan bangunkan yang lain sana"
Gempa berjalan kembali kedapur, akhirnya dia bisa memasak dengan tenang sekarang. Tapi, apa yang lainnya akan baik-baik saja kalau dibangunkan mereka berdua? Yasudahlah, intinya Gempa harus memasak dengan cepat.
"Heum, harus bangunin yang lain ya" Gumam Taufan, matanya memancarkan rasa senang.
"Jangan berdua dong, kak Taufan. Ayo, kita bangunin Thorn dulu. Biar anggotanya lengkap, trio troublemaker" Setuju dengan ucapan Blaze, merekapun menuju ke kamar Thorn.
Ada satu pintu berwarna hijau muda disamping kamar Blaze, mereka masuk kedalam kamar tersebut secara perlahan. Terlihat Thorn masih tertidur sambil memeluk bonekanya, wajahnya memang seperti malaikat. Tapi, tidak dengan tingkah jahilnya. Nanti juga, kalian akan paham.
"Satu, dua, tiga!" Hitung Blaze, kemudian mereka menyanyikan lagu dengan kencang disisi kiri dan kanan Thorn.
"DUARARARARARARI!" Sontak saja, Thorn langsung membuka kedua matanya.
*Duararari : Plesetan dari lagu 'Darari - Treasure' πβοΈ
"OCHOBOT KEMAKAN TOK ABA!!" Thorn menghela nafas, saat melihat Taufan dan Blaze tertawa senang.
"Buset, bulat besar begitu bisa dimakan tok Aba" Ejek Taufan, Blaze semakin geli tertawa.
"Ish, kak Taufan dan kak Blaze!"
"Ututu, jangan ngambek dong Thorn. Hari puasa pertama lho, ingat" Ucap Taufan, akhirnya Thorn tidak jadi marah.
"Nah, sekarang kita mau ajak kamu bicarain rencana nih Thorn" Mendengar ucapan Blaze, membuat Thorn menjadi tertarik.
"Woah, rencana apa nih?"
Akhirnya, kamar Thorn berubah menjadi tempat rahasia mereka bertiga. Untuk membicarakan rencana yang aneh, bukan trio trouble maker kalau tidak aneh. Thorn yang setuju, ikut menganggukkan kepalanya bersemangat.
"Baiklah, jadi ingatkan rencana masing-masing?" Tanya Taufan memastikan, heran anak ini hobi sekali menjadi dalangnya.
"Ingat, komandan!" Seru Blaze dan Thorn bersamaan.
"Sip, kalau begitu mangsa pertama kita adalah Ice"
"Sebentar, aku siapin es batunya dulu kak Taufan" Blaze berjalan keluar dari kamar Thorn.
__ADS_1
"Yasudah kak Taufan, kita ke kamar kak Ice aja duluan" Usul Thorn, benar juga untuk apa mereka menunggu seperti orang bodoh disinu?
Blaze terlihat berjalan perlahan kearah dapur, daripada ketahuan dan kena marah oleh Gempa. Ia lebih memilih jalan mengendap-endap, untuk mengambil es batu. Sesuai dengan misi pertama mereka, yaitu membangunkan seorang beruang hibernasi. Siapa lagi, jika bukan Ice.
'Fiuh, untung berhasil mengambil es batu ini tanpa ketahuan kak Gem' Batin Blaze.
Kemudian, Blaze kembali ke kamar Thorn. Melihat Taufan dan Thorn tidak ada disana, diapun pergi kekamar Ice dengan wajah kesal. Katanya tim, tapi dia ditinggalkan begitu saja.
"Akhirnya, datang juga si tungku api" Sudah kesal, malah disambut seperti ini oleh Taufan.
"Aku bukan tungku api, kak Taufan"
"Iya maaf, bercanda doang Blaze" Taufan menggaruk kepalanya, sambil tertawa kecil.
"Ayo, cepat jalankan rencananya kak!" Thorn berseru, namun mulutnya ditahan oleh tangan Blaze dan Taufan.
"Shhh, jangan berisik Thorn" Bisik Taufan dan Blaze bersamaan, Thorn hanya mengangguk.
Ketiganya memulai rencana mereka untuk Ice, biasanya kalau tidur Ice terkadang membuka mulutnya karena haus. Makanya, mereka menyiapkan es batu untuk langsung ditaruh kemulut Ice.
"Yakin nih, sekarang?" Tanya Blaze, masalahnya dia yang akan menaruh es batunya dimulut Ice.
"Yakin, ayo cepat Blaze"
Setelah menghela nafas, Blaze menaruh es batu tersebut kemulut Ice. Karena merasakan sensasi dingin secara tiba-tiba, Ice membuka matanya dengan terpaksa. Apalagi, yang dilakukan ketiga saudara tak warasnya ini?
"Tada, bangun sahur Ice!!" Seru ketiganya kompak, Ice hanya membalikkan badannya kesisi samping.
'Cih, paling gak seru kalau dikerjain' Batin trio trouble maker.
"Apa? Jangan ganggu, sana kerjain yang lain aja. Oh iya, makasih es batunya"
'Perasaan kita gak berniat nolongin rasa hausnya, kok kayak gak berguna ya' Batin trio trouble maker.
Dengan perasaan kecewa bercampur kesal, ketiganya berjalan keluar dari kamar Ice. Salah sendiri, mereka malah menjahili manusia dingin seperti Ice. Namun, didetik selanjutnya mereka tersenyum lagi. Karena, sekarang waktunya Solar yang menjadi mangsa mereka.
"Heum, bagusnya kalau Solar apa ya?" Gumam Taufan, sambil berpikir apa yang harus dilakukan pada Solar.
"Kalau Solar, bukannya seharusnya kita tanya anak ini?" Blaze menunjuk kearah Thorn.
"Menurut Thorn, gimana kalau kita bisikkan hal yang paling ditakuti Solar?" Mata bernetra hijau muda itu berkilau.
"Selain Ice dan kak Hali, aku gak tau hal apa yang ditakuti sama yang lain"
"Sini, biar Thorn bisikkan" Thorn mendekat dan membisikkan sesuatu kepada kedua kakaknya itu.
Memahami maksud Thorn, kini Blaze dan Taufan ikut tersenyum licik. Menantikan reaksi apa yang akan diberikan oleh Solar, semoga lebih baik dibandingkan reaksi Ice. Mungkin, ini kali terakhir mereka akan menjahili Ice.
"Shhh, Solar cukup peka sama suara. Jadi, masuk kekamarnya pelan-pelan ya" Thorn memimpin rencana mereka kali ini.
"Aku alergi, kalau lihat kamar anak pintar" Celetuk Taufan, Blaze ikut mengangguk.
"Isinya buku, kertas ulangan, cairan aneh berbau unik. Wuih, mengerikan" Bisa gila Blaze, jika harus sekamar dengan Solar.
Mereka bertiga berjalan perlahan, menuju kesamping tempat tidur Solar. Bisa mereka tebak, pasti semalam Solar ketiduran saat belajar. Thorn bersiap, mendekat kearah kuping Solar. Kemudian, membisikkan kata-kata yang paling ditakuti Solar.
"Solar, tabung ramuan buatanmu pecah. Lalu, ujian fisikamu kemarin tidak lulus" Bisik Thorn, sedangkan Taufan dan Blaze hanya terdiam.
"Hei, menurutmu ini akan berhasil Blaze?"
"Mungkin, sebenarnya aku gak yakin sih kak Taufan"
Thorn hanya menyeringai, saudaranya tidak tahu saja. Solar selain peka terhadap suara, juga sering bermimpi jika dibisikkan hal yang ditakutinya. Beberapa detik kemudian, Solar terbangun dari tidurnya sampai berkeringat.
"JANGAN!!!" Karena berisik, teriakan Solar ditutup dengan bantal oleh ketiganya.
"Kan, sudah Thorn bilang pasti berhasil"
"Kukira cupu, ternyata suhu" Taufan menepukkan kedua tangannya.
"Ampun suhu, tolong ajarkan lebih banyak padaku" Blaze memberi salam, seolah-olah Thorn memang gurunya.
'Apa sih? Kenapa saudaraku gila dan aneh semua?' Batin Solar.
"Yosh, karena sudah membangunkan Solar. Sekarang, kita bangunkan monster terakhir"
Dengan semangat, ketiganya keluar dari kamar Solar tanpa wajah bersalah. Meninggalkan Solar dengan tatapan kesalnya, lantas untuk apa dikerjai sampai seperti tadi? Astaga, bisa-bisa Solar membuat racun untuk ketiga saudaranya itu.
__ADS_1
"Apa salah hamba, punya kakak semuanya aneh. Lama-lama, aku yang mati duluan. Kalau, tinggal sama mereka. Sabar Solar, anak sabar disayang Tuhan" Gumam Solar, menetralkan emosinya.
Sampailah ketiganya didepan kamar dengan pintu berwarna merah, siapa lagi jika bukan kamar sang kakak sulung. Halilintar, kakak yang penyayang namun selalu tidak mau mengakui. Sifatnya pemarah, lebih tepatnya kaku untuk diajak bercanda. Namun, tetap akan berdiri paling depan untuk melindungi adik-adiknya.
"Udahlah, perkenalan kak Hali bagus mulu. Nanti, fansnya malah makin banyak" Keluh Taufan, menghapus monolognya.
'Lah, kakak kita kenapa deh? Gila? Eh, tapi memang iya sih' Batin Blaze dan Thorn.
"Kak Taufan, ayo buruan masuk" Ajak Blaze, karena daritadi Taufan hanya berdiri diam.
"Jangan-jangan, kak Taufan takut ya~" Ledek Thorn, Taufan yang tidak terima pun langsung membuka pintu kamar Halilintar.
Pintu merah tersebut terbuka, memperlihatkan suasana dan keadaan kamar yang jauh dari kata berantakan. Semuanya tertata dengan rapi, tidak ada sampah sedikitpun. Heran, apalagi yang kurang dalam diri Halilintar kan?
Ada sih kurangnya, kurang nyata. Iyakan? Jangan kebanyakan menghalu, jadi gila nanti. Sekedar saran aja sih, daripada sadarnya belakangan kan. Keburu gila, susah nyari obatnya. Jamu mau jamu?
"Sudah siap balonnya?" Tanya Taufan kepada kedua adiknya, keduanya memberikan balon yang sudah ditiup oada Taufan.
"Semangat ya, kak Taufan" Blaze dan Thorn menepuk pundak Taufan.
'Kok mereka ramah? Perasaanku jadi gak enak' Batin Taufan.
Taufan mengarahkan balon tersebut kedekat Halilintar, kemudian meledakkannya. Mendengar suara yang paling dibencinya, membuat suasana hati Halilintar menjadi jelek seketika. Padahal, hari ini akan menjadi hari pertama puasanya.
"Siapa yang berani-beraninya meledakkan balon dikamarku?" Tanya Halilintar dengan penuh penekanan, matanya terlihat lebih tajam dari biasanya.
"B-bukan aku doang, kak Hali"
Taufan melirik kearah belakangnya, entah hilang kemana dua hantu yang bersamanya tadi. Ah, pasti mereka sudah melarikan diri. Begitu tahu, kalau kakak sulungnya itu sudah bangun. Tau begini, Taufan tinggalkan dan kuncikan saja mereka dikamar Halilintar. Ingat, Taufan itu akan membalas jika dikhianati. Bercanda, Taufan anak yang santai.
'Kan, adik-adik laknatku' Batin Taufan.
"Oh, jadi ini ulahmu lagi ya Taufan" Geram Halilintar, bersiap melampiaskan kekesalannya pada Taufan.
"Eits, ingat puasa kak Hali. Kalau mau puasa, kan harus sabar dan memaafkan"
Mendengar ucapan Taufan membuat Halilintar berdecak, Taufan tertawa senang. Kalau begini, dia bisa menjahili kakak sulungnya itu seharian. Apalagi, Halilintar tidak berkutik saat Taufan bilang soal puasa.
Sesudah itu, ketujuhnya sahur dengan damai. Nah, kalau begini kan sejuk mata memandang. Tapi, setelahnya menjadi hari yang cukup menjengkelkan bagi Halilintar. Benar saja, Taufan tidak henti-hentinya mengerjai Halilintar. Sayangnya, dia mempertahankan kesabarannya demi puasa kali ini.
"Haha, kak Hali jadi gak bisa marah karena puasa" Taufan tertawa snenag, bahkan sampai keluar air mata.
"Terus saja, kalau kau mau masuk neraka" Sindir Halilintar, kemudian masuk kekamarnya.
Sayangnya, Taufan bukan anak yang mudah menyerah. Jadi, sampai sorepun Taufan masih senantiasa menjahili Halilintar. Niatnya tidak jahat, dia hanya ingin bercanda dan bermain-main dengan kakak sulungnya itu. Tapi, seperti minta dihajar sikapnya.
"Kayaknya, sebentar lagi sudah waktunya buka puasa" Ucap Ice, sambil mengganti saluran televisi.
Tak berapa lama kemudian, adzan berbunyi. Akhirnya, mereka bertujuh bisa melewati saat-saat sulit dihari pertama puasa. Gempa yang sudah selesai menyiapkan makanan buka puasa oun memanggil yang lainnya, namun Halilintar masih setia diposisi duduknya.
"Ada apa, kak Hali?" Tanya Taufan, takut kakaknya sakit lagi seperti tahun lalu.
"Akhirnya, sudah buka puasa. Bisa bicara dulu denganku, Taufan?" Halilintar tersenyum.
'Mati aku, senyum kak Hali setara malaikat maut' Batin Taufan.
"E-eh, tapi Gempa sudah bikin makanan buka puasa kak Hali"
"Hanya sebentar, tidak sampai lima menit. Kesini sebentar, Taufan" Masih senantiasa dengan senyumannya, Halilintar memanggil Taufan.
Mau tidak mau, Taufan berjalan perlahan kearah Halilintar. Jangan tanyakan, apa yang terjadi selanjutnya. Tenang saja, Halilintar tidak akan bersikap sangat kejam kepada Taufan. Tapi, sepertinya Taufan akan tobat sementara dari menjahili saudara-saudaranya.
Ya, seperti inilah kisah seru dan aneh para saudara elemental. Tinggal bertujuh dalam satu rumah, bukan hal yang mudah kan? Kalian sendiri bagaimana? Apakah puasa kalian kemarin lancar tanpa hambatan? Atau, ada yang belum puasa penuh? Semoga dikesempatan selanjutnya, kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik.
THE END.
Ayok tebak-tebakan lagi, kira-kira kali ini aku mengetik berapa kata? π€
...[PENGUMUMAN]...
Request cerita ditutup, mohon maaf tapi aku tidak merima request cerita lagi π karena, cerita ini akan tamat dichapter 25. Terima kasih banyak, kepada para pendukung selama ini π₯°π
...~~~~~~~~~...
Wohoooo, maaf telat para readers π aku baru pulang ke Jakarta. Tapi, aku sempatkan untuk update untuk kalian βΊοΈ
Maaf ya, kalau bagi kalian banyak yang kurang seru.. Tapi, mohon dukungannya untuk cerita kali ini β€οΈ terima kasih~
__ADS_1
Oh iya, ayo ikutan juga request ceritanya bagi yang belum.. Bantu aku membuat ide cerita baru, yuk! π