
Tema : Brotherhood, Mystery
Request : @Egao
π΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈ
Malam hari, masa dimana sebuah bulan tidak menyembunyikan sinarnya. Di sebuah rumah yang bisa di bilang cukup mewah, bisa di pastikan bahwa penghuni rumah tersebut masih sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Buktinya, ketujuh saudara yang tinggal dalam satu rumah itu masih berkumpul bersama di ruang tamu mereka. Walaupun menyalakan televisi, mereka hanya sibuk pada dunia masing-masing. Beberapa ada yang bermain handphone, ada juga yang membaca buku.
"Kalian berenam gak berniat tidur?" Tanya Halilintar, tanda bahwa adik-adiknya sudah harus tidur.
"Aku sebentar lagi, kak Hali. Masih ada riset laporan kampus untuk besok, jadi mau aku selesaikan dulu" Memang bisa Halilintar lihat, sedari tadi Gempa sibuk dengan laptopnya.
"Nanti ya, kak Hali. Lagi pula, besok aku dapat jadwal kuliah siang" Mumpung mendapat jadwal siang, Taufan mencoba membujuk Halilintar.
"Untuk Gempa aku biarkan, tapi kau harus tidur Taufan" Halilintar menutupi wajah memelas Taufan, dengan menggunakan bantal sofa.
"Kak Hali mah begitu, selalu pilih kasih sama Gempa!" Taufan berpura-pura marah, nyatanya tidak memberi efek apapun pada Halilintar.
"Dan, kalian berempat yang masih harus sekolah besok?" Menunggu, Halilintar ingin tahu alasan apalagi yang akan di berikan adik-adiknya.
"Tolong kak Hali, waktu istirahat di masa akhir SMA itu sedikit" Sudah bisa Halilintar pastikan, pasti Blaze belajar cara membujuk dari Taufan.
"Iya, kak Hali. Biarkan Thorn dan kak Blaze bermain, sekali lagi saja ya?" Sayangnya, beda cerita kalau Thorn yang meminta ijin pada Halilintar.
"Baiklah, satu kali lagi saja" Halilintar menghela nafas, adik-adiknya itu licik.
"Bisa berhenti tidur di ruang tamu, Ice?" Dengan perlahan, Halilintar membangunkan Ice yang memeluk bantal di sofa.
"Jangan kak Hali, ini tempat ternyaman untuk tidur menurutku" Tangan Ice menutup bantal yang dia pakai, seolah-olah Halilintar akan mengambilnya.
"Hm, terserah sifat anehmu saja Ice" Lelah, Halilintar tidak mau berurusan dengan keanehan Ice.
"Kak Hali, aku boleh minta kunci ruangan lab uji cobaku sekarang?" Terakhir kali, Halilintar menyita kunci ruangan lab Solar.
"Tidak boleh, Solar. Karena, kamu pasti akan melakukan uji coba lagi dan berakhir dengan tidak tidur sampai pagi" Hilang sudah harapan Solar, dia merindukan jam tidur kacaunya.
"Heum, dari tadi aku sedikit penasaran. Sebenarnya, kau main game apa Blaze?" Tanya Gempa, sembari mengetikkan laporan di laptopnya.
"Oh, ini game world wanted list, kak Gem!" Blaze menjawab dengan semangat, ini game kesukaannya.
"Game apa itu? Namanya aneh" Cibir Ice, seorang manusia yang ingin hidup damai bersama bantal.
"Ish kak Ice, ini game yang susah banget Thorn dan kak Blaze dapat tau" Thorn menatap tajam ke arah Ice, namun malah terlihat imut bagi yang lainnya.
"Jadi, apa fungsi game itu?" Baru kali ini, Halilintar terlihat cukup tertarik pada sebuah game.
Blaze menjelaskan bagaimana cara memainkan game tersebut, termasuk jalan permainannya. Dimana, seorang player harus mencari cara bertahan hidup. Sekaligus, menyelesaikan misteri yang menimpanya. Yang membuat dia di buru oleh satu dunia, bukankah sangat menegangkan?
"Hm begitu, sekarang cepat tidur kalian semua" Keputusan akhir Halilintar sudah bulat, adik-adiknya pun berniat masuk ke kamar masing-masing.
"Iya, kak Hali" Tidak mau beradu mulut dengan kakak sulungnya, mereka pun menjawab dengan nada lemas.
Setelah adik-adiknya tertidur, Halilintar melanjutkan sedikit pekerjaan yang di bawanya dari kantor. Dan tiba-tiba, terlintas di pikirkannya untuk sedikit memainkan game yang di jelaskan oleh Blaze tadi. Jujur saja, dia memang cukup penasaran.
"Hanya bermain game sebentar tidak masalah, kan?" Gumam Halilintar, sembari menyalakan game tersebut.
"Bagaimana bisa, tiba-tiba seseorang meninggalkan koper berlian negara di depan rumah orang lain?" Monolog Halilintar, yang baru saja mulai memainkan game.
Sayangnya, Halilintar tidak sanggup menahan rasa kantuknya. Karena, saat ini jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Ya, Halilintar mengacaukan jam tidurnya hanya karena sebuah game. Luar biasanya, dia menyelesaikan game tersebut hanya dalam tujuh jam.
"Orang-orang butuh waktu 2 hari menyelesaikan game ini?" Sebelum Halilintar benar-benar menutup kelopak matanya, dia bergumam.
Matahari mulai memancarkan sinarnya, membuat para penghuni di rumah tersebut terbangun. Sedangkan, Halilintar masih terlihat nyaman di alam mimpinya. Sebelum tiba-tiba, Solar berlari ke arahnya sambil membuka pintu kamar dengan kencang.
"Kak Hali! Matilah kita!" Teriak Solar, sambil membawa handphonenya ke arah Halilintar.
"Ck, ada apa pagi-pagi begini?" Halilintar berdecak, tidak bisakah dia santai sedikit?
"Tunggu sebentar, kenapa kak Hali tidur di ruang tamu?" Gempa kebingungan, setelah membuat teh dari dapur.
"Bukan apa-apa, hanya tugas dari kantor" Sejujurnya, Halilintar tidak berniat untuk bohong. Hanya malas, jika di ejek oleh adik-adiknya.
__ADS_1
"Permisi, aku ada hal mendesak yang harus di sampaikan" Dengan wajah datarnya, Solar memotong percakapan Halilintar dan juga Gempa.
"Hm, ada apa Solar?" Jelas sekali, Halilintar malas mendengarkan Solar.
"Lihat ini, kak Hali!" Kembali dengan wajah paniknya, Solar menyerahkan handphonenya ke Halilintar.
Walaupun bingung, Halilintar tetap mengambil handphone Solar. Halilintar yang tadinya terlihat malas, langsung mendadak berubah menjadi serius. Setelah, membaca situs berita yang baru saja diberikan oleh Solar.
"Apa-apaan ini? Kenapa kita bertujuh masuk daftar orang yang paling dicari satu negara?" Sebentar, Halilintar ingin kembali tidur saat ini.
"Serius kak Hali, kita sampai masuk berita nih" Taufan menyalakan televisi, yang menampilkan berita mengenai mereka.
"Oh, kacau sudah keinginanku untuk hidup damai" Terkadang Ice bertanya-tanya, apa dia tidak di ijinkan untuk hidup tenang?
"Woah, baru kali ini Thorn masuk daftar pencarian!" Thorn memang berbeda, dia malah terlihat senang.
"Adik polos yang kelewat bodoh, ini bukan sesuatu yang menyenangkan" Ingin rasanya, Blaze memukul kepala adik bungsunya itu agar waras.
"Jadi, bagaimana ini kak Hali?" Gempa terlihat khawatir, karena dia tahu tidak ada dari mereka yang akan mencuri berlian negara.
"Tunggu sebentar, berlian negara? Daftar pencarian satu negara?" Sedikit demi sedikit, Halilintar menyusun puzzle tersebut di otaknya.
"Oh, game punyaku semalam!" Seru Blaze, dia baru sadar bahwa alurnya sama.
"Berarti, di depan rumah saat ini ada koper itu" Halilintar berjalan ke arah pintu rumahnya.
Benar saja, setelah Halilintar membuka pintu rumahnya ada sebuah koper hitam di sana. Ini akan sulit, Halilintar berpikir bagaimana bisa sebuah game menyambung dengan kehidupan nyata. Ia ingin menganggap ini sebuah ilusi, tapi bisa gawat jika ini memang nyata dan dia tidak melakukan apapun.
"Tapi, bagaimana bisa kak Hali tau alur game yang dimainkan Blaze?" Tanya Taufan, sembari tersenyum penuh makna.
"Baiklah, aku menyelesaikan game Blaze tadi malam" Inilah yang Halilintar hindari, Taufan itu punya insting yang tidak wajar.
"Apa?! Diselesaikan dalam satu hari?" Blaze terkejut, nyatanya Halilintar adalah orang pertama yang bisa menyelesaikan game tersebut dengan cepat.
"Lebih tepatnya, tujuh jam" Halilintar memasang wajah datar, memangnya apa yang bagus dari menyelesaikan sebuah game?
"Eum, Thorn gak berniat memotong pembicaraan tapi berita bilang sedang menuju ke lokasi terakhir kopernya" Dengan wajah gelisah, Thorn menghentikan pembicaraan di antara kakaknya itu.
"Kita mau kemana, kak Hali?" Thorn bertanya, entah kenapa dia merasa ini cukup seru.
"Ke pedesaan, yang sangat jauh dari kota" Halilintar menyalakan mesin mobil dan menuju ke pedesaan yang ia tahu.
Tidak ada yang berisik seperti biasanya, semuanya terlarut dalam pikiran masing-masing. Mencoba memikirkan cara, agar bisa keluar dari kejadian ini. Berkali-kali mereka harus menyamar, setiap ada pemeriksaan di tengah jalan.
Saat sore hari, mereka sampai di sebuah desa yang sangat sepi. Terlihat seperti, desa yang sudah tidak berpenghuni lagi. Mereka bertujuh terkejut, saat ada seorang kakek tua yang mengetuk jendela mobil mereka saat itu. Seolah-olah, ada yang ingin di sampaikannya.
"Jangan di buka, kak Hali. Terlihat mencurigakan, takutnya ada apa-apa" Ice takut, barang kali tiba-tiba mereka tertangkap disini.
"Tenang Ice, kakek ini adalah kunci utama kalau kita ingin selamat" Sesudah menjelaskan kepada Ice, Halilintar membuka jendela mobilnya.
"Sudah lima tahun, aku menunggu dan berjaga di sini. Apa kalian pembawa koper hitam ke-47?" Tanya kakek tua itu.
"Benar, tolong katakan kemana kami harus pergi" Bohong, kalau Halilintar bilang dia tidak takut.
"Di antara semua tempat, ini merupakan salah satu bagian dari kebutuhan pokok utama manusia. Carilah tempat itu, maka kalian akan menemukan jawabannya" Selesai memberikan petunjuk, sang kakek berjalan menjauh memasuki rumahnya.
"Apa maksudnya? Aku tidak mengerti" Gempa bertanya-tanya,
"Aku tahu, jangan-jangan maksudnya tempat makan?" Solar mencoba menebak, berharap bahwa jawabannya itu benar.
"Solar benar, jawabannya adalah tempat makan" Ucap Halilintar, sambil mengendarai mobilnya.
"Bagaimana bisa jawabannya tempat makan?" Taufan penasaran, apa dia yang terlalu lambat berpikir?
"Karena, salah satu kebutuhan pokok utama manusia sudah pasti makanan. Tapi, kakek tadi bilang itu sebuah tempat. Jadi, pastinya tempat makan" Solar menjelaskan kepada Taufan, secepat itulah logika Solar bekerja.
"Wah, aku harap kak Taufan memiliki setengah dari otakmu Solar" Dengan wajah kagumnya, Blaze memuji Solar.
"Adik kurang ajar!" Cibir Taufan, sungguh sabar sekali dia sebagai seorang kakak.
Beberapa saat kemudian, mereka pun menemukan sebuah tempat makan kecil yang sudah cukup tua. Mereka turun bersama dan masuk ke sana, ada seseorang yang menjaga tempat tersebut. Bisa mereka tebak, dia jugalah koki di tempat makan ini.
"Bagaimana kalau, tiba-tiba kita di tangkap dan di masak hidup-hidup?" Thorn berbisik kepada Ice yang berada di sebelahnya.
__ADS_1
"Tolong tukar posisi, anak ini agak sesat" Merinding, Ice berjalan mendahului Thorn.
"Selamat datang, kalian ingin pesan apa?" Tawar sang pemilik tempat makan tersebut.
"Kami tidak ingin memesan makanan, kami ingin bertanya" Tanpa basa basi, Halilintar berbicara langsung mengenai tujuannya.
"Maaf dik, disini bukan tempat informasi" Tolak pemilik tempat makan tersebut.
"Walaupun jika, aku membayar informasi tersebut?" Halilintar mengeluarkan uang yang cukup tebal.
"Sepakat, apa informasi yang ingin kalian ketahui?" Seperti dugaan Halilintar, pemilik tempat makan tersebut bisa di bayar.
"Apa ada rumah tua di dekat sini?" Mendengar pertanyaan Halilintar, orang itupun berpikir sebentar.
"Di sekitar sini banyaknya rumah kosong, ada beberapa rumah di depan jalan ini. Tapi, ada satu rumah tua yang tersisa di tempat ini" Ada perubahan ekspresi, saat pemilik tempat makan membicarakan rumah tua tersebut.
"Dimana letak rumah tua yang tersisa?" Justru Halilintar merasa jika, rumah tua itulah jawabannya.
"Aku sarankan, sebaiknya kalian jangan kesana. Karena, beberapa orang yang bertanya padaku soal rumah tua itu pasti tidak pernah kembali lagi. Dan saat ku cari, rumah tua itu kosong tanpa jejak" Pemilik tempat makan itu ketakutan, mengingat sudah berapa banyak orang yang hilang.
"Tidak masalah, katakan saja dimana rumah tua itu" Tidak peduli, Halilintar tetap menginginkan posisi rumah tua tersebut.
Sang pemilik tempat makan tidak memiliki pilihan lain, dia pun memberikan posisi pasti rumah tua tersebut. Halilintar dan yang lainnya segera menuju ke rumah tua tersebut, walaupun kondisi rumah tua itu terlihat kumuh dan menyeramkan.
"Apa benar disini posisinya, kak Hali?" Biasanya Gempa tidak takut, tapi bisa di akui kalau dia sendiri ketakutan.
"Benar, tidak ada rumah lagi di sekitar sini" Halilintar berjalan perlahan, membuka pintu rumah tua.
Di dalam rumah tua, mereka menemukan sebuah tempat untuk menaruh koper hitam yang berisi berlian negara tersebut. Saat mereka taruh, sebuah dinding pembatas di rumah itu tiba-tiba terbuka. Semakin mereka menuruni tangga, maka semakin terang cahaya yang mereka lihat.
"Sudah ku duga, ini tempat misi terakhirnya" Halilintar menghela nafas, inilah bagian yang cukup sulit menurutnya.
Keenam adiknya terkejut, melihat bahwa di sebuah ruang bawah tanah ada sebuah tempat yang bisa di sebut sebagai kota. Karena, ada cukup banyak orang yang hidup di sini. Tapi, kota bawah tanah ini terlihat cukup canggih dibandingkan daerah tempat tinggal mereka.
"Aku baru tahu, ada tempat seperti ini" Solar melihat ke arah kanan dan kirinya bergantian.
"Selamat datang di Metropolis Downstairs, pemilik koper hitam ke-47" Seorang pria dengan baju formal mendekat ke arah mereka bertujuh.
"Maaf, tapi siapa anda?" Halilintar berdiri di depan, melindungi adik-adiknya.
"Saya adalah penyambut dan pemberi informasi, pada setiap pemilik koper hitam yang sampai kesini" Pria itu tersenyum, namun tidak terlihat memiliki niat jahat.
"Pemberi informasi?" Jujur saja, Blaze belum sampai ke tahap ini saat memainkan gamenya.
"Sebelumnya, saya akan menjelaskan kepada para player. Bahwa, kalian di berikan pilihan ingin melanjutkan misi dan kembali saat misi telah selesai. Atau, tinggal disini dengan peraturan yang ada"
"Apa saja aturan untuk tinggal disini?" Tanya Halilintar, karena yang seperti ini agak berbeda dari alur game.
"Aturannya adalah pekerjaan di tetapkan oleh level dan kelas masing-masing, tidak boleh terjadi pertengkaran dan akan diberikan penalti jika bertengkar. Terakhir, setiap hari wajib menyelesaikan minimal satu misi sesuai level masing-masing"
Setelah mendengar penjelasan dan peraturan untuk tinggal disini, Halilintar berdiskusi dengan adik-adiknya. Mereka bertujuh pun setuju, untuk tinggal disini. Karena, di tempat tinggal mereka sebelumnya tidak memiliki siapapun. Sedangkan disini, mereka bertemu dengan orang-orang seperti mereka.
"Kami memutuskan untuk tinggal disini" Halilintar menjawab kepada pria berbaju formal tersebut.
"Baiklah, silahkan ikuti saya untuk ke bagian pemerintahan. Dan selamat bergabung, sebagai penduduk Metropolis Downstairs"
Walaupun, ada sedikit keraguan di dalam hati mereka bertujuh untuk hidup di tempat yang baru ini. Namun, sepertinya disini mereka bisa mencari kebahagiaan yang baru. Bersama-sama, tidak lagi terpisah dengan kesibukan masing-masing seperti biasanya.
Karena menurut mereka, tidak selamanya kehidupan yang baru akan membawa efek buruk. Nyatanya, terkadang kita harus bisa keluar dari zona nyaman untuk mencapai tujuan tertentu. Bagaimana dengan kalian? Apa kalian akan memilih pilihan yang sama seperti ketujuh saudara tersebut?
THE END.
Aku rasanya mau ketawa, menistakan mereka bertujuh di sini π
Berawal dari game, kemudian menjadi buronan. Dan berakhir, memilih tempat kehidupan baru ππ
Genre dan alur cerita kali ini tantangan banget buat aku, jujur aku sempat pusing tujuh galaksi mikirin alurnya harus gimana.. Dan, terbitlah cerita ini β
Ayok tebak-tebakan lagi, kira-kira kali ini aku mengetik berapa kata? π
Maaf ya, kalau bagi kalian banyak yang kurang seru.. Tapi, mohon dukungannya untuk cerita kali ini β€οΈ terima kasih~
Oh iya, ayo ikutan juga request ceritanya bagi yang belum.. Bantu aku membuat ide cerita baru, yuk! π
__ADS_1