
Tema : Brotherhood
Request : @Lily
ππππππππππππππππππ
"Thorn, cepat turun sarapan!" Teriak Taufan, sudah lelah dirinya menunggu.
Mendengar panggilan dari kakak sulungnya, membuat Thorn mempercepat siap-siapnya. Thorn tidak mau membuat suasana hati Taufan jelek lagi dipagi hari, apalagi sebelum berangkat kesekolah. Sambil sedikit berlari, Thorn turun kebawah.
Seorang remaja dengan iris mata merah jingga melihat kearah Thorn, itu adalah kakak kedua Thorn. Bernama Blaze, yang menurut Thorn merupakan sosok kakak yang paling peduli padanya. Walaupun, semua kendali dirumah ini dipegang oleh Taufan. Ditambah lagi, orang tua mereka sedang ada pekerjaan diluar kota.
"Jangan lari-lari, Thorn. Nanti jatuh, jalan pelan-pelan saja" Blaze berjalan didepan Thorn, melindunginya dari ocehan Taufan.
"Akhirnya, turun juga kalian" Melihat Blaze yang melindungi Thorn, membuat Taufan menghela nafas.
"Kita sarapan apa hari ini, kak Taufan?" Tanya Blaze, yang hanya dibalas lirikan oleh Taufan.
"Itu, ada kan dimeja?" Tunjuk Taufan, kearah dua piring roti bakar dan dua gelas susu.
"Aku lihat, tapi kenapa hanya ada dua? Kan, kita bertiga kak Taufan"
"Aku lupa, Blaze. Lagi pula, biasanya kau tidak sarapan dirumah kan Thorn?"
Thorn mengerti, dari nada suara pertanyaan Taufan saja sudah terdengar. Taufan ingin agar Thorn tidak sarapan dirumah bersama mereka, jadi Thorn hanya mengangguk lemas. Mungkin, hari ini dia sedang tidak beruntung untuk sarapan bersama kedua kakaknya.
Saat Thorn hendak berjalan pergi, Blaze menahan tangan Thorn dan mendudukkannya di kursi meja makan. Wajah Thorn terlihat kebingungan, sementara Taufan terlihat tidak terima. Dengan santainya, Blaze memberikan sarapan miliknya kepada Thorn.
"Ini, dimakan sarapannya Thorn" Blaze duduk disamping Thorn.
"Tapi, ini kan sarapan punya kak Blaze" Sebenarnya, Thorn lebih takut pada tatapan Taufan sekarang.
"Aku sudah cukup bertumbuh, Thorn. Sedangkan, kamu terlihat sangat kurus. Sudah, cepat makan ini"
"B-baiklah, terima kasih kak Blaze"
Dengan perlahan dan sedikit gemetaran, Thorn memakan sarapan yang diberikan Blaze. Sejujurnya, dia memang merasa lapar. Tapi, tetap saja Thorn masih sesekali melirik kearah Taufan. Mungkin, menebak-nebak bagaimana sikap Taufan padanya nanti.
"Ck, terserah kalian saja!" Taufan berdecak, kemudian memakai tasnya dan berangkat kesekolah.
"Maaf, kak Blaze. Semuanya gara-gara Thorn, akhirnya kak Taufan jadi-" Belum selesai Thorn berbicara, Blaze langsung memotong ucapannya.
"Jangan dipikirkan, aku sendiri tidak mengerti kenapa kak Taufan jadi begitu" Karena Thorn tidak menyukai susu, akhirnya Blaze yang meminumnya.
"Seandainya, Thorn bisa menjadi adik yang lebih baik lagi"
"Dimana letak burukmu, Thorn? Tidak ada yang merasa dirimu buruk, menurutku kamu malah terlalu baik"
"Eh, bukan begitu maksudnya kak Blaze. Maksudnya, Thorn tidak mau merepotkan kak Taufan dan kak Blaze"
"Adik dan kakak itu saling melengkapi, jadi tidak ada yang buruk Thorn"
Setelahnya, Blaze menceritakan beberapa kejadian lucu kepada Thorn. Blaze sengaja, dia ingin melihat adik bungsunya itu tertawa. Karena, jujur saja tawa adiknya ini sangat lucu. Thorn bersyukur, dia bisa memiliki kakak perhatian seperti Blaze. Walaupun, terkadang mereka sendiri juga suka bertengkar kecil. Ya, namanya juga adik kakak kan?
"Terima kasih, Thorn senang kak Blaze ada disini" Tolong bawa Blaze ke rumah sakit, karena dia nyaris jantungan saat melihat Thorn tersenyum.
'Gusti, senyum apa gula kok manis amat' Batin Blaze.
Sesudah selesai sarapan, Blaze membantu Thorn untuk mencuci piring. Kemudian, mereka berdua memakai tas masing-masing dan berangkat kesekolah. Selama perjalanan kesekolah, Blaze terus menceritakan kejadian-kejadian lucu kepada Thorn. Sudah lama, Blaze ingin memiliki adik. Jadi, jangan heran jika dia sangat perhatian pada adiknya.
"Nah, sudah sampai. Aku ke kelasku duluan ya Thorn, soalnya aku belum kerjain tugas matematika" Sebelum pergi, Blaze mengelus rambut Thorn.
"Terima kasih sudah menemani Thorn ya, kak Blaze"
Thorn berjalan menuju kearah kelasnya, beruntung dia masih memiliki satu teman yang sangat setia padanya. Temannya bernama Solar, walaupun sikapnya terlihat cuek. Namun, Solar selalu peduli pada Thorn. Buktinya, sudah dari SMP mereka berteman.
"Hai, Solar!" Panggil Thorn dengan semangat, sambil melambaikan tangannya kearah Solar.
"Darimana saja? Kok baru datang jam segini?" Solar sibuk melihat Thorn dengan teliti.
"Dari rumah, tadi Thorn diantar sama kak Blaze-"
"Sudah sarapan? Hari ini dimarahi lagi? Bagaimana tugas sejarah kemarin?" Lihat? Ini yang Thorn maksud, kepedulian Solar yang berlebihan padanya.
"Sudah, tadi kak Taufan buatin sarapan kok buat Thorn. Engga, hari ini kak Taufan belum marah sama Thorn. Tugas sejarahnya sudah selesai Thorn kerjakan tanpa kesulitan, tenang aja!"
Sekuat apapun Thorn menyembunyikan kesedihannya, Solar tetap bisa menebaknya. Walaupun, saat ini jelas-jelas Thorn bercerita dengan semangat kepada Solar. Tetap saja, tatapan matanya tidak bisa berbohong. Solar sudah tahu bagaimana perlakuan Taufan kepada Thorn.
'Kalau saja, aku gak mampir waktu itu. Bisa-bisa, Thorn dipukul dengan sabuk tebal milik kak Taufan' Batin Solar.
"Thorn, sudah berapa kali kubilang tidak ada gunanya bohong padaku" Sudah terpojok begini, mau tidak mau Thorn pasti menjawab Solar.
"Sudah ceritakan saja, kalau butuh teman untuk mendengarkan" Solar tahu, Thorn tidak mau dikasihani. Jadi, Solar biasanya akan mendengarkan sambil mengerjakan tugasnya.
"Tadi pagi, sebenarnya kak Taufan gak bikin sarapan untuk Thorn. Hanya dua, untuk kak Taufan dan kak Blaze. Tapi, untungnya kak Blaze baik dan mau kasih sarapannya untuk Thorn. Terus, kak Taufan pergi kesekolah duluan. Baru sehabis itu, Thorn dan kak Blaze berangkat barengan"
'Untung saja, masih ada kakaknya yang waras satu' Batin Solar.
__ADS_1
Karena, Solar tahu Thorn akan marah. Kalau, dia mengucapkan hal jelek mengenai kakak-kakaknya. Bagaimana pun juga, Thorn itu luar biasa menyayangi kedua kakaknya. Bahkan, jika Blaze tiba-tiba membencinya pun. Solar jamin, Thorn pasti akan tetap menyayangi Taufan dan juga Blaze. Karena, memang begitulah seorang Thorn.
"Terkadang, aku gak paham dengan pola pikirmu Thorn. Kenapa sih masih diam saja? Padahal, diperlakukan begitu" Untuk orang seperti Solar yang lebih mengandalkan logikanya, jelas dia merasa Thorn itu aneh.
"Karena, Thorn sayang kak Taufan dan kak Blaze. Kita satu keluarga, jadi harus saling menyayangi!" Ucapan polos Thorn sukses membuat Solar termenung, inikah pemikiran Thorn selama ini?
Bel sekolah berbunyi, tanda proses belajar mengajar akan dimulai. Thorn langsung berjalan menuju ke meja belajarnya, kemudian mengambil beberapa buku dari tasnya. Sesudah belajar selama beberapa jam, akhirnya bel istirahat berbunyi. Membuat setiap murid yang kelaparan berebut, hanya untuk pergi ke kantin.
"Solar, mau kekantin juga?" Ajak Thorn, dengan mata berbinarnya.
"Mungkin aku makan dikelas, soalnya harus belajar untuk olimpiade sains" Mendengar tolakan dari Solar, membuat Thorn berjalan dengan sedih.
"Tapi, aku laparnya sekarang. Jadi, aku ikut ke kantin"
"Wah, serius Solar? Kalau begitu, ayo!" Dengan semangat, Thorn menarik lengan Solar.
Sesampainya dikantin, Thorn dan Solar langsung memesan makanan masing-masing. Thorn memilih bakso untuk makan siangnya, sementara Solar memesan nasi goreng ayam. Setiap belajar juga, membutuhkan asupan gizi kan?
"Kenapa mukamu senang begitu?" Tanya Solar, karena Thorn memegang mangkuk baksonya dengan wajah senang.
"Hehe, hari ini ibu penjualnya kasih bonus bakso ke Thorn"
"Yasudah, ayo cepat cari tempat duduk"
Setelah mendapatkan tempat duduk, keduanya memakan makanan masing-masing. Namun, tiba-tiba saja Taufan dan teman-temannya mendatangi Thorn. Taufan menggebrak meja Thorn dengan kasar, Thorn yang terkejut hanya bisa menanyakan alasan sang kakak.
"Heh, dicari malah enak-enakan makan disini!" Seru Taufan, wajahnya memerah terpendam emosi.
"K-kenapa memangnya, kak Taufan?" Tanya Thorn terbata-bata, dia terlihat ketakutan.
"Jangan sok-sokan panggil kakak deh, ternyata kelakuan asli seorang Thorn lebih jahat!"
"Tunggu sebentar, maksudnya kak Taufan apa?"
"Masih aja pura-pura polos, ada berapa banyak sih topengnya?" Sindir Taufan, membuat seisi kantin menertawakan Thorn.
"Maaf, saya gak berniat ikut campur tadinya. Tapi, sepertinya ucapan anda sebagai kakaknya terlalu berlebihan dan merendahkan Thorn. Sebagai kakak kelas, kalau ada masalah silahkan dibicarakan secara pribadi" Solar mengingatkan Taufan pada Blaze, membuatnya benar-benar muak.
"Cih, akhir-akhir ini adik kelas banyaknya tidak tahu sopan santun"
Sebelum benar-benar pergi dari kantin, Taufan mendorong mangkuk bakso milik Thorn dengan sengaja. Sampai akhirnya, kuah bakso yang masih panas tersebut tersiram ke kaki Thorn. Untungnya, Solar reflek menepis mangkuk tersebut. Sehingga, tidak banyak yang tumpah dikaki Thorn.
"Ugh, tanganku juga kena" Gumam Solar, mengingat kuah panas juga terkena tangannya saat menepis.
"M-maafin Thorn ya, Solar. Haduh, gimana nih" Wajah Thorn memucat, dia merasa selalu membawa kesialan bagi orang-orang disekitarnya.
"Tapi, tetap saja harus cepat-cepat diobati kan Solar"
"Ada apa ribut-ribut disini?" Mengenal suara siapa yang bertanya, Thorn dan Solar langsung menengok.
Dibelakang mereka, ada Halilintar sang ketua osis dan juga Gempa yang menjadi wakil ketua osis. Melihat tangan Solar yang merah, langsung saja Gempa membawanya ke ruang kesehatan.
"Kenapa kejadiannya bisa begini?" Halilintar melihat kearah Thorn.
"Itu, tadi mangkuk bakso Thorn tumpah kak" Thorn tidak menceritakan yang sebenarnya, tidak ingin masalah menjadi panjang.
"Hm, begitu. Bagaimana tangannya, Gem?" Gempa sendiri sedang mengobati Solar, karena dia pernah menjadi anggota ruang kesehatan juga.
"Untungnya, tidak parah kak Hali. Jadi, cuman perlu dipakaikan obat salep tiga hari berturut-turut"
Kalau, kalian heran kenapa Gempa memanggil Halilintar dengan panggilan kakak. Itu karena, mereka berdua adalah saudara. Dan, satu sekolah juga tahu seberapa Halilintar protektif terhadap adiknya yang bernama Gempa. Terkadang, Thorn juga iri dan ingin disayang seperti Gempa oleh kakaknya.
"Ingat ya, lain kali hati-hati" Gempa mengingatkan, sungguh suaranya sangat lembut.
"Terima kasih, kak Gempa dan kak Halilintar" Ujar Thorn dan Solar bersamaan.
"Hm, sama-sama. Ayo Gem, kamu belum makan siang daritadi" Tidak suka melihat adiknya tersenyum pada orang lain, Halilintar menariknya ke kantin.
'Dasar, ketua osis tsundere' Batin Solar.
"Solar, tanganmu kenapa tadi?" Hampir hilang jantung Solar, kenapa juga kakaknya ada disini?
"Kenapa kak Ice bisa ada disini?!"
"Aku dapat laporan, lalu aku kakakmu"
"Jangan bicara seperti bukan kak Ice, bilang saja kak Ice takut uang jajan dipotong"
"Aku senang, karena punya adik cepat tanggap. Jadi, ayo pulang dan istirahat"
"Ini yang luka aku atau kak Ice sih?" Solar menghela nafas, dia dan kakaknya benar-benar bertolak belakang.
Jangan tanyakan apa yang terjadi sesudah itu, Ice langsung mengambil tas Solar untuk dibawa pulang. Solar sendiri berpamitan dengan Thorn, daripada harus mendengar keluhan Ice soal mengantuk. Bel pulang sekolah berbunyi, waktunya Thorn untuk pulang juga.
Sore ini, Thorn harus pulang sendirian. Karena, Blaze sedang ada kegiatan klub sepak bola. Sedangkan, Taufan tidak mungkin mau menemani Thorn pulang bersama. Apalagi, sedang ada kesalahpahaman yang membuat Thorn penasaran sejak tadi.
"Thorn pulang" Thorn membuka pintu, namun malah di tatap tajam oleh Taufan.
__ADS_1
"Kak Taufan, maaf tapi Thorn belum paham apa maksud kak Taufan disekolah"
"Ini, lihat foto ini baik-baik! Semuanya ulahmu, kan?!" Taufan menarik kasar lengan Thorn, menunjukkan foto tempat penyimpanan skateboardnya disekolah.
"Bukan, itu beneran bukan Thorn. Mana mungkin, Thorn merusak benda kesayangan kak Taufan" Bukannya mendengarkan, Taufan malah berteriak marah.
"BOHONG! PEMBOHONG!" Sepertinya, percuma Thorn membela dirinya.
"Ada murid yang bilang, kau pergi keruangan itu dan keluar dengan wajah senang"
Tunggu, kalau hari itu yang dimaksud Taufan. Sepertinya, Thorn tahu apa yang dia lakukan saat masuk kesana. Memang benar, Thorn pernah masuk keruangan penyimpanan skateboard. Tapi, bukan untuk merusak skateboard milik Taufan.
"Bukan, Thorn keruangan itu untuk kasih hadiah ke kak Taufan. Thorn beli helm skateboard untuk kak Taufan, pasti kak Taufan lihat kan?"
"Jadi, kau benar-benar keruangan itu dan tidak mau mengaku? Kalau begitu, pergi dari rumah ini!" Thorn terkejut, Taufan menyeretnya keluar dari rumah.
"Kak Taufan, tunggu dulu-" Taufan membanting pintu didepan wajah Thorn.
Bahkan, langitpun sepertinya turut sedih dengan kehidupan Thorn. Awan mulai menggelap, rintik hujan mulai turun. Baguslah, setidaknya tidak akan terlihat jika Thorn menangis. Karena, air matanya ikut turun bersamaan dengan hujan. Percuma, sekeras apapun Thorn berusaha pada akhirnya dia tetap dibenci.
"Aku tidak mengerti, apa aku seburuk itu?" Gumam Thorn, berjalan lunglai perlahan sambil menatap kearah langit.
Hilang sudah senyumannya, hilang sudah tawa polosnya. Tidak ada lagi ucapan polos, sambil memanggil namanya sendiri. Mata bermanik hijau mudanya terlihat kosong, namun tetap saja orang-orang hanya peduli akan diri mereka sendiri. Tanpa memiliki niat membantunya, manusia itu egois kan?
Solar yang kebetulan memiliki perasaan tidak enak, sedang berjalan menuju kerumah Thorn. Namun, dia melihat Thorn sedang ada disisi jalan dan hendak menyeberang jalan. Mobil melaju kencang kearahnya, mata Solar terbelalak. Solar berlari dan mencoba meneriaki nama Thorn, namun yang dia lihat hanyalah senyumannya.
"THORN!!!" Teriak Solar, darah mengalir dari kepala dan hidung Thorn.
"Ugh, ternyata sakit ya Solar. Tapi, Thorn jadi mengantuk" Walau terbata-bata, Thorn masih mencoba berbicara.
"Jangan bicara dulu, aku akan telepon ambulans sekarang!"
"Sudah, tidak perlu Solar. Thorn hanya minta tolong, sampaikan cerita Thorn pada kak Taufan dan kak Blaze. Bilang, Thorn sayang mereka. Terima kasih, Solar" Selesai sudah, hembusan nafas Thorn terhenti.
"Dasar bodoh, sampai akhirpun kau tetap memaafkan mereka" Baru kali ini, Solar menangis sejadi-jadinya.
Kemudian, Solar menemui Taufan dan juga Blaze. Blaze baru saja pulang dari kegiatan klubnya, tapi sudah harus mendengar kabar duka. Solar hanya menyampaikan apa yang Thorn mintakan tolong padanya, lalu memberitahukan rumah sakit tempat Thorn berada. Solar pulang, meninggalkan kedua saudara itu merasa bersalah pada adiknya sendiri.
"KAK TAUFAN, APALAGI YANG KAK TAUFAN LAKUKAN PADA THORN?!" Blaze marah besar, dia bahkan menarik kerah baju Taufan.
"M-maaf, aku tidak bermaksud. Tadi, aku juga mencarinya" Taufan juga sama terkejutnya seperti Blaze, dia tidak pernah berharap semuanya jadi begini.
"Apa? Apa sebenarnya yang membuat kak Taufan sebenci itu sama Thorn?!"
"Aku, aku iri karena dia menarik perhatian orang tua kita. Sementara, dari kecil saja kita tidak diurus. Selalu ditinggalkan dirumah, tapi tiba-tiba mereka membawa Thorn kerumah ini. Dan, mereka jadi sering pulang untuknya"
Taufan menceritakan semuanya pada Blaze, walaupun berakhir dengan pukulan keras dari Blaze untuk menyadarkannya. Bel rumah berbunyi, ada murid yang mengunjungi rumahnya. Dan pahitnya, Taufan mendapatkan fakta. Kalau, bukan Thorn pelaku yang merusak skateboardnya.
"Ini, kami menemukan helm skateboard didekatnya" Murid tersebut memberikannya kepada Taufan, Taufan menangis sejadi-jadinya.
"Thorn maaf, ayo pulang! Thorn kembali, maafin kak Taufan!"
Namun percuma, sekeras apapun Taufan berteriak juga Thorn tidak akan mungkin kembali. Nasi sudah larut menjadi bubur, penyesalan memang selalu datang terlambat. Hargailah seseorang jika, masih ada didunia ini. Karena, kamu tidak akan pernah tahu kapan dia akan pergi meninggalkanmu.
THE END.
Ayok tebak-tebakan lagi, kira-kira kali ini aku mengetik berapa kata? π€
...[PENGUMUMAN]...
Request cerita ditutup, mohon maaf tapi aku tidak merima request cerita lagi π karena, cerita ini akan tamat dichapter 25. Terima kasih banyak, kepada para pendukung selama ini π₯°π
Gimana nih kesan pesan cerita kali ini?
MUAHAHAHA menistakan Thorn sekarang π
...~Bonus~...
...Behind the scenes...
Halilintar : Akhirnya, istirahat jadi pemeran figuran
Gempa : Kenapa aku selalu jadi adiknya kak Hali ya?
Ice : Kenapa juga aku saudaraan sama si gila sains berkacamata? -_-
Solar : Aku juga gak mau jadi adik kak Ice, terpaksa aja karena authornya. Handsome gini, masa sama es batu π
Taufan : Peranku antagonis sekali, berasa nenek sihir pernjahat :')
Blaze : Memang! Rasain tuh, kak Taufan! βοΈ
Thorn : Hehe, padahal sebenarnya Thorn susah hafalin dialognya :3
...---------------------------------...
Maaf ya, kalau bagi kalian banyak yang kurang seru.. Tapi, mohon dukungannya untuk cerita kali ini β€οΈ terima kasih~
__ADS_1
Oh iya, ayo ikutan juga request ceritanya bagi yang belum.. Bantu aku membuat ide cerita baru, yuk! π