
Tema : Brotherhood, Medical
Request : @Ailix editzxx
...Silahkan pasang lagu "Before You Go - Lewis Capaldi" Jika, ingin pengalaman membaca yang lebih terasa sedih sampai ending....
π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€
Langit mulai menunjukkan warna jingganya, tanda bahwa hari sudah semakin sore. Remaja dengan manik jingga kemerahan tertawa dengan senangnya, menunjukkan gigi putihnya. Pasalnya, akhirnya hari ini sang adik yang bermanik biru aquamarine bisa bermain bersama dengannya.
Mereka berduapun duduk dibawah sebuah pohon besar, memainkan salah satu puzzle yang cukup sulit. Walaupun, mereka berdua memanglah pintar. Jadi, puzzle itu dengan mudahnya akan mereka selesaikan. Namun, jika bermain bersama saudara pasti terasa lebih menyenangkan dibandingkan sendirian bukan?
"Kak Blaze, yang ini bukan disini" Tunjuk Ice, karena Blaze salah menaruh pasangan puzzle.
"Oh iya juga, terima kasih Ice!" Dengan semangat, Blaze membenarkan puzzle tersebut.
"Kak Blaze" Panggil Ice, yang hanya terdiam saat diperhatikan oleh Blaze.
"Kenapa? Kok manggil?" Blaze ikut melihat kearah pandangan Ice, terdapat beberapa anak bermain disana.
"Kak Blaze, gak mau ikutan main sama yang lainnya?" Bertanya hanya sekedar basa basi, Ice tahu kalau Blaze ingin bermain dengan yang lainnya juga.
"Untuk apa? Kan, aku bisa bermain dengan Ice sekarang"
Walaupun Blaze tersenyum, namun Ice tahu bagaimana tatapan mata Blaze sebenarnya. Dari kecil mereka berdua tumbuh bersama dipanti asuhan ini, dibuang bersama sebagai saudara. Dan, mereka tidak pernah menyalahkan takdir atas apa yang terjadi pada mereka. Apapun kenyataannya, entah mereka tidak diinginkan atau dibuang pun mereka tidak peduli. Asalkan, mereka tetap bersama.
"Jangan bohong, kak Blaze gak pernah bisa bohong" Ice mendengus, memangnya dia anak kecil yang bisa dibohongi?
"Untuk apa aku bohong? Aku benar-benar senang bisa bermain denganmu, Ice" Blaze mengelus surai rambut Ice, adiknya ini memang sangat perhatian dengan sekitarnya.
'Ceh, kak Blaze matanya terlihat jujur' Batin Ice.
"Aku memang jujur, Ice" Ejek Blaze.
Seakan bisa membaca pikiran Ice, Blaze menjawabnya. Ice hanya cemburut, tidak terima jika kalah debat dengan kakaknya yang satu itu. Blaze tertawa kecil, merasa bahwa tingkah adiknya ini masih saja menggemaskan.
Ice melirik kearah kumpulan anak-anak didepannya, sepertinya mereka kekurangan pemain untuk bermain sepak bola. Dengan spontan, Ice langsung menarik tangan Blaze. Karena, Ice tahu kalau Blaze hebat dalam permainan sepak bola. Dan, memang Blaze menyukai sepak bola.
"Ayo cepat, kak Blaze" Blaze terkejut, baru kali ini Ice semangat mengajaknya.
"Ice, jangan memaksakan diri. Kamu kan tidak pernah bermain sepak bola, nanti malah jatuh" Setiap kakak pasti khawatir, apalagi jika memiliki adik seperti Ice.
"Kak Blaze, aku ini juga laki-laki tahu" Skakmat, Blaze hanya menghela nafas pasrah mendengar jawaban Ice.
"Yasudah, aku turuti kemuanmu Ice" Blaze heran, terkadang adiknya ini bisa keras kepala sekali.
Blaze memanggil sekumpulan anak didepannya, menawarkan dirinya dan Ice untuk bergabung agar bisa bermain bersama. Terlihat ada sedikit keraguan diwajah mereka, karena mengetahui bagaimana kondisi Ice. Dari dulu, Ice merupakan anak yang cukup lemah. Jadi, tidak bisa melakukan permainan ataupun olahraga yang berat.
"Kalian yakin mau main sama kita?" Tanya salah satu anak yang memegang bola.
"Wih, aku ini jago main sepak bola lho!" Bagus, kapan lagi Blaze bisa menyombongkan kemampuannya kan?
"Kalau, Blaze kami percaya. Tapi, kamu beneran bisa main sama kita Ice?" Ice tersentak, sejujurnya dia pun kecewa ditanyai seperti ini.
"Yakin, aku juga bisa main sebentar" Tapi, Ice tetap menahan diri untuk kesenangan Blaze.
Setelah menentukan tim masing-masing, permainan pun dimulai. Blaze dan Ice terpisah, karena memang pembagiannya seperti itu. Baru kali ini, Ice melihat Blaze sangat semangat saat bermain. Mungkin memang benar, selama ini dialah penyebab Blaze dijauhi oleh orang-orang sekitar.
Karena sibuk melamun, Ice tidak memperhatikan bola yang ditendang ke arahnya. Sampai akhirnya, bola tersebut menghantam perutnya. Ice memegang perutnya, terduduk ditanah sambil menahan rasa sakit. Karena panik, Blaze langsung berlari menuju Ice dan menanyakan keadaan adiknya.
"Ice, apa ada yang terluka?!" Blaze memeriksa Ice, untungnya dia tidak melihat luka apapun.
"Ugh, cuman perutku saja yang nyeri sedikit kak Blaze" Ice bersyukur, setidaknya bola itu tidak ditendang dengan kencang tadi.
"Kalau begitu, kita berhenti main saja ya. Biar aku gendong, kita kembali ke kamar sekarang" Blaze berjongkok, menyuruh Ice untuk naik ke punggungnya.
Mendengar apa yang dibicaran Blaze kepada Ice, teman-teman lainnya berbisik-bisik. Ice melihat ekspresi mereka, jelas terlihat raut wajah tidak suka padanya. Tapi, perutnya memang terasa sedikit nyeri sekarang. Jadi, dia boleh beristirahat kan?
__ADS_1
"Ceh, sudah kuduga akan seperti ini jadinya" Salah satu anak mendecak, menatap remeh ke arah Ice.
"Tunggu sebentar, bisa aku tanya apa maksudmu bilang hal seperti itu didepan Ice?" Blaze mengepalkan tangannya, padahal mereka tahu kalau emosi Blaze sangat buruk.
"Apalagi? Adikmu itu kan memang penyakitan, Blaze. Kerjaannya juga, hanya tidur saja dimana-mana dan kapan pun. Pasti sulit harus hidup sebagai kakaknya, aku saja tidak sudi"
Selesai mendengar ucapan anak itu, Blaze malah tertawa lebar. Namun, didetik kemudian dia memukul anak tersebut. Seluruh anak-anak dipanti asuhan berteriak ketakutan, kemudian beberapa dari mereka juga mengadukannya kepada pemilik panti asuhan.
"Berhenti bicara omong kosong, Ice itu bisa bermain normal juga, jangan pandang remeh adikku!"
Ini gawat, Ice menghela nafas panjang sambil memikirkan sebuah cara. Pasalnya, Blaze susah sekali ditenangkan jika sedang emosi. Apalagi, jika sampai bertengkar pukul-pukulan seperti ini. Apa jangan-jangan Ice harus membayar tentara untuk berjaga disamping Blaze 24 jam?
"Kak Blaze, berhenti dan jangan bertengkar" Percobaan melerai pertama dicoba oleh Ice, namun Blaze masih enggan menurut.
"Dengar ya, adikku Ice bukan seorang pengecut ataupun penyakitan. Dia itu hanya berbeda dan spesial, jadi berhenti menyalahkan semua hal padanya!" Seakan baru lepas dari kandang, Blaze meluapkan segala emosinya.
'Lagi-lagi, kak Blaze harus sejauh ini membelaku. Padahal, cuman hal sepele' Batin Ice.
"Kak Blaze, hentikan pertengkarannya sekarang juga!" Teriakan dari Ice berhasil, ia mengembalikan akal sehat Blaze.
Sesudahnya, Blaze dan salah satu anak dipanti asuhan dimarahi habis-habisan oleh sang pemilik. Tenang saja, Blaze tidak akan menangis hanya karena hal kecil seperti ini. Kemudian, Blaze langsung menggendong Ice dipunggungnya untuk kembali ke kamar dan mengobati luka-luka kecilnya.
"Jangan digendong, aku sudah besar kak Blaze" Komplain Ice, sambil mengoceh lebih banyak hal mengenai pertengkaran kakaknya tadi.
"Kalau sudah besar, kau tidak akan terluka dan lebih menjaga diri sendiri Ice" Akhirnya, mereka sudah sampai dikamar.
"Aku tidak terluka, hanya terkena bola diperut" Elak Ice, inginnya kakaknya itu paham akan keinginannya.
"Ya, kalau begitu anggap saja kau sudah harus istirahat lagi" Blaze mengambil sebuah kain, memberikannya kepada Ice untuk mengompres perutnya.
"Aku mengantuk, tapi aku tidak mau tertidur lagi kak blaze. Aku lelah, aku juga mau normal seperti anak-anak lainnya"
Mendengar ucapan adiknya membuat hati Blaze merasa sakit, Blaze kerap menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Ice. Seharusnya, dia lebih menjaga kesehatan adiknya. Bisa Blaze lihat, Ice mati-matian menahan rasa kantuknya. Anak itu sedang berusaha keras, melawan efek penyakitnya.
"Tidur saja jika ingin tidur, Ice. Jangan ditahan, nanti kamu malah tidak tidur lagi sama sekali seperti waktu itu" Ice membuang wajahnya, tidak suka melihat tatapan Blaze padanya sekarang.
"Tapi, apa yang dibilang mereka semua memang fakta kok" Gumam Ice perlahan, namun masih bisa didengar oleh Blaze.
Kurang lebih penyakit Ice seperti itu, dia bisa tertidur kapan saja dan dimana saja. Terutama, diwaktu siang hari. Biasanya, dibidang medis penyakit seperti ini disebut juga narkolepsi. Ice juga, sulit untuk tetap terjaga danΒ sering kesulitan berkonsentrasi. Terakhir, Blaze mengetahui kenyataan ini beberapa tahun yang lalu.
Sepertinya, waktu itu Blaze sering merasa ada yang aneh pada Ice. Adiknya terlihat linglung, tidak fokus, dan sering tertidur dimanapun. Akhirnya, Blaze memakai semua uang ditabungannya untuk memeriksakan Ice ke dokter. Yang sayangnya, mereka berdua harus dihantam kenyataan kejam dari dunia.
'Semenjak itu, aku jadi berifat protektif tehadap Ice tanpa sadar' Batin Blaze.
"Fakta memang benar adanya dan kita sendiri pasti tahu kebenarannya, tapi bukan berarti orang bisa seenaknya. Yang bisa kita lakukan hanyalah menyelami kedalaman masalah tersebut, untuk mencari kunci penyelesaiannya" Sejak dulu, Blaze sudah merasakan bagaimana sulitnya menjadi seorang kakak sulung.
"Wah, baru kali ini kak Blaze terlihat sangat keren"
"Jadi, sebenarnya itu pujian atau ejekan Ice?" Mendengar pertanyaan Blaze, membuat Ice tertawa.
"Pujian, aku benar-benar merasa kak Blaze keren sesaat" Ice tidak tahan menahan rasa kantuknya, diapun tertidur.
"Selamat tidur, Ice" Blaze mematikan lampu, mengelus surai rambut Ice sebelum keluar dari kamar.
Keesokan harinya, Blaze bersiap-siap sekolah dengan buru-buru. Jangan tanya kenapa, dia lupa memasang alarm untuk berangkat kesekolah. Ice membantu Blaze bersiap-siap, membuat dirinya mengingat kembali kenangan saat dirinya bersekolah dulu.
Biaya sekolah mereka ditangani oleh pihak panti asuhan, walaupun bukan sekolah yang bagus. Setidaknya, mereka bisa mendapatkan pendidikan. Sedangkan, untuk kasus seperti Ice biasanya dia akan belajar nanti. Lebih tepatnya, diajarkan oleh Blaze setiap kakaknya itu pulang sekolah. Selesai bersiap, Blaze pun langsung berangkat kesekolah.
"Aku bosan, biasanya aku bisa menahan ngantuk kalau ada kak Blaze. Karena, kak Blaze kan berisik" Ice sedang berpikir, apa sebaiknya yang harus ia lakukan saat ini.
"Oh iya, aku mengerjakan soal-soal latihan yang diberikan kak Blaze saja" Wajahnya terlihat datar, namun Ice merasa bersemangat.
Bel pulang sekolah berbunyi, Blaze berpamitan dengan teman-temannya. Untungnya, Blaze memiliki teman-teman yang baik disekolah. Dengan bersemangat, Blaze berjalan pulang kepanti asuhan. Mengajarkan Ice merupakan salah satu hobinya, apalagi disaat Ice kesulitan menjawab soal. Membuat Blaze ingin semakin mengerjainya, kakak memang selalu suka menganggu adiknya.
"Ice, aku pulang" Blaze membuka pintu kamarnya, melihat Ice yang sedang tertidur dimeja.
"Astaga, lagi-lagi dia tertidur ditempat aneh" Gumam Blaze, kemudian membangunkan Ice.
__ADS_1
"Ehm, kenapa? Siapa?" Ice menyipitkan matanya, mencari jawaban dari ingatannya.
'Ah, ingatannya terganggu lagi karena tidur' Batin Blaze.
"Ini aku Blaze, jangan tidur disini nanti badanmu sakit semua Ice" Blaze memindahkan Ice ketempat tidur, walaupun Ice terlihat masih mencoba mengingat siapa orang didepannya saat ini.
"Oh, kak Blaze!" Akhirnya, Ice bisa mengingatnya lagi.
"Kenapa malah membawaku ke tempat tidur? Seharusnya, aku belajar dengan kak Blaze kan?"
"Tidur dulu, Ice. Pasti, semalam kamu memaksakan diri agar tidak tidur lagi kan? Sudah berapa kali ku bilang, jadwal tidurmu itu harus diatur"
"Aku tidak mau tidur, aku mau belajar sekarang" Ice berusaha turun dari tempat tidurnya, namun ditahan oleh Blaze.
"Ice, bisa jangan keras kepala? Sesekali, tolong dengarkan aku!" Suara Blaze sedikit meninggi, akhir-akhir ini emosinya memang sedang buruk.
"Aku tidak mau! Kak Blaze tidak tahu rasanya, aku sedang takut!" Tangan Blaze yang menahannya, dilepas paksa oleh Ice.
"Takut? Apa maksudmu, Ice?" Tatapan marah Blaze memudar, berganti menjadi tatapan khawatir.
Beberapa menit hanya kesunyian yang menemani mereka, Ice masih enggan membuka mulutnya. Walaupun, Blaze masih senantiasa duduk menunggu jawaban Ice. Bagaimana bisa, Ice berbicara jujur terhadap hal yang sudah mati-matian ia tutupi selama ini?
"Jadi, apa yang kamu maksud dengan takut Ice?" Mendengar nada lembut Blaze, membuat Ice terisak.
"Aku, aku takut untuk tidur kak Blaze" Baru kali ini, Blaze melihat Ice menangis lagi.
"Kenapa? Apa yang kamu takuti sewaktu tidur, Ice?"
"Aku takut, kalau terlalu nyenyak tidur. Karena, bisa saja aku tidak akan bangun lagi kak Blaze" Blaze bisa melihatnya, dibalik mata Ice tersembunyi ketakutan.
Blaze mengerti apa maksud Ice, karena dia sendiripun juga seringkali memikirkan hal yang sama. Dengan apa yang dialami Ice, mungkin saja hal tersebut akan terjadi. Blaze mengelus rambut Ice, mencoba menenangkan adiknya. Ice masih menangis, menuangkan ketakutan dan kesedihannya.
"Jangan takut, aku ada disini Ice. Ingat, kamu tidak sendirian. Dan lagi, aku tidak akan memaksakan apa keinginanku. Jika memang lelah, kamu boleh hidup didalam mimpi indah itu Ice" Mendengar jawaban Blaze, membuat Ice semakin menangis.
Ice bersyukur, memiliki kakak seperti Blaze. Memori berputar dikepala Ice, dari dulu Blaze memang kuat. Bahkan, tidak pernah mengeluh saat menghadapi kesulitan apapun. Walaupun, adiknya seperti Ice. Blaze tetap akan tertawa dan menghibur Ice disaat apapun juga.
"Maaf, maaf karena aku selalu membebani kak Blaze. Padahal, kak Blaze sudah berusaha dan berkorban" Blaze memeluk Ice, ada yang berbeda dengan adiknya hari ini.
"Itu kewajibanku, aku kakakmu Ice. Jadi, jangan meminta maaf" Entah kenapa, Ice seperti mengucapkan salam perpisahan pada Blaze.
"Aku benar-benar berharap kak Blaze bisa bahagia, memiliki banyak teman yang baik, dan bisa menjalani kehidupan dengan baik. Terima kasih sudah menjagaku, aku sayang kak Blaze"
'Ah, rupanya hari ini datang juga ya. Lebih cepat daripada perkiraanku, apa tidak bisa ditunda?' Batin Blaze.
"Kak Blaze, aku mengantuk. Tapi, aku mau dinyanyikan oleh kak Blaze. Boleh?" Blaze mengangguk, kemudian mulai bernyanyi pelan.
"When you hurt under the surface πΆ like troubled water running cold πΆ well, time can heal, but this won't πΆ" Alunan nada nyanyian Blaze membuat Ice merasa tenang, belum pernah dia merasa setenang ini.
"So, before you go πΆ was there something I could've said πΆ to make your heart beat better? If only I'd have known you had a storm to weather πΆ"
Saat ini, Ice merasa seperti sedang ada di taman yang damai. Angin meniup perlahan rambutnya, meninggalkan rasa geli pada telinganya. Rasanya, seperti melepaskan beban berat yang selama ini dirasakannya. Cahaya putih menghampiri Ice, sebelum masuk Ice sempat tersenyum kebelakang. Mungkin, agar Blaze bisa merasakan ketenangannya.
"It kills me how your mind can make you feel so worthless πΆ so, before you go πΆ" Nyanyian Blaze terhenti bersamaan dengan isakan tangisnya, dapat dilihatnya senyum Ice yang begitu damai.
Saking damainya, membuat Blaze tidak sanggup untuk membangunkannya. Walaupun, dia tahu kalau adiknya itu tidak akan terbangun lagi. Sekaras apapun dia mencoba membangunkannya, biarkanlah adiknya beristirahat dengan tenang sekarang. Melepaskan semua beban yang dirasakannya selama ini, mungkin ini yang terbaik daripada menangis terus menerus.
"Tanganmu terasa dingin, Ice. Berbeda denganku, mungkin aku akan merindukan ocehanmu dan mata bermanik aquamarine itu. Selamat tidur, adikku Ice" Blaze mengelus helai rambut Ice untuk terakhir kalinya, kemudian menyelimuti adiknya sepenuhnya.
THE END.
Ayok tebak-tebakan lagi, kira-kira kali ini aku mengetik berapa kata? π€
Bagi yang belum tahu, cerita ini up dari hari senin-jumat dan libur di hari sabtu minggu ya~
AKHIRNYA, KELAR JUGA CERITA INI. GIMANA? SAD GAK? SAD GAK?
Menurutku, ini cerita paling sad yang pernah aku bikin sih. Menurut kalian gimana? π
__ADS_1
Maaf ya, kalau bagi kalian banyak yang kurang seru.. Tapi, mohon dukungannya untuk cerita kali ini β€οΈ terima kasih~
Oh iya, ayo ikutan juga request ceritanya bagi yang belum.. Bantu aku membuat ide cerita baru, yuk! π