For You -Oneshoot- (BOBOIBOY)

For You -Oneshoot- (BOBOIBOY)
(The academy) For You


__ADS_3

Tema : Fantasy, School, Power


Request : @Fantasy World


πŸͺ”πŸͺ”πŸͺ”πŸͺ”πŸͺ”πŸͺ”πŸͺ”πŸͺ”πŸͺ”πŸͺ”πŸͺ”πŸͺ”πŸͺ”πŸͺ”πŸͺ”πŸͺ”πŸͺ”πŸͺ”


Akademi Diversum merupakan salah satu akademi terbaik di kota Milesway, kota yang banyak sekali menghasilkan para sorcerer berbakat sejak masih muda. Sorcerer adalah penyihir alami yang menggunakan kekuatan alam untuk mendukung kemampuannya.


Nama akademi sendiri diambil dari bahasa latin, yaitu Diversum yang artinya adalah berbeda. Walaupun, berbeda dari anak manusia pada umumnya. Namun, akademi tetap menerima dan mendidik anak-anak yang memiliki perbedaan.


Pihak kekaisaran juga setuju untuk membangun akademi, agar kekuatan setiap sorcerer bisa diatur sejak dini. Lebih tepatnya, untuk mengurangi rakyat yang berpotensi menjadi pemberontak. Sekaligus, menciptakan perdamaian diantara perbedaan.


"Hei Taufan, cepat bangun!" Teriak salah satu teman sekamar Taufan, dia sudah mencoba membangunkan anak itu sejak 15 menit yang lalu.


"Berisik, ini aku juga sudah bangun Blaze!" Balas Taufan kesal, dia melemparkan bantalnya ke arah wajah Blaze.


"Halah, terakhir kali kau tidur sampai absen satu hari penuh. Kau lupa?"


"Itu karena, aku lupa memasang alarm setelah belajar sampai larut malam"


"Belajar konon, sudah siap-siap sana. Kalau bukan karena kita satu kelompok, malas aku membangunkan tukang terlambat sepertimu" Blaze sudah kenal Taufan dari pertama kali mereka masuk ke akademi ini, tidak ada sejarahnya Taufan belajar sampai larut malam.


"Tolong, ada kaca disebelah sana. Kita itu satu paket, jadi telatnya selalu barengan" Taufan kabur ke kamar mandi sambil membawa handuknya, sebelum Blaze membakar rambutnya lagi.


"Sembarangan kalau ngomong, awas saja kalau kita jadi telat lagi!"


Beberapa menit kemudian, Taufan selesai bersiap-siap. Entahlah, Taufan suka sekali dengan seragam akademinya. Membuatnya terlihat sebagai profesor, atau mungkin semua itu hanya khayalannya saja. Ya, intinya dia terlihat lebih keren. Siapa tahu, ada perempuan yang tertarik dengannya kan?


"Berhenti bercermin, kau tahu kan kalau kita kalah keren dari kelompok satu" Sayangnya, Blaze teman setianya itu sering sekali meruntuhkan kepercayaan diri Taufan.


"Ceh, kelompok satu lagi saja yang dibahas" Keluh Taufan, kelompok satu selalu saja jadi kebanggaan angkatannya.


"Walaupun, isi kelompoknya hanya dua orang. Isinya saja, Halilintar si murid juara utama di akademi dan si Fang yang kekuatan pertahanannya paling kuat"


"Terima kasih informasinya, tapi kelompok kita yang akan juara satu dalam penilaian tingkatan tier kali ini Blaze" Taufan membenarkan tasnya dan menarik Blaze keluar dari kamar asrama mereka.


Penilaian tingkatan tier atau lebih dikenal dengan ujian jika menggunakan bahasa umum, bedanya ujian di akademi memang pada dasarnya cukup sulit. Pada penilaian tingkatan tier, setiap murid kelas akan dibagi sebagai beberapa kelompok. Kemudian, kelompok tersebut harus mencari cara untuk menaikkan tahap kekuatan mereka.


'Kelompok yang paling cepat menaikkan tahap kekuatannya, maka akan mendapatkan sertifikat' Batin Taufan.


"Taufan! Blaze!" Teriakan itu, bisa Taufan dan Blaze tebak siapa pemilik teriakan khas seperti itu.


"Selamat pagi, Thorn" Dengan riang, Taufan menyapa Thorn yang sedang berlari kecil ke arah mereka berdua.


"Jangan berlari, terakhir kali kamu terjatuh dan mengeluarkan akar berduri disepanjang lorong" Tegur Blaze, mengingat kembali kejadian dia dan Taufan yang hampir mati akibat tercekik akar berduri milik Thorn.


"Maaf, Thorn akan lebih berhati-hati" Thorn menggaruk kepalanya dan tertawa kecil.


"Tumben, datang sepagi ini Thorn?" Tanya Taufan, biasanya Thorn datang lebih telat darinya.


"Oh, Thorn dipaksa bangun sama Ice. Soalnya, Ice mau bawa kunci kamarnya"


Thorn mengingat kejadian tadi pagi, dimana ia juga dibangunkan dengan kejam oleh teman sekamarnya yang tak lain adalah Ice. Sampai-sampai, boneka bunga matahari kesayangannya hampir dibuang dari jendela. Bayangkan, bisa menangis seperti apa Thorn jika itu dibuang.


"Tumben, ada acara apa si Ice pagi-pagi?" Blaze terheran, karena semalam saja pesannya tidak dibalas.


"Katanya, Ice dan kelompoknya akan mempelajari cara menaikkan tingkatan di perpustakaan akademi"


"Masuk akal, mengingat seberapa berambisinya kelompok mereka" Taufan memasang wajah datarnya, membayangkan buku tebal saja membuatnya merinding.


Kalau, kelompok Halilintar adalah kelompok pertama yang terkenal akan kekuatan dan logika. Maka, kelompok kedua adalah kelompok yang terkenal akan ambisi dan intelektual. Kelompok yang terdiri dari Gempa, Ice, dan Solar itu cukup membuat petugas perpustakaan akademi kewalahan. Karena, kedatangan mereka setiap harinya.


"Kelompok dua ya, isinya Gempa sang ketua organisasi akademi, Ice si pemalas namun ambisius, dan Solar murid jenius yang hampir setara dengan Halilintar" Akhir-akhir ini, Blaze sibuk mengumpulkan informasi mengenai setiap kelompok.


"Lebih tepatnya, Solar tidak bisa mengalahkan Halilintar dalam hal peringkat maksudmu?" Taufan tidak tahu saja, kalau Solar sedang berada disebelahnya.

__ADS_1


"Kalau punya waktu untuk membicarakan orang lain, bukannya lebih baik kalian ke perpustakaan dan belajar?" Sindir Solar, merasa tidak terima karena dibandingkan oleh Halilintar.


"Tapi, kita kan gak terlalu pintar Solar" Jangan heran, Thorn selalu tidak mengerti jika sedang disindir oleh seseorang.


"Bukan hanya gak pintar, kelompok kalian itu paling lemah. Sudah lemah di pelajaran, lemah pula dalam kekuatan" Niat Ice itu baik, hanya saja mulutnya itu kejam.


"Wah, datang-datang malah cari ribut ya?" Tenang saja, Blaze dan Ice itu berteman kok. Walau, suka ribut ringan saja seperti sekarang.


"Sudah-sudah, jangan bertengkar. Ice, sudah berapa kali ku bilang untuk memperbaiki cara bicaramu itu? Dan Solar, berhenti menyindir orang lain" Tegur Gempa, untungnya Gempa salah satu murid yang menyukai perdamai dan keadilan.


"Tidak apa-apa, yang dibicarakan mereka memang fakta Gem" Taufan menengahi, dia cukup sadar akan posisi timnya.


Tim ketiga atau biasa disebut juga sebagai tim terlemah, padahal mereka sudah mencapai kelas terakhir sebelum kelulusan. Namun, malah sosok lemah yang diingat murid lainnya dari mereka bertiga. Blaze lumayan kuat, hanya saja dia tidak bisa mengendalikan serangannya. Sedangkan Thorn, dia masih belajar memperkuat pertahanannya.


"Tidak ada yang lemah dan gagal, yang ada hanya usaha dan kepercayaan" Gempa berusaha memberikan motivasi, bagaimanapun juga mereka saat ini adalah teman sekelas.


"Aku mengerti, terima kasih Gem"


Taufan tersenyum ke arah Gempa, sebelum ada seseorang yang menabrak dirinya dari belakang. Taufan mencoba melihat siapa orangnya, namun yang ia lihat malah tatapan datar mata merah ruby. Dan, itu terlihat cukup seram dimata Taufan.


"Ah, maaf aku tidak sengaja Hali" Dengan cepat, Taufan bergeser ke sisi lainnya agar tidak menghalangi jalan menuju ke kelas.


"Hm" Halilintar hanya berdeham sebagai jawaban, kemudian berjalan masuk ke dalam kelas.


"Maaf ya, sifatnya memang dingin seperti itu" Fang terlihat tidak enak, jadi Taufan hanya mengangguk.


Bel akademi berbunyi, waktunya mereka masuk ke kelas masing-masing untuk memulai pelajaran. Sesudah itu, mereka harus melanjutkan proses penilaian tingkatan tier. Kebetulan, hari ini mereka mendapatkan misi yang berbeda dari sebelum-sebelumnya. Atau, bisa dibilang misi yang cukup berbahaya.


"Serius, untuk apa kita menuju ke hutan Black mist?" Solar masih mengoceh, dia tidak menyukai sesuatu yang merepotkan.


"Bisakah kau simpan gerutumu itu untuk nanti?" Blaze menatap tajam ke arah Solar.


"Apa pedulimu?"


"Kau terlalu berisik bodoh, ini perjalanan sekelas!" Sudah dari tadi, Blaze mencoba menahan amarahnya. Apalagi, Blaze memang bukanlah tipe penyabar seperti Gempa.


"Jangan berisik, jika punya akal gunakanlah untuk berpikir disaat seperti ini" Wah, baru kali ini Halilintar berbicara sepanjang itu pada mereka.


"Apa ini harus direkam?" Ledek Fang, yang hanya dibalas decakan oleh Halilintar.


"Berhenti bercanda, Fang. Sebelum, aku benar-benar memotong kepalamu dengan pedang halilintarku" Ancam Halilintar, sayangnya Fang hanya tertawa.


"Ayolah, kau terlalu kaku Hali"


Tapi, berkat Halilintar pertengkaran kecil antara Blaze dan Solar sudah berhenti. Mungkin, mereka juga takut diancam oleh Halilintar. Tak berapa lama, merekapun sampai di sebuah gua dengan asap hitam lebat di depannya.


"Bukannya, ini tempat tujuan kita sesuai peta?" Gempa menunjuk kearah peta, dia sibuk menjadi pengarah mereka.


"Sepertinya benar, tapi aku merasakan hawa aneh didalam sana" Kemampuan Ice cukup sensitif, dia bisa merasakan hawa dari alam juga.


'Ada yang aneh, aku akan berjaga-jaga meninggalkan beberapa light stone disini' Batin Taufan.


"Jangan berdiri saja diluar, ayo cepat Taufan!" Panggil Thorn, kemudian Taufan pun ikut memasuki goa bersama mereka.


*Light stone : Batu bersinar yang bisa digunakan sebagai penerang sekaligus sinyal untuk bahaya


Keadaan goa ini terlihat cukup normal seperti goa pada umumnya, namun para sorcerer yang sudah terdidik seperti mereka pasti bisa menggunakan hazard radar. Jadi, mereka memutuskan untuk berbagi anggota sesuai tim masing-masing. Untuk antisipasi, jika ada bahaya yang datang secara tiba-tiba.


*Hazard radar : Kemampuan seperti radar dengan menggunakan mana, untuk memprediksikan bahaya


"Aku dan Fang akan berada didepan untuk jaga-jaga, sementara tim Gempa akan berada di tengah untuk membantu" Jelas Halilintar.


"Lalu, tim kami?" Taufan bertanya, kedua tim melihat kearah mereka.


"Kalian harus keluar dari goa ini dan memanggil bantuan secepat mungkin"

__ADS_1


"Baiklah" Taufan mengerti, toh sejak awal timnya memang yang terlemah diantara yang lainnya.


'Jadi, tidak heran jika tugas kami sepele' Batin Taufan.


Mereka berdelapan sudah berjalan cukup jauh, jika diukur mungkin mereka sudah mengeksplorasi sampai kebagian tengah goa. Untungnya, sampai saat ini belum ada monster buas yang muncul. Hanya, beberapa monster kecil untuk tambahan poin mereka.


"Kalau seperti ini, seharusnya kita bisa pulang ke asrama beberapa jam lagi" Itu Ice, walaupun berambisi dia tetap saja cukup malas untuk perjalanan melelahkan seperti ini.


"Ada yang aneh" Gempa bergumam, kemudian tangannya menyentuh tanah didalam goa.


"Ada apa, Gem?" Tanya Thorn, karena Thorn juga mencoba merasakan keadaan dari tanaman didalam goa.


"Apa kamu merasakan sesuatu, Thorn?"


"Tidak bisa, Gem. Rata-rata, tanaman disini mati dan setengah hidup"


"Begitu, tidak apa-apa Thorn. Intinya, aku merasakan beberapa meter dari sini ada getaran sedang pada tanah"


"Getaran pada tanah, kemungkinannya ada tiga. Pertama, hanya beberapa goblin yang suka berbuat ricuh. Kedua, monster berkelompok atau berukuran sedang. Terakhir, monster besar pemilik goa ini" Sungguh, informasi yang diingat oleh Solar memang tidak pernah mengecewakan.


*Goblin : Sejenis makhluk yang memiliki tinggi berkisar antara 30 cm sampai dengan 2 m. Biasanya, kulit mereka berwarna hijau seperti daun


Belum sempat mereka bersiap-siap, tiba-tiba saja tanah dan wilayah disekitar goa bergetar sangat kuat. Sampai-sampai, membuat mereka terlempar dan terpisah satu sama lain. Hancur sudah rencana mereka, seekor monster berukuran sangat besar menatap mereka dengan marah.


'Mati, aku bisa mati hari ini' batin Taufan.


"Gawat, Taufan berada paling dekat dengan monster itu" Fang mencoba memikirkan rencana, namun Halilintar sudah lebih dulu berlari dan menarik perhatian monster.


"Semuanya, bantu aku buat dinding pertahanan!" Panggil Gempa, semuanya langsung menurut dan berdiri di depan Taufan untuk melindunginya.


Mereka bertujuh menggabungkan kekuatan, membangun dinding pertahanan untuk melindungi Taufan yang terluka akibat getaran tadi. Sayangnya, harapan dan kekuatan mereka tidak cukup kuat. Dinding pertahanan yang menggunakan gabungan tujuh kekuatan musnah begitu saja, membuat Taufan melihat teman-temannya yang sudah terluka dan hampir kehabisan mana.


'Gawat, mereka bisa mati kalau kehabisan mana' Batin Taufan.


"Jangan pikirkan kami, cepat lari Taufan" lirih Blaze, yang lainnya juga mengangguk menyetujui.


Ketakutan mendominasi Taufan, apalagi saat monster tersebut makin dekat ke posisinya saat ini. Namun, tiba-tiba semua ingatan akan usahanya dan teman-temannya berputar dikepalanya. Bukankah dia seperti pengecut, jika lari berlindung tanpa berusaha melawan sedikitpun?


Ada sebuah perasaan yang baru pertama kali Taufan rasakan kali ini, seketika ketakutannya hilang tergantikan. Perasaan frustasi akan keselamatan teman-temannya dan perasaan marah terhadap monster didepannya bercampur aduk, membuat mana Taufan meningkat tajam secara tiba-tiba.


"Aku akan balas semuanya, sesuai dengan harga yang harus kau bayar!" Mata Taufan berubah menjadi cahaya biru, menampilkan sinar cahaya yang kuat.


Energi dalam diri Taufan meningkat, membuatnya secara tiba-tiba langsung berhasil mendapatkan tahap ketiga dari kuasa anginnya. Dari Taufan menjadi Beliung, dengan segera Taufan mengerahkan tenaganya untuk melawan monster tersebut.


'Taufan mencapai tahap ketiga, dia sudah menjadi Beliung?!' Batin ketujuhnya.


Melihat sinar dari light stone yang ditinggalkan Taufan diluar goa, membuat regu penyelamat akademi dengan mudah menemukan mereka. Mereka juga melihat, bagaimana Taufan mengalahkan monster itu dengan kuasa Beliung.


"Selamat, kelompok tiga yaitu Beliung, Blaze, dan Thorn. Kalian berhasil mendapatkan juara pertama dalam penilaian tingkatan tier dan berhak mendapatkan sertifikat" Seorang profesor memberikan pengumuman kepada satu angkatan.


"Terima kasih, profesor" Seru ketiganya dengan lantang.


Usai berhasil menjadi Beliung dan mengalahkan monster goa terlarang, teman-temannya langsung diberi pengobatan. Bukan lagi seorang Taufan, namun Beliung. Ah, mungkin Beliung akan merindukan panggilan Taufan. Tapi, Beliung senang akhirnya dia mengerti sepenuhnya arti ucapan Gempa saat itu.


'Tidak ada yang lemah dan gagal, yang ada hanya usaha dan kepercayaan' Batin Beliung.


Bagaimana dengan kalian? Apa kalian sudah cukup percaya dan berusaha pada diri sendiri seperti Taufan yang pada akhirnya bisa menjadi Beliung?


THE END.


Ayok tebak-tebakan lagi, kira-kira kali ini aku mengetik berapa kata? πŸ€”


Bagi yang belum tahu, cerita ini up dari hari senin-jumat dan libur di hari sabtu minggu ya~


Maaf ya, kalau bagi kalian banyak yang kurang seru.. Tapi, mohon dukungannya untuk cerita kali ini ❀️ terima kasih~

__ADS_1


Oh iya, ayo ikutan juga request ceritanya bagi yang belum.. Bantu aku membuat ide cerita baru, yuk! πŸ˜‰


__ADS_2