For You -Oneshoot- (BOBOIBOY)

For You -Oneshoot- (BOBOIBOY)
(Puppet and Secret) For You


__ADS_3

Tema : Brotherhood


Request : @AyMy_07


⛓️⛓️⛓️⛓️⛓️⛓️⛓️⛓️⛓️⛓️⛓️⛓️⛓️⛓️⛓️⛓️⛓️⛓️


Jika kalian berharap, bahwa ini adalah kisah menyenangkan dengan sebuah kehidupan yang seru. Maka, kalian salah besar. Karena, ini hanyalah sebuah cerita bagaimana kepercayaan ketujuh saudara di uji.


Semuanya bermula dari sebuah rumah kecil, di pedesaan yang tidak begitu jauh dari kota. Dan, di rumah kecil itu terdapat tujuh orang saudara yatim piatu. Orang tua mereka membuang mereka, karena tidak ingin hartanya berkurang.


Akibatnya, si sulung yang harus mengambil tanggung jawab untuk membiayai dan mengurus keenam adiknya. Namun sayangnya, saat ini pemuda dengan iris mata berwarna merah ruby itu sedang sibuk duduk melamun.


"Dimana lagi aku harus mencari uang nanti?" Gumam si sulung, yang bernama Halilintar itu.


"Kak Hali, sedang apa melamun sendirian di luar?" Tanya Gempa, adik keduanya yang menurut Halilintar sangat dewasa.


"Bukan apa-apa, kalian tidak harus memikirkan hal yang berat" Bukannya Halilintar tidak ingin bercerita, namun ini memang tanggung jawabannya sejak dulu.


"Katanya, kalau bercerita itu bisa mengurangi beban masalah kak Hali" Gempa mencoba bertanya lebih detail pada kakaknya itu.


"Aku lapar, apa makanannya sudah jadi?" Halilintar beranjak dari posisi duduknya.


"Lagi-lagi, kak Hali mencoba kabur dari topik kan?" Gempa mendecak, selalu saja kakak sulungnya itu menyimpan semuanya sendirian.


"Hei, apa aku baru saja mendengar adikku mendecak?" Dengan tatapan datar, Halilintar melirik ke arah Gempa.


"Eum, makanannya sudah jadi kok kak Hali" Sekarang, malah Gempa yang merinding.


"Apa yang kamu masak, Gem?"


"Maaf kak Hali, kali ini pun aku hanya bisa memasak bubur dengan kacang kedelai asin"


"Tidak masalah, memang akhir-akhir ini keuangan kita sedang buruk" Halilintar mencoba menghibur Gempa dan mengelus rambut adiknya itu.


Mereka berdua berjalan ke dalam rumah bersama, baru saja masuk ke dalam rumah. Halilintar sudah melihat pemandangan yang cukup berantakan, bahkan dia sudah bisa menebak ulah siapa. Dan, siapa lagi jika bukan Trio Trouble Maker?


"Taufan, Blaze, Thorn" Dengan nada menggeram marah, Halilintar memanggil ketiga adiknya.


"Matilah, sudah ku bilang seharusnya kita bereskan tadi!" Rasanya, Taufan bisa merasakan keringat dingin bercucuran di pelipisnya.


"Hoi, bukan salah aku doang ya. Buktinya, tadi Thorn juga menolak beres-beres" Tidak ingin menjadi tumbal, Blaze mencoba membela dirinya.


"Ish, kenapa malah jadi Thorn yang disalahin sekarang?" Sama saja, Thorn sendiri juga merasa tidak adil karena di salahkan.


Jangan tanya bagaimana reaksi Halilintar, yang jelas ia lagi-lagi harus memarahi kelakuan ketiga adik supernya itu. Selesai makan, kini Halilintar memakai jaket tipisnya dan bersiap untuk keluar rumah.


"Tunggu sebentar, kak Hali mau kemana?" Halilintar menengok, ternyata adik bungsunya Solar yang bertanya.


"Mau mencari kerja, memangnya kalian tidak mau makan?" Terdengar ketus, tapi Solar bisa menangkap nada khawatir disana.


"Baiklah, hati-hati ya kak Hali"


"Hm, bilang pada yang lainnya aku mau berangkat mencari kerja"


"Oke, kak Hali" Solar tersenyum, setidaknya dia harus memberi semangat pada kakak sulungnya.


Bukan hal yang mudah, untuk mencari pekerjaan di desa dekat kota seperti ini. Buktinya, sudah sore seperti ini pun, Halilintar masih nihil mendapatkan pekerjaan. Pasti kebanyakan sudah penuh, karena memang siapa cepat dia dapat.


"Sudah belum dapat kerja, sekarang malah hujan" Halilintar menghela nafas, sambil melihat ke arah langit.

__ADS_1


Melihat ada tempat untuk berteduh di sebuah toko yang sudah lama tutup, Halilintar pun langsung berniat untuk berteduh di depan toko tersebut. Di sampingnya, bisa di lihat bahwa ada seorang pria yang terlihat sangat rapi.


'Baru kali ini, aku melihat ada orang rapi di daerah sini' Batin Halilintar.


Merasa dirinya di perhatikan, lantas pria tersebut bertatapan dengan mata merah ruby Halilintar. Pria itu tersenyum, tapi entah mengapa Halilintar tidak menyukai suasana di dekat pria tersebut. Mungkin bisa di katakan, kalau Halilintar merasa terancam.


"Hei nak, apa kamu kesusahan hidup di tempat kumuh ini?" Tanya pria itu.


"Lumayan, apa yang bapak lakukan di tempat yang bapak bilang 'kumuh' ini?" Mencoba mencari tahu, Halilintar menekankan kata kumuh tersebut.


Bukannya menjawab, pria tersebut malah tertawa mendengar pertanyaan dari Halilintar. Halilintar berpikir, mungkin pria ini salah satu pasien rumah sakit yang kabur. Karena, bisa-bisanya menertawakan pertanyaan orang lain.


"Saya suka dengan sifat dan tatapanmu, anak muda"


"Terima kasih, pak" Setelah mendengar jawaban Halilintar, pria tersebut tertawa lagi.


"Apa kamu membutuhkan pekerjaan dengan bayaran tinggi?" Di luar dugaan, pria tersebut malah menawarkan pekerjaan untuk Halilintar.


"Maaf, saya tidak percaya. Di jaman sekarang, tidak ada pekerjaan dengan upah tinggi" Menolak dengan tegas, memang ciri khas Halilintar.


"Bagaimana kalau saya bilang upahnya tinggi, karena menyangkut pertaruhan nyawa?" Pria itu tersenyum penuh arti.


Melihat senyuman dan jawaban pria tersebut, Halilintar sejenak menjadi ragu. Jujur saja, dia sendiri berpikir bahwa mungkin ini jalan keluar yang harus ia pilih. Tapi di satu sisi, apa dia harus menerima pekerjaan seperti ini?


"Tapi jika kamu ragu, anggap saja tawaran dari ku tidak pernah ada" Ucap pria itu, melihat keraguan di mata Halilintar.


"Berapa upah yang di tawarkan?" Bohong, jika Halilintar bilang dia tidak tertarik.


"Kurang lebih, sekitar 40-50 juta per misi. Itu pun jika, misi di tuntaskan dengan bersih dan kamu berhasil hidup"


Selama Halilintar bekerja, baru kali ini dia mendengar upah sebanyak itu. Bahkan, masih ada banyak sisa jika di bagikan masing-masing terhadap keenam adiknya. Di kehidupan yang sulit seperti sekarang, bagaimana bisa ia menolak?


"Aku terima, silahkan katakan apa saja syarat dan kewajiban pekerjaannya" Kesepakatan selesai, Halilintar menjabat tangan pria tersebut.


"Apa isi tas koper yang aneh itu, kak Hali?" Sama, pandangan mata Ice belum terlepas dari koper itu.


"Panggil yang lainnya, akan aku jelaskan di ruang tengah" Mendengar jawaban Halilintar, dengan cepat Ice memanggil saudaranya.


Saat ini, ketujuh saudara tersebut pun sedang berkumpul bersama di ruang tengah. Atau biasa menjadi tempat mereka tidur, sekaligus melakukan berbagai aktivitas bersana. Bisa Halilintar lihat, ekspresi penuh penasaran keenam adiknya.


"Akan aku buka koper ini, sekarang" Halilintar pun membuka koper yang di bawanya tadi.


Betapa tercengangnya mereka berenam, saat Halilintar membuka kopernya. Karena, pemandangan pertama yang mereka lihat adalah uang. Benar, seluruh koper itu di penuhi oleh uang yang tidak akan bisa mereka hitung berapa jumlah semuanya.


"Ini, uang sebanyak ini kak Hali dapat dari mana??" Tanya keenam adiknya bersamaan.


"Aku dapat pekerjaan baru, gaji awalnya aku minta bayar di muka" Jika menjawab seperti ini, Halilintar tidak terhitung bohong kan?


"Pekerjaan apa yang dapat uang sebanyak ini, kak Hali?" Ice bertanya penuh curiga, mungkin karena dia paham dengan sifat kakak sulungnya.


"Ada, tapi aku harus bekerja di luar kota mulai sekarang"


"Apa? Jadi, kak Hali mau meninggalkan kami?" Dengan nada sedih, Taufan bertanya kepada Halilintar.


"Aku hanya bekerja, bukannya menelantarkan kalian"


"Tapi, tetap saja kan kak Hali jauh dari Thorn dan yang lainnya" Kali ini, Thorn yang bersandar manja di bahu Halilintar.


"Kalau aku tidak kerja, kalian makan apa nanti Thorn?"

__ADS_1


"Apa kak Hali baik-baik aja sendirian di luar kota nanti?" Cukup berbeda dari yang lainnya, Solar lebih mengkhawatirkan kakak sulungnya itu.


"Memangnya, selama ini aku terlihat lemah Solar?"


"Tapi, nanti yang memarahi aku, kak Taufan, dan Thorn siapa?" Jangan di tanya kalau Blaze, memang anaknya sangat unik.


"Aku belum pergi, kamu sudah berpikir mengacau lagi Blaze?"


"Bukan kak Hali, aku bercanda doang!" Kabur ke belakang Gempa adalah jurus andalan Blaze.


"Gem? Kenapa malah diam di situ?" Tanya Halilintar, melihat Gempa yang dari tadi hanya terdiam.


"Tidak apa-apa, kak Hali" Jawab Gempa.


"Ku harap, kak Hali bisa jaga diri baik-baik di sana. Dan, sesekali berkunjung kesini ya?" Jika kalian bertanya, maka sejujurnya Gempa tidak ingin Halilintar pergi.


"Iya, aku pasti akan berkunjung nanti" Halilintar tersenyum, saudaranya pikir itu adalah pertanda baik.


Ternyata, apa yang mereka pikirkan salah. Keesokan paginya, mereka berenam hanya di tinggalkan sebuah surat sebelum Halilintar berangkat secara tiba-tiba. Awalnya, memang mereka merasa tidak ada yang aneh. Karena, mungkin Halilintar terlambat berangkat.


"Kak Taufan, sudah berapa tahun semenjak kak Hali menghilang ya?" Gempa bertanya pada Taufan, yang sedang berada di balkon rumah.


"Sudah sekitar dua tahun, Gem" Lagi, Taufan melamun melihat ke arah langit.


Benar, sudah dua tahun semenjak kakak sulung mereka yaitu Halilintar menghilang entah kemana. Walaupun, setiap bulannya mereka selalu menerima amplop berisi upah atas nama Halilintar. Yang membuat mereka yakin, bahwa Halilintar baik-baik saja di sana.


"Semenjak pindah ke rumah ini, suasananya jadi terasa sepi" Itu Blaze, jarang sekali dia ikut berbicara dengan Taufan dan juga Gempa.


"Heum, rasanya Thorn rindu sama kak Hali" Sekarang, Thorn pun ikut menimbrung pembicaraan mereka.


"Semuanya juga rindu kok, kak Thorn" Solar berjalan mendekat, sembari membaca buku di tangannya.


"Ceh, seharusnya waktu itu ku hentikan saja kak Hali. Kalau tau, pada akhirnya akan jadi begini" Ice mendengus kesal, tebakannya selalu saja tidak pernah salah.


"Jangan begitu, Ice. Gimana pun juga, kita bisa hidup berkecukupan seperti ini karena kak Hali" Ucap Taufan, dengan tatapan lebih tegas sekarang.


"Benar kata kak Taufan, kita doakan saja yang terbaik untuk kak Hali ya?" Gempa melerai kemungkinan bahwa, bisa saja mereka berdebat lagi.


Semuanya mengangguk, setuju dengan ucapan kedua kakak mereka. Tanpa mereka sadari, dari jauh seorang pemuda beriris merah ruby sedang memantau mereka berenam dari kejauhan. Padahal jika mereka teliti, itu adalah Halilintar.


"Maaf, tahun ini pun kakak belum bisa pulang dan berkumpul bersama kalian" Gumam Halilintar, sembari melihat keenam adiknya dari teropong.


"Red puppet, misi untuk malam ini akan di beritahukan. Ayo, kita berkumpul di ruangan khusus" Lagi-lagi, Halilintar mendapatkan panggilan kerja setiap sedang melihat adik-adiknya.


*Red puppet : Nama samaran saat akan atau sedang menjalankan misi


Beginilah kehidupan Halilintar saat ini, menjadi sebuah agen rahasia khusus untuk melakukan berbagai kerjaan berbahaya. Siang dan malam pun tidak bisa merasa tenang, pembunuh bayaran adalah makanan sehari-hari untuknya.


"Maaf, aku belum bisa melibatkan kalian dalam bahayanya pekerjaan ini" Bisik Halilintar, seolah-olah keenam adiknya bisa mendengarnya.


Berbeda dengan yang di pikirkan Halilintar, nyatanya benang persaudaraan di antara mereka jauh lebih kuat di bandingkan perkiraan mereka. Karena, saat ini mereka berenam melihat ke arah atap gedung di mana Halilintar gunakan untuk melihat mereka tadi.


"Jaga diri kak Hali baik-baik, kami sayang kak Hali" Dengan senyuman, keenam saudara tersebut melihat ke arah langit.


THE END.


Huwaaaa, susah juga ya bikin genre yang berbeda setiap chapter.. Tapi, aku suka banget nih cerita beda-beda genre begini 😁✌️


Gimana ya bilangnya, idenya jadi lebih fresh aja gitu gak flat 🤣

__ADS_1


Yap, kali ini pun tangan ku bekerja keras untuk membuat 1.700 kata ini T^T


Oh iya, ayo ikutan juga request ceritanya bagi yang belum.. Bantu aku membuat ide cerita baru, yuk! 😉


__ADS_2