For You -Oneshoot- (BOBOIBOY)

For You -Oneshoot- (BOBOIBOY)
(Shadow Villainous) For You


__ADS_3

Tema : Brotherhood


Request : @Lily


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Di suatu pagi yang cerah, dimana matahari dengan percaya dirinya terlihat. Ada seorang remaja yang terbangun, akibat alarm yang di pasangnya. Walaupun, dia memang harus bangun karena kewajibannya sebagai pelajar.


"Ugh, sudah jam 6 saja" Sedikit demi sedikit, mata beriris hijau muda bersinar itu terbuka.


Thorn menggeliat selayaknya ulat bulu, katanya itu bisa menambah tinggi badan jika dilakukan secara rutin. Tidak, sejujurnya itu hanyalah jebakan dari kedua kakak setimnya yaitu Taufan dan juga Blaze. Entahlah, Thorn sepertinya percaya saja.


"Thorn, sudah bangun?" Seperti biasa, Gempa mengetuk pintu kamar Thorn di pagi hari.


"Sudah, kak Gem!" Jawab Thorn, dengan nada semangat.


"Yasudah, cepat mandi lalu turun ke bawah untuk sarapan ya" Gempa tidak membuka kamar Thorn seenaknya, karena dia tahu Thorn juga butuh privasi.


"Okie, sekarang Thorn harus mandi dan sekolah"


Dengan semangat dan senyuman lucu seperti biasanya, Thorn merapikan tempat tidurnya. Memang sedari kecil, Thorn dan yang lainnya selalu di ajarkan untuk mandiri. Sesudah itu, Thorn mengambil handuk berwarna hijaunya dan mandi.


Rata-rata, seluruh kamar Thorn pasti berwarna hijau. Ya, Thorn memang sangat menyukai warna hijau. Karena, katanya hijau adalah lambang kedamaian. Buktinya saja, di bumi saja yang memiliki banyak hutan terlihat hijau kan?


"Thorn sekolah, bermain dan belajar bersama teman" Sambil bersenandung, Thorn membawa tas sekolahnya dan turun ke lantai bawah.


"Selamat pagi, kakak-kakak kesayangan Thorn!" Tolong, Thorn hampir membuat yang lainnya jantungan saking gemasnya.


Katakan jika mereka aneh, karena gemas dengan tingkah laku adik bungsu mereka. Yang menuju ke ruang makan sambil berlari kecil, bahkan bisa mereka lihat pipi gembul Thorn. Bagaimana bisa kalian tidak merasa bahwa Thorn imut?


"Astaga, mungkin aku harus periksa jantung ke dokter" Jangan tanyakan siapa itu, tentu saja Taufan.


"Eh, kenapa? Kak Taufan sakit kah?" Lagi, muka khawatir Thorn malah membuat Taufan berteriak dalam diam.


"Kak Taufan bukan sakit, tapi kurang vitamin K" Kali ini, malah Solar yang berceletuk.


"Huh? Vitamin K itu apa, kak Solar?" Salah satu kebiasaan imut Thorn yang lainnya yaitu, memeringkan kepalanya saat kebingungan.


"Vitamin kewarasan, Thorn" Dari luar, Solar memang terlihat biasa saja. Nyatanya, dia bisa mimisan melihat tingkah Thorn.


"Ew, padahal ekspresi mukamu sendiri tidak bisa di kondisikan" Ice dan mulut pedasnya, merupakan hal yang lumrah bagi mereka.


"Eleh, nyatanya kau juga selalu menyimpan foto imut Thorn" Siapa lagi yang menjawab, kalau bukan Blaze sang rival bertengkar Ice.


"Sudah, jangan malah bertengkar dan menyalahkan satu sama lain" Gempa mencoba menengahi.


"Tapi Gem, ini masalah harga diri lelaki" Terima kasih, berkat ini Taufan pasti akan menyesal nanti.


"Hm, harga diri lelaki rupanya" Seluruh adik-adiknya merinding, karena Halilintar buka suara.


"Kalau begitu, silahkan jalan kaki ke sekolah Taufan" Halilintar tidak pernah menerima bantahan, maka dari itu Taufan menurut.


"Sini sarapan, Thorn" Halilintar menepuk kursi di sebelah kanannya, untuk Thorn duduk di sana.


Yang lainnya hanya bisa merutuki Halilintar dalam hati, karena mereka tahu pasti Halilintar sudah menyiapkan strategi ini sedari tadi. Apalagi Taufan, rasanya dia ingin menggigit tas merah gelap Halilintar saat ini juga.


"Hari ini ada kegiatan klub tanaman, Thorn?" Tanya Gempa, sambil memakan roti nanasnya.


"Ada, jadi Thorn pulang agak sore kak Gem" Jawab Thorn, yang sedang mengoleskan selai blueberry di rotinya.

__ADS_1


"Kalau begitu, kita tungguin Thorn aja kak Gem" Ucap Blaze, memberi ide pada Gempa.


"Aih, Thorn gak mau. Kan, Thorn bukan anak kecil lagi sekarang" Dan, muka memohon Thorn pun berhasil membujuk kedua kakaknya itu.


"Hati-hati ya, Thorn" Solar menatap Thorn penuh khawatir, padahal mereka hanya berbeda beberapa bulan.


"Iya, Thorn pasti akan baik-baik aja kak Solar"


Bagaimana pun juga, Thorn tidak mau di tunggu lagi oleh kakak-kakaknya yang overprotective itu. Karena, kejadian terakhir kali saat tunggu oleh kakak-kakaknya. Thorn masih ingat, saat itu tidak ada yang bergabung di klub tanamannya.


"Oh iya, papa dan mama lagi dimana sekarang?" Pantas Thorn merasa sepi, ternyata lagi-lagi orang tuanya tidak ada di rumah.


"Lagi di Singapura, mengurus kantor yang ada di sana" Ucap Halilintar, dia baru saja berbicara dengan orang tuanya di telepon tadi.


Tenang saja, orang tua mereka sangat menyayangi mereka. Namun, memang orang tua mereka cukup sibuk akhir-akhir ini. Mereka tidak bisa di sebut sebagai kaya raya, tapi bisa di sebut hidup dengan berkecukupan. Dan, mereka bertujuh tidak pernah mengeluh pada orang tuanya.


"Sudah selesai? Ayo, kita berangkat sekarang" Halilintar berdiri dari posisi duduknya, mengambil tas merah gelapnya dan tidak lupa jaketnya.


Sama seperti Halilintar, yang lain juga membereskan piring kotor mereka dan mengambil tas masing-masing. Sesudah itu, mereka pun berangkat secara terpisah. Ada Halilintar dan Ice, yang mengendarai motor sport mereka.


Ada juga Gempa dan Taufan yang biasanya bergiliran, untuk mengendarai mobil dengan Blaze, Solar, dan Thorn yang ikut di dalam mobil. Sesampainya di sekolah, mereka langsung menjadi pusat perhatian para murid seperti biasanya. Namun, mereka malah sibuk menjaga Thorn.


"Yakin tidak mau kita tungguin, Thorn?" Tanya Blaze, yang masih saja mengintrogasi Thorn semenjak bel pulang sekolah berbunyi.


"Kak Blaze, jangan membuat Thorn terbebani begitu dong" Keluh Ice, lama-lama dia ikut kesal melihat Blaze.


"Sudah, Thorn gak apa-apa. Thorn bisa sendiri kok, percaya sama Thorn ya?" Dengan mata puppy eyes andalannya, Thorn membujuk kakak-kakaknya.


"Yasudah, telepon saja kalau ada apa-apa ya Thorn" Gempa menghela nafas, mereka juga tidak bisa memaksa keinginan Thorn kan?


"Nih, semprotan kalau ada bahaya Thorn" Solar memberikan semprotan hasil penelitiannya kepada Thorn.


"Semprotan dalam bahaya?" Gumam Thorn, yang memasang wajah bingung.


"Sudah selesai berisiknya? Sekarang, biarkan Thorn ikut kegiatan klubnya" Sebelum adik-adiknya semakin berisik, Halilintar sudah lebih dulu menyeret mereka menjauh dari Thorn.


Melihat kakak-kakaknya tidak terima dan merengek, akibat di seret oleh kakak sulungnya membuat Thorn terkekeh. Sejujurnya, dia senang karena sangat di perhatikan oleh mereka. Namun akhir-akhir ini, Thorn sering mendapat surat ancaman entah dari siapa.


"Jangan di pikirkan, Thorn harus segera memulai klub!" Monolog Thorn, mencoba menyemangati dirinya sendiri.


Thorn berjalan memasuki ruangan klubnya, yang hawanya agak terasa aneh menurutnya. Tiba-tiba saja, Thorn di tendang dari arah belakang, Thorn langsung tersungkur ke tanah. Bisa Thorn lihat, ada lima orang siswa yang tidak di kenalnya.


"S-siapa kalian? Thorn gak kenal sama kalian!" Dengan suara gemetaran, Thorn memeluk tas hijaunya.


"Astaga, mendengar ucapan dia aja membuatku mual mau muntah" Salah satu dari lima siswa itu memperagakan, seolah-olah dia memang ingin muntah.


"Kunci pintunya, jangan sampai ada orang yang tahu selain kita" Perintah dari satu siswa yang kelihatan menonjol, bisa Thorn tebak itu pasti pemimpin mereka.


"Kenapa? Kalian siapa? Thorn gak pernah jahat sama kalian"


"Ya, memang gak pernah jahat. Tapi, tingkah lakumu itu memuakkan. Apalagi, selalu di jaga oleh keenam kakakmu itu" Siswa ketiga dari geng tersebut ikut bicara.


"Maklum, namanya juga banci. Pasti, sikapnya aja kayak pengecut!" Mereka berlima tertawa senang, karena Thorn keliatan cukup ketakutan.


Mereka berlima dengan puasnya memukuli dan menendang Thorn, sampai-sampai Thorn merasa tidak bisa bebas dari sini. Tapi, Thorn melihat kalau kunci ruangan ini masih tergantung di pintu. Yang artinya, Thorn masih ada kesempatan untuk bisa kabur dari sini.


Secepat mungkin, Thorn menarik kaki yang ingin menendangnya lagi dan menyemprotkan semprotan yang diberikan Solar. Membuat mereka hilang keseimbangan, dengan cepat dia berlari ke arah pintu. Thorn membuka kunci pintu ruangan tersebut, lalu mencoba berlari menjauh. Namun, dia terjatuh dengan cukup kencang.


"Argh, kakiku pasti terkilir" Sambil memegang kakinya, Thorn melihat kelima siswa itu berjalan mendekat.

__ADS_1


"Kurang ajar, di kasih pelajaran baik-baik. Malah begini, dasar anak manja!" Satu tonjokkan di tujukan lagi ke arah Thorn.


"KAKAK!!" Teriak Thorn, sambil menutup erat matanya.


Di saat itu juga, kelima anggota geng tersebut berjalan mundur ketakutan. Karena, entah dari mana keenam kakak Thorn datang. Dengan tatapan mata tajam menyala, mereka mengintimidasi kelima anggota geng tersebut. Apalagi, dengan melihat kondisi Thorn saat ini.


"Ceh, sudah ku bilang jangan di tinggal" Ucap Blaze, sambil menaruh tasnya dan menggulung lengan jaketnya.


"Benar, seharusnya aku mendengarkan kak Blaze" Di saat berhubungan dengan Thorn, pasti Ice dan Blaze selalu kompak.


"Berani-beraninya, melukai adik bungsu kami" Gempa yang biasa tersenyum, kini membuang senyumannya dan menyisakan wajah datar.


"Lumayan, aku butuh bahan eksperimen" Solar membuka tasnya, mengeluarkan penggaris besi panjangnya.


"Wah, tidak sia-sia aku belajar boxing bulan ini" Sama seperti Solar, saat ini Taufan mengeluarkan sarung tinju dari tasnya.


"Hm, aku rasa kalian sudah siap mati kan?" Tatapan mata merah Halilintar, pasti membuat siapapun merinding.


Kelima anggota geng tersebut berlari ketakutan, berharap bisa kabur dari keenam kakak Thorn yang menakutkan itu. Karena, mereka tidak tahu kalau para kakak Thorn masing-masing menguasai bela diri berbeda. Kalau kena, tamatlah riwayat hidup mereka.


Karena Halilintar sendiri menguasai taekwondo, sementara Taufan menguasai boxing. Gempa menguasai pencak silat, Blaze menguasai muay Thai. Ice menguasai karate, sedangkan Solar menguasai kendo. Sayangnya, Thorn baru saja akan mengikuti pembelajaran bela diri bulan ini.


"Ampun, kami tidak akan mengganggu Thorn lagi!" Janji kelima anggota geng tersebut, intinya mereka berlima di hajar habis-habisan oleh yang lainnya.


"Ganggu juga tidak apa-apa, tinggal kita hajar lagi kalian" Ancam Blaze, sambil menarik tanda nama di seragam bos geng tersebut.


"Kak Blaze, jangan begitu" Thorn mencoba menurunkan emosi Blaze.


"Astaga, betapa baik dan polosnya adik bungsuku ini" Namun, Taufan malah memanasi Blaze lagi.


"Kak Hali, apa Thorn boleh bicara sebentar sama mereka?" Tanya Thorn, dengan mata sedikit berharap.


"Yasudah, tapi akan kita awasi dari sini" Jawab Hali, bagaimana pun dia yakin Thorn tidak akan di apa-apakan lagi.


Thorn berjalan mendekati kelima anggota geng tersebut, sambil di awasi dari belakang oleh keenam kakaknya. Sayangnya, tidak ada yang bisa melihat bahwa Thorn malah tersenyum di depan kelima anggota geng itu. Dengan sedikit berjongkok, Thorn bicara pada mereka.


"Bagaimana? Enak di hajar?" Masih dengan senyumannya, namun kali ini Thorn terlihat menyeramkan.


"Ternyata, selama ini begitu sifatmu" Mendengar balasan seperti itu, Thorn terkekeh pelan.


"Aku tidak bodoh, di dalam ruangan klub selalu ada cctv. Bisa gawat, kalau aku terlihat menonjol" Kelima anggota geng tersebut bungkam, nyatanya mereka merasakan ada aura kejam di sekeliling Thorn.


"Thorn, sudah selesai?" Jujur, Gempa masih khawatir dengan lebam di tubuh Thorn.


"Iya, Thorn gak apa-apa kak Gem!" Hilang, muka seram Thorn hilang dan berganti menjadi wajah imut biasanya.


"Kak, aku sudah berhasil mendapatkan salinan cctvnya" Rupanya, dari tadi Solar sibuk menyalin cctv di ruang klub Thorn.


"Sebaiknya, kita ke rumah sakit untuk memeriksa Thorn" Ice memberikan usul.


Mereka berenam pun setuju membawa Thorn ke rumah sakit, meninggalkan kelima anggota geng tersebut. Dari kejauhan bisa mereka lihat lagi, kalau Thorn tersenyum puas akan kekalahan mereka berlima. Satu hal yang bisa mereka tangkap, Thorn tidak sepolos yang di kira. Intinya, jangan berani macam-macam dengan Thorn.


THE END.


Ngomong-ngomong, aku agak sedih nih.. Cerita kali ini jauh lebih sepi pendukungnya T_T apa karena kurang seru? 😭


Tapi, jujur aku enjoy banget bikin cerita beda-beda genre begini setiap hari :')


Maaf ya, kalau bagi kalian banyak yang kurang seru.. Tapi, mohon dukungannya untuk cerita kali ini ❀️ terima kasih~

__ADS_1


Oh iya, ayo ikutan juga request ceritanya bagi yang belum.. Bantu aku membuat ide cerita baru, yuk! πŸ˜‰


Coba tebak, kali ini aku mengetik berapa kata hayo~


__ADS_2