
Tema : Mafia, Action
Request : @szfrh_
☠️☠️☠️☠️☠️☠️☠️☠️☠️☠️☠️☠️☠️☠️☠️☠️☠️☠️
Di sebuah universitas, banyak para mahasiswa yang berkumpul di area parkir. Hanya karena, katanya ada ketujuh simbol universitas yang sudah datang. Maksudnya, tidak lain adalah anak-anak pemilik universitas nomor 1 di negara mereka.
Ada tujuh mobil sport dengan tipe yang berbeda terparkir di sana dengan rapi, pemilik mobil tersebut pun satu persatu keluar dari mobil mereka. Karena sulit melihat ketujuh dari mereka, para mahasiswa pun tidak melewatkan kesempatan saat ini.
"Astaga, ternyata ganteng banget!" Ucap salah satu perempuan yang ada di sana.
"Ck, aku benci keramaian" Gumam Halilintar, sambil mengeluarkan aura hitam pekat yang membuat beberapa orang ketakutan.
"Sabar kak Hali, kita tidak boleh menunjukkan citra asli kita kan?" Gempa mencoba mengingatkan Halilintar.
"Aduh, aku bertanya-tanya kenapa aku merinding. Ternyata, lagi-lagi auranya kak Hali" Taufan menatap malas ke arah Halilintar, kakaknya itu mudah sekali emosi.
"Kak Taufan, gak kapok ya di hajar kak Hali?" Tanya Blaze, yang baru saja sibuk menebar pesona.
"Kalau kak Taufan kapok, aku yakin ada masalah dengan otak kak Taufan" Dengan muka tanpa dosanya, Solar mengatakan hal buruk untuk kakaknya itu.
"Kalau begitu, langsung eksperimen operasi aja Solar!" Berbeda dengan Solar, saat ini Thorn malah bernada gembira.
"Auh, aku masih tidak terbiasa dengan sikap aneh kak Thorn bertahun-tahun" Sambil mengeratkan jaketnya, Ice menggeleng perlahan.
"Kurang ajar, aku terus yang di ejek setiap hari" Taufan melipat tangannya, kapan ya dia akan memiliki adik yang kalem?
"Jangan berharap memiliki adik yang pendiam, jika sikapmu seperti itu Taufan" Sesudah kembali membalas Taufan, Halilintar pun berjalan meninggalkan yang lainnya.
Belum sempat Halilintar sampai di depan gedung kampusnya, tiba-tiba sebuah motor sport berwarna ungu bercampur hitam berhenti di depannya. Otomatis, jalannya saat ini sedang di halangi dengan sengaja. Dan, Halilintar sangat tahu siapa yang ada di depannya saat ini.
"Berhenti bercanda dan minggir dari jalanku, Fang" Halilintar menatap tajam ke arah Fang yang masih memakai helmnya.
"Hanya di saat begini, aku bisa mengerjaimu Hali. Berhenti terlalu kaku, sikapmu itu tidak menyenangkan" Sambil membuka helmnya, Fang mengoceh kepada Halilintar.
"Berisik" Dan, lagi-lagi Fang di tinggalkan oleh Halilintar begitu saja.
"Apa ini yang di maksud, sahabat cepat berubah seiring berjalannya waktu?" Monolog Fang, dengan muka sad boynya.
"Yang sabar ya, landak ungu" Ejek keenam adik Halilintar, kepada Fang yang terdiam.
Seperti biasa, ketujuh kakak beradik itu pun berjalan menuju kelas pribadi mereka. Karena, mereka memang tidak masuk ke kelas yang sama seperti mahasiswa pada umumnya. Agar, identitas dan pembelajaran mereka tidak ketahuan.
"Selamat datang, tuan muda Seven Heirs" Begitu masuk ke ruangan, sepuluh bawahan mereka menyambut dengan hormat.
Ya, mereka bertujuh memang di panggil tuan muda seven heirs. Karena, mereka adalah saudara kembar yang lahir bersamaan. Sehingga, itu menjadikan mereka bertujuh secara rata adalah ahli waris dari sang ayah yang merupakan seorang mafioso.
"Hm, mari kita mulai pelajaran hari ini" Perintah Halilintar, yang langsung di jalankan oleh para bawahannya.
"Astaga, rasanya kepalaku mau pecah setiap belajar sebanyak ini" Keluh Taufan, untungnya saat ini sudah waktunya istirahat.
"Tuan muda, apakah ingin di masakan lagi seperti biasanya oleh para koki?" Tanya seorang pelayan, yang bertugas di ruangan mereka.
"Menurut kalian bagaimana?" Halilintar belum menjawab, karena sepertinya adik-adiknya itu bosan dengan masakan para koki.
"Kak Hali, kalau makan di kantin kampus boleh?" Thorn mencoba membujuk Halilintar.
"Tapi, makanan di kantin mungkin saja mengandung bakteri-" Belum selesai Solar berbicara, mulutnya sudah di bekap duluan oleh Blaze.
"Anak ini jenius dari mananya sih?" Dengan tatapan mata kesal, Blaze bertanya ke rekannya yaitu Ice.
"Entahlah, padahal jelas-jelas dia ini bodoh" Ice mencubit pipi Solar dengan wajah datarnya.
"Kenapa malah jadi bertengkar?" Sejujurnya, Gempa cukup terhibur dengan keributan mereka.
__ADS_1
"Hentikan, kalau kalian masih ingin makan" Lerai Halilintar, dengan sedikit ancaman paling baik darinya.
Tidak mungkin melawan kakak sulung mereka, akhirnya pertengkaran pun selesai dengan damai. Atau lebih tepatnya, selesai akibat ancaman halus Halilintar. Kalau mencari masalah dengan Halilintar, bisa-bisa kepala mereka bolong.
"Apa yang kalian dengar hari ini?" Tanya Halilintar kepada para bawahan mereka, aura dominannya memang mirip dengan ayahnya.
"Tidak ada, seluruh telinga dan mulut kami tertutup rapat tuan muda" Para pelayan tahu, itu bukan pertanyaan dari Halilintar, melainkan peringatan.
Akhirnya, keputusan bulatnya adalah mereka makan di kantin kampus. Sesudah makan, mereka pun segera menuju ke rumah sakit sebelum pulang ke rumah mereka. Karena, ayah mereka sudah beberapa bulan ini di rawat.
Sedangkan, ibu mereka sudah lama meninggal akibat pendarahan saat melahirkan mereka bertujuh. Tapi, mereka sudah dari kecil di didik untuk menjadi kuat. Bayangkan saja, namanya juga ahli waris. Artinya, seluruh pekerjaan, tanggung jawab, dan kekayaan ayah mereka akan turun ke mereka bertujuh.
"Berapa kali pun, aku tetap tidak suka aroma rumah sakit" Bukan hal aneh, jika Ice yang mengucapkan hal itu.
"Siapa suruh kau membuat luka tembak saat bermain-main pistol dengan Blaze?" Sarkas Taufan, mungkin adiknya itu memang gila. Karena, bermain pistol di usia 12 tahun.
"Hei, aku tidak sengaja kak Taufan" Blaze masih merasa bersalah, karena kejadian itu pergerakan tangan kiri Ice jadi terbatas.
"Tidak apa-apa, kak Blaze" Ice menepuk pelan bahu Blaze, sembari melayangkan tatapan maut pada Taufan.
"Lho, salahku apalagi?" Bukannya tidak peka, sudah Solar bilang Taufan itu perlu operasi otak.
"Menurut kak Taufan, apa yang terjadi saat membuka paksa luka lama?" Sungguh, Solar jengah dengan kakak angin topannya itu.
"Ya, pasti berdarah kan?" Bukannya paham, sepertinya Taufan malah semakin terlihat bodoh.
"Kebetulan disini ada banyak ruangan operasi lho, kak Taufan" Dengan nada seramnya, Thorn bersenandung di depan Taufan.
"Jangan berisik, nanti kak Hali marah" Bisik Gempa, berharap Halilintar tidak akan marah lagi kali ini.
"Dimana sopan santun kalian? Tidak tahu kalau, di sini itu rumah sakit?" Dugaan Gempa salah, nyatanya Halilintar lebih dulu memarahi mereka.
"Maaf, kak Hali" Kompak, keenam adiknya meminta maaf padanya dengan sopan.
"Maaf, tuan muda pertama" Benar, para bawahan tidak di perbolehkan memanggil nama mereka.
"Godfather ingin memiliki pembicaraan pribadi, dengan tuan muda pertama"
"Sekarang?"
"Benar, tuan muda pertama" Halilintar mengangguk, menyuruh bawahannya tersebut kembali.
"Ada apa, kak Hali?" Tanya Gempa.
"Aku ada urusan dengan ayah, kalian pulang duluan saja" Dengan tatapan mata Halilintar saja, para anggota mafia lainnya langsung menjaga keenam adiknya.
"Jaga mereka, kelalaian kalian di bayar oleh nyawa" Mungkin kejam bagi orang lain, namun seperti inilah kerasnya dunia bawah kegelapan.
"Kami mengerti, tuan muda pertama" Dengan segala hormat, para anggota mafia tersebut menunduk dan mengawal keenam adiknya.
Memasuki ruang rawat ayahnya, Halilintar bisa melihat ayahnya sedang terduduk lemas di dekat jendela. Entah apa yang ada di pikiran ayahnya saat ini, tapi bisa Halilintar pahami bahwa mungkin sebentar lagi ayahnya akan menyusul ibunya juga.
"Godfather" Panggil Halilintar, yang berhasil mengalihkan lamunan ayahnya.
"Hanya ada kita berdua disini, Hali" Halilintar memang tidak bisa bersikap santai kepada ayahnya, jika ada di depan para anggota mafia lainnya.
"Maaf, ayah" Halilintar berjalan mendekati ayahnya.
"Bagaimana kuliah kalian? Lancar?"
"Lancar, tidak ada masalah ayah"
"Maaf, ayah tidak bisa mengawasi kalian lagi seperti biasanya" Mata sang ayah terlihat lelah, Halilintar paham akan itu.
"Tidak masalah, ayah selalu mengajarkan kami agar kuat sejak kecil" Walaupun nyatanya, Halilintar juga sedih jika kehilangan ayahnya.
__ADS_1
"Benar, jadi ada misi rahasia yang ayah rasa kamu sudah bisa memimpin misi ini"
"Aku dan yang lainnya baru berumur 20 tahun, apa ayah yakin?"
"Kalian anak-anak ayah yang kuat, lagi pula sudah masanya ayah pensiun" Sang ayah memberikan sebuah amplop hitam kepada Halilintar.
"Amplop ini untuk apa, ayah?" Halilintar mengambil amplop tersebut.
"Jika ayah tidak bisa bertahan sampai misi yang ayah berikan padamu, buka dan bacakan amplop ini di depan seluruh anggota pilihanmu"
"Baiklah, aku mengerti ayah" Halilintar tidak bodoh, dia paham apa maksud ayahnya.
Sebelum Halilintar keluar dari ruang rawat sang ayah, mereka sempat berpelukan sebentar. Jika di lihat sekilas, mereka hanyalah ayah dan anak pada umumnya. Namun, jalan yang mereka pilih lebih gelap dan berjurang di bandingkan manusia pada umumnya.
Setelah berpikir di dalam perjalanan pulangnya, akhirnya Halilintar sampai di rumahnya. Sebenarnya, lebih cocok di katakan sebagai mansion. Karena, menuju pintu masuk saja membutuhkan waktu lima menit menggunakan mobil. Bisa kalian bayangkan seberapa luasnya tempat tinggal ketujuh tuan muda ahli waris itu?
"Selamat datang, tuan muda pertama" Begitu keluar dari mobilnya, seluruh anggota langsung menyambut Halilintar.
"Hm, lanjutkan tugas kalian" Ucap Halilintar, membubarkan para anggota.
"Bagaimana pembicaraannya sama ayah, kak Hali?" Dari tadi, Taufan memang sudah menunggu kepulangan kakak sulungnya itu.
"Nanti ku jelaskan, sekarang kumpulkan semuanya beserta Fang ke ruangan rapat utama" Melihat wajah Halilintar yang serius, Taufan segera memanggil yang lainnya.
Saat semua sudah berkumpul di ruang rapat, Halilintar pun membicarakan misi yang di percayakan ayahnya. Setelah memikirkan dan menyusun rencana sebaik mungkin, Halilintar memimpin para anggota selayaknya sebuah pemimpin.
"Fang, bersihkan seluruh jejak yang ada nanti" Halilintar masih memanggil nama Fang, karena Fang memang belum memiliki pangkat tetap.
"Baik, tuan muda" Fang tahu menempatkan dirinya, saat bertugas maupun saat menjadi sahabat Halilintar.
Seluruh anggota mafia yang di pimpin Halilintar melaksanakan tugas mereka dengan sungguh-sungguh, mengingat janji nyawa mereka saat masuk ke dunia gelap ini. Dan mereka merasa, Halilintar memang sudah cocok menjadi pemimpin bagi mereka.
Bagi para anggota mafia, Halilintar adalah sosok seorang pemimpin. Walaupun masih muda, Halilintar memiliki aura dominan dan cerdas. Siapapun yang bertemu dengannya pasti, tidak akan berani memberikan perintah apapun pada Halilintar.
"Bagaimana? Semua musuh sudah tumbang?" Tanya Halilintar pada unit kembar, alias Blaze dan juga Ice.
"Sudah, pemimpin unit" Jawab si kembar, nama pemimpin unit biasanya di berikan pada pemegang tim penggerak misi.
"Bungsu, ledakkan semuanya dan jangan sisakan apapun" Halilintar memberi kode kepada Thorn dari alat komunikasi.
"Yeay, meledak! Boom!" Jangan tanyakan kenapa, dari kecil Thorn sudah jenius kalau soal bahan peledak seperti bom.
Malam itu, Halilintar berhasil menyelesaikan misinya dengan baik. Dan sayangnya, di malam itu juga kabar Halilintar mendengar kabar bahwa ayahnya telah tiada. Karena itu, saat ini Halilintar sedang berdiri di lantai atas bagian tengah mansion mereka. Membuka amplop hitam yang di berikan mendiang ayahnya.
"Hari ini, saya Halilintar Carson Extarn. Akan mengambil alih posisi godfather, silahkan ucapkan ulang sumpah nyawa kalian jika ingin mengikutiku. Dan, silahkan keluar dari mansion dan kelompok ini jika tidak" Penuh ketegasan, tidak ada suara Halilintar yang bergetar sedikit pun.
Selayaknya, dilahirkan memang untuk menjadi pemimpin. Seluruh anggota yang ada di sana membungkukkan badan mereka, mengucapkan sumpah nyawa yang pernah mereka lakukan pada mendiang pemimpin mereka. Tidak ada satu orang pun, yang melangkahkan kaki keluar dari mansion tersebut.
"Kami bersedia melindungi anda, Godfather" Ucap seluruh anggota dengan lantang.
Halilintar melihat ke arah adik-adiknya, tidak ada perebutan kekuasaan di antara mereka. Adik-adiknya pun merasa bahwa, memang kakak sulung merekalah yang cocok menjadi pemimpin kelompok mafia saat ini.
Mereka bertujuh memang lahir dalam dunia penuh kegelapan dan kematian, namun mereka bertanggung jawab untuk memimpin seluruh anggota yang bersumpah menjaga nyawa mereka. Walaupun mereka tahu, kalau kematian adalah harga yang pantas untuk pekerjaan penuh resiko ini.
THE END.
Duh, udah lama banget gak ngetik cerita tentang mafia T_T takut feelnya gak dapet 🥲
Bagaimana? Kalian suka gak? Semoga bisa menghibur ya! ^^
Pengumuman tambahan :
Seperti biasa, cerita akan libur dulu di hari sabtu dan minggu. Up seperti biasa di hari senin-jumat jam 13.00 WIB ya~
Maaf ya, kalau bagi kalian banyak yang kurang seru.. Tapi, mohon dukungannya untuk cerita kali ini ❤️ terima kasih~
__ADS_1
Oh iya, ayo ikutan juga request ceritanya bagi yang belum.. Bantu aku membuat ide cerita baru, yuk! 😉