
Tema : Psychological, Brotherhood
Request : @Egao
WARNING β οΈ : Trigger, harsh words, blood
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Tampaknya pagi ini, matahari tidak perlu berusaha keras mengeluarkan sinarnya untuk membangunkan seseorang. Karena, remaja itu sudah bangun sejak matahari baru terbit. Manik biru tua bercahaya itu terlihat sangat senang, seperti mendapatkan sesuatu yang sudah diinginkannya sejak lama.
"Yeah, akhirnya besok aku dan kak Hali akan liburan!" Karena sangat senang, Taufan jadi dua kali lipat lebih aktif dari biasanya.
Buktinya, saat ini saja Taufan sudah mulai memilih barang apa saja yang akan dia bawa saat liburan dengan kakak sibuknya itu. Saking seru dan semangatnya, Taufan sampai tidak sadar kalau kakaknya sudah memanggilnya untuk sarapan terlebih dahulu. Akhirnya, dengan terpaksa kakak sulungnya harus berjalan ke kamar Taufan.
"Sudah dipanggil sarapan daritadi, ternyata masih dikamar?" Pemilik manik merah ruby tersebut terlihat cukup kesal.
"Eh, kak Hali" Taufan menghadap kearah belakang, hanya bisa tertawa kikuk melihat kakaknya ada disana.
"Kenapa dipanggil sarapan malah sibuk sendiri?" Halilintar menyilangkan tangannya didepan dada, menanti penjelasan dari Taufan.
"Jelas, karena aku lagi pilih barang yang akan aku bawa liburan bersama kak Hali nanti dong!" Entahlah, Halilintar tidak tahu adiknya ini pintar atau tidak dalam melihat situasi.
"Taufan, semangat itu boleh. Tapi, jangan sampai melewatkan jam makan"
Inilah yang paling Taufan suka, Halilintar memang terlihat dingin diluar. Namun, kenyataannya Halilintar itu sangat perhatian padanya. Kata Halilintar, dia harus menjaga Taufan yang merupakan adik bungsunya. Karena, menjaga dan melindungi adalah kewajiban anak sulung. Tapi, Taufan selalu melihat ketulusan dari sikap Halilintar padanya. Bukan sekedar, alasan kewajiban belaka.
"Duh, susah ya menjadi satu-satunya adik kesayangan dari kakak tsundereku ini" Goda Taufan, yang dibalas jeweran sayang dari Halilintar.
"Sebelum membicarakan hal-hal yang bikin sakit kepala, cepat bereskan tempat tidurmu. Kalau tidak, jangan harap ada sarapan pagi ini"
Sesudah menceramahi Taufan dipagi hari, Halilintar berjalan kembali kedapur. Sedangkan, Taufan yang ditinggalkan dengan bekas kemerahan dikupingnya hanya bisa mengoceh pelan. Itupun sambil berharap, agar Halilintar tidak mendengarnya. Atau mungkin, dia bisa saja diberikan jeweran kasih sayang lagi dari Halilintar.
"Dasar kak Hali, padahal dia juga sebenarnya senang mau jalan-jalan" Oceh Taufan, sambil merapikan tempat tidurnya.
Sudah berapa lama ya, Taufan tidak liburan bersama Halilintar. Habisnya, kakaknya itu selalu sibuk bekerja diluar kota. Jadinya, Taufan jarang bertemu juga dengan kakak sulungnya itu. Ayah dan ibunya juga sedang sibuk, mengurus sepupu mereka yang tiba-tiba bertambah menjadi 5 orang. Ya, salah satu tante Halilintar dan juga Taufan baru saja melahirkan 5 anak kembar sekaligus.
"Ceh, papa sama mama suka pilih kasih sama anak bayi nih" Taufan cemberut, belum menyentuh sarapannya sejak datang ke ruang makan.
"Mengalah sama anak yang lebih muda, lagipula mereka juga masih bayi" Halilintar tidak mengerti, kenapa adik bungunya ini masih saja haus akan perhatian?
"Tapi, aku juga belum dewasa tuh" Tidak mau kalah, Taufan membalas Halilintar.
"Kamu sudah bisa berpikir menggunakan otakmu, kan? Kalau, mereka makan dan ganti popok saja masih dibantu"
"Iya juga, tandanya aku lebih dewasa dari pada mereka!" Sudah mendapatkan semangatnya kembali, Taufan langsung memakan sarapannya.
'Mungkin, aku terlalu sibuk jadinya Taufan merasa kesepian' batin Halilintar.
Setelahnya, Halilintar dan Taufan selesai sarapan. Seperti biasa, Halilintar akan mencuci piring dan peralatan makan kotor. Namun, tiba-tiba kepala Halilintar terasa sangat sakit. Tanpa disengaja, Halilintar menjatuhkan sebuah gelas ditangannya.
"Eh, kak Hali kenapa?!" Taufan yang mendengar pecahan gelas pun langsung membantu kakaknya.
"Ugh, kepalaku.. sakit.." Lirih Halilintar, sambil memegang kepalanya.
"Duh, makanya kan aku sudah bilang kak Hali duduk saja. Biar aku, yang beresin dan cuci semuanya"
Awalnya, Halilintar sempat menolak saat Taufan menyuruhnya beristirahat dikamar. Namun, Halilintar tidak pernah bisa menolak adiknya. Akhirnya, Halilintar pun menuruti permintaan Taufan agar dirinya beristirahat. Sementara, Taufan akan membereskan kekacauan yang diperbuatnya secara tidak sengaja.
"Dasar, kak Hali masih saja suka memaksakan diri" Gumam Taufan, sembari menyapu pecahan-pecahan beling yang ada dilantai.
'Ya, dari dulu kak Hali memang keras kepala orangnya' Batin Taufan.
Karena udara terasa nyaman hari ini, Taufan tidak sengaja tertidur disofa ruang tamu. Sehabis, memberekan tugas-tugas rumahnya. Namun, tiba-tiba Taufan mendengar suara berisik dari lemari peralatan makannya didapur. Sambil berdoa didalam hati, Taufan pun berjalan perlahan kearah dapur dengan hati-hati.
'Semoga bukan pencuri atau pembunuh, aku masih mau hidup' Batin Taufan.
"Kak Hali??" Baru saja Taufan menyalakan salah satu lampu dapurnya, rupanya kakaknya yang ada didapur.
"Duh, kupikir siapa yang ada didapur. Jangan bikin takut lagi dong, kak Hali!" Oceh Taufan, namun anehnya Halilintar tidak menjawab dirinya.
"Kak Hali? Kak Hali masih pusing, ya?" Taufan meletakkan tangannya dikepala Halilintar, menurutnya tidak terasa seperti demam.
"Lepas, jangan ganggu aku" Jawab Halilintar datar dan menghempaskan tangan Taufan dengan kasar, Taufan terkejut bukan main.
__ADS_1
"Siapa ini? Rasanya, ini gak terasa seperti kak Hali. Jangan-jangan, kakak sulungku lagi keserupan ya?!"
"Berisik, aku pergi dulu" Tanpa menjawab pertanyaan Taufan, Halilintar berjalan kearah pintu rumahnya.
"Tunggu dulu, kak Hali mau kemana? Tadi saja, kak Hali hampir terjatuh" Percuma, ucapan Taufan tidak mencegah Halilintar yang pergi begitu saja.
"Apa sih? Kak Hali pasti lagi jelek tuh suasana hatinya, tinggal bilang kok mau kemana" Malas mengoceh sendiri, Taufan pun memutuskan untuk mendengarkan lagu atau menonton saja dikamarnya.
Tanpa Taufan sadari, hari sudah malam. Ditambah lagi, sepertinya dia tidak mendengar tanda-tanda kalau kakak sulungnya sudah pulang. Perut Taufan berbunyi, jelas saja dia merasa lapar. Dia baru makan satu kali hari ini, karena tadi berdebat kecil dengan Halilintar. Jadi, Taufan enggan minta dimasakkan oleh kakaknya.
"Awas saja, nanti aku aduin kak Hali ke mama" Padahal, dirinya sendiri tidak bisa memasak makanan selain mie instan.
Namun, saat menuju kedapur Taufan tidak sengaja melihat sosok seseorang disofa ruang tamunya. Taufan berjalan mendekat, ternyata itu Halilintar yang sedang tertidur pulas disofa. Bukan hanya terkejut, Taufan bahkan bingung kapan Halilintar pulang.
"Tunggu, rasanya aku gak mendengar suara apapun. Dan lagi, volume earphoneku tidak sekencang itu kok. Jadi, kapan kak Hali pulangnya?" Kalau ingin jujur, ada 1001 pertanyaan diotak Taufan.
Sayangnya, Taufan malas bertanya lagi pada Halilintar. Nanti, dia malah dimarahi lagi seperti sebelumnya. Rupanya, remaja bermanik biru tua itu masih menyimpan rasa kesal dan sedih. Karena, mendapat perlakuan dingin secara tiba-tiba dari kakak sulungnya.
"Kak Hali, bangun nih sudah malam" Setelah berpikir keras, Taufan pun memutuskan untuk membangunkan Halilintar.
"Eum, Taufan? Ini dimana?" Aneh, Taufan rasa kakak sulungnya itu terpentok sesuatu.
"Dirumah, kak Hali masih mengigau ya? Ini sudah malam, aku lapar kak Hali"
"Apa? Dirumah? Sudah malam?" Seharusnya kan Taufan yang bingung, tapi kenapa wajah Halilintar lebih kebingungan?
"Iya, kak Hali kenapa? Ada masalah?"
Melihat raut wajah ketakutan dan kebingungan Halilintar, membuat Taufan merasa khawatir. Seperti apapun pertengkaran mereka, tetap saja mereka adalah saudara. Tidak mungkin, ada saudara yang rela melihat salah satu dari mereka tersiksa.
" Tidak ada, Taufan. Tunggu disini, biar aku masak makan malam sekarang" Halilintar berdiri dari sofa dan langsung menuju ke dapur.
Tidak ingin bertanya lebih jauh dan mengganggu privasi kakak sulungnya, Taufan pun menyerah untuk mencari tahu. Setelah Halilintar selesai memasak, mereka pun memakan makanan buatan Halilintar. Saat makan malam, tidak ada yang berisik dimeja. Taufan yang biasanya bersemangat pun hanya terdiam, mungkin tidak ingin membuat masalah.
"Terima kasih makanannya, kak Hali" Ucap Taufan sesudah mencuci piringnya, berniat untuk menonton televisi diruang tamu.
"Sama-sama, Taufan" Halilintar tidak bisa memarahi Taufan lagi, jadi ia hanya diam saat sikap Taufan sedikit berbeda.
Taufan menyalakan televisi diruang tamu, mencoba mencari siaran yang menarik menurutnya, karena ia butuh hiburan. Namun, tiba-tiba saja jarinya terhenti disebuah siaran berita. Mengenai, seorang pemunuh baru didekat wilayah perumahannya. Taufan merinding, sambil mendengarkan berita tersebut.
"Berbahaya sih, tapi masa iya pihak kepolisian belum bisa menangkap pembunuh seperti itu? Paling juga, kerja sama mereka" Gumam Taufan, tiba-tiba Halilintar pun berjalan mendekatinya.
"Ada apa? Kenapa bergumam begitu?" Setidaknya, Taufan bersyukur Halilintar masih peduli padanya.
"Itu, ada berita aneh kak Hali" Taufan menunjuk kearah televisi, namun saluran berita tadi sudah selesai.
"Sudah, lebih baik kamu tidur Taufan. Katanya, besok mau berlibur kan?"
Hanya dengan pertanyaan biasa seperti itu, amarah Taufan menguap entah kemana. Dengan semangat, Taufan pun mengucapkan selamat malam. Tidak lupa, Taufan juga memaksa kakak sulungnya untuk istirahat. Agar, besok rencana mereka tidak batal secara tiba-tiba.
"Awas ya, kalau kak Hali gak tidur! Selamat malam, kak Hali!" Seru Taufan, kemudian menutup pintu kamar Halilintar dengan semangat.
Keesokan paginya, Taufan dengan semangat memasukkan barang-barang bawaannya kebagasi mobil yang akan dibawa Halilintar. Rencananya, mereka akan menginap disebuah villa dipegunungan. Halilintar mengecek rumahnya, takut ada yang belum terkunci. Kemudian, mengecek kondisi mesin mobil agar tidak terjadi hal buruk.
"Kak Hali, ada lagi gak tas yang mau dibawa?" Tanya Taufan, setelah memasukkan semua tasnya.
"Sudah, aku cuman bawa satu tas tadi. Jangan lupa, pakai jaketmu Taufan" Mengingat mereka akan ke pegunungan, pasti cuaca disana lebih dingin.
"Oh iya, jaketku semuanya kotor. Belum kucuci, aku boleh pinjam jaket kak Hali?"
"Boleh, jangan bikin barang lainnya berantakan"
Sesudah mendapatkan ijin dari Halilintar, langsung saja Taufan menuju kamar kakak sulungnya. Jarang-jarang, dia diperbolehkan masuk kekamar Halilintar. Bahkan, kalau Halilintar sedang kerja diluar kota pasti pintu kamarnya dikunci. Siapa tau, Halilintar menyimpan foto perempuan cantik yang bisa Taufan jadikan bahan untuk mengejek kakaknya kan?
"Wah, memang kamarnya kak Hali mengerikan. Bisa-bisanya, kak Hali rapi menyusun semuanya" Taufan merinding, kakaknya itu memang sempurna dalam hal apapun.
"Pakai jaket yang mana ya, niatnya sih mau pakai jaket kesayangan kak Hali. Tapi, ada dimana ya jaketnya?" Gumam Taufan, mengacak lemari baju Halilintar.
Namun, salah satu lemari berukuran sedang dipojok kamar Halilintar menarik perhatian Taufan. Sepertinya, ia belum pernah melihat lemari itu sebelumnya. Taufan berpikir, mungkin jaket yang biasa dipakai Halilintar disimpan disitu. Taufan pun mencoba membuka lemari tersebut, namun lemarinya terkunci. Tak kehabisan akal, Taufan mencari kuncinya diseluruh kamar Halilintar.
"Akhirnya, ketemu juga kuncinya!" Memang dasar Taufan, tidak bisa kalau dihadapi oleh hal-hal berbau misteri.
Kunci tersebut membuka lemari yang diincar oleh Taufan, pintu lemari terbuka secara perlahan. Awalnya, wajah Taufan terlihat sangat senang karena berhasil membuka lemari tersembunyi milik kakak sulungnya. Namun, didetik berikutnya wajahnya berubah menjadi pucat pasi. Pasalnya, ia melihat jaket dan sarung tangan yang memiliki bekas bercak darah.
__ADS_1
'Darah siapa, kenapa bisa menempel dijaket dan sarung tangan kak Hali?!' Batin Taufan.
"Taufan, sudah ketemu jaketnya?" Tanya Halilintar, yang berjalan mendekat kearah kamarnya.
"Sudah, kak Hali!" Dengan terburu-buru, Taufan mengunci lemari tersebut dan mengembalikan semuanya ketempat semula.
Taufan mengambil asal jaket yang ada dilemari Halilintar, kemudian langsung keluar dari kamar Halilintar. Setelah, memastikan bahwa semua aman dan tidak ada yang tertinggal. Akhirnya, Halilintar dan Taufan berangkat menuju tempat liburan mereka kali ini.
"Eum, kak Hali" Panggil Taufan pelan, dengan suara yang bergetar.
"Kenapa?" Baru kali ini, Taufan takut-takut saat ingin menanyakan sesuatu padanya.
"Tadi, aku membuka lemari dipojok kamar kak Hali. Kenapa disarung tangan dan jaket kak Hali ada bercak darahnya? Kak Hali luka?" Setelah mengumpulkan keberanian, akhirnya Taufan bertanya juga.
Saking terkejutnya, Halilintar reflek menginjak rem. Membuat mobil yang dinaikinya dan juga Taufan berhenti secara tiba-tiba, untung saja jalanan sangat sepi. Sehingga, tidak ada hal buruk yang terjadi. Halilintar melirik kearah Taufan, mencoba memikirkan jawaban yang harus diberikan pada adiknya.
"Iya, aku ada luka sedikit dilengan" Bohong, Taufan jelas tahu kalau kakaknya itu sedang berbohong.
"Parah lukanya, kak Hali?" Namun, Taufan mencoba mengikuti alur kebohongan Halilintar.
"Lumayan, tapi sudah ku obati. Jangan khawatir, Taufan" Menurut Taufan, kakaknya pasti memiliki alasan kenapa harus berbohong.
Perjalanan yang mereka tempuh selama 7 jam membuahkan hasil yang memuaskan, karena villa yang akan ditempati mereka tiga hari kedepan sangat bagus. Memilih untuk tidak menghiraukan kebohongan kakaknya, Taufan mencoba meniknati liburannya kali ini. Bagaimana pun juga, Taufan ingin mempercayai kakak sulungnya.
'Walaupun, aku semakin merasa ragu dengan kak Hali' Batin Taufan.
Semuanya berjalan dengan lancar dan menyenangkan, Halilintar dan Taufan sama-sama menikmati liburan kali ini. Di malam harinya, Halilintar diam termenung dikamarnya. Sementara, Taufan sudah tertidur duluan dikamarnya sendiri. Bagaimana ini, jika Halilintar ketahuan oleh adiknya itu bisa kacau semuanya. Pasti, Taufan akan langsung kecewa padanya.
"Memikirkannya saja, membuatku merasa sakit sendiri" Gumam Halilintar, dia memang bukan kakak yang baik.
"Kau butuh pelampiasan, bukan? Jadi, ayo kita cari korban lagi disekitar sini" Suara itu lagi, Halilintar lelah mendengar suara-suara yang berdengung dipikirannya.
"Hentikan, aku juga muak. Selama ini, aku sudah dituntut untuk menjadi sempurna. Kenapa kau juga ikut memaksakan diriku, agar menjadi sama sepertimu?!"
"Aku dan kau adalah satu, Halilintar. Apapun yang aku perbuat, itu bentuk dari keinginan terbesarmu. Akuilah itu, pembunuh"
Benar, selama ini Halilintar adalah pembunuh yang sedang dicari-cari oleh kepolisian. Semuanya bermula dari kepribadian gandanya, yaitu reverse. Halilintar kehilangan kendali akan dirinya dan kembali sadar saat sudah membunuh seseorang, dari situlah Halilintar mulai mengenal reverse. Kenapa Halilintar tidak pergi kerumah sakit untuk mengobati dirinya?
Jawabannya mudah, karena dia sendiri merasa puas. Setelah, melampiaskan emosi yang selama ini dipendamnya. Halilintar sejak dulu, dituntut oleh keluarganya untuk menjadi anak yang sempurna. Itulah kenapa, Taufan selalu melihat sosok Halilintar yang sempurna.
Berbeda dengannya, Taufan lahir penuh dengan kasih sayang. Tanpa perlu menjadi sempurna, awalnya Halilintar tidak menyukai Taufan. Namun, dia sadar bahwa Taufan bukanlah adik yang menyukai kesempurnaannya. Taufan mau menjadi adik yang melengkapi kekurangan Halilintar. Sejak itulah, Halilintar berjanji untuk menjaga Taufan.
"Saya mohon, jangan bunuh saya" Lirih seorang pemuda, salah satu tangannya sudah berdarah-darah akibat reverse dari Halilintar.
"Jangan begitu, aku belum puas. Diam dan nikmati saja permainannya, bukankah tadi kau dan teman-temanmu mengganggu adikku sewaktu ditempat makan?" Reverse sudah sepenuhnya mengambil alih kesadaran Halilintar, karena Halilintar sendiri terlalu menjaga adiknya.
"Tolong! Saya mau dibunuh!" Teriak pemuda tersebut, namun detik berikutnya lidah pemuda itu dipotong oleh reverse Halilintar.
"Padahal, sudah kusuruh diam secara baik-baik"
"KAK HALI, JANGAN!!!" Satu teriakan dari Taufan berhasil, membuat Halilintar kembali mengambil alih kesadarannya dari reverse.
Halilintar melemparkan pisau yang ada ditangannya, darah ada dimana-mana. Sekeras apapun usaha Halilintar untuk membersihkannya, tetap saja tidak hilang. Taufan berjalan mendekati Halilintar sambil menangis, tidak percaya akan apa yang dilihatnya. Bersamaan dengan itu, para polisi sudah berjaga disekeliling Halilintar dan juga Taufan.
"Aku mencoba mempercayai kak Hali, maaf pada akhirnya aku ragu dan semuanya menjadi kenyataan" Taufan menangis, ini pertama kalinya Halilintar melihat Taufan menangis karenanya.
"Tidak, apa yang kamu lakukan sudah benar Taufan. Aku memang bukan kakak yang baik, maaf karena memiliki kakak seorang pembunuh" Ingin rasanya Halilintar memeluk adiknya agar tenang, namun dia tidak ingin darah ini menempel pada Taufan.
"Jangan bilang begitu, kak Hali seorang kakak yang baik. Tapi, kak Hali selalu menyimpan semuanya sendirian. Seandainya, aku bisa sadar. Pasti, kak Hali gak akan begini"
Tidak ada waktu lagi, Halilintar dibawa oleh pihak kepolisian. Sebelum masuk kedalam mobil polisi, Halilintar melihat kearah Taufan sambil tersenyum lega. Itu pertama kalinya, Taufan melihat senyuman tulus dari kakak sulungnya.
"Jaga diri baik-baik, Taufan. Kakak menyayangimu, angin kecil" Mendengar kata-kata terakhir sebelum Halilintar dibawa, membuat Taufan menangis sejadi-jadinya.
'Aku juga menyayangi kak Hali, pahlawan petir' Batin Taufan.
THE END.
Ayok tebak-tebakan lagi, kira-kira kali ini aku mengetik berapa kata? π€
Bagi yang belum tahu, cerita ini up dari hari senin-jumat dan libur di hari sabtu minggu ya~
Ayo, silahkan berikan kesan dan pesan chapter kali ini. Soalnya, aku benar-benar menguras otak dichapter kali ini πππ
__ADS_1
Maaf ya, kalau bagi kalian banyak yang kurang seru.. Tapi, mohon dukungannya untuk cerita kali ini β€οΈ terima kasih~
Oh iya, ayo ikutan juga request ceritanya bagi yang belum.. Bantu aku membuat ide cerita baru, yuk! π