For You -Oneshoot- (BOBOIBOY)

For You -Oneshoot- (BOBOIBOY)
(Don't bother my Kingdom) For You


__ADS_3

Tema : Kerajaan, Brotherhood, Historical


Request : @boyvers (^^) call me Alina ✌️


πŸ‘‘πŸ‘‘πŸ‘‘πŸ‘‘πŸ‘‘πŸ‘‘πŸ‘‘πŸ‘‘πŸ‘‘πŸ‘‘πŸ‘‘πŸ‘‘πŸ‘‘πŸ‘‘πŸ‘‘πŸ‘‘πŸ‘‘πŸ‘‘


Disebuah wilayah, terdapat satu kerajaan yang sangat makmur. Para rakyatnya tidak pernah kekurangan ataupun dilanda kemiskinan, katanya karena wilayah kerajaan mereka diberkahi oleh langit. Sehingga, segala musim teratasi dengan baik tanpa kerugian hasil tanam.


"Apa sudah ada kabar dari istana?" Terlihat disebuah sawah, ada beberapa rakyat yang sedang berbicara satu sama lain.


"Kabar apa?" Dia salah satu rakyat baru disini, jadi tidak banyak mengetahui sistem diwilayah ini.


"Raja dan ratu kerajaan ini sudah lama tiada, jadi kami masih menunggu pemimpin selanjutnya"


"Lalu, siapa yang akan memimpin wilayah kerajaan ini?"


"Astaga, kau benar-benar tidak tahu apa-apa ya?" Salah satu dari mereka menghela nafas, salah bicara bisa hilang kepala mereka nanti.


"Raja dan ratu terdahulu memiliki 7 orang putra, namun sampai sekarang mereka masih bergelar pangeran"


"Benar juga, aku bingung kenapa belum ada yang naik takhta sebagai raja"


"Mungkin, karena umur para pangeran belum matang?"


"Setidaknya, apa ada yang akan menjadi putra mahkota?"


Topik seperti ini sedang menjadi tren dikalangan para bangsawan maupun para rakyat, sebab tidak ada yang tahu bagaimana nasib kerajaan wilayah mereka kedepannya. Keunggulannya, memang mereka memiliki 7 pangeran. Namun, sampai saat ini belum ada yang bersedia menjadi putra mahkota.


"Bagaimanapun juga, kita butuh seseorang untuk mengatur jalannya wilayah ini kan?" Yang lainnya hanya mengangguk, setelahnya mereka pun kembali bekerja.


Para rakyat hanya bisa berharap, semoga wilayah kerajaan mereka dipimpin oleh seseorang yang bijaksana. Mereka pun tahu kalau, para pangeran sangat mencintai para rakyatnya. Bahkan, rela mengorbankan apa saja demi kemakmuran rakyat. Namun, jika posisi raja terus-terusan kosong. Maka, semakin banyak juga yang mengincar.


"Pangeran Halilintar, tolong pikirkan kembali keputusan anda" Pinta seorang pria, yang dikenal sebagai sekretaris kerajaan.


"Keputusanku sudah bulat, Marquis Vidson" Halilintar menatap tajam ke arah sang Marquis, entah apa yang membuat Halilintar sangat keras kepala.


"Pangeran, hamba berhak dihukum setelah lancang seperti ini. Namun, kerajaan Elements tidak akan bisa bertahan tanpa seorang raja pemimpin ataupun putra mahkota"


Mendengar fakta yang tersimpan diucapan Marquis Vidson membuat Halilintar kembali bungkam tak berdaya, bagaimana pun juga rakyat mereka membutuhkan pemimpin. Sejauh ini, mereka bertujuh tidak ingin berseteru hanya karena perihal takhta kerajaan.


"Baiklah, aku akan bicarakan dulu dengan yang lainnya. Kau boleh pergi, Marquis Vidson" Mendengar jawaban Halilintar, membuat wajah Marquis menjadi senang.


"Terima kasih banyak, pangeran. Saya permisi"


Setelah sang Marquis keluar dari ruangannya, Halilintar menghela nafas berat. Ada tujuh pangeran dikerajaan ini, para bangsawan akan mendukung pangeran yang masing-masing mereka inginkan. Akan rumit jadinya, jika terjadi perseteruan diantara para bangsawan maupun rakyat.


'Ck, aku harus bagaimana?' Batin Halilintar.


Belum mendapatkan ketenangan cukup lama, sudah ada lagi seseorang yang meminta jadwal pertemuan dengan Halilintar. Paling tidak, bisakah mereka membiarkan Halilintar beristirahat beberapa menit?


"Mohon maaf, pangeran Halilintar. Namun, Duke Zeron meminta jadwal pertemuan dengan pangeran"


"Baiklah, aku akan bertemu dengannya" Toh, tidak mungkin juga Halilintar menolak posisi tertinggi kedua dikerajaan ini.


Tak berapa lama kemudian, seseorang mengetuk pintu ruangan Halilintar. Sesuai dugaannya, Duke sudah sampai dengan wajah seriusnya. Ya, sepertinya hari ini Halilintar akan mendengarkan lebih banyak ceramah daripada biasanya.


"Duke Zeron menghadap anda, pangeran Halilintar" Hormat sang Duke.


"Jangan terlalu kaku, Duke. Biasanya, juga kepalaku akan langsung dijitak" Padahal, Halilintar sudah siap-siap melindungi kepalanya.


"Mana mungkin, aku bisa seperti itu lagi pada seseorang yang akan menjadi putra mahkota" Sayangnya, ekspresi Halilintar berubah setiap mendengarkan kalimat putra mahkota.


"Jadi, apa tujuan Duke kesini?" Halilintar berjalan dan mempersilahkan sang Duke untuk duduk disofa ruangannya.


"Apalagi, sudah pasti menasihatimu. Sesuai dengan surat wasiat ayahmu, aku harus membimbing putra-putranya yang ragu ini"


"Bagaimana bisa, ayah dulu bersahabat dengan Duke" Cibir Halilintar, dia masih tidak mengerti bagaimana bisa dua orang dengan sifat yang sangat berbeda menjadi sahabat erat.


"Ayahmu itu orang yang bijaksana, Hali. Dan aku, hanya bisa menjadi penasihat sarannya. Tapi, dia selalu merangkul semua orang agar tidak ada rasa iri" Bernostalgia memang saat paling tepat, jika sambil meminum teh bersama.


"Maka dari itu, aku tidak akan bisa menjadi raja sebijaksana ayah"


"Bijaksana bukan bakat dari lahir, melainkan bakat yang diasah. Tidak ada tanaman yang langsung menjadi beras, semuanya pasti berawal dari padi"

__ADS_1


Belum sempat Halilintar membalas perkataan Duke, tiba-tiba dia mendapat permintaan pertemuan lagi. Bukan, bukan dari para bangsawan. Melainkan, dari kedua adiknya. Entah apa, yang ingin mereka bicarakan. Atau mungkin, hanya ingin mengganggu kakak sulung mereka saja.


"Mohon maaf, pangeran Halilintar. Namun, pangeran Gempa dan pangeran Ice meminta untuk bertemu dengan pangeran"


"Apalagi niat mereka berdua? Baiklah, suruh mereka masuk" Terserah, kalau mereka hanya main-main maka tinggal Halilintar hukum.


Gempa dan Ice memasuki ruangan Halilintar, jika boleh jujur. Maka, Gempa terlihat jauh lebih bijaksana dibandingkan Halilintar. Sedangkan Ice, terlihat seperti sosok yang tenang. Namun, ada hal yang tidak mereka miliki. Seperti, hal kuat yang dimiliki Halilintar


"Kami menghadap pangeran pertama, pangeran Halilintar" Gempa dan Ice menundukkan kepala mereka, salam wajib memang harus dilakukan.


"Silahkan duduk Gempa, Ice" Panggil Halilintar, mereka berduapun mengikuti sang kakak.


"Maaf atas ketidaksopanan kami, Duke Zeron"


"Tidak apa-apa, toh kita sudah saling mengenal dari lama Gempa dan juga Ice. Kalian bertiga sudah besar ya, padahal dulu masih sekecil ini"


"Tentu saja, kami tumbuh dengan baik Duke" Ice tersenyum, aura ayahnya dan sahabat ayahnya ini entah mengapa terasa sama.


"Begitu ya, setidaknya aku merasa tenang karena kalian baik-baik saja"


"Bagaimana dengan permasalahan antar kerajaan Dunkel, Duke?" Tanya Gempa, karena baru-baru ini mereka mendengar desas desus aneh.


"Benar juga, itu salah satu alasanku kesini juga" Duke mengeluarkan sebuah surah dari jubahnya, kemudian diberikan kepada Halilintar.


"Surat? Stampelnya bukan dari kerajaan ini" Gumam Halilintar, Ice dan Gempa hanya melihat dari posisi mereka.


Halilintar membuka surat tersebut dan membacanya, sekarang dia paham. Surat yang tadi diberikan oleh Duke Zeron dikirim dari kerajaan Dunkel, isi suratnya mengenai perjanjian kedamaian dan kerjasama antar kerajaan. Mungkin untuk sebagian orang, ini terlihat seperti kesempatan emas. Tapi, tidak bagi Halilintar yang mengetahui kebusukan kerajaan Dunkel.


"Bagaimana isi suratnya?" Tanya sang Duke, walaupun dia sudah bisa memahami raut wajah Halilintar.


"Tidak berguna, hanya taktik kuno yang licik. Sama dengan nama kerajaannya, yang artinya gelap" Halilintar menyimpan kembali surat tersebut.


"Baiklah, sepertinya tugasku sudah selesai. Sebaiknya, aku pulang dulu" Sebelum benar-benar keluar dari ruangan Halilintar, Duke memberi salam formal seperti yang lainnya.


Setelah Duke keluar dari ruangan Halilintar, suasana menjadi lebih mencekam dari biasanya. Gempa dan Ice ikut membahas surat dari kerajaan Dunkel, yang baru saja diterima oleh Halilintar. Merasa tidak bisa dibicarakan sendiri, merekapun memanggil saudaranya yang lain untuk berkumpul. Sekaligus, membicarakan takhta putra mahkota.


"Beri kabar, kalau aku memanggil semua pangeran ke ruangan pembahasan utama" Titah Halilintar, para pelayan hanya menunduk patuh.


"Kami mengerti, pangeran Halilintar"


"Kami menghadap pangeran pertama, pangeran Halilintar" Dengan hormat, keenamnya menundukkan kepala mereka.


"Silahkan duduk, kita akan memulai diskusi ini"


"Jadi, diskusi tentang hal apa kali ini kak Hali?" Saat sedang bertujuh saja, mereka bebas bersikap santai.


"Pertama, mengenai takhta putra mahkota. Kedua, mengenai surat yang dikirim dari kerajaan Dunkel"


"Apa? Kerajaan Dunkel akhirnya mengajak kita perang, ya?" Tanya Blaze dengan semangat, bagaimana ya kalau Blaze menjadi raja? Ada yang mau menjadi rakyatnya?


"Tidak baik perang-perang, nanti banyak korban jiwa kak Blaze" Itu Thorn, bukankah hatinya sangat lembut?


"Di dunia seperti ini, pilihannya hanya dua kak Thorn. Mau dibunuh atau membunuh" Pemilik mulut fakta itu adalah Solar, ciri tipikal orang yang logis.


"Tapi, kita juga tidak bisa seenaknya membunuh seseorang kan Solar?" Memang beda ya, Gempa dan kebijaksanaannya.


"Lebih baik kita diam dulu, kak Hali mau menyampaikan sesuatu" Ice simbol dari ketenangan, semuanya langsung menurut dalam diam.


"Mengenai takhta putra mahkota, ada yang mau mengambil tanggung jawab sebagai putra mahkota?"


Keenamnya hanya terdiam, karena mereka tahu ada yang lebih pantas menjadi seorang putra mahkota kerajaan ini. Yaitu, Halilintar. Karena, Halilintar memiliki hal besar seperti kemauan untuk melindungi dan ketegasan sebagaimana seorang pemimpin biasanya. Itulah, kelebihan yang dimaksudkan Duke mengenai Halilintar.


"Kalau boleh memilih, kami ingin kak Hali yang naik sebagai putra mahkota" Gempa bersuara, kelimanya juga ikut tersenyum yakin ke arah Halilintar.


"Tapi, kalian bahkan belum tahu kedepannya bagaimana"


"Itu akan ditentukan oleh keputusan kak Hali sendiri, karena kak Hali memiliki kemauan yang lebih besar daripada kita" Jawab keenamnya dengan serempak, Halilintar bersyukur mereka tidak harus berperang untuk perolehan takhta.


"Terima kasih, aku akan buktikan kalau aku pantas menjadi seorang putra mahkota"


'Kami yakin, kak Hali lebih kuat daripada siapapun' Batin keenamnya.


"Lalu, mengenai surat yang dikirim dari kerajaan Dunkel. Isi suratnya adalah perjanjian kerja sama dengan janji perdamaian, bagaimana menurut kalian soal ini?"

__ADS_1


"Menurutku, ada yang direncanakan oleh kerajaan Dunkel. Tidak mungkin, mereka murni menawarkan perdamaian secara tiba-tiba" Dengan wajah serius, Solar memikirkan beberapa kemungkinan.


"Aku setuju, semua orang bahkan tahu. Kalau, kerajaan Elements dan kerajaan Dunkel tidak pernah berada dalam keadaan baik" Mengingat beberapa kali Taufan mendengar informasi dari beberapa orang.


"Lalu, tiba-tiba saja mereka meminta perjanjian perdamaian? Menurutku, ini terlalu lucu" Blaze tersenyum penuh arti.


"Salah mengambil keputusan sedikit saja, maka akan berpengaruh terhadap opini dan juga perdagangan kerajaan kita" Bukankah Gempa juga hebat, karena sudah memikirkan dampaknya?


"Sepertinya, perdamaian juga bukan hal buruk. Tapi, terlalu ada yang aneh" Lihat, seorang Thorn saja merasa ragu.


"Maksudnya, seperti ada maksud tersembunyi kan Thorn?" Ice mengerti maksud Thorn, karena dia juga merasakan hal yang sama.


Jujur saja, kejadian seperti ini pernah terjadi sebelumnya. Saat raja dan ratu terdahulu masih hidup, kerajaan Dunkel mengirimkan surat yang serupa. Namun, karena itu jugalah ketujuh pangeran harus kehilangan kedua orang tua mereka dari muda.


Sang raja terdahulu, sangat mengharapkan kedamaian dengan kerajaan Dunkel yang merupakan musuh bebuyutan kerajaan Elements sejak lama. Namun, rupanya keserakahan kerajaan Dunkel untuk mengambil alih kemakmuran dan kejayaan kerajaan Elements sangat besar. Membuat mereka menjadi buta kekuasaan, sampai rela menghilangkan nyawa seseorang begitu saja.


"Semakin ku ingat, semakin tidak bisa mempercayai mereka lagi" Final Halilintar, semuanya pun setuju untuk menolak perjanjian yang diajukan kerajaan Dunkel.


Hari ini adalah hari yang membahagiakan, bagi para rakyat maupun bangsawan bagian kerajaan Elements. Karena, akhirnya mereka selangkah lebih maju untuk mendapatkan pemimpin tetap. Halilintar menyetujui permintaan takhta putra mahkota dan menawarkan dirinya.


"Saya, pangeran pertama Halilintar An Elements. Berjanji, akan mengemban tanggung jawab sebagai putra mahkota kerajaan Elements. Dan, melindungi serta menyejahterakan seluruh rakyat bagian wilayah kerajaan ini" Sumpah putra mahkota diucapkan Halilintar dengan lantang, semua terkesima dengan aura kepemimpinannya.


"Kami menyambut terang langit, putra mahkota Halilintar An Elements" Seluruh rakyatnya menunduk, menyambut putra mahkota baru mereka yaitu Halilintar.


Baru saja seminggu berlalu, semenjak pelantikan Halilintar sebagai putra mahkota kerajaan Elements. Tiba-tiba saja, dia sudah mendapatkan surat ancaman dari kerajaan Dunkel. Mungkin saja, kerajaan Dunkel merasa kesal karena taktik perjanjiannya ditolak oleh Halilintar.


Akhirnya, mau tidak mau mereka harus memakai cara kasar kepada dirinya. Karena, mereka sadar kalau putra mahkota kerajaan Elements bukanlah seorang pemuda biasa. Melainkan, seseorang yang sudah siap menjadi pemimpin para rakyatnya. Apapun yang terjadi, rakyat adalah prioritas kerajaan Elements.


"Bagaimana ini, putra mahkota?" Tanya Marquis Vidson, karena keputusan Halilintar sangat dibutuhkan kali ini.


"Tidak ada jalan lain, siapkan para prajurit Marquis Vidson" Paham apa maksud Halilintar, Marquis Vidson langsung menjalankan tugasnya.


"Baik, saya mengerti putra mahkota" Sebelum Marquis Vidson keluar dari ruangannya, ada satu tugas lagi yang diberikan Halilintar.


"Tolong kumpulkan juga Duke Zeron, Count Russel, dan keenam pangeran di ruangan biasanya"


"Perintah dimengerti, akan segera saya siapkan putra mahkota"


Sebenarnya Halilintar tidak ingin mengambil keputusan seperti ini, keputusan yang kapan saja bisa terjadi perang antar kerajaan. Namun, dia juga tidak bisa menyerahkan kerajaan ini ke tangan yang salah seperti kerajaan Dunkel.


Setelah itu semuanya berkumpul, para pemimpin pasukan dan pertahanan kerajaan Elements. Halilintar beserta adiknya, Duke Zeron, dan Count Russel membuat sebuah rencana. Jika, tiba-tiba kerajaan Dunkel datang dan menyerang wilayah kerajaan mereka.


"Saya dan pasukan lain akan berjaga dibagian luar kerajaan, putra mahkota" Duke Zeron bertugas untuk menjaga wilayah terdepan kerajaan, karena pasukan dibawah pimpinan Duke memang sangat kuat.


"Kalau begitu, saya akan fokus dipertahanan wilayah sekitar istana kerajaan" Sementara, Count Russel akan menjaga wilayah disekitar kerajaan jika ada serangan dadakan.


"Sisanya, kami yang akan menangani bagian didalam kerajaan. Beserta penyelinap, putra mahkota" Gempa menjadi perwakilan dari keenamnya, yang dibalas anggukan oleh Halilintar.


"Saya meminta ijin untuk maju mengikuti Duke Zeron kebagian terdepan, putra mahkota" Semuanya terkejut terhadap pernyataan Ice secara tiba-tiba.


"Apa kau yakin dengan pilihanmu, pangeran Ice?" Ini adalah pertemuan resmi, sikap santai jelas tidak diperbolehkan.


"Walaupun, saya bisa saja gugur setiap saat. Saya tetap yakin akan keputusan saya, putra mahkota" Mata Ice terlihat sangat yakin, Halilintar tidak bisa lagi menahan adiknya itu.


"Permintaan ijin diterima, kerajaan Elements berada dibawah penjagaanmu pangeran Ice" Ya, Halilintar hanya bisa berharap, semuanya bisa pulang dengan selamat.


"Terima kasih banyak, putra mahkota"


Perencanaan selesai, beberapa minggu kemudian kerajaan Dunkel benar-benar menyerang kerajaan Elements. Perang tak bisa lagi dihindari diantara kedua kerajaan tersebut, setelah perang dingin selama puluhan tahun. Pilihannya hanyalah berjuang atau menyerah, sayangnya kerajaan Elements pun pantang untuk mundur.


Sebulan kemudian, perang benar-benar usai. Kerajaan Dunkel dinyatakan kalah dan menyerahkan wilayah kekuasaannya kepada kerajaan Elements, akhirnya kedamaian menjadi kenyataan. Ice juga, pulang dengan selamat bersama Duke Zeron. Keyakinan rakyat terhadap cara memimpin Halilintar pun meningkat pesat, mengingatkan mereka pada raja terdahulu.


"Ini wilayah kerajaanku, jangan menganggu kerajaan kami" Ketujuhnya berdiri bersama, melambaikan tangan mereka kepada seluruh rakyat yang bersorak sorai karena kemenangan mutlak mereka.


THE END.


Ayok tebak-tebakan lagi, kira-kira kali ini aku mengetik berapa kata? πŸ€”


Bagi yang belum tahu, cerita ini up dari hari senin-jumat dan libur di hari sabtu minggu ya~


Semoga saja, feelnya sampai ya kepada para readers πŸ˜₯πŸ™


Maaf ya, kalau bagi kalian banyak yang kurang seru.. Tapi, mohon dukungannya untuk cerita kali ini ❀️ terima kasih~

__ADS_1


Oh iya, ayo ikutan juga request ceritanya bagi yang belum.. Bantu aku membuat ide cerita baru, yuk! πŸ˜‰


__ADS_2