
Tema : FBI, Brotherhood
Request : @szfrh_
Disebuah gedung tua tak berpenghuni, terlihat ada tujuh pemuda yang sedang sibuk membicarakan sebuah rencana. Setelah, berpendapat dan berdebat cukup lama. Akhirnya, mereka bertujuh mendapatkan satu rencana inti dan rencana cadangan untuk misi yang akan mereka jalani kali ini.
"Baiklah, seperti yang dijelaskan tadi. Kalian sudah siap?" Mata pemuda bernetra merah ruby itu menyala, selayaknya seorang pemimpin regu.
"Kami siap, kak Hali!" Dengan serempak, keenamnya menjawab.
"Kalian hati-hati, aku sebisa mungkin akan mengontrol semuanya dari sini" Ice tetap menyemangati kakak dan adiknya. Walaupun, dia sendiri sibuk dengan laptopnya.
"Jaga dirimu juga, Ice" Seperti biasa, Gempa terlihat khawatir.
"Kak Gem, aku ini juga bisa bela diri" Ice menghela nafas, dia tidak selemah yang mereka kira.
"Betul tuh, terakhir kali aja tulang rusukku patah saat berlatih bersama Ice" Celetuk Blaze, mengingat kejadian dimana tulang tusuknya terkena tendangan maut Ice.
"Ah, iya juga. Aku lupa, hati-hati saja kalau begitu Ice" Lupakan saja kata-kata Gempa tadi, sekarang dia menjadi lebih lega.
"Wah, aku juga mau dikhawatirkan begitu" Hanya satu manusia yang bisa berbicara dengan nada berlebihan seperti itu, siapa lagi jika bukan Taufan.
"Jangan bercanda, Taufan" Halilintar menatap tajam kearah Taufan, yang ditatap hanya mengalihkan pandangannya.
"Iya, kak Taufan jangan bercanda. Seharusnya, yang dijagain itu kan Thorn" Mendengar ucapan Thorn, keenamnya langsung melirik kearahnya.
"Eh, kenapa Thorn dilihatin semuanya nih?" Karena malu, Thorn menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kak Thorn juga sama, jangan bercanda. Terakhir kali, kak Thorn yang meledakkan gedung kan?" Solar membenarkan kacamata kesayangannya, takut dipatahkan lagi oleh Thorn.
"Heum, itu kan karena Thorn diminta hapus jejak bukti. Jadi, Thorn gak salah kan?"
'Mau bilang salah, tapi gak bisa dibilang salah juga ya' Batin keenamnya.
"Sudah waktunya, ayo bersiap ditempat masing-masing" Sesudah mendengar komando dari Halilintar, semuanya pun menuju ke posisi masing-masing.
Halilintar berjalan masuk kedalam kafe yang ada diseberang gedung perkantoran, sementara Taufan mampir untuk membeli sebuah koran. Gempa dan juga Thorn mencoba beberapa baju untuk mengganti penampilan mereka, Blaze berdiri didekat lampu lalu lintas. Sedangkan, Solar sedang membeli segelas kopi panas disebuah kedai.
"Semua sudah diposisi masing-masing?" Ice bertanya, mereka bertujuh sudah memasang earpiece dikuping masing-masing.
*Earpiece : Salah satu alat komunikasi rahasia, orang yang menggunakan alat ini tidak ingin terlihat sedang menggunakan apa-apa di kupingnya
Tidak mendapatkan jawaban atau sinyal apapun, tanda bahwa keenamnya sudah diposisi masing-masing. Ice sibuk mengontrol sesuatu lewat laptopnya, kemudian bersiap untuk memulai rencana mereka hari ini.
"Kalian sudah bawa id masing-masing, kan?" Tidak mendapatkan sinyal apapun lagi, Ice menghela nafasnya untuk memulai pekerjaannya sekarang.
*Id : Kartu kepemilikkan yang digunakan oleh beberapa perusahaan, sebagai tanda pengenal untuk masuk kedalam perusahaan
"Baiklah, mari kita mulai semuanya"
Dengan bersemangat, Ice mengetikkan beberapa kode didalam laptopnya. Terlihat sangat rumit, namun hal seperti ini bukanlah apa-apa untuk seorang Ice. Karena, mereka bertujuh sudah di didik menjadi agen mata-mata sejak remaja. Ditambah lagi, mereka bertujuh memang terlahir sangat pintar. Maklum, kedua orang tua mereka juga berprofesi sama.
"Blaze, bantu aku kacaukan sinyal didekat tiang lampu lalu lintas. Aku akan mencoba mengacaukan sistem internalnya, kemudian mengambil alih seluruh cctv"
Mendengar dan memahami maksud Ice, langsung saja Blaze menyalakan alat perusak gelombang sinyal miliknya. Membuat lampu lalu lintas menjadi tidak stabil, jalanan pun menjadi ramai. Alat untuk menyebrangi jalan juga mengeluarkan bunyi yang berisik, membuat orang-orang harus berhenti sejenak agar kekacauan usai.
Selain membantu Ice, tugas Blaze disini juga berjaga-jaga. Jika, salah satu dari mereka dicurigai atau melakukan kesalahan. Karena itu, Blaze juga sudah menghafal rute jalan yang bisa digunakan mereka untuk kabur.
"Bagus, sekarang giliran kak Gem dan juga Thorn"
Tugas Ice disini adalah menjadi peretas, mengambil alih seluruh sistem yang diperlukan. Karena itu, Ice tidak bisa berpindah dari posisinya. Diperlukan posisi yang sesuai, jika ingin meretas sesuatu. Ditambah lagi, kunci setiap misi memang ada pada tangan Ice.
Jika, sedikit saja Ice gagal atau melakukan kesalahan kecil. Maka, tamatlah sudah semuanya. Identitas palsu mereka akan terbongkar, bahkan bisa saja nyawa mereka melayang disaat itu juga. Maka dari itu, biasanya Ice digunakan sebagai penggerak keenam bayangan lainnya agar bisa sukses menyelesaikan misi.
"Ayo, giliran kita sekarang Thorn" Ajak Gempa, Thorn mengatur ekspresinya.
Gempa menyisir rambutnya agar terlihat culun, sedangkan Thorn membawa beberapa dokumen bohongan miliknya. Mereka berdua sudah memakai kemeja rapi, selayaknya pekerja kantoran biasa. Mereka berdua mencoba masuk kedalam kantor, sebelum ditahan oleh penjaga keamanan.
__ADS_1
"Maaf, kalian tidak boleh masuk jika tidak memiliki id" Larang sang penjaga keamanan, menutup jalan keduanya.
"Tapi, kami hanya pekerja magang baru pak. Jadi, id milik kami belum jadi" Ucap Gempa, dirinya tahu kalau penjaga keamanan didepannya sulit untuk dibohongi dengan cara seperti ini.
"Benar, pak. Karena, kami baru saja menandatangani kontrak kerja kemarin" Thorn ikut membantu Gempa, sayangnya si penjaga susah sekali ditipu.
Jangan kalian sangka rencana mereka akan berakhir sampai disini saja, semuanya tadi hanyalah bagian dari rencana yang sudah mereka bertujuh susun. Dengan kata lain, untungnya sampai saat ini rencana mereka belum terganggu oleh masalah apapun.
"Ya, kak Gem dan Thorn sudah berhasil mengalihkan fokus para penjaga. Sekarang, giliran kak Hali dan kak Taufan untuk masuk menggunakan kedua id yang kita pinjam"
Langsung saja, Halilintar dan juga Taufan berjalan dengan tegap. Seolah-olah, mereka berdua memang bagian dari perusahaan tersebut. Tidak banyak orang yang memperhatikan mereka, karena semuanya terlihat normal dan tidak ada yang patut dicurigai.
"Ada apa ribut-ribut disini?" Mendengar pertanyaan Halilintar, membuat para penjaga menengok.
Saat ini, Halilintar bermain peran sebagai salah satu investor dan petinggi diperusahaan tersebut. Dengan Taufan, yang berperan sebagai sekretaris pribadinya. Melihat aura Halilintar pun, membuat para penjaga tersebut menunduk ketakutan. Seperti, mereka sedang mencari masalah dengan orang yang salah.
"Tidak apa-apa, pak. Hanya, beberapa karyawan magang baru yang belum memiliki id mereka"
"Begitu? Tapi, mereka berdua ini karyawan baruku. Jadi, bisa hentikan keributan ini?" Halilintar melirik ke arah Taufan, untuk melengkapi dialognya.
"Sudah 7 menit waktu anda terbuang, pak. Dalam 10 menit lagi anda wajib menghadiri rapat para investor, pak" Dengan wajah seriusnya, Taufan menunjukkan jadwal buatannya.
"M-maafkan kami, pak. Silahkan masuk, meja resepsionisnya ada disana pak" Setelah menunjukkan arah, para penjaga tidak lagi mempermasalahkan Gempa dan juga Thorn.
Namun, tetap saja mereka harus menaati peraturan dikantor. Gempa dan juga Thorn tidak akan bisa masuk, jika belum dicek pasti data informasinya. Sebelum benar-benar sampai dimeja resepsionis, akhirnya bala bantuan pun datang.
"Tenang, Solar sudah menuju kearah kalian"
"Maaf, bisa tunjukkan idnya?" Tanya salah satu karyawan dimeja resepsionis.
"Kami karyawan magang baru, jadi belum memiliki id" Alasan yang sama, namun kali ini Thorn yang menjelaskannya.
"Baiklah, mohon ditunggu sebentar ya. Kami akan mengecek data kalian lewat komputer, kemudian saya akan memberikan kartu akses sementara"
"Tolong cepat, boss saya memiliki rapat beberapa menit lagi" Bisik Taufan, membuat para karyawan itu mempercepat pekerjaan mereka.
Sungguh malang, namun Taufan menikmati kejahilannya terhadap orang lain. Ya, pasti saat ini dia sedang mati-matian menahan tawanya. Sebelum identitas mereka ketahuan, disinilah peran Solar sebagai bantuan dimulai.
"Astaga, maaf aku benar-benar tidak sengaja. Tadi, kopinya tergelincir dari tanganku" Ujar Solar terkejut, seolah-olah memang tidak sengaja.
"Ew, jika aku ada disitu sudah ku lempar wajahmu. Pasti, aktingnya benar-benar terlihat meyakinkan sampai kakiku gatal mau menendang"
'Buset, punya kakak seram ya. Padahal, sifatnya dingin kayak es' Batin Solar.
"Maaf atas kelalaian kami, pak. Silahkan langsung pakai kartu ini, sisanya biar kami yang uruskan pak"
Wajahnya terlihat datar, namun sebenarnya Halilintar tersenyum puas dalam hati. Kerja sama diantara mereka memang tidak perlu diragukan lagi, contohnya seperti tadi. Sementara itu, Solar harus ditinggalkan dimeja resepsionis. Karena, masih harus mendalami perannya.
Halilintar, Taufan, Gempa, dan juga Thorn menaiki lift menuju kesebuah ruangan misi mereka kali ini. Sampai saat ini, belum ada satu orang pun yang curiga. Entahlah, karena akting mereka alami atau memang karena mereka terlihat seperti boss.
"Kalau, sudah sampai dilantai 7. Sekarang, kak Hali harus bersama kak Gem untuk mencari dokumen diruangan berkas. Sementara, kak Taufan bersama Thorn harus menyalin rekaman suara dan bukti apapun yang ada di komputer"
"Wah, ini sih namanya pembunuhan terencana untukku" Sempat-sempatnya, Taufan mengoceh disaat seperti ini.
"Jangan berisik, kak Taufan. Nanti, terkena tabokan kasih sayang kak Hali lho~" Tampaknya ancaman Thorn berhasil, karena Taufan langsung menutup mulutnya.
"Kalian sama-sama berisik, sudah bosan hidup menjalankan misi ya?" Halilintar menatap tajam, kesal dengan kedua adiknya.
"Sudah, ayo cepat kita jalankan tugas masing-masing" Lerai Gempa, walaupun sejujurnya dia sendiri ingin marah.
Setelah masuk kedalam ruangan berkas, Halilintar dan juga Gempa langsung berpencar mencari berbagai berkas bukti yang ada. Awal mulanya, mereka tidak ingin menerima misi ini dan ingin mengambil hari libur. Namun, tiba-tiba mereka dibujuk untuk misi kali ini, yaitu mengambil data mengenai kecurangan dan pencucian uang gelap salah satu perusahaan besar.
"Ck, tahu begini lebih baik kita liburan saja" Celetuk Halilintar, kesal mengingat bagaimana mereka dipaksa.
"Sabar, jangan marah-marah kak Hali. Nanti, gak ketemu berkas-berkasnya" Gempa tersenyum, membuat Halilintar merinding seketika.
'Awas saja nanti, ku patahkan meja atasan' Batin Gempa.
__ADS_1
Sementara, Halilintar dan Gempa masih mencari dokumen-dokumen. Saat ini, Taufan dan juga Thorn sedang memikirkan bagaimana cara masuk ke salah satu ruangan data. Dalam hati, mereka berdua sibuk mengutuk Ice.
'Kurang ajar kau Ice, pasti dia sengaja memberi misi ini padaku' Batin Taufan.
'Heum, kayaknya nanti malam Thorn mau memotong jari kak Ice' Batin Thorn.
Padahal, Ice sedang sibuk memantau cctv disekitar. Namun, tiba-tiba dia merasakan aura membunuh yang sangat tajam. Sampai-sampai, dia bersin tiga kali. Ice tidak tahu saja, kalau nyawanya terancam sehabis misi kali ini. Mari bersama-sama, kita doakan semoga Ice bisa pergi dengan tenang. Pergi kemana? Rumah nenek.
"Pasti ada yang lagi mengutuk aku, bikin merinding aja tiba-tiba" Ucap Ice sengaja, agar mereka bisa mendengarnya lewat earpiece.
"Ceh, terkadang kepekaannya itu menyebalkan" Gumam Taufan, sengaja juga agar Ice bisa mendengarnya.
"Haduh, sempat-sempatnya kak Taufan dan kak Ice beradu mulut" Thorn menggelengkan kepalanya, sebenarnya siapa yang dewasa disini?
Melihat ada celah untuk masuk, langsung saja Taufan dan Thorn bergegas. Tak lama kemudian, Halilintar dan Gempa menyelesaikan tugas mereka. Dokumen sudah ditangan, lebih tepatnya mereka sembunyikan. Gempa memberikan sinyal kepada Ice, kemudian Halilintar dan Gempa berniat menuju ketempat Taufan dan juga Thorn.
"Kak Taufan, Thorn nanti didekat ruangan akan ada kak Hali dan kak Gem. Aku sudah menerima sinyal dari keduanya, kalau bisa cepat bereskan tugas kalian. Kalau tidak, bisa repot nantinya"
"Aku juga maunya cepat, tapi ini semua kode apa sih?" Taufan meringis, sayangnya dia tidak sepintar Ice soal kode-kode aneh.
"Bisa gak, kak Taufan?" Tanya Thorn, karena dia sendiri tidak paham apa arti kodenya.
Ya, setidaknya Taufan sudah mencoba membuka kunci kodenya dan berhasil. Walaupun, beberapa menit kemudian alarm berbunyi nyaring. Pasti, ada satu kode yang salah dipecahkan oleh Taufan. Untungnya, semua data yang diperlukan sudah disalin oleh Taufan dan juga Thorn.
"Wah, mati kita sebentar lagi Thorn" Berbeda dengan ucapan, Taufan malah terlihat tenang.
"Yeay, waktunya main petak umpet lagi ya kak Taufan" Satu dikali dua, sama saja kakak beradik gila satu ini.
"Dasar, kelakuan kak Taufan dan Thorn bikin aku sakit kepala aja. Rencana B, semuanya berpencar masing-masing. Ada pintu keluar dibagian belakang, tepatnya diujung gedung bagian kanan"
Halilintar dan Gempa yang tadinya berniat menghampiri Taufan dan juga Thorn pun mengurungkan niatnya, bertambah sudah emosi mereka berdua. Tidak bisakah, sesekali kedua saudara mereka itu berhenti membuat kekacuan dalam misi?
"Kak Blaze, tolong jaga dan awasi pintu keluar yang titik koordinatnya sudah aku jelaskan tadi. Sebisa mungkin, pastikan semuanya sudah keluar 10 menit lagi. Kalau tidak, mau tidak mau kita harus pergi. Aku akan tunggu kalian ditempat rahasia kita"
"Wah, curangnya kak Taufan dan Thorn gak ajak-ajak bikin kekacauan" Blaze tertawa pelan, jangan sampai bertambah lagi satu pengacau.
"Solar, langsung ganti posisi. Pergi menuju pintu bagian selatan, semoga kamu bisa langsung ketemu kak Hali dan yang lainnya. Karena, mereka harus berpencar"
"Duh, merepotkan" Gumam Solar, kemudian masuk ke toilet untuk mengganti tampilannya.
Beruntung, ini bukan kali pertama kekacauan terjadi. Begitulah, jika Taufan dan Thorn atau Blaze digabungkan. Pasti, akan terjadi kekacauan entah kecil maupun besar. Jadi, dengan mudah yang lainnya menuju kepintu keluar yang diarahkan oleh Ice.
"Hehe, maaf ya semuanya" Bukannya merasa bersalah, Taufan malah menyengir.
"Yeay, tadi seru banget rasanya" Sama saja, Thorn sendiri malah kegirangan.
"Jahat, kok aku gak diajak sih?" Keluh Blaze, sedih melihat kedua rekannya bersenang-senang.
"Lihat ini, kalian masih bisa tertawa disaat bikin kekacauan?" Demi apapun, senyuman Gempa itu terlihat menyeramkan.
"Sepertinya, kalian benar-benar bosan hidup ya?" Sorot mata Halilintar terlihat lebih merah dari biasanya, tanda dia sedang marah.
"Gara-gara kekacauan tadi, aku jadi harus ganti-ganti penampilan" Solar yang biasanya diam juga ikut bersuara.
"Terima kasih untuk itu juga, aku jadi harus mengatur banyak kode dilaptop ini" Sepertinya, keadaan berbalik pada Ice sekarang.
Bukan lagi Ice yang akan dihabisi Thorn dan juga Taufan, melainkan mereka berdua yang akan dihabisi kelimanya. Misi berjalan dengan sukses, walau ada sedikit kekacauan. Kerja sama adalah kunci keberhasilan, maka dari itu jangan sampai ada yang menghalangi jalan mereka. Karena, mereka bertujuh pasti akan tetap bisa melewatinya.
THE END.
Ayok tebak-tebakan lagi, kira-kira kali ini aku mengetik berapa kata? π€
Bagi yang belum tahu, cerita ini up dari hari senin-jumat dan libur di hari sabtu minggu ya~
Ku akui, tema kali ini jauhhhhhh lebih susah daripada mafia gak bohong T_T
Tapi, terima kasih atas requestan temanya. Aku jadi bisa lebih berkembang ππ
__ADS_1
Maaf ya, kalau bagi kalian banyak yang kurang seru.. Tapi, mohon dukungannya untuk cerita kali ini β€οΈ terima kasih~
Oh iya, ayo ikutan juga request ceritanya bagi yang belum.. Bantu aku membuat ide cerita baru, yuk! π