
Tema : Mafia, Action
Request : @mey0324
WARNING β οΈ : Trigger
π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€
Di dalam ruangan berwarna campuran hitam dan merah, terlihat ada seseorang yang sedang menyusun koleksi senjata api miliknya. Mata merah rubynya terlihat dingin, bisa di lihat ada tatapan dendam dibalik matanya. Dan kemampuannya juga tidak perlu di ragukan lagi, aura kepemimpinannya sangat kuat terasa.
Namun, selalu ada saja yang mengganggu waktu bersantainya. Buktinya, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruangannya. Dan bisa dia tebak, siapa yang ada di balik pintunya saat ini. Tanggung jawab tetaplah tanggung jawab, dia memperbolehkan penasihatnya itu untuk masuk.
"Saya ijin bertemu, Godfather" Manik hazel itu menatap dengan berani, tanpa ada rasa gentar sedikitpun.
"Ada apa lagi, Consigliere Gempa?" Nadanya menajam, sayangnya Gempa tidak kenal rasa takut.
"Hanya ingin berbincang sebentar mengenai beberapa hal, Godfather"
"Ck, pakai saja panggilan santai biasanya Gem"
"Kan yang memulainya duluan kak Hali, bukan aku" Ingatkan Halilintar, kalau adiknya yang satu ini mulutnya sangat pedas.
"Baiklah, suka-sukamu saja" Malas berdebat, Halilintar kembali merapikan koleksi senjatanya.
Jangan heran, kalau mereka memiliki banyak senjata. Karena, mereka memang berprofesi sebagai mafia. Dari awal, mereka juga sudah dilatih oleh orang tua mereka sebagai penerus. Mau bagaimana lagi, sejak lahir mereka memang keturunan mafia kelas atas.
"Apa kak Hali gak bosan? Menurutku, koleksi pistol kak Hali sama aja" Gempa mengambil salah satu senjata yang ada di meja.
"Jangan menanyakan hal itu padaku, kalau kamu sendiri masih memiliki koleksi pisau-pisau aneh itu" Halilintar melirik sekilas ke arah Gempa, adiknya itu hanya tertawa pelan.
'Dasar, kakak psikopat' Batin Gempa.
'Dasar, adik psikopat' Batin Halilintar.
Suasana ruangan menjadi hening, memang biasanya mereka berdua tidak banyak bicara satu sama lain. Beda halnya, jika yang berkunjung ke ruangan saat ini adalah saudara mereka yang seberisik angin. Di jamin, kuping kalian akan mati rasa. Bahkan, sampai bisa menjadi tuli.
"Godfather, First Caporegime ingin bertemu" Salah satu penjaga melaporkan dari luar ruangan.
"Baru saja di perkirakan, sudah datang sekarang" Celetuk Gempa, dia berjalan ke arah sofa yang ada di sana.
"Suruh masuk" Satu ucapan ijin dari Halilintar saja cukup, agar di perbolehkan menemuinya.
"First Caporegime ijin bertemu, Godfather" Ucapnya terdengar jelas, padahal Halilintar tahu dia hanya ingin mengganggu.
"Sepertinya, First Caporegime Taufan memiliki banyak waktu luang ya?" Hanya orang naif, yang menganggap Halilintar sedang memuji.
"Eh, bukan begitu. Maksudnya itu-" Belum sempat Taufan menjelaskan, Halilintar mengarahkan pistol ke wajahnya.
"Woah, pistol baru impianku!!" Matanya mengerjap dengan penuh kesenangan.
"Tolong, aku juga ada disini ya" Berbeda dengan Taufan yang sudah semangat, Gempa duduk dengan anggun di sofa.
"Nih, untukmu saja Taufan. Lagi pula, aku tidak suka pistol ini" Dengan cepat, Taufan menangkap pistol yang di lemparkan Halilintar itu padanya.
"Astaga, kapan aku bisa punya saudara yang lebih waras?" Gumam Gempa, yang sengaja berbicara begitu agar menarik perhatian Halilintar dan juga Taufan.
"Maaf nih Gem, memangnya kamu sendiri waras ya?" Senyum lebar menghiasi wajah Taufan, baru kali ini Gempa kalah debat dengannya.
Sementara, ketiga saudara tertua sedang mempererat tali persaudaraan. Di lapangan tempat pelatihan yang luas, terlihat dua saudara kembar dengan sifat berkebalikan 180 derajat. Masing-masing, sedang memegang senjata andalan mereka. Entah apa yang ingin mereka lakukan dengan senjata itu, yang pasti tidak ada pengganggu satu orangpun.
"Kau yakin sudah siap, Underboss Ice?" Tanya Blaze, dengan nada mengejek.
"Sejujurnya, aku malas. Tapi, kau memaksa bertarung satu lawan satu terus" Berbeda dengan Blaze yang kelewat semangat, Ice hanya menatap tajam karena jatah waktu tidurnya yang terbuang.
"Ayolah, sesekali biarkan aku bertarung melawanmu" Tolong katakan pada Ice, sebenarnya siapa yang kakak disini? Dia atau Blaze?
"Terserahmu saja, aku akan bertarung dengan serius Caporegime Attacco" Ice mempererat pegangannya pada belati di tangan kirinya, kebetulan dia memang kidal.
"Wah, mari kita lihat pemenangnya Underboss" Berbeda dengan Ice yang menggunakan senjata seperti belati, fisik Blaze sangat terlatih tanpa perlu senjata.
Pertarungan kedua kembar anak tengah tersebut dimulai, sejujurnya banyak anggota yang menontin dari jauh. Alasan mereka tidak berani melihat dari dekat karena, takut terpukul atau telempar belati. Jadi, keputusan bulatnya adalah menonton dari jauh.
"Tidak buruk, sepertinya kau sering berlatih Blaze"
"Jangan puji aku, itu salah satu teknikmu kan Ice?"
"Cih, cepat sekali ketahuan olehmu" Ice berdecak, biasanya cara ini ampuh membuyarkan fokus lawab.
"Tentu saja, jangan pandang aku dengan remeh" Senyuman penuh arti terukir di wajah Blaze, membuat beberapa orang yang ada terkesima.
Sudah cukup lama, Blaze mengajak Ice untuk bertarung melawan diri masing-masing. Namun, Ice kerap kali menolak. Blaze paham benar alasannya adalah kejadian saat 5 tahun yang lalu, masa dimana Blaze pernah dikalahkan telak oleh Ice.
Setelah itu, jabatan Underboss yang tadinya akan diturunkan pada Blaze telah di pindahkan oleh ayahnya. Ice yang mendapatkan jabatan tersebut sebagai pewaris, maka dari itu Ice selalu menolak ajakan Blaze. Selebihnya, Ice juga hanya tidak mau bertengkar dengan Blaze.
"Jangan melamun, perhatikan pola seranganmu!" Teriakan Ice membuyarkan lamunan Blaze, sayangnya belati Ice lebih dulu menggores pipinya.
"Ternyata kurang cepat, selanjutnya pasti tidak akan kena"
"Maaf, bagaimana lukanya kak Blaze?" Terlihat ada ekspresi khawatir di wajah Ice.
__ADS_1
"Hanya luka kecil, lalu berhenti bersikap halus Ice! Jangan lupakan kalau, kita adalah mafia!" Blaze menggeram, dia tidak suka dianggap lemah.
Ice cukup terkejut, karena baru kali ini Blaze meneriaki dirinya. Merasa ikut termotivasi, Ice pun tersenyum kecil dan memposisikan kembali belati kesayangannya. Blaze tertawa senang, sekarang pertarungan mereka baru benar-benar di mulai. Kira-kira, siapakah yang akan menjadi pemenangnya?
"Caporegime Medico, saat ini di luar Caporegime Infiltrarsi sedang menunggu" Salah satu bawahan itu menghampiri atasannya, dengan kacamata labnya yang tidak pernah dilepaskan.
"Langsung antarkan ke ruangan lab utama" Perintah mutlak, manik emas itu terlihat sangat tegas.
Ruangan lab utama, tempat penelitian dan pembuatan senjata rahasia di markas mereka. Tidak sembarang orang bisa memasuki ruangan lab ini, karena berifat rahasia dan di jaga ketat keamanannya. Seseorang dengan manik hijau muda tersenyum senang, melihat orang yang di tunggunya sudah datang.
"Selamat datang di ruangan lab utama, Caporegime Infiltrarsi Thorn" Untungnya, saat ini hanya mereka berdua yang sedang ada disini.
"Terima kasih sambutannya, Caporegime Medico Solar" Selesai dengan salam formal mereka, Thorn langsung kembali memasang wajah imutnya.
"Apa kak Thorn yakin dengan desain yang kemarin diberikan?" Tanya Solar, sambil memegang tiga lembar kertas di tangannya.
"Yakin, Thorn jamin daya ledaknya lebih dahsyat!" Siapapun pasti tidak akan percaya, kalau Thorn merupakan salah satu anggota mafia.
"Aku penasaran, dari mana kak Thorn bisa memikirkan jenis baru bom yang ini?"
"Sudah pasti, karena Thorn punya banyak jenis bom dengan daya ledak yang berbeda-beda"
'Oh iya lupa, kakak-kakakku kan psikopat semua ya' Batin Solar.
"Solar, kamu kan juga sama gilanya kayak kita" Ucap Thorn sambil memasang wajah mengejek, seolah-olah bisa membaca apa pikiran Solar.
"Aku tersanjung, terima kasih kak Thorn" Jawab Solar, sambil memasang senyum paksaannya.
"Sama-sama, Solar!" Percuma Solar bersikap sarkas, toh Thorn tidak mengerti maksudnya.
Wajah boleh imut dan polos, tapi jangan ada yang terpedaya oleh duo bungsu ini. Thorn dengan wajah kekanakkannya suka mengoleksi beragam bom untuk digunakannya pada musuh, bahkan tak jarang anggota lain melihat Thorn tertawa kegirangan sehabis melihat salah satu bomnya meledakkan musuh.
Berbeda dengan Thorn yang menunjukkan sifat kejam anehnya, Solar ibaratnya adalah singa. Singa sang predator yang memantau musuhnya terlebih dahulu, sebelum menyerang dan mengoyak mereka. Makanya, Solar suka bekerja di balik layar. Dialah yang membuat semua senjata dan racun mematikan untuk digunakan kepada musuh. Jadi intinya, mereka berdua sama saja.
"Baiklah, ayo kita coba bom buatan kak Thorn ini" Setelahnya, Solar berjalan menuju ruangan uji coba dan diikuti oleh Thorn.
"Hihi, Thorn tidak sabar melihat ledakannya" Entah sejak kapan, Thorn memiliki obsesi melihat ledakan.
Mari kembali lagi ke ruangan pemimpin teratas diantara keenam pemimpin lainnya, yaitu Halilintar. Sang Godfather, sejak awal yang lainnya pun tidak masalah dengan Halilintar yang menjadi pemimpin. Karena, memang sejak awal kemampuan Halilintar jauh di atas mereka. Bukan hanya kemampuan fisik, tapi juga logikanya yang sangat cepat.
"Mau coba ku bedah dengan pisau baruku ya, kak Taufan?" Dengan senyuman lembutnya, Gempa bertanya pada Taufan yang ada di depannya.
"Coba saja, kalau kau juga mau dipukul dengan tongkat besiku Gem" Taufan memandang remeh ke arah Gempa dan itu merupakan awalan pertengkaran yang buruk.
Gempa yang masih duduk santai di sofa, langsung terkekeh pelan mendengar ucapan Taufan. Merasa cukup kesal karena di tertawakan, Taufan berjalan mendekati Gempa dan menarik kerah kemeja Gempa dengan tangan kanannya. Tenang saja, mereka tidak akan sampai membunuh satu sama lain. Mungkin?
"Maafkan kami, Godfather" Dengan akurnya, Gempa dan Taufan meminta maaf secara serempak.
Belum sempat mereka bertiga berbincang santai kembali, tiba-tiba beberapa anggota mengetuk pintu ruangan Halilintar. Mereka memberi kabar darurat, bahwa terdeteksi ada banyak rombongan musuh yang mendekati wilayah mereka.
"Wah, kita kedatangan tamu rupanya" Taufan melirik sekilas ke arah Halilintar dan Gempa.
"Aku bertanya-tanya, siapa yang dengan beraninya datang ke kandang kami" Sebuah peta wilayah dibuka oleh Gempa, karena dia harus membuat strategi dengan cepat.
"Panggil semuanya, suruh berkumpul di posisi masing-masing" Mudah di tebak, sepertinya suasana hati Halilintar kembali memburuk.
Mendapatkan perintah mutlak dari sang pemimpin, penjaga tersebut langsung mengumumkannya ke seluruh anggota. Jangan di tanya bagaimana kondisi mansion saat ini, riuh dan ricuh yang pasti. Saat ini, masih kode kuning yang diberikan oleh Halilintar. Yang artinya, antara bisa terjadi perang antar kelompok atau tidak terjadi perang. Sama seperti tadi, saat ini Ice dan Blaze pun harus menghentikan pertandingan mereka.
"Cih, ada saja yang menggangguku akhir-akhir ini" Manik aquamarine itu berdecak kesal, karena kesenangannya selalu di ganggu.
"Ku harap ini bukan alasan pertandingan terakhir kita, Underboss Ice!" Seru Blaze, sambil mengembalikan belati Ice yang sempat terjatuh tadi.
"Tentu saja, aku tidak akan mundur saat sudah berjanji Caporegime Attacco Blaze" Walaupun tidak menunjukkan ekspresi, Blaze tahu kalau Ice memang sungguh-sungguh.
"Ayo, kita harus berkumpul dengan yang lainnya"
Berbeda dengan saudara-saudaranya yang mendapat kabar langsung. Saat ini, Thorn dan Solar yang berada di ruang bawah tanah hanya perlu melihat kode bahaya di komputer. Mau tidak mau, percobaan kelima bom yang di inginkan Thorn pun harus berhenti tiba-tiba.
"Ada apa, Solar?" Tanya Thorn, setelah melihat ekspresi tidak suka dari Solar.
"Mungkin, akan terjadi perang dadakan hari ini kak Thorn" Padahal baru saja, Solar merasa sangat semangat menguji coba bom buatannya.
"Jadi, bom yang Thorn mau belum bisa dipakai dong Solar?" Wajahnya terlihat sedih, sudah sejak lama Thorn menginginkan bom yang sesuai dengannya.
"Untuk saat ini bisa, tapi hati-hati ya pakainya kak Thorn. Soalnya, daya ledaknya lumayan besar"
"Yeay, sudah bisa di pakai!!" Dan tentu saja, Thorn tidak peduli dengan penjelasan Solar.
"Kalau orang bicara di dengar dong, kak Thorn"
"Sudah, ayo cepat berkumpul dengan yang lain Solar"
Akhirnya, semuanya sudah berkumpul di tempat perkumpulan rahasia mereka bertujuh. Di tempat itu, mereka sibuk membicarakan strategi pertarungan yang harus dipakai. Serta, rencana cadangan jika tiba-tiba rencana awal digagalkan. Tugas yang paling berat dalam hal strategi adalah Gempa dan juga Ice. Karena, Gempa merupakan penasihat dan Ice adalah bawahan langsung Halilintar.
"Apa kalian yakin kedua rencana ini akan berhasil?" Sehebat-hebatnya Halilintar sebagai pemimpin, dia juga memerlukan bantuan keenam adiknya.
"Menurut analisis kami, kedua rencana akan berhasil sebanyak 85%" Jawab Gempa dan Ice secara bersamaan.
"Baiklah, aku akan menempatkan pasukan inti di sekitar mansion utama" Memang tugas Taufan sebagai First Caporegime adalah mengatur pasukan utama khusus.
__ADS_1
"Serahkan urusan wilayah lingkar luar padaku, pasukanku tidak mungkin kalah" Dengan bangganya, Blaze baru saja pamer kehebatannya sebagai Caporegime Attacco.
"Hihi, anggota Infiltrarsi dan Thorn akan membasmi para penyusup dengan bom baru. Penyusup harus melawan sesama penyusup, kan?" Thorn memainkan bom barunya dengan santai.
"Bagian belakang, sektor, dan informasi akan ditangani oleh tim Medico" Tidak ingin banyak bicara, Solar hanya menjawab seadanya.
"Laksanakan tugas masing-masing, lindungi nyawa kalian" Halilintar berdiri dari tempat duduknya, yang lainnya pun mengikuti Halilintar.
"Kami mengerti, Godfather"
"Dan sebagai kakak, aku harap tidak ada yang terluka" Tambah Halilintar, sebelum berjalan keluar dari ruangan.
"Terima kasih, kak Hali!" Seru keenam adiknya, membuat Halilintar merasa malu sendiri.
Sayangnya, perebutan kekuasaan dari dua kelompok mafia itu harus terjadi. Pertarungan semakin memanas, apalagi kelompok yang menantang mereka kali ini juga lumayan kuat. Sehingga, membuat mereka cukup kewalahan dan harus bertarung dengan serius.
"Caporegime Infiltrarsi lapor, tim Infiltrarsi sudah berhasil meledakkan seluruh penyusup area luar" Semuanya mendengar laporan dari Thorn, kemudian melanjutkan tugas masing-masing.
"Pantas saja, dari tadi aku mendengar ledakan disana dan disini" Keluh Taufan, karena posisinya tidak jauh dari area yang ditangani Thorn.
Walaupun berisik, setidaknya Thorn dan timnya berhasil menyelesaikan tugasnya. Sejujurnya, keenam saudaranya cukup merinding. Karena, mereka mendengar suara tawa Thorn setiap meledakkan bomnya. Tolonglah, mereka juga ingin memiliki adik yang lucu tanpa sisi sadis kan?
"Cih, merepotkan jumlahnya. Aku benci hal-hal merepotkan seperti kalian, paham?" Lima orang terkena serangan belati milik Ice.
Bagi Ice, sejujurnya kelompok kali ini tidak terlalu sulit. Namun, jumlahnya yang luar biasa banyak itu menjadi salah satu faktor alasan mereka kewalahan. Tak lama kemudian, Ice melihat Gempa dari jauh berjalan mendekatinya sembari sesekali melemparkan musuh dengan pisau-pisaunya tepat ke arah kepala.
"Butuh bantuan, Underboss?" Tanya Gempa, basa basi saja menurutnya.
"Memangnya tugasmu sudah selesai, Consigliere?"
"Kalau belum, aku tidak akan kesini" Mendengar jawaban Gempa, Ice hanya bisa mendengus pelan.
"Terserah, di bantu juga bisa cepat selesai. Karena, bau amis darah ini memuakkan" Tanpa disuruh, Gempa langsung mengambil alih musuh di sisi kiri Ice.
Pertarungan terjadi cukup lama, untungnya di awal Thorn berhasil menghentikan para penyusup tambahan. Sehingga, tinggal sedikit lagi dan kemenangan akan berpihak pada mereka. Halilintar juga memanggil keenam adiknya untuk berkumpul di titik tengah mansion, urusan penanganan terakhir sudah di atur setiap tim.
"Ada yang terluka? Biar aku langsung rawat sekarang" Peran Solar juga sebagai dokter khusus bagi mereka.
"Aku!" Seru Blaze bercanda, tidak lupa dengan tawa khasnya.
"Jangan bercanda terhadap hal seperti itu, Blaze" Tegur Halilintar, dia menjadi sangat serius jika itu menyangkut adik-adiknya.
Tinggal beberapa langkah lagi, Blaze sampai di titik kumpul saudara-saudaranya. Tiba-tiba, pemimpin kelompok mafia yang menyerang mereka muncul entah dari mana. Halilintar dengan cepat, langsung reflek menembaki titik fatal pemimpin tersebut.
"Kak Hali, Blaze!!!" Teriak Solar, karena kejadian terjadi begitu cepat sampai dia tidak begitu memahami apa yang terjadi.
"Apa ada yang terluka?" Tanya Halilintar, dengan ekspresi paniknya.
"Wah, kurang ajar. Ternyata, aku terkena tembakannya" Blaze memegangi bagian jantungnya dan jatuh tersungkur ke tanah.
"Blaze!" Dengan sigap, Ice langsung berlari dan menahan Blaze.
"Aku akan menghubungi rumah sakit biasanya, tunggu sebentar" Gempa berlari memasuki mansion dengan terburu-buru.
"Biar kami yang mengurus helikopter, setidaknya kita bisa sampai lebih cepat" Sama khawatir seperti yang lainnya, Taufan dan Thorn mencoba menghubungi tim masing-masing.
"Tidak perlu, aku tidak akan selamat" Masih sama, Blaze hanya tertawa.
"Bicara apa sih kak Blaze ini, setidaknya jangan bersikap bodoh disaat begini!" Berbeda dengan ucapan pedasnya, satu air mata lolos dari mata Ice.
Halilintar sendiri sudah termakan emosi dan menghabisi sisa musuh yang masih ada, dia panik sekaligus marah. Blaze menahan Ice yang berencana menghentikan Halilintar, Blaze hanya tidak ingin Ice terkena amarah kakak sulungnya itu.
"Aku memang bodoh, tapi aku akan selalu melindungi kalian"
"Jangan bicara seolah-olah ini masa terakhirmu, kak Blaze"
"Sepertinya, aku juga cukup lelah Ice. Jadi, biarkan aku beristirahat sekarang" Sekuat apapun Solar berusaha menahan pendarahan Blaze, tetap saja sudah terlalu fatal.
"Sudah, jangan memaksakan diri Solar" Blaze menahan tangan Solar.
"Maaf kak Blaze, seharusnya aku lebih memikirkan rencanaku" Ice cukup merasa bersalah, jika saja dia lebih memantapkan rencananya.
"Bukan salah siapapun, setidaknya aku sempat bertarung melawanmu sekali Ice. Dan, ini bukan juga salahmu Solar. Jadi, titipkan salamku untuk yang lainnya ya?" Mulut dan hidung Blaze pun sudah dipenuhi darah.
"Jangan, kami mohon kak Blaze" Tangisan pecah, Ice dan Solar tetap mencoba menyelamatkan Blaze.
"Caporegime Attacco Blaze, ijin pamit" Kalimat terakhir yang wajib di ucapkan, menjadi ucapan terakhir Blaze sebagai anggota dan keluarga.
THE END.
Fiuh~ selesai juga Β± 2.600 kata ini π keriting jariku π
Ijin, karena sabtu aku up in. Sekaligus, menebus kesalahan hiatusku. Jadi, aku minggu ijin libur ya π tenang, gak kabur lagi kok kali ini π₯²
Sad ending seperti yang di inginkan MUEHEHE, sudah lama aku merindukan penistaan terhadap mereka bertujuh π
Maaf ya, kalau bagi kalian banyak yang kurang seru.. Tapi, mohon dukungannya untuk cerita kali ini β€οΈ terima kasih~
Oh iya, ayo ikutan juga request ceritanya bagi yang belum.. Bantu aku membuat ide cerita baru, yuk! π
__ADS_1