For You -Oneshoot- (BOBOIBOY)

For You -Oneshoot- (BOBOIBOY)
(The Little Sun) For You


__ADS_3

Tema : Brotherhood, Psychology


Request : @Resa CH


WARNING ⚠️ : Trigger


☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️


Matahari mulai mengeluarkan sinarnya yang awalnya tertutup awan, menganggu mimpi indah yang sedang di alami oleh seorang remaja dengan nyenyaknya. Di tambah dengan suara alarmnya, akhirnya mau tidak mau remaja beriris mata emas itu terbangun.


"Jadi, yang mimpi itu ini atau tadi?" Tanya Solar pada dirinya sendiri.


"Selamat pagi, Solar!" Seru Thorn dengan semangat, terkadang Solar lupa kalau dia sekamar dengan kakaknya yang satu ini.


"Selamat pagi, kak Thorn" Thorn tidak terkejut, Solar memang selalu menjawab dengan datar.


"Ayo, kita siap-siap sekolah Solar" Thorn menarik tangan Solar dengan semangat.


"Sekarang, sudah hari sekolah lagi kak Thorn?" Lagi-lagi, Solar menanyakan hal yang aneh menurut Thorn.


"Ish, Solar malah bercanda lagi. Sudah, ayo cepat siap-siap" Tapi, Thorn berpikir mungkin Solar hanya sering bercanda dengan caranya sendiri.


Selesai bersiap-siap sekolah, Solar masih di dalam kamarnya untuk membereskan beberapa buku. Sedangkan, Thorn sudah berada di ruang makan untuk membantu Gempa. Rasanya, Solar ingin kembali tidur dan mimpi seperti tadi saja.


"Karena, terkadang mimpi lebih indah dari pada kenyataan" Gumam Solar, dia terbiasa merasa dirinya sendiri aneh dan berbeda.


Mereka tujuh bersaudara yang terbiasa saling membahu satu sama lain, karena mereka hanya memiliki satu sama lain. Dari kecil, orang tua mereka sering bertengkar dan memukuli mereka. Sampai akhirnya, orang tua mereka memutuskan untuk berpisah dan meninggalkan mereka bertujuh.


"Ya, saatnya untuk kembali mengendalikan tubuh ini" Solar melihat sekilas ke arah cermin, dia tidak menyukai pantulan dirinya sendiri.


Bagi Solar, tubuh dan pikirannya terasa asing. Bahkan, sangat terasa asing untuk dirinya sendiri. Karena itu, Solar selalu menghindari apapun yang bisa membuatnya semakin terasa aneh. Terkadang, Solar juga merasa dirinya tidak benar-benar berada dalam tubuhnya.


"Selamat pagi, Solar" Panggil Gempa, dengan senyum khas keibuannya.


"Pagi, kak Gem" Solar tidak bisa tersenyum, mereka maklum akan hal itu.


"Bagaimana keadaanmu hari ini, Solar?" Tanya Halilintar, karena dirinya jugalah yang pertama kali sadar bahwa ada yang aneh dengan Solar.


"Seperti biasa, kak Hali" Jawab Solar singkat, kemudian memakan sarapan yang sudah di siapkan.


"Oh iya, sebentar lagi ulang tahun kita kan?" Taufan mencoba mengubah topik, memberikan semangat bagi yang lainnya.


"Ah iya, Thorn hampir saja lupa!" Dengan lucunya, Thorn tertawa dengan pipi gembulnya yang berisi makanan.


"Jadi, kita adakan pesta bagaimana nih?" Jangan ditanyakan, Blaze luar biasa semangat jika menyangkut ulang tahun.


"Kayak anak kecil saja, aku yang sudah dewasa santai" Celetuk Ice, sengaja karena Blaze terlalu berisik menurutnya.


"Anak ini, kalau bicara gak pernah di saring dulu ya omongannya?" Blaze menatap tajam ke arah Ice.


"Buat apa di saring? Memangnya teh?" Tanpa rasa takut, Ice menatap balik ke arah Blaze.


"Kalian mau sampai kapan ribut sendiri?" Satu pertanyaan dari Halilintar itu ampuh, membuat mereka semua sarapan dengan tenang.


Selesai memakan sarapan masing-masing, merekapun mengambil tas dan berangkat menuju ke sekolah. Dan seperti biasanya, mereka pulang dari sekolah di sore hari sekitar jam tiga atau jam empat sore. Apalagi, jika memiliki urusan klub tambahan.


Saat ini Halilintar, Gempa, dan Ice sudah pulang duluan ke rumah. Sedangkan Taufan, Blaze, dan Thorn sedang mengikuti kegiatan klub masing-masing. Kalau kalian bertanya dimana Solar, maka dia masih berada di perpustakaan sekolah yang merupakan tempat kesukaannya.


"Kak Hali, aku mau bicara sebentar" Selesai melakukan kewajibannya, Gempa memanggil Halilintar.


"Bicara apa, Gem?" Halilintar menutup buku yang sedang di bacanya saat duduk tadi.


"Pasti tentang Solar, benar kak Gem?" Tebak Ice, insting anak itu memang sangat kuat.


"Benar Ice, akhir-akhir ini Solar semakin terasa mengkhawatirkan" Dari raut wajah Gempa, bisa terlihat ekspresi kekhawatiran seorang kakak.


"Aku juga merasa begitu, akhir-akhir ini Solar semakin berbeda" Ice menyetujui ucapan Gempa dan melihat ke arah kakak sulungnya.


Dengan wajah yang cukup serius, Halilintar mencoba mengingat bagaimana sikap Solar belakangan ini. Dan apa yang dikatakan oleh kedua adiknya ini benar, lagi-lagi Solar bersikap apatis yang bahkan cenderung lebih parah di bandingkan sebelumnya.


"Menurut kak Hali, kita harus bagaimana kak?" Tanya Gempa, karena tidak kunjung mendapatkan jawaban dari sang sulung.

__ADS_1


"Jujur, aku sendiri tidak tahu harus bagaimana" Halilintar menghela nafasnya, terdengar lelah di kedua telinga siapapun.


Gempa dan Ice bisa mengerti, bagaimana pun juga pasti kakak sulung mereka merasa kelelahan. Apalagi, sejak di tinggalkan oleh kedua orang tua mereka. Halilintar yang menjadi tulang punggung mereka bertujuh selama ini, di tambah lagi kenyataan beberapa tahun lalu yang sangat pahit bagi mereka.


"Aku kebingungan, di satu sisi aku memahami Solar. Karena, kedua orang tua kita yang membuatnya seperti itu. Tapi, di sisi lain juga tidak bisa sikapnya itu terus dibenarkan" Mendengar apa yang sedang di pikirkan Halilintar, bahunya di tepuk perlahan oleh Gempa dan juga Ice.


"Jangan menyalahkan diri sendiri, kak Hali" Ucap Ice mengingatkan, karena dia tahu kakaknya ini juga sering menyalahkan dirinya sendiri akibat apa yang terjadi pada Solar.


"Tidak Ice, memang aku yang kurang menjaga adikku sendiri. Seharusnya, aku bisa menjadi kakak sulung yang lebih baik" Halilintar mengacak rambutnya, dia juga merasa frustasi.


"Jangan bicara seperti itu, kak Hali. Buktinya, selama ini kita bisa bertahan karena kak Hali kan?" Seperti inilah mereka, menjadi penguat antara satu sama lain.


"Benar apa kata kak Gem, jadi kak Hali jangan bicara sembarangan lagi"


"Tapi, bersama dengan kita pun bukannya membuat Solar sembuh" Kepala Halilintar berputar, seluruh ingatan beberapa tahun lalu muncul lagi.


Awalnya, sejak kecil Solar memang anak yang pintar dan periang. Namun, tiba-tiba suatu hari mereka berenam menemukan Solar sudah pingsan dengan luka cambuk disekujur tubuhnya di tambah kepalanya yang mengeluarkan darah.


Yang Halilintar temukan di meja sebelum membawa Solar ke rumah sakit adalah satu amplop berisi uang dan surat dari kedua orang tua mereka, yang intinya berisi kalau mereka sudah dibuang. Walaupun, Halilintar cukup bersyukur atas amplop berisi uang yang sempat ditinggalkan. Setidaknya, dia bisa membayar biaya rawat Solar saat itu.


Selebihnya, saat Solar terbangun dari pingsannya. Hal pertama yang dilihat oleh saudara-saudaranya adalah tatapan kosong dan wajah datar tanpa ekspresi, keenam saudara pun langsung bertanya pada dokter. Dan, sayangnya dokter berkata bahwa Solar memiliki masalah dengan traumanya.


"Gangguan depersonalisasi-derealisasi" Gumam Gempa, mengingat itu adalah tahun-tahun terberat bagi mereka.


"Kami pulang!" Mendengar dari hebohnya saja Gempa tahu, itu pasti para trio troublemaker.


"Kenapa baru pulang?" Bergidik seram adalah jawaban dari Taufan, Blaze, dan Thorn karena pertanyaan Halilintar.


"Tadi kegiatan klub kami lama, kak Hali" Mereka bertiga menjawab serentak, namun dengan nada cukup pelan.


"Kalian main ke gedung tua untuk melihat kota lagi?"


Taufan, Blaze, dan Thorn hanya tertawa kikuk. Mau sehebat apapun pembohong, mereka yakin pasti Halilintar bisa menebaknya. Ya, walaupun terkadang merasa seperti nyawa kalian bisa hilang kapan saja. Karena, Halilintar sangat menyeramkan saat marah.


"Makanya, sesekali ajak kami ke kota juga kak Hali" Keluh Blaze, masa mereka hanya akan melihat kota dari gedung tua jauh itu?


"Benar, Thorn mau beli banyak jajanan unik di kota!" Dengan semangat, Thorn ikut menambahkan ucapan Blaze.


"Aku bukannya tidak mau, tapi kalian sendiri paham alasanku mengajak kalian pindah kesini karena apa"


"Sudah-sudah, ayo kita bahas ini lagi nanti setelah makan ya" Gempa menengahi, sebelum bibit pertengkaran muncul diantara Halilintar dan trio troublemaker itu.


"Tunggu sebentar, dimana Solar?" Pertanyaan Ice sukses membuat kelimanya membulatkan mata.


"Kenapa kalian tidak pulang bersama Solar?!" Seru Halilintar, untungnya yang lain paham kalau saat ini kakak sulung mereka hanya sedang panik.


"Tadi, kami cari Solar. Tapi, perpustakaan sudah kosong kak Hali. Jadi, kami pikir Solar sudah pulang duluan" Melihat Blaze dan Thorn ketakutan, akhirnya Taufan memberanikan diri untuk menjelaskan kepada Halilintar.


"Kak, aku paham kak Hali khawatir. Tapi, jangan jadikan mereka pelampiasan amarah kakak" Ice menatap Halilintar dengan serius, dia tidak mau pada akhirnya semuanya bertengkar.


"Maaf, aku tidak bermaksud memarahi kalian" Halilintar memijat pelan pelipisnya, setelah memakai jaket.


"Aku sudah telepon sekolah, kata satpamnya Solar ada di ruangan praktek lab dan tidak mau keluar kak Hali" Saat tahu kalau Solar tidak pulang bersama, Gempa langsung dengan sigap menelpon ke sekolah.


"Bagus Gem, ayo kita ke sekolah sekarang!"


Sesampainya di sekolah, satpam yang berjaga langsung menghampiri mereka bertujuh dan menjelaskan situasi Solar. Saat paham akan apa yang terjadi, Halilintar meminta kelima adiknya untuk menunggu di luar. Sementara, dia akan mencoba membujuk Solar.


"Solar, ini aku kak Hali" Halilintar memanggil Solar dengan nada pelan, sambil mengetuk ruangan lab yang dikunci.


"Kak.. Hali..?" Walaupun suaranya sangat pelan, Halilintar tetap bisa mendengar suara sayu Solar.


"Solar, bisa buka pintunya?"


"Tapi, Solar takut kak Hali"


"Gak apa-apa, ada aku disini Solar"


Merasa yakin dengan ucapan kakak sulungnya, Solar mulai membuka kunci pintu lab. Saat pintu sudah terbuka, Solar hanya menunduk dalam diam. Bisa di bilang, dia takut dimarahi oleh Halilintar. Walaupun, tetap saja ekspresi wajahnya sangat datar. Detik berikutnya, Solar hanya merasakan pelukan hangat dari Halilintar.


"Kak Hali?" Solar cukup kebingungan, tumben kakak sulungnya ini memeluknya.

__ADS_1


"Ada kejadian apa tadi di perpustakaan?" Telak, Halilintar meruntuhkan dinding pertahanan terakhir Solar.


"Mereka bilang, Solar manusia tanpa simpati dan lebih baik tidak usah hidup"


"Siapa saja?" Singkat, jelas, dan padat pertanyaan Halilintar.


"Anggota klub voli, kak Hali" Mendengar jawaban Solar, Halilintar hanya menghela nafas perlahan menetralkan amarahnya.


Solar terlihat bingung saat Halilintar berjalan sedikit menjauh darinya, rupanya Halilintar mengajaknya melihat langit dari jendela yang ada di lab. Walaupun, Solar tidak mengerti apa maksud kakaknya mengajaknya melihat langit.


"Solar, bisa kamu jujur dengan bagaimana perasaanmu selama ini?" Sungguh, Halilintar hanya ingin mencari solusi untuk adiknya.


"Tapi, nanti kak Hali dan yang lainnya akan menganggapku aneh. Bahkan, mungkin gila"


"Percaya saja, Solar. Kita ini saudara, kan?" Setelah lama tidak merasakan apapun, tiba-tiba Solar merasa hatinya sedikit menghangat.


"Apa kak Hali pernah hidup tapi, merasa seperti mati?" Pertanyaan Solar sontak membuat Halilintar terkejut.


Hanya keheningan yang mengisi, Halilintar hanya terdiam dan mendengarkan Solar dengan serius. Menanti kalimat selanjutnya yang akan menjadi cerita pembuka dari Solar, baru kali ini pembicaraan mereka sedalam ini. Sejujurnya, sudah lama Halilintar ingin sedekat ini dengan adik-adiknya. Tapi, tanggung jawab menjadi penghalang terbesar.


"Sejak kejadian yang membuatku trauma, aku sering melupakan banyak hal. Bukan hanya itu, aku bahkan sulit membedakan mana yang mimpi dan kenyataan. Aku seperti sedang menatap diriku sendiri secara menyedihkan, merasa asing dengan diri sendiri" Sambil menjelaskan, sesekali Solar memainkan tali sepatunya.


Sekilas Halilintar melirik ke arah Solar, paling tidak dia pikir adiknya itu akan menangis. Ternyata masih sama, adiknya menceritakan semua perasaannya dengan wajah datar seperti bukan apa-apa bagi dirinya. Jauh di dalam hati, Halilintar berharap Solar bisa menangis dan merasakan berbagai macam emosi lagi.


"Ternyata, walaupun kamu yang paling bungsu. Menurutku, kamu juga yang paling dewasa Solar" Mendengar respon Halilintar, sebenarnya Solar agak terkejut.


"Dewasa? Dengan sakit mental seperti ini? Bukannya lebih ke menyedihkan, kak Hali?" Tapi dengan wajah polosnya, Solar menunggu jawaban Halilintar.


"Sakit bukan berarti kamu lemah, kamu hanya butuh bantuan orang lain yang bisa di jadikan sandaran. Buktinya, kamu masih bertahan sejauh ini bukan? Itu tandanya, kamu manusia yang kuat" Halilintar menarik tangan Solar perlahan, karena dia lihat Solar mulai gelisah.


Kalau ditanya kenapa Solar gelisah, itu karena Solar tidak terbiasa dengan campuran emosi seperti ini. Dia menjauhkan bahkan, membentengi dirinya dari segala emosi. Seperti marah, senang, sedih, kecewa. Alasannya hanya satu, karena terlalu takut untuk membuka diri.


"Terima kasih sudah bertahan sejauh ini, Solar" Hanya karena ucapannya, Halilintar berhasil membuka pertahanan Solar.


"Kak Hali, tunggu..." Untuk pertama kalinya, akhirnya Halilintar bisa melihat Solar menangis lagi dan meluapkan kesedihannya.


"Menangis saja Solar, karena orang yang kuat selalu membutuhkan istirahat" Dengan lembut, Halilintar mengelus rambut Solar.


"Kak Hali, aku mau terapi. Aku mau mencoba sembuh, apa kak Hali mau membantuku?" Tanya Solar sambil terisak.


"Bukan hanya kak Hali, kita juga!" Tiba-tiba saja, pintu lab terbuka dan menampilkan kelima saudaranya yang lain.


"Kalian? Semuanya disini?"


"Pastilah, kita kan keluarga! Selamat datang kembali, Solar si bungsu!" Seru kelimanya dengan kompak.


"Tolong bantu aku sembuh, aku akan berusaha" Memang hanya sekilas, tapi Solar tersenyum tipis.


Keberhasilan harus berasal dari kemauan diri sendiri, usaha memang tidak akan mengkhianati hasil. Namun, jika beban dipikul bersama bukankah hasilnya akan terlihat lebih cepat dan baik?


THE END.


...!! ATTENTION !!...


Please, jangan gebuk dan serbu aku dulu 😭


Sebelumnya, aku minta maaf karena menghilang tanpa kabar selama sebulan ini 🙏


Kebetulan tiba-tiba, ada beberapa masalah besar yang terjadi belum lama ini. Ditambah lagi, aku terkena Writer Block. Jadinya, aku memutuskan untuk hiatus dadakan tanpa rencana 😔


Tapi seperti biasa, kalau aku sudah muncul. Berarti semuanya sudah beres dan aku sudah kembali lagi tandanya!! YEAYYYYY 🥳


Ada yang senang gak? Gak ada ya? Maaf ya T_T


Jangan-jangan, banyak yang udah hapus dari favorit dan menolak mendukung cerita ini lagi?! TIDAKKKKKKK 🥲🥲🥲🥲🥲


Ayok tebak-tebakan lagi, kira-kira kali ini aku mengetik berapa kata? 🤔


Maaf ya, kalau bagi kalian banyak yang kurang seru.. Tapi, mohon dukungannya untuk cerita kali ini ❤️ terima kasih~


Oh iya, ayo ikutan juga request ceritanya bagi yang belum.. Bantu aku membuat ide cerita baru, yuk! 😉

__ADS_1


__ADS_2