For You -Oneshoot- (BOBOIBOY)

For You -Oneshoot- (BOBOIBOY)
(No way!) For You


__ADS_3

Tema : Genderbend, Comedy


Request : @Cemerlang_28


πŸ‘ΈπŸ‘ΈπŸ‘ΈπŸ‘ΈπŸ‘ΈπŸ‘ΈπŸ‘ΈπŸ‘ΈπŸ‘ΈπŸ‘ΈπŸ‘ΈπŸ‘ΈπŸ‘ΈπŸ‘ΈπŸ‘ΈπŸ‘ΈπŸ‘ΈπŸ‘Έ


Malam hari, masa dimana seharusnya orang-orang sudah tertidur. Namun sepertinya, hal normal tidak berlaku untuk remaja dengan kacamata jingganya, yang tak lain adalah Solar. Dia masih saja sibuk, menyelesaikan penelitian ramuan anehnya.


"Tinggal sedikit lagi, aku pasti bisa membuat ramuan anti penuaan" Memang benar Solar pintar, tapi usianya masih cukup muda untuk penelitian seberat ini.


Beberapa bahan tambahan diambil Solar, namun kegiatannya terhenti saat mendengar suara kaki yang sedang berjalan menuju ke kamarnya. Ada hawa menyeramkan yang dirasakan oleh Solar, dia pun langsung merapikan beberapa peralatannya dan pura-pura tidur dengan bersembunyi dibalik selimut.


"Solar, kau pasti belum tidur lagi kan?" Mata merah ruby itu terkejut saat tidak menemukan Solar, rupanya adik bungsunya itu sudah tidur.


"Hoam, kak Hali kenapa kesini?" Solar berpura-pura menguap, berharap aktingnya tidak akan ketahuan oleh Halilintar.


"Tidak, kupikir kau masih belum tidur seperti kemarin. Yasudah, tidur lagi saja Solar" Sesudah mengucapkan selamat malam, Halilintar kembali menutup pintu kamar Solar.


'Gawat, aku malah merasa tertarik oleh gaya gravitasi dikasur ini' Batin Solar.


"Mungkin, beristirahat sebentar tidak masalah" Niatnya begitu, namun dimenit selanjutnya Solar sudah terlelap dengan nyenyak.


Matahari mengganti posisi bulan, langit terlihat semakin cerah. Pertanda bahwa, pagi mulai menyelimuti hari. Gempa terbangun dari tidurnya, karena tugasnya adalah memasak. Jadi, dia harus bangun lebih pagi sebelum saudara-saudaranya. Setelah terbangun, Gempa pun pergi menuju ke dapur.


"Apa sesekali aku gantian masak dengan kak Taufan, ya?" Tidak bisa dipungkiri, terkadang Gempa lelah juga memasak setiap hari.


Tapi, mengingat bagaimana cerobohnya kakak keduanya itu membuat Gempa mengurungkan niatnya. Terakhir kali saja, saat Taufan mencoba memasak nasi goreng. Malah, kehebohan yang terjadi. Kenapa? Karena, nasi goreng yang dibuatnya terbakar gosong menjadi warna hitam pekat.


'Benar, aku saja yang masak pokoknya' Batin Gempa.


Beberapa menit kemudian, akhirnya Gempa selesai memasak sarapan pagi. Sekarang, waktunya untuk membangunkan saudara-saudaranya. Sebelum meninggalkan dapur, Gempa biasanya juga menuangkan susu ke gelas masing-masing.


"Dimana ya, seharusnya ada dikulkas" Gumam Gempa, sibuk mencari botol-botol susu dikulkas.


"Kak Gem, sedang mencari apa?" Hampir saja jantung Gempa hilang, rupanya Thorn sudah bangun.


"Astaga, tolong kasih tahu aku dulu kalau sudah bangun Thorn" Gempa mengusap dadanya, sungguh para saudaranya memang sering membuat umur semakin pendek.


"Maaf, selamat pagi kak Gem" Thorn hanya tertawa kecil, kemudian menyapa Gempa dengan semangat.


"Selamat pagi juga, Thorn"


"Jadi, apa yang kak Gem cari dikulkas?"


"Oh, aku ingat! Kemarin, aku minta tolong Solar untuk berbelanja. Jadi Thorn, bisa tolong ambil botol susu yang ada dikamar Solar?"


"Tentu saja, serahkan pada Thorn kak Gem!" Dengan semangat, Thorn berjalan menuju ke kamar Solar.


Begitu membuka pintu kamar Solar, pemandangan pertama yang Thorn lihat adalah warna-warna aneh dari setiap ramuan uji cobanya. Selain itu, kamar Solar juga cukup berantakan. Sehingga, Thorn kesulitan mencari botol-botol susu yang sudah dibeli oleh Solar kemarin.


"Ah, mungkin ada didalam kulkas kecil itu" Thorn berjalan perhalan, agar Solar tidak terbangun dari tidurnya.


Thorn membuka kulkas kecil yang berada didekat lemari Solar, ada tiga botol susu disana. Dengan wajah senang, Thorn pun mengambil botol-botol tersebut. Kemudian, menuju ke dapur tempat Gempa berada dan meminta tolong padanya.


"Ketemu atau tidak, Thorn?" Tanya Gempa memastikan, Thorn menunjukan tiga botol susu yang dibawanya.


"Cuman ini, Thorn?" Seingat Gempa, dia meminta Solar untuk membeli tujuh botol sekaligus.


"Iya, yang Thorn lihat hanya ada tiga botol kak Gem"


"Heum, mungkin Solar lupa. Baiklah, terima kasih bantuannya Thorn"


Sesudah itu, Thorn membantu Gempa membangunkan seluruh saudara mereka dan sarapan bersama. Semuanya terasa begitu normal, sarapan yang enak karena dimasak oleh Gempa. Ditambah lagi, suasana bersahabat dimeja makan. Yang dibuka oleh pertengkaran wajib antara Blaze dan juga Ice, bukankah sangat damai?


"Jangan dekat-dekat denganku, nanti air liurmu masuk ke makananku" Ancam Ice, masih merasa dendam karena semalam pinggangnya ditendang oleh Blaze saat tertidur.


"Hei, nyatanya selama ini yang suka mengoleskan air liurnya sebagai seni dibantal itu siapa?" Sindir Blaze, merasa tidak terima karena disalahkan.


"Berisik, dasar mulut kuda"


"Padahal aku sudah bersabar, tapi masih mau bertengkar ya?"


"Kak Blaze, memangnya aku takut?" Ice menyeringai, sontak saja itu membuat emosi Blaze naik seketika.


"Ayolah, sini! Katanya tidak takut!" Blaze menarik kerah seragam Ice, namun detik berikutnya dia menyesali perbuatannya itu.


"Sepertinya, akhir-akhir ini aku terlalu baik dengan kalian ya?" Pertanyaan sederhana, namun nada tegas dalam pertanyaan Halilintar membuat keenam adiknya meriding.


Mendengar peringatan dari kakak sulungnya, keheningan lagi-lagi mendominasi suasana dimeja makan. Blaze dan Ice masih menyayangi nyawa mereka, jadi keduanya pun memutuskan untuk berdamai secara batin.


Selesai sarapan, mereka bertujuhpun bersiap-siap untuk berangkat kesekolah. Namanya juga pelajar, memang masih kewajiban mereka untuk menimba ilmu. Namun, tiba-tiba mereka bertujuh merasa pusing dan mual. Untungnya, hanya beberapa menit saja. Tidak merasakan hal aneh apapun, Halilintar pun berniat membuka pintu rumah mereka. Ya, sebelum sebuah teriakan salah satu adiknya mengalihkan perhatiannya.

__ADS_1


"Kak Hali!!" Teriak Taufan, sambil menunjuk ke arah Gempa dan juga Thorn.


"Ada apalagi, Taufan?" Halilintar berbalik ke arah belakang, terkejut namun tetap saja berwajah datar.


"Wah, luar biasa ini lebih aneh daripada Solar yang tidur awal" Blaze menatap Gempa dan juga Thorn secara bergantian, otaknya tidak bisa memahami apa yang terjadi.


"Jangan-jangan, kita terkena kutukan?" Lebih parah, sadarkan Ice untuk berhenti membaca cerita fantasi.


"Ada yang aneh, sepertinya tidak asing untukku" Solar memutar memori diotaknya, mencoba mencari jawaban.


Kalian juga pasti penasaran dengan apa yang terjadi, intinya saat ini Gempa dan Thorn kehilangan identitas mereka sebagai laki-laki. Karena, mereka tiba-tiba berubah menjadi perempuan. Beberapa detik kemudian, kelimanya juga berubah menjadi perempuan tanpa alasan yang jelas. Benar, seperti sihir begitu saja.


"Apa aku bilang, jelas-jelas kita kena kutukan" Dibandingkan kaget, sepertinya Ice masih mempertahankan logika anehnya itu.


"Gawat, gimana bisa aku berubah menjadi sosok perempuan?!" Kembar namun berbeda, roh Nlaze seakan keluar dari dirinya karena enggan menerima kenyataan.


"Bukannya, seharusnya Thorn yang lebih kaget karena berubah duluan ya?" Buktinya, Thorn saja hanya diam seakan tidak terjadi apa-apa.


"Bahaya, ini terlalu berbahaya!" Setelah melihat pantulan dirinya dicermin, Taufan terlihat panik.


"Kenapa? Ada apa, kak Taufan?" Gempa yang khawatirpun menanyakan keadaan Taufan.


"Bagaimana bisa, aku secantik ini saat menjadi perempuan" Ya, rupanya Taufan hanya mengagumi dirinya sendiri.


Keenam saudaranya hanya terdiam melihat kelakuan Taufan, marah pun akan percuma sepertinya. Bisa dibilang, mereka lelah menanggapinya. Ingin sekali mereka terheran dengan kelakuan Taufan, tapi memang segila itulah Taufan. Jadi, percuma saja kan?


"Oh, sepertinya aku ingat sesuatu!" Solar bersuara, merekapun mengalihkan pandangan menuju Solar.


"Apa kamu menemukan sesuatu, Solar?" Tanya Halilintar, mungkin saja adiknya ini bisa membantu mereka terbebas dari situasi ini.


"Apa ada yang menyentuh kulkas kecil dikamarku?" Mendengar pertanyaan Solar, lantas Thorn langsung mengangkat tangan.


"Thorn, karena disuruh oleh kak Gem tadi pagi"


"Aku tidak menyuruh, Thorn. Itu namanya, aku minta tolong" Masih sempat, Gempa menasihati Thorn.


"Minta tolong untuk apa, kak Gem?"


"Kalau kamu ingat, kemarin siang aku memintamu untuk membeli tujuh botol susu Solar"


"Aku lupa, maaf kak Gem"


"Lupa? Jadi, yang kita minum tadi pagi itu apa?"


"Wah, bisa gila aku" Blaze menggulung lengan jaketnya, bersiap mengajak ribut adik bungsunya.


Namun, sebelum perkelahian terjadi Halilintar menahan Blaze. Jalan keluar tidak akan terpecahkan hanya karena perkelahian, karena itu Halilintar menarik adik-adiknya untuk tetap bersekolah. Sambil mencari cara, agar mereka bisa kembali lagi seperti sebelumnya.


"Aku tidak mau kesekolah dengan penampilan seperti ini, kak Hali" Komplain Blaze, siapa yang mau kesekolah dengan penampilan perempuan?


"Akan ku bilang, kalau kita kena kutukan dari nenek sihir" Masih dengan semangat yang sama, Ice dan ide anehnya.


"Jangan libatkan aku dalam pembicaraan anehmu itu, Ice!"


"Ceh, tidak seru mulut kuda" Ice berjalan mendahului Blaze.


"Hei, bicara yang sopan pada kakakmu tidak bisa?!"


"Rasanya gak nyaman, menjadi pusat perhatian selama berangkat kesekolah" Gempa daritadi sibuk menutupi wajahnya dengan buku pelajaran.


"Sabar ya, Gem. Derita kita memang menjadi laki-laki terlihat tampan, menjadi perempuan terlihat cantik" Ini lagi, Taufan dan kepercayaan dirinya.


"Wah, rambut Thorn panjang jadinya bisa dikepang" Bisa-bisanya, Thorn bahagia hanya dengan hal sepele seperti itu.


"Akhirnya, ini tandanya ramuanku berhasil kan. Aku harus cepat-cepat mendaftarkan diri untuk jurusan kuliah, gelar profesor aku datang!" Bukannya memikirkan cara mengembalikan mereka, Solar malah kegirangan sendiri.


'Gusti, biarkanlah hamba tenang. Mengapa adik-adik hamba berbeda dan rata-rata tidak waras?' Batin Halilintar.


Begitu sampai disekolah, mereka bertujuh langsung menjadi pusat perhatian. Sejujurnya, mereka memang terlihat cantik. Walaupun, berubah menjadi perempuan. Itulah yang namanya, keturunan wajah good looking tidak akan pernah bisa berbohong. Namun, mereka dicegat oleh guru pembimbing didepan gerbang sekolah.


"Apa-apaan ini, perempuan kok malah pakai seragam laki-laki?" Penggaris panjang yang dipegang sang guru, mampu membuat bulu kuduk merinding.


"Maaf bu, tapi seragam kami belum kering" Halilintar mencoba membuat alasan, namun sepertinya kali ini dia akan gagal.


"Banyak alasan, sudah sering ibu mendengar yang seperti kalian. Sudah, pakai seragam cadangan ini!" Mau tidak mau, mereka bertujuhpun mengambil seragam cadangan yang diberikan sang guru.


Sekolah mereka memang termasuk sekolah yang ketat peraturan, maklum namanya juga sekolah favorit. Jadi, memang pada dasarnya saja sudah susah untuk masuk kesekolah ini. Karena, sistem pembelajaran dan peraturannya yang ketat.


"Aku tahu sih, kita harus sabar jika diberikan cobaan. Tapi, bukannya ini berlebihan?" Kalau tidak ingat umur, seorang Gempa pun juga bisa menangis.


"Argh, kenapa harus ganti pakai rok sih?!" Tadinya memang sudah kesal, Blaze pun semakin kesal.

__ADS_1


"Dingin, aku bisa masuk angin kalau begini" Ice melirik ke arah kakinya, bagaimana bisa para perempuan tahan memakai rok?


"Sudah cantik, badanku juga langsing dan bagus" Tolonglah, apa kepribadian narsis Solar berpindah ke Taufan sekarang?


"Aku mual, aku tidak akan melihat cermin lagi seharian ini" Senang sih ramuannya berhasil, tapi Solar juga laki-laki tulen.


"Kalau pakai rok, bagaimana cara jalannya?" Tanya Thorn dengan polosnya.


"Memangnya, kamu berjalan pakai rok atau pakai kaki Thorn?" Pusing sudah Halilintar dengan kebodohan adik-adiknya, apa bisa dia balik ke kandungan ibunya?


Bel istirahat berbunyi, waktunya para murid untuk makan ataupun sekedar mengobrol satu sama lain. Berbeda dengan yang lainnya, Halilintar memilih untuk pergi ke kantin. Ngomong-ngomong, hari ini untungnya wali kelasnya tidak masuk. Jadi, dia dan adik-adiknya bisa absen sebagai diri mereka masing-masing.


'Walaupun, kami terus diberikan deretan pertanyaan oleh teman-teman sekelas' Batin Halilintar.


"Tunggu sebentar!" Mendengar ada yang menahannya, Halilintar berbalik melihat ke arah belakang.


"Namaku Fang, boleh kenalan?" Fang mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman.


"Hah? Untuk apa aku berkenalan dengan landak ungu seperti kau, Fang?"


"Landak ungu? Aku?" Entahlah, Fang cukup sedih mendengar kenyataan kejam seperti itu.


"Apa sih? Otakmu tertabrak mobil ya tadi pagi?" Sarkas Halilintar.


"Padahal, aku hanya ingin berkenalan dengan gadis cantik sepertimu, tapi ternyata ucapanmu kejam juga. Persis, seperti temanku Halilintar"


"AKU MEMANG HALILINTAR, BODOH!"


"Jangan bercanda, mana mungkin laki-laki bisa berubah menjadi perempuan dalam sehari?" Fang tertawa, ternyata gadis dihadapannya memiliki selera humor yang unik.


"Fang, mau ku colok kedua matamu dan ku hancurkan semua gigimu sekarang untuk membuktikan?" Mata merah ruby Halilintar menyala, tanda bahwa dia sedang marah besar.


'Hawa seram ini, mungkinkah beneran Halilintar?!?!' Batin Fang.


"Percaya, aku percaya Hali!" Baru saja, Halilintar berniat benar-benar akan menghabisi Fang hari ini.


Akhirnya, rencana Halilintar yang ingin pergi kekantin pun terpaksa batal. Karena, Fang yang terus mengikutinya seperti semut. Jadi, Halilintar pun memutuskan untuk menceritakan detailnya kepada Fang di atap sekolah.


"Begitu, jadi kalian meminum ramuan buatan Solar?" Fang mencoba menahan tawanya, tapi sungguh cerita Halilintar terdengar lucu bagi Fang.


"Jangan coba-coba tertawa, Fang"


"Lalu, bagaimana kalau kalian tidak bisa kembali seperti sebelumnya?"


"Tidak tau, mungkin menerima nasib sebagai seorang perempuan selamanya?" Halilintar pun ragu.


"Tapi, menurutku kau cantik kok Hali"


Angin berhembus pelan, membuat suasana terasa aneh. Halilintar melihat ke arah Fang yang sedang tersenyum tulus padanya, ada yang aneh pada dirinya. Kenapa dia merasa seperti berdebar-debar?


"Argh" Halilintar menahan rasa nyeri pada jantungnya.


Oh bukan, ternyata Halilintar berdebar karena rasa nyeri tiba-tiba pada jantungnya. Melihat Halilintar seperti itu, Fang pun panik. Baru saja Fang mencoba untuk memanggil petugas uks ke bawah, tiba-tiba Halilintar berteriak dengan senang. Rupanya, dia sudah kembali lagi menjadi laki-laki.


"Akhirnya, ku pikir benar-benar akan jadi perempuan selamanya" Baru kali ini, Halilintar merasa sangat bersyukur akan dirinya sendiri.


"Ceh, tidak seru. Padahal, ingin ku kerjai lagi beberapa kali" Hilang sudah kesenangannya untuk menjahili teman pemarahnya itu, Fang hanya menatap malas ke arah Halilintar.


"Aku tahu dari tadi kau hanya berniat membuatku marah, Fang" Halilintar tersenyum kesal, menggulung lengan seragamnya.


Ya, intinya Fang berhasil dihajar oleh Halilintar. Kemudian, Fang memberikan celananya untuk dipakai Halilintar sementara dia terpaksa harus memakai rok yang sebelumnya dipakai oleh Halilintar. Jangan tanyakan, sesusah apa usaha mereka untuk ke toilet tanpa ketahuan. Untungnya, Halilintar dengan baik hati membawakan celana olahraga pinjamannya untuk Fang yang hanya bisa terdiam di toilet.


Sama dengan Halilintar, keenam adiknya pun sudah kembali seperti semula. Walaupun Taufan, Blaze, dan juga Thorn harus menanggung malu. Karena, kembali disaat yang tidak tepat ketika sedang jajan dikantin. Sedangkan Gempa, Ice, dan Solar sedang mengurung diri di toilet karena tidak sanggup berjalan memakai rok.


'Awas saja, begitu sampai dirumah akan kuhajar kau Solar' Batin keenamnya.


"Kok tiba-tiba, aku merasa merinding ya?" Gumam Solar, mungkinkah toilet yang ditempatinya sekarang berhantu?


THE END.


Ayok tebak-tebakan lagi, kira-kira kali ini aku mengetik berapa kata? πŸ€”


Bagi yang belum tahu, cerita ini up dari hari senin-jumat dan libur di hari sabtu minggu ya~


Mohon maaf, jika ada kesalahan kata ataupun adegan yang bagi para pembaca kurang pantas πŸ™πŸ˜₯


Karena, ini pertama kalinya aku membuat cerita genderbend. Jadi, aku sangat tidak berpengalaman πŸ₯²πŸ™


Hayoooo, ada yang salah paham dengan adegan Halilintar dan Fang gak nih? 🀣🀭


Maaf ya, kalau bagi kalian banyak yang kurang seru.. Tapi, mohon dukungannya untuk cerita kali ini ❀️ terima kasih~

__ADS_1


Oh iya, ayo ikutan juga request ceritanya bagi yang belum.. Bantu aku membuat ide cerita baru, yuk! πŸ˜‰


__ADS_2