
sherena, amar, Gilang dan juga Dion saat ini tengah tersenyum licik menyusun rencana dengan sangat matang tak ada orang lain didalam ruangan itu. entah rencana seperti apa uang tengah mereka siapkan akan tetapi rencananya sangatlah sulit ditebak setelah puas membuat rencana mereka pergi meninggalkan markas...
" kak simpan suntikan ini di ruangan bawah tanah, jangan ada yang tahu akan hal ini" ujar sherena masih d Ngan seringai nya.
kedua kakak nya mengangguk saja
setelah dirasa kakaknya pergi Dion pun bertanya " memangnya apa fungsi suntikan itu nak" ujarnya Dion serius
sherena kembali menatap ayahnya " jika sampai harum suntik itu menusuk targetnya maka bisa dipastikan target itu akan meninggal dalam waktu 1minggu. racunnya tidak dapat dideteksi oleh dokter ataupun alat secanggih apapun itu. secara perlahan otak manusia akan rusak, jantung dan hatinya akan membusuk dalam waktu itu juga. " ujar sherena menjelaskan. Dion menganga tidak percaya tapi iya sedikit bernafas lega karna tadi sherena melihat orang itu jadi ia tak kehilangan nyawa putranya
" lantas bagaimana kau tahu? lalu apa obatnya!" tanya Dion masih belum faham
" karna aku pernah melihat seseorang Dimasa lalu ayah yang dapat membuatnya dan juga hanya ia yang mampu membuat penawar nya " ujar sherena
Dion memijit pelipisnya pusing orang dimasa lalu " orang dimasa lalu siapa dia?" tanya nya penasaran. ia takut jika terjadi sesuatu pada keluarganya
sherena memejamkan mata mengingat nya " entah ayah aku tidak mengingat seseorang itu . intinya saat aku berusia 9 tahun mereka menculik ku. apa ayah masih ingat itu" tanya nya
Dion mengangguk " lalu apa yang kau lihat nak ?" tanya lagi
" aku saat itu tidak lah tertidur saat mereka menyuntikkan obat bius padaku aku hanya berpura pura saja yah. disana aku mengingat jalan menuju markas mereka. aku bahkan mendengar semuanya. aku tahu cara membuat obat mematikan itu dan aku mampu membuat penawar nya juga." ujarnya mengingat segalanya
" lantas mengapa kau tidak mengingat wajahnya"
" mereka mencuci otak ku ayah aku tak bisa mengingat lagi wajah nya. namun ada seorang gadis yang mungkin dulu dekat kak Gilang ia adalah kunci dari pria itu" ujarnya membuka mata
__ADS_1
Dion kembali dibuat pusing oleh jawaban anaknya itu " lantas kenapa mereka tidak mencarimu kembali nak ataupun gadis yang kau maksud ?" tanya nya kembali
sherena disana tersenyum licik " karna disaat aku dan gadis itu berhasil kabur aku sengaja membuat kecelakaan. aku sudah menyiapkan nya dengan matang bahkan aku membuat privasi tentang jati diriku dan jati dirinya. tapi aku sudah tidak tahu lagi kemana gadis itu berada" ujar nya kembali
Dion kembali menganga ia tak tahu seberapa cerdas otak gadis ini. diusia sembilan tahun ia sudah dapat membuat privasi yang tak dapat seorang pun membobolnya luar biasa memang. dan apa tadi ia masih mengingat hal hal yang sudah terjadi beberapa tahun lalu membuat diirinya semakin tak percaya.
" ayo pah ayo by kita pulang" ujar Gilang dan amar bersamaan dan diangguki keduanyakeduanya lalu berlalu pergi meninggalkan markas itu lalu lalu lalu keempat orang itu pergi meninggalkan markas dan menaiki mobil mereka masing-masing membutuhkan waktu lama untuk mereka sampai dimension besar milik.
di lain tempat eduh sosok gadis yang tengah duduk bersandar di kursi taman sambil bernyanyi entah apa yang ia nyanyikan tapi terlihat jelas wajah cantiknya itu memancarkan kesedihan. lalu tiba tiba ada sosok wanita yang menghampiri nya
" Arana kamu kenapa " ujar agga sahabat Arana
Arana tersenyum kepada sahabatnya itu " entahlah ga aku tidak tahu mengapa aku tiba tiba merasa sedih" ujar Arana
agga menghela nafas "memang apa penyebabnya" tanya nya
agga disana pun menatap Arana "kita kan sahabat Rana " ujar agga
" kalo Arana kagak mau cerita sama agga gimana" tanya nya mencolek pipi agga dengan gemas
" Rana mah gitu gak ngeselin" ujarnya memanyunkan bibirnya
Arana hanya menanggapi dengan senyum kecilnya " agga suka ya sama Zero ?" tanya Arana dejgan iseng nya
agga menatap Arana dengan alis yang terangkat " idih sotoy amat dah Rana " ujarnya
__ADS_1
" idih Rana kan beneran. orang Rana ajah tau kok surrat agga ke zero kayak apa"
ah wajah agga saat ini sangat malu karna sahabatnya itu tahu
" Arana agga kok ada disiini " ujar seorang pria kepada dua gadis berparas cantik
Arana menatap tak suka pria itu " emang nya kenapa inikan umum" ujar nya mendelik
sosok pria itu terkekeh " yaampun RAN julid amat sih bikin gemes deh. pengen tak pacarin " ujar pada Arana
Arana menatap agga yang memasang wajah kecewa nya " apaan sih Rana itu gak mau pacaran. lagian yah udah ada seseorang yang ngisi hati rana. jadi zero gak lagi d h gangguin Rana " ujarnya tak suka dan menarik tangan gadis yang tengah kecewa
pria itu menatap punggung gadis itu dengan helaan nafas " kamu emang beda ran tapi kamu jangan harap bisa hidup bahagia dengan orang itu. jika aku gak bisa dapetin kamu maka jangan harap orang lain bisa dapetin kamu." ujarnya dengan senyuman
Arana lalu berhenti dan menatap dalam manik indah agga " agga maafin Aran ya " ujarnya menggenggam tangan gadis itu
agga menatap juga manik indah Arana disana ia dapat dilihat sebuah ketulusan " ini bukan salah Aran kok tapi salah agga yang mencintai orang itu" ujarnya membalas genggaman lembut Arana
" cinta agga gak salah kok. agga harus yakin kalo jodoh itu gak kemana " ujarnya lembut
" makasih Aran udah mau jadi sahabat terbaik agga " ujarnya sambil memeluk tubuh arana erat
" agga Aran gak bisa nafas nih" ujar Arana kepada agga. agga seketika melepaskan pelukannya dan terkekeh menatap sahabatnya.
kedua gadis itu memang terkenal dengan keceriaan nya.
__ADS_1
lalu kedua gadis itu memilih untuk jalan jalan mengitari taman dengan menggunakan sepeda dan sesekali bercanda ria.
zero masih belum beranjak dari taman itu. ia malahan mengikuti kedua gadis itu sesekali ia memotret gadis berhijab dengan tawa cantiknya. membuat zero semakin tergila-gila akan Arana