
hari berganti hari kini sherena terlihat semakin tidak memiliki ekspresi. bahkan ia sekarang lebih dekat dengan Safia bukan tanpa alasan ia hanya ingin memposisikan antara seorang bunda dan anaknya. ia selalu mendidik Safia untuk berani dan jangan takut. pagi hari yang cerah dengan sinar sang Surya yang selalu menyinari setiap keliling bumi.
sama dengan kedua gadis cantik yang saat ini tengah duduk didalam kelas mereka. gadis berhijab yang selalu menatap lurus kedepan dengan wajah cantiknya yang beberapa hari ini tak pernah terlihat tersenyum barang tipis pun sekarang tak pernah. ia hanya mendengarkan musik melalui earphone yang terpasang ditelinga nya tanpa memperdulikan orang orang disekitarnya yang sedang bercanda ria.
" dik kamu ini kenapa sih" tanya zerin dengan tak suka nya. sherena hanya menatap wajah sang kakak sebentar dan menggeleng. " ish ngeselin,dasar beruang kutub Utara" ujarnya dengan mencebik.sherena hanya diam hingga suara sang dosen yang menyapa kelas mereka
" selamat pagi anak anak" ujar sang dosen dengan dinginnya.
" selamat pagi pak" ucap semua orang dalam kelas tersebut. namun tidak dengan sherena yang hanya diam tanpa ekspresi. ia tak suka dosen ini kata kata itu mesih melekat pada jiwanya, sedangkan pandangan sang dosen yang tak teralihkan pada sherena hanya dapat menghela nafas kasar.
dua jam sudah berlalu begitu pun dengan pelajaran yang dosen berikan yang sesekali mencuri pandang pada sherena yang hanya fokus pada materi yang ia berikan dan hanya cuek saja walau pun ia tahu.
seusai pelajaran telah selesai kedua gadis cantik ini hanya berjalan keluar kelas dan menuju kantin.
setelah sampai ke kantin keduanya tidak memesan makanan hanya saja mereka membawa bekal buatan sang ibunda tercinta.
" Hem" suara zerin yang sedang menghirup wangi masakan sang mama.
kedua nya hanya makan dengan santai. namun kembali lagi lilak in the geng datang.
brak..
suara keras yang berasal dari bekal yang sherena makan terjatuh dan berserakan dilantai.
"UPS sengaja " ucap lilak dengan nada mengejek
sherena diam menatap wajah lilak dengan sangat tajam
" ITS oke Lo gak mampu ya beli makanan menjijikkan ini lagi. mau gue belikan Hem!" tanya nya dengan nada meremehkan..
sherena berdiri " ini bukan tentang harga, namun ini adalah masakan ibu gue. bahkan buat beli tubuh kotor Lo yang selama ini Lo jual pun gue mampu" ujar sherena dinginnya dan mengeluarkan 3 black card dalam sakunya. itu yang selalu ia bawa meskipun masih ada lagi.
__ADS_1
lilak terkejut dengan mata yang membola
" kau bagaimana tidak tidak" ujarnya disan dengan panic
sherena membungkuk kan badan nya lalu berbisik " sekali lagi kau mengusik ku maka semua kebusukan mu akan terkuak bahkan kau adaalh anak tiri dari tuan jeckson bukan" ucapnya dengan nada yang sangat mengerikan.
lilak menelan Saliva nya dan berlalu pergi dengan wajah pucat. zerin menatap heran kewajah adik nya " apa yang kau bisikkan? kenapa dia langsung pergi dan juga takut?" tanya zerin dengan wajah yang sangat kepo
sherena kembali duduk " tidak ada" ucapnya dengan datar
" his menyebalkan" ujar zerin dengan delikan
setelah selesai makan kedua gadis itu kembali kedalam kelas mereka.
*****
Dilain tempat ada sosok pria tampan dengan wajah pucat nya terbaring dengan banyak nya alat medis yang terpasang pada tubuh nya.
" dek sampai kapan kamu seperti ini " tanya deza dengan nada lirih. ia hanya mampu mengucap lewat kaca saja.
" kak apa kah Arga sudah sadar?" tanya Rasya dengan datang tiba tiba
deza menggeleng nanar " belum" ucapnya dengan senyum lirih
Rasya dan Reza diam dengan hati yang sakit saat memandang pria yang selama ini menjadi sahabat terbaik mereka " Arga ayo buka mata lo, lo pasti gak seneng kan Lia kita natap Lo sambil nangis gini kan hiks" ucap Reza dengan air mata tak tertahan nya
" kak sebenarnya apa yang terjadi sama Arga kak" tanya Reza menatap deza
deza menghela nafas panjang dan duduk pada kursi tunggu dan diikuti oleh kedua sahabat adiknya ini dan menceritakan semuanya. Reza mengepalkan tangannya dengan tak suka tapi ia tak dapat berbuat apa-apa.
" kak jika nanti Arga sadar biarkan Arga tinggal sama kita aja ya kak" ucap Reza dengan mata merahnya
__ADS_1
deza mengangguk itu akan lebih baik untuk penyembuhan adiknya. ketiga pria tampan itu kini mulai bercanda ria walau dengan hati yang sakit.
' sampai kapan kamu akan tetap terbaring seperti ini dek, sedangkan kamu belum mampu memperjuangkan cinta kamu' gumam deza dalam hati
Reza dan Rasya hanya dapat menghela nafas dibuat nya. mereka bahkan tidak tahu mengapa sahabat nya ini kenapa dijuluki sebagai anak yang tak diharapkan. semua orang tidak tahu akan hidup Arga yang begitu rumit ia selalu bersikap seolah olah ia sangat disayangi oleh orang tua nya meskipun itu sebuah kebohongan.
" apakah gadis itu sangat baik hingga meluluhkan hati seorang Arga" tanya deza dengan kekehan
Reza dan Rasya saling menatap " darimana kakak tahu?" tanya Rasya dengan heran
deza hanya memandang pria dihadapannya dan terkekeh " jelas aku tahu, aku kan kakaknya" ujarnya sambil mengusap kepala nya sendiri sakit
Reza menatap deza dengan mata merahnya " tapi apa kakak tahu rasa sakit yang Arga alami Hem" tanya nya dengan sangat datar
Rasya menatap Reza dengan ringisan " za" ucapnya dengan lirih sambil menatap deza yang memasang wajah sakit
Reza menatap tajam Rasya " tapi itu kenyataan ketika ia mengaku sebagai kakak tapi ia hanya tau akan kebahagiaan yang dirasakan adiknya tanpa tahu akan rasa sakit yang ia lewati dan ia alami. bukan tidak sopan , tapi saya selalu mendengar akan rasa sakit yang adik anda alami" ujarnya dengan tangan terkepal
Rasya menghela nafas " za tapi ini bukan kesalahan kak deza" ujarnya dengan tak enak
deza menatap sendu wajah Reza " kamu benar saya gagal menjadi kakak dan saya gagal menjadi penguat. saya sadar dan saya tahu seharusnya yang menjadi Sandaran AIK saya yaitu saya yang notabe nya kakaknya tapi ia malah bersandar pada orang lain " ujarnya dengan rasa bersalah
" ketika orang lain Nyang tahu keluh kesah adik saya, tapi saya yang kakaknya bahkan tak tahu kehidupan nya " ujarnya dengan frustasi
Reza mengangguk " kamu benar kamu gagal menjadi seorang kakak saat ini, tapi kamu tak boleh gagal menjadi kakak untuk Arga kedepannya " ucapnya dan langsung memilih pergi karna rasa sakit dan kecewa
Rasya menatap Reza dengan kaget ia tak pernah mengenal sosok Reza yang seperti ini " maafin Reza yah kak" ujar Rasya tak enak
deza mengangguk " bukan salah dia tapi memang ini kesalahan saya. jangan salah kan dia karena perkataan dia memang benar adanya" ujarnya dengan senyuman
Rasya mengangguk dan memeluk deza " yaudah Rasya pergi dulu yah kak. kakak jangan lupa makan" ucapnya dan berlalu pergi
__ADS_1
deza diam ia merasakan hangat ketika pelukan tulus dari Rasya. seolah itu adalah pelukan dari Arga