
Setelah pertengkaran di lapangan, Axel dan Alena dipanggil ke ruang guru untuk dimintai keterangan dan dipastikan akan mendapatkan hukuman atas keributan yang mereka ciptakan.
Alena merasa sedikit gugup dan khawatir tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi Axel tentu saja tidak.
Axel terlihat cuek dan memasang wajah menyebalkan di mata Alena.
Mereka berdua sebenarnya tahu, bahwa mereka berdua bersalah atas pertengkaran itu dan akan menerima hukuman yang pantas dari pihak guru BK.
Sesampainya di ruang guru, ternyata mereka disambut oleh kepala sekolah dan beberapa guru lainnya. Jadi bukan hanya guru BK saja.
Kepala sekolah menjelaskan bahwa tindakan mereka di tadi tidak dapat diterima dan bahwa mereka harus bertanggung jawab atas perbuatan mereka.
"Kalian harus tahu bahwa apa yang kalian lakukan sangat tidak pantas dan tidak dapat diterima di sekolah ini," kata kepala sekolah dengan suara tegas.
Axel dan Alena hanya diam tanpa bisa membela diri dan juga tidak bisa mengatakan apa-apa. Mereka hanya bisa menundukkan kepala dan menunggu hukuman yang akan diberikan untuk mereka.
"Axel. Sebagai kakak kelas, dan kamu adalah siswa populer dengan prestasi, seharusnya bisa menghindari pertengkaran. Apalagi ini dengan seorang gadis. Atau, jangan-jangan kamu menyukainya?"
Axel mengerutkan keningnya mendengar perkataan yang diucapkan oleh kepala sekolah, yang seperti mengetahui isi hatinya. Begitu juga dengan Alena yang sedikit terkejut, tapi keduanya sama-sama membuang muka tidak mengakui kebenaran dari candaan kepala sekolah.
"Baiklah. Kalian berdua akan mendapatkan hukuman yang pantas atas perbuatan kalian. Kalian akan dikeluarkan dari sekolah selama satu minggu dan akan menulis surat permohonan maaf kepada semua murid dan guru di sekolah ini," lanjut kepala sekolah.
Axel dan Alena merasa sedikit lega karena hukuman mereka tidak terlalu berat, tetapi mereka merasa sedih karena harus keluar dari sekolah selama seminggu atau mendapat skorsing. Mereka berdua tahu bahwa mereka harus bertanggung jawab atas perbuatan mereka dan menerima hukuman mereka.
Tapi mereka akhirnya protes, karena tidak terima dengan hukuman tersebut.
"Mohon maaf, Bapak. Kami tahu bahwa kami bersalah atas perbuatan kami dan akan menerima hukuman kami dengan hormat. Tapi, please pak. Jangan skorsing, soalnya minggu depan pada tanding basket." Axel mencoba membuat alasan dengan wajah menyesal dan penuh harap.
Alena mengangguk dan menambahkan, "Kami berdua meminta maaf atas kekacauan yang kami sebabkan. Kami akan memperbaiki kesalahan kami dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi."
__ADS_1
Kepala sekolah dan guru lainnya saling pandang kemudian masing-masing berbisik-bisik pada kepala sekolah, mencoba memberikan pendapat agar memberikan hukuman yang lain untuk mereka berdua.
Setelah berunding sebentar, akhirnya kepala sekolah kembali berkata untuk memberikan keputusan hukuman mereka berdua.
"Baiklah, kalian berdua bisa keluar sekarang, kemudian berjalan menuju ke arah gudang sekolah dan tolong bersihkan gudang itu sampai bersih."
Axel dan Alena mengangguk dan keluar dari ruang guru. Mereka berdua merasa sedikit lega karena hukuman mereka tidak terlalu berat, tetapi mereka tahu bahwa mereka harus menerima hukuman mereka ini dengan cara yang tidak seharusnya.
Setelah keluar dari ruang guru, Axel dan Alena duduk di bangku di luar ruang guru. Mereka merasa sedih karena harus membersihkan gudang, sedangkan Alena tidak tahu dimana letak gudang sekolah berada.
"Maafkan aku, kak Axel. Aku tahu bahwa aku salah dan seharusnya tidak memulai pertengkaran tadi." Alena meminta maaf dengan wajah menunduk.
Axel mengangguk dan menambahkan, "Tidak apa-apa. Gue juga bersalah karena tidak bisa mengendalikan emosi hanya karena loe, cewek. Harusnya gue gak ladenin, tadi."
Alena tersenyum dan merasa lega, tapi dia juga tidak mau memperlihatkannya di depan Axel. Jadi, dia bangkit berdiri kemudian berjalan menuju ke arah gudang. Padahal sebenarnya Alena tidak tahu, di mana letak gudang sekolah berada.
"Woiii! Ke arah sana!"
"Ck, apa sih otak gue!"
***
Axel dan Alena akhirnya di hukum untuk membersihkan gudang sekolah. Dan Alena merasa kesal karena semua ini gara-gara Axel yang menjadi penyebab pertengkaran mereka tadi sehingga dihukum oleh kepala sekolah bersama dengan guru lainnya.
Saat memasuki gudang, mereka berdua terbatuk-batuk karena mencium bau yang khas dari barang-barang yang telah lama disimpan.
"Ugh, uhuk uhuk!"
"Ihsss... ehemm, uhuk!"
__ADS_1
Beberapa barang terlihat berserakan dan tidak rapi sehingga sulit untuk mengetahui apa yang ada di dalamnya. Ada banyak jenis barang yang disimpan di dalam gudang ini, mulai dari peralatan olahraga yang telah rusak hingga peralatan panggung yang tidak digunakan lagi.
Barang-barang tersebut terlihat kusam dan kotor karena tidak ada yang membersihkannya secara teratur.
Dinding dan lantai gudang kotor dan banyak terdapat noda dan bekas air hujan. Di luar, terdapat semak-semak atau rumput liar yang tumbuh di sekitar gudang. Udara di dalam gudang juga terasa lembab dan pengap.
Sekarang waktunya mereka berdua untuk menjalankan tugas atas hukuman yang mereka dapatkan. Ini adalah bentuk hukuman untuk konsekuensi dari perilaku mereka yang tidak mencerminkan sebagai orang yang terpelajar.
Alena yang masih kesal terlihat enggan untuk berbicara dengan Axel, sementara Axel mencoba untuk memulai percakapan.
"Maafkan gue, ya. Gue tahu gue salah telah membuat kita berdua jadi dihukum."
Alena mendengus dingin mendengar permintaan maaf dari Axel. "Kau tidak bisa hanya meminta maaf dan berpikir semuanya akan baik-baik saja, kak Axel. Kita sekarang harus membersihkan gudang ini karena ulah mu, jadi cepet bersihkan!"
Axel mengelengkan kepalanya beberapa kali. "Gue tahu, dan gue bersedia membantu membersihkan ini bersama-sama. Tapi, gue gak bisa bersih-bersih."
Mendengar pengakuan Axel, Alena mendelik tajam. Dia tidak habis pikir dengan Axel yang kadangkala garang, menyebalkan dan dingin. Tapi kadang-kadang juga memprihatinkan seperti ini.
Tapi tunggu...
"Jangan sok deh! Ini hanya akal-akalan kakak, supaya tidak usah ikut membersihkan dan hanya aku yang bersihkan sendirian saja kan?" tebak Alena dengan negatif thinking.
"Hahhh... buat apa gue boong, gak guna!"
"Tidak ada yang harus dibicarakan lagi. Kita hanya harus fokus pada membersihkan gudang ini dan menyelesaikan hukuman kita."
Alena tidak mau mendengar alasan apapun yang diberikan oleh Axel. Dia kembali bekerja dan membiarkan Axel berbuat sesukanya.
"Ck, ini gimana sih?" Axel kesal saat tidak bisa membuka jendela saat ingin membersihkan kacanya, supaya debunya bisa keluar.
__ADS_1
Alena melirik sekilas, kemudian mengalihkan perhatiannya lagi dan mencoba untuk tidak peduli dengan apapun yang akan dilakukan oleh Axel sekarang. Dia hanya ingin fokus agar cepat selesai dengan hukuman ini.