
"Emang loe siapa?" tanya Axel sambil melompat tinggi dan memasukkan bola dengan mudahnya.
Priiittt....
Wasit meniup peluit dengan keras, yang menandakan bahwa babak penentuan itu sudah berakhir. Axel melihat ke arah papan skor, dan melihat skor tim-nya lebih banyak dari skor tim lawan.
Alex dan tim-nya bersorak merayakan kemenangan mereka, dan mereka pun menjadi juara satu dari pertandingan basket kali ini.
Sorak sorai penonton mrmbahaha, mengelu-elukan nama William dan tim-nya yang lain.
"Axel!"
"Kak Axel, love you..."
"Kak Axel, mau..."
"Eh, gue juga menang lho! Gak cuma Axel aja!" teriak Varro.
"Huuuuu..."
Teriak cewek-cewek yang sedang mencari perhatian dari Axel dengan mengelu-elukan namanya. Tapi Axel tidak peduli, dan langsung cabut dari lapangan setelah penyerahan tropi dan hadiah kemenangan.
"Kak, ambil ini dong!"
Tiba-tiba ada seorang cewek yang menghadang Axel dengan menyodorkan segelas air minum Boba yang tampak menyegarkan.
"Thanks," ucap Axel menerima gelas Boba yang tampak nikmat saat di minum.
Cewek tersebut tersenyum manis dan merasa bahagia, karena usahanya berhasil. Tapi sayangnya rasa bahagia itu hanya sesaat, sebab Axel segera menyerahkan botol minuman Boba tersebut pada Kai.
"Nih!"
Kai tentu saja sangat senang. "Thanks, Xel!"
Sedangkan cewek tadi tampak cemberut karena pemberiannya diberikan pada orang lain, dan bukan dinikmati Axel sendiri.
"Kenapa? Loe ngasih ke gue, kan? Jadi, minuman itu udah jadi mili gue. Serah gue juga, mau gue minum, buang atau kasih ke orang lain. Udah jadi milik gue ini, jadi suka-suka gue juga!"
Cewek tersebut menunduk untuk menyembunyikan kekecewaannya, kekesalan dan juga rasa malunya. Sedangkan Kai dan yang lainnya hanya menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Lain kali kalau mau kasih sesuatu, mending ke kita-kita langsung. Lie gak bakalan sakit ati. Hahaha..."
Kai tertawa terbahak-bahak melihat bagaimana cewek tersebut menangis sambil berlari. Sedangkan Axel sendiri sudah tidak berada di tempatnya, karena sudah pergi entah kemana.
Tapi salah satu pemain lawan ternyata sangat kesal dan berjalan mendekati Kai yang masih berada di tempatnya bersama dengan, Varro dan Evan. Dia langsung memukul wajah Kai, hingga darah keluar dari sudut bibirnya.
Bug
"Woyy! Apa-apaan lu?!" teriak Evan kaget saat melihat Kai dipukul tanpa tahu apa-apa.
"Kalau udah kalah, ya kalah aja! Gak usah sok keras loe! Huuuuuu... " teriak para penonton yang masih ada di tempat mereka dan menyaksikan pemukulan tersebut.
Beberapa panitia turun tangan dan berusaha menghentikan aksi pemain lawan yang semakin menjadi untuk memukul Kai dan teman-temannya.
Varro dan Evan segera membalas pukulan untuk membalaskan perbuatan mereka pada Kai. Akhirnya, mereka pun berkelahi di tengah lapangan basket sehingga Kai cepat mencari ponselnya untuk menghubungi Axel.
Tak lama kemudian pihak panitia dan satpam mulai berdatangan dan melerai mereka semua. Suasana di tengah lapangan menjadi lebih panas dan ramai.
"Woii, tim medis! Bawa korban ke klinik! Dia harus segera diobati," pinta salah satu panitia.
Beberapa petugas tim medis langsung menjalankan tugasnya dan membawa Kai ke klinik untuk diobati. Sedangkan keadaan di lapangan sudah lebih baik, dan perkelahian mereka sudah berhasil dihentikan.
Axel kaget melihat banyak orang berdatangan dari lapangan, sedangkan dirinya sendiri baru datang dari kamar ganti dan mendapatkan telepon dari Kai, yang tidak sempat diangkat. Dia sedang ada di kamar mandi, sedangkan ponselnya ada di tas yang berada di dalam almari ganti.
"Itu Xel, tim lawan memukul Kai, tadi!"
Axel terkejut mendengar jawaban yang diberikan oleh Evan, yang diangguki juga oleh kedua temannya yang lain.
"Di mana Kai?" tanya Axel, sebut dia tidak melihat keberadaan Kai.
"Di bawa ke klinik!"
Axel mengeratkan rahangnya menahan rasa marah,tapi dia tidak mungkin melampiaskannya di lapangan ini. Dia sendiri yakin, jika tim lawan tidak akan berpikir bahwa semuanya selesai sampai di sini mereka pasti akan membuat perhitungan di luar sana.
"Mau ke mana, Xel?" tanya Varro melihat Axel pergi begitu saja.
"Liat Kai."
"Ikut woiii!"
__ADS_1
"Anjir,gue ikutlah! Ngapain gue di sini?!"
Varro berteriak protes karena di tinggal pergi dan hanya ada dia bersama dengan Evan. Ada juga yang lain, yang menjadi satu timnya tadi. Tapi tentu saja dia tidak mau ketinggalan untuk bisa ikut melihat keadaan Kai setelah aksi pemukulan tadi.
Panitia sendiri menyelesaikan permasalahan ini dengan bijaksana, yaitu memberikan ultimatum pada sekolah yang tadi menjadi lawan SMA Higs Shool dan melakukan pemukulan.
Di klinik, Kai merasakan perih di area wajahnya yg terkena pukulan.
"Kami obatin dulu ya. Mungkin sedikit perih, tapi harus ditahan ya," ucap salah satu tim medis yang sedang mengobati Kai.
"Gak usah. Saya bisa berobat sendiri," jawab Kai takut.
Sebenarnya, Kai pobia obat merah atau Bethanie. Dia tidak suka mendapatkan perawatan obat-obatan untuk luka ringan. Apalagi jika terus mendapatkan perban. Dia seakan-akan melihat adegan pembuatan mumi, jadi dia memang tidak suka diobati dengan cara seperti itu. Jika mendapatkan luka dianya akan membersihkannya dengan air hangat atau dingin, kemudian mendiamkan dan membiarkannya saja.
"Tapi, ini udah jadi tugas kami."
"Saya bisa ngobatin diri saya sendiri. Kalian kerjakan yang lainnya saja!" ucap Kai tetap menggelengkan kepalanya beberapa kali, karena tidak mau diobati oleh tim medis.
Karena takut dengan sikap dan tindakan Kai, tim akhirnya menyerah. Mereka mau membuat tekanan untuk pasien atau korban.
"Kalian apain, Kai?" tanya Axel cepat, saat melihat tim medis keluar, sedangkan Kai terdengar misuh-misuh di dalam sana.
"Tidak kami apa-apain. Tapi dia gak mau diobatin, katanya dia bisa berobat sendiri," jawab salah satu dari mereka..
"Ya udah. Kalian kerjakan tugas yang lainnya saja!" Axel segera memberi jalan pada tim medis, sementara dia sendiri segera masuk ke ruangan Kai berada.
Sementara itu di dalam klinik, ternyata Kai. kebingungan untuk memilih obat yg cocok dengan lukanya.
Tak lama kemudian, Axel datang dan langsung masuk ke ruangan klinik dengan wajahnya yang khawatir dengan keadaan temannya. Dia tahu jika Kau pobia obat merah atau Bethanie.
Wajah Axel langsung berubah cerah, begitu melihat Kai yang masih duduk di tepian tempat tidur pasien.
Axel langsung duduk di tepi ranjang, di samping Kai dan mengamati wajah Alex yang lebam dengan sudut bibirnya uang tadi sobek akibat pukulan lawan.
"Loe kemana aja dari tadi? Kok baru kesini? Gue gak bisa berobat sendiri tau," ucap Kai kesal, karena dia yang menghubungi Axel tapi tidak diangkat oleh temannya ini.
"Katanya bisa berobat sendiri," jawab Axel mencibir kesombongan Kai.
"Gue cuma gak mau diobatin sama mereka, apalagi dengan obat merah atau Bethanie. No! Gue maunya diobatin dengan salep atau cairan apa gitu aja," ucap Kai dengan wajah masam.
__ADS_1
"Kenapa, sih? Kan sama-sama obat juga."
"Tapi gue gak suka!"