Gairah Ketua Geng Motor

Gairah Ketua Geng Motor
Kasian?


__ADS_3

"Sudahlah, Axel. Biarkan saja. Aku tidak ingin berbicara tentang itu sekarang."


Dalam situasi seperti ini, Axel mencoba untuk meminta maaf dan memperbaiki hubungan dengan Alena, tetapi Alena masih kesal dan enggan untuk berbicara tentang masalah tersebut. Keduanya kemudian memilih untuk fokus pada membersihkan gudang dan menyelesaikan hukuman mereka tanpa membicarakan masalah mereka.


Alena tidak mau menerima permintaan maaf dari Axel, tapi dia juga kasihan pada Axel karena ada beberapa luka di tubuh Axel akibat jatuh dari motor tadi pagi. Apalagi Alena yakin jika Axel tidak pernah melakukan pekerjaan bersih-bersih seperti ini sebelumnya. Tapi Alena tidak mau terlihat peduli dan tetap cuek saja tanpa banyak bicara atau bertanya.


Beberapa saat diam, Axel kembali mengajak Alena bicara. Dia tidak mau membisu dan diam saja tanpa bisa melakukan apa-apa. Jadi dia berharap agar Alena bisa membantunya.


"Alena. Maafkan gue, Alena. Gue tahu gue salah telah membuat kita berdua dihukum."


Alena yang masih kesal tentu saja menjawab dengan sinis. "Kau tidak bisa hanya meminta maaf dan berpikir semuanya akan baik-baik saja, kak Axel. Kita sekarang harus membersihkan gudang ini karena ulah mu."


Axel melengos. "Gue tahu, dan gue bersedia membantu membersihkan ini bersama-sama. Tapi, apakah loe baik-baik aja? Loe terlihat kesal begitu, dan jika ada hantu di sini, dia suka dengan cewek yang marah dan ngambek kayak loe gini."


"Huhh... Tidak ada yang harus dibicarakan lagi. Kita hanya harus fokus pada membersihkan gudang ini dan menyelesaikan hukuman kita. Aku gak takut dengan hantu!"


Axel terdiam. Sepertinya triknya kali ini salah. Alena bukan cewek penakut dan tidak bisa dikibuli begitu saja.


"Tapi, gue tidak ingin ada ketegangan antara kita. Kita bisa bicarakan apa saja yang terjadi dan mencoba menyelesaikan masalah kita, kan?" tanya Axel mencoba untuk meminta perhatikan Alena.


Alena membuang nafas kasar. "Hahhh! Sudahlah, kak Axel. Biarkan saja. Aku tidak ingin berbicara tentang itu sekarang."


Axel kemudian mulai membersihkan bagian gudang yang kotor dan berdebu. Dia terlihat sedikit kesulitan karena beberapa luka di tubuhnya. Alena yang melihat itu, mulai merasa kasihan dan ingin membantu.


"A-pakah kakak butuh bantuan, kak Axel?" tanyanya dengan terbata-bata.


"Tidak perlu, Alena. Gue bisa melakukan ini sendiri." Axel tidak mau terlihat lemah di depan Alena yang dingin padanya.


"Ta-pi, tapi kamu terlihat sakit, kak. Apa ada yang sakit, atau apa terjadi padamu?" tanya Alena lagi. Dia lupa jika tadi pagi Axel jatuh dari motornya.


"Loe pikun ya? kasian amat masih piyik udah pikun. Gue jatuh dari motor tadi pagi, kan?Tapi, itu tidak masalah. Gue bisa menyelesaikan pekerjaan ini sendiri!"

__ADS_1


"Apakah kamu yakin, kak? Aku bisa membantumu jika kamu mau." Alena mulai melunak.


"Tidak perlu! Gue akan mencobanya sendiri. Udah sono jangan ganggu!"


Namun, Alena tetap memperhatikan Axel dari jauh. Dia melihat Axel menggosok-gosok luka di kakinya dan Alena merasa tidak tega melihatnya seperti itu. Dia akhirnya memutuskan untuk mendekati Axel.


"Baiklah, aku akan membantumu."


Alena merebut tongkat pel lantai yang dipegang Axel. Dia memaksa untuk membantunya, meskipun Axel tidak mau.


"Tidak perlu! Gue udah bilang gue bisa melakukannya sendiri." Axel tampak kesal.


Alena mengelengkan kepalanya beberapa kali. Dia tidak mau menerima penolakan. "Tapi kamu terlihat kesakitan, kak. Aku tidak bisa melihatmu seperti itu."


Axel terdiam sejenak mendengar perkataan Alena yang terdengar seperti orang yang peduli dengannya. "Terima kasih, Alena. Gue benar-benar menghargainya," bisiknya pelan, yang diperkirakan tidak akan terdengar oleh Alena sendiri.


Mereka berdua kemudian bekerja sama membersihkan gudang. Alena membantu membersihkan bagian lantai dan Axel membersihkan dinding dan rak-rak yang ada di gudang. Meskipun mereka masih canggung dan tidak saling berbicara terlalu banyak, tetapi setidaknya mereka bisa bekerja bersama-sama tanpa ada perdebatan atau pertengkaran.


"Sepertinya dia lelah dan butuh minum."


Axel melihat Alena yang mengusap keringatnya berkali-kali. Mereka memang tidak mendapatkan minuman atau makanan yang disediakan untuk para pekerja yang biasanya diundang pihak sekolah untuk membersihkan area sekolah atau gudang.


Ini adalah sebuah hukuman, jadi mereka berdua harus melakukannya dengan benar dan tidak berharap apapun meskipun hanya sekedar minuman.


"Gue cari minum dulu ya! Loe hati-hati sendirian di sini."


Axel pamit dan langsung pergi tanpa menunggu jawaban Alena. Dia ingin pergi ke kantin sekolah untuk membeli minuman dan makanan yang Alena. Tapi Axel tidak memberitahu tujuannya, sehingga Alena salah paham dan berteriak kesal.


"Hai kak, jangan kabur dari tangung jawab!"


Beberapa menit kemudian.

__ADS_1


"Haah... lelah sekali..." gerutu Alena sambil mengelap keringat di dahinya dengan lengan kirinya. Sementara tangan kanannya, sedang memegang sapu.


Sudah sepuluh menit berlalu sejak Axel pergi entah kemana, dan Alena membersihkan gedung kecil yang terletak di bagian paling belakang sekolah ini.


Gedung ini adalah gudang yang sering dipakai untuk menyimpan berbagai macam peralatan-peralatan sekolah yang rusak atau tidak digunakan lagi.


Karena letaknya yang sangat jauh dari gedung sekolah utama, membuat tempat ini menjadi sangat sepi. Bahkan beredar rumor bahwa di tempat ini sering terjadi penampakan makhluk tak kasat mata, sama seperti yang dikatakan oleh Axel tadi.


Dalam rumor tersebut, jika ada seorang murid perempuan yang sendirian masuk ke gudang, maka akan muncul hantu potongan tubuh tangan yang akan menepuk punggung murid tersebut.


Sebagai seorang gadis yang berpikir kritis dan logis, tentu saja Alena tidak mempercayainya. Alena lebih memilih untuk berkonsentrasi pada hukuman yang di terima ini, apalagi Axel pergi dan belum datang lagi.


Walau sudah tiga puluh menit sejak datang bersama dengan Axel tadi, tapi Alena tak kunjung juga menyelesaikan tugasnya. Banyaknya barang rongsok di gudang membuatnya sedikit kesulitan dalam membersihkannya.


Saat Alena berhenti sejenak untuk mengambil nafas panjang, tiba-tiba punggung Alena ada yang menepuknya.


Puk


Deg!


Jantung Alena serasa ingin melompat dari dadanya.


'Tidak mungkin... Ini tidak mungkin...'


'Hantu itu tidak ada, hantu itu tidak ada...'


Alena terus merapalkan kalimat tersebut berkali-kali sembari memberanikan diri untuk menoleh ke belakang.


Keringat dingin mulai bercucuran di punggung Alena.


Ketika Alena melihat ke belakang, akhirnya ia melihat sosok yang menepuk punggungnya.

__ADS_1


"Hai Alena..."


__ADS_2