
Axel ingin mengadakan acara kumpul-kumpul bersama teman-temannya pada malam Minggu. Dia berencana untuk mengajak Varro, dan Evan, karena Kai sedang terluka dan butuh istirahat, sedangkan dia sudah lama tidak berbicara dengan Darren.
Axel sudah menghubungi Varro dan Evan untuk meminta mereka datang ke acara tersebut. Namun sayangnya, Varro tidak bisa hadir karena ada acara keluarga yang harus ia hadiri. Meskipun demikian, Axel tetap bertekad untuk melanjutkan rencananya dan mengundang Evan.
"Ada apaan sih, Xel?" tanya Evan pada Axel yang ngotot mengajaknya bertemu.
"Gak apa-apa. Lama kita gak kumpul, kan?" Axel justru bertanya balik.
Dalam hal ini, Axel memperlihatkan sifat kepemimpinan yang kuat. Dia tidak merasa kecewa karena satu temannya tidak bisa hadir dan tetap mencari solusi untuk melanjutkan rencananya. Selain itu, dia juga menunjukkan kemampuan untuk beradaptasi dengan situasi yang ada dan tetap mempertahankan tujuan utama acara kumpul-kumpul bersama teman-temannya.
Tapi ternyata, Kai tahu dan segera menghubungi Axel untuk ikut.
..."Woiii! Gue ikutan, lah!"...
..."Luka loe gimana?"...
..."Ah, cuma luka kecil ini. Lagian ya, si Iris pergi juga. Gak ada yang bisa gue kerjain!"...
..."Oh iya, si Varro kan kembaran gebetan loe. Hahaha... pastinya dia ikutan pergi juga."...
..."Iya makanya, gabut gue!"...
"Ya, udah. Siap-siap aja, entar malam ya!"
..."Ok!"...
__ADS_1
Klik
Dengan pertemuan yang santai malam Minggu nanti, Axel berusaha untuk bisa mendapatkan informasi mengenai Darren yang sudah menjauh darinya beberapa waktu terakhir ini.
***
Kafe tongkrongan anak muda yang asyik, tempat yang dijadikan Axel sebagai tempat janji temu dengan teman-temannya ini cukup populer di kalangan remaja dan orang muda.
Kafe ini biasanya digunakan untuk berkumpul, bersosialisasi, dan menikmati waktu luang anak-anak muda seperti dirinya. Kafe yang memiliki atmosfer santai dan modern, dengan desain yang trendi dan nyaman tentunya.
Selain itu, kafe ini memiliki desain yang kreatif dan unik. Ada dinding yang dihiasi mural, pencahayaan yang menarik, dan furnitur yang modern. Ruangan cukup luas dengan meja-meja kayu dan sofa yang nyaman untuk duduk dan bersantai.
Ada musik yang mengalun di kafe ini, dengan jenis musik yang biasanya modern dan upbeat. Ada juga panggung kecil di pojok kafe untuk pertunjukan live musik atau DJ set pada malam-malam tertentu. Kafe juga dilengkapi dengan permainan seperti dart, meja biliar, atau mesin arcade untuk hiburan tambahan, dan itu terpisah tak jauh dari meja kursi pengunjung.
Selain suasana yang mendukung, kafe ini menawarkan beragam menu makanan dan minuman. Para pengunjung memiliki pilihan makanan ringan seperti finger food, burger gourmet, atau hidangan khas kafe. Minuman seperti kopi, teh, smoothie, dan minuman non-alkohol lainnya juga tersedia dalam variasi yang beragam.
Suasana yang ramah saat menyambut para pelanggan, menciptakan lingkungan yang nyaman dan tidak kaku. Ini menjadi tempat di mana orang muda dapat bertemu dengan teman-teman, mengobrol, dan mengembangkan hubungan sosial, dengan d yang Instagrammable. Kafe ini menyadari pentingnya media sosial dalam kehidupan anak muda, sehingga mereka menghadirkan dekorasi yang Instagrammable. Ada beberapa sudut-sudut foto yang menarik, wall art yang indah, atau hiasan lainnya yang menarik untuk dipotret dan dibagikan di media sosial.
Kafe pilihan Axel ini adalah tempat di mana orang-orang seperti dirinya dapat merasa nyaman, berbagi pengalaman, dan menikmati waktu bersama. Atmosfernya yang santai, desain yang menarik, dan hiburan yang disediakan membuatnya menjadi tempat favorit bagi para remaja dan orang muda untuk menghabiskan waktu mereka.
Dan yang tak kalah penting adalah, Axel masih berusaha mencari tahu tentang alasan Darren yang ingin memperkosa Alena waktu itu, karena sampai saat ini dia sendiri belum menemukan keberadaan Alena yang menghilang setelah kejadian hari itu.
"Gue masih penasaran, apa yang menyebabkan Darren memiliki pikiran untuk mencelakai Alena?" tanya Axel bergumam, saat menunggu kedatangan Evan dan Kai.
Axel mencari tahu tentang Darren yang broken home dari Evan dan Kai. Dia berpikir bahwa kedua temannya itu mungkin saja tahu beberapa masalah Darren akhir-akhir ini.
__ADS_1
Evan dan Kai adalah teman-temannya yang cukup dekat dengan Darren, sebab Axel sendiri tidak tahu banyak tentang latar belakang dan kehidupan pribadi dari temannya yang memiliki mata empat, alias memakai kacamata. Darren terlihat sebagai orang yang misterius dan sulit untuk terbuka kepada orang lain.
Setelah Evan dan Kai datang, Axel pura-pura bertanya, "hei, kenapa kalian tidak ada Darren sekalian?"
"Mana mau dia? Gue gak ngajak sih, hehehe..." Evan cengengesan setelah menjawab pertanyaan dari Axel.
Kai sendiri hanya angkat bahu, sebab dia memang tidak berkeinginan untuk mengajak ataupun mengetahui tentang orang lain, sejarah urusan privasi, meskipun itu adalah teman-temannya sendiri.
"Gue penasaran tentang Darren. Kenapa dia begitu misterius? Apa kalian tahu lebih banyak tentang latar belakangnya, selain perpisahan kedua orang tuanya?" tanya Axel penasaran.
"Gue gak punya banyak informasi, sejujurnya. Darren tidak pernah terbuka tentang kehidupan pribadinya. Gue cuma tau bahwa kedua orang tuanya pisah karena mamanya pergi bersama laki-laki lain." Evan menjawab sesuai yang dia ketahui sama seperti yang kebanyakan orang tahu.
"Ya, gue juga gak tau banyak. Darren tidak pernah membicarakan keluarganya atau mengungkapkan masalah apa pun. Dia terlihat seperti seseorang yang menjaga rahasia dengan baik." Kai menyahut.
"Tapi, gue dengar cerita tentang kasus Darren dengan beberapa gadis. Apakah itu benar?" tanya Axel lagi.
Evan menganggukan kepalanya. "Ya, gue pernah dengar juga. Tapi sejauh yang gue tau, cerita-cerita itu tidak pernah dikonfirmasi secara langsung oleh Darren. Kita tidak boleh langsung percaya pada desas-desus ajalah," ujar Evan tidak peduli.
"Tepat. Jangan sampai kita membuat kesimpulan tanpa memiliki informasi yang jelas. Darren bisa memiliki alasan sendiri mengapa dia tidak membicarakannya."
Axel mengangguk mengerti. "Gue ngerti. Tapi gue rasa ada sesuatu yang disembunyikannya, sih."
"Gue setuju. Tapi kita harus memberinya ruang untuk merasa nyaman berbicara tentang dirinya sendiri."
Tak lama kemudian, seorang pelayan kafe datang ke meja tempat Axel dan kedua temannya berada. Pelayan kafe tersebut tentu saja datang untuk mencatat pesanan mereka. Tapi kedatangannya justru membuat kedua belah pihak merasa terkejut.
__ADS_1
"Alena?!"
"Kak... Axel, kak Evan, kak Kai? Kalian..."