
"Kak, sini saja."
Alena meminta pada Axel untuk berhenti di depan pagar rumah. Dia tidak mau jika Axel sampai harus mengantarnya masuk ke dalam, sebab dia akan segera pergi setelah Axel juga pergi dari rumah ini
Sayangnya Axel tidak peduli. Dia justru memarkirkan motornya di depan pagar rumah dan menurunkan Alena. Dia juga membantu melepaskan helm Alena, dan bermaksud untuk membopongnya dia masuk ke dalam rumah ini.
Perhatian kecil Axel, berhasil membuat hati Alena berdebar.
‘Jangan terbawa suasana Alena, karena itu akan membuatmu menyesal.’ Alena berucap dalam hati, untuk memperingatkan dirinya sendiri atas situasi sekarang ini.
"Kak," panggil Alena dengan mengeleng.
Axel yang siap untuk mengantarkan Alena hingga ke depan pintu kamarnya, mengerutkan keningnya heran. “Kalo ada apa-apa panggil gue, jangan nyusahin orang!”
Alena terburu-buru menganggukkan kepalanya, berharap supaya Axel segera pergi dari hadapannya.
“Makasih, kak Axel." Alena mengucapkan terima kasih.
“Jangan baper loe! Gue bantu loe atas dasar kemanusiaan bukan perasaan.”
Sungguh, kata-kata Axel begitu menyakitkan hati Alena. Padahal, sebenarnya Alena sudah memperingatkan dirinya sendiri. Tapi di saat mendengar perkataan Axel barusan, hatinya terasa seperti ada yang mencubit. Sakit!
Alena berusaha untuk tidak menangis. Dia sadar dia hanya mainan Axel yang tidak sepantasnya mengharapkan perhatian Axel untuknya.
Breummm breummm...
Ngenggg...
Axel pergi tanpa pamit, meninggalkan alena yang masih berdiri di depan pintu gerbang rumah besar Bos ibunya. Itu karena Alena memang tidak ingin axel menungguinya masuk, sebab Alena sendiri memang tidak akan pernah masuk ke rumah ini lagi.
Sekarang, Alena berjalan dengan terseok-seok mencari ojek atau taksi yang kebetulan lewat. Dan untungnya, tak lama berjalan, Alena mendapatkan pegang ojek yang kebetulan melewatinya.
"Pak, ojek!"
"Ke kampung sebelah sana ya, pak!"
Tukang ojek mengangguk, kemudian Alena naik ke atas jok motor dengan hati-hati.
"Pak, hati-hati ya. Jangan ngebut, soalnya kepala saya sangat pusing." Alena berpesan pada tukang ojek.
"Iya, neng."
__ADS_1
Tak lama kemudian, sekitar 10 menit, Alena tiba di rumah kontrakannya. Setelah membayar ongkos ojek, Alena mencari kunci rumah yang biasanya di simpan ibunya di bawah keset yang ada di depan pintu.
Clek ceklek clek
Kreitt...
Alena masuk ke dalam rumah, kemudian kembali menutup dan menguncinya dari dalam. Setelah itu, dia pergi ke kamarnya sendiri, berganti pakaian kemudian beristirahat.
"Huhfff... Jika keadaan seperti ini terus, lebih baik aku berhenti sekolah dan mencari pekerjaan supaya bisa membantu ibu. Keadaan cepat sekali berubah."
Mengingat semua yang sudah terjadi beberapa waktu yang lalu, tentang ibunya, Bos ibunya dan juga masalahnya dengan Axel, membuat Alena semakin merasakan kepalanya menjadi lebih pusing. Dia segera mencari obat yang tadi diberikan oleh dokter, supaya bisa segera beristirahat setelah meminumnya.
"Iya. Lebih baik aku memang pindah sekolah yang lebih murah, agar tidak berat untuk administrasi dan aku juga bisa bekerja untuk mencari biaya sendiri."
Tak lama kemudian, Alena sudah tertidur akibat efek samping dari obat yang baru saja diminumnya. Dia ingin melupakan segala masalahnya, meskipun hanya sejenak saja.
***
Malam harinya Alena terbangun karena pintu diketuk-ketuk dari luar.
Tok tok tok
"Alena! Buka pintunya, sayang."
Clek ceklek clek
kreitt...
"Alena, kamu tidur?" tanya ibunya, memperhatikan bagaimana keadaan anaknya.
"Iya, bu. Lena pusing dan tadi juga pulang lebih awal," jawan Alena membuat alasan.
Dia tidak mau jika ibunya merasa khawatir dan juga cemas jika dia menceritakan kejadian yang sebenarnya.
Beberapa jam kemudian.
Sekarang tenggorokan Alena terasa kering. Dia berjalan menuju dapur, tapi tak lama kemudian kening Alena mengernyit melihat televisi yang masih menyala di malam yang sudah larut seperti ini.
Alena berjalan mendekat dan mematikan televisi tersebut lalu matanya menatap ibunya yang tertidur di depan televisi. Alena tidak tega melihat keadaan ibunya yang tampak sangat lelah. Dia bermaksud untuk membangunkan ibunya, tapi takut justru mengganggu suasana tidur ibunya. Jadi dia hanya mengambil selimut kemudian menyelimuti tubuh ibunya.
"Maaf, Bu. Maaf aku sudah membuat ibu lebih susah karena istri bos yang tidak nyaman dengan keberadaan Alena."
__ADS_1
Alena mengelus pelan punggung tangan ibunya, takut jika ibunya terganggu kemudian terbangun dari tidurnya.
Alena ingin segera kembali ke kamarnya setelah mengambil minum. Dia mengusap air matanya beberapa kali, karena air mata tersebut jatuh tanpa dia inginkan.
"Alena," panggil ibunya, yang ternyata terjaga dari tidurnya.
"Ibu. Apa ini terbangun karena Alena?" tanya Alena dengan takut-takut.
"Tidak. Ibu terbangun karena bermaksud untuk pergi ke kamar, tapi ternyata ini ada selimut. Pasti kamu, dan ibu mendengar langkah kakimu dari arah dapur."
Alena tersenyum tipis mendengar jawaban yang diberikan oleh ibunya. Dia merasa lega karena ibunya tidak mengetahui permasalahan yang sedang dihadapinya dengan Axel.
Pagi harinya Alena sudah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Dia berencana untuk mengatakan keinginannya pada kepala sekolah, jika dia ingin pindah sekolah.
'Aku harus nekad. Jika tidak, aku juga tidak bisa lepas dari jeratan kak Axel.'
Di sekolah.
"Alena! Alena!"
Iris memanggil Alena, yang berjalan menuju ke arah kantor guru dan kepala sekolah.
“Mau kemana, loe?” tanya Iris saat sudah ada di depannya Alena.
“Aku mau pergi ke kantor kepala sekolah."
"Ngapain?" tanya Iris heran.
Alena tidak langsung menjawab pertanyaan dari Iris. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan sebagai jawabnya. Dia baru menjadi siswa di sekolah SMA Higs Shool selama beberapa bulan yang lalu, tapi permasalahannya sudah sangat banyak. Dia ingin menyerah, kemudian memulai kehidupan dengan yang baru, lepas dari jeratan Axel dan juga biaya sekolah yang menurutnya mencekik perekonomiannya yang tidak lagi disubsidi oleh mantan bos ibunya.
"A-ku, aku hanya ingin bicara sesuatu dengan kepala sekolah saja, Ris." Akhirnya Alena menjawab pertanyaan Iris, meskipun dengan gugup dan terbata-bata.
Kening Iris mengeryit heran mendengar jawaban yang diberikan oleh Alena. Dia merasa jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh Alena, dan dia tidak boleh tahu.
"Loe gak boong, kan? Loe gak sembunyiin sesuatu dari gue, kan? Loe harus ngomong jika ada masalah, Alena. Jangan diam aja!"
Mendengar pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan oleh Iris barusan, membuat Alena terkekeh kecil. "Hehehe... kamu kayak emak-emak rempong deh, Ris. Bawel dan sok peduli atau mau tahu? Hehehe..."
"Ihsss... gue tanya Alena, dan itu karena gue peduli. Mau apa sih ke ruangan kepala sekolah?" tanya Iris lagi, dengan nada memaksa.
***
__ADS_1
Kira-kira Alena ngasih tahu gak, ya?