
Setelah Axel mengumpulkan informasi yang cukup, ia menghadap Darren untuk menanyakan alasan di balik tindakan tersebut. Axel menyampaikan kekesalannya dan meminta Darren untuk memberikan penjelasan tentang mengapa ia memberikan obat p3rangsang pada Alena.
Darren mengaku bahwa ia memang memberikan obat tersebut pada Alena, tetapi ia menyatakan bahwa Alena meminta obat tersebut dan bahkan menawarkan uang sebagai imbalannya. Darren menyatakan bahwa Alena sendiri yang menginginkan hubungan seksual dengan Axel dan Darren hanya membantu untuk memastikan bahwa Alena benar-benar bersedia.
Darren merasa terpojok dan tidak tahu harus berbuat apa. Ia merasa bersalah dan ingin memperbaiki kesalahannya, tetapi ia tidak tahu harus mulai dari mana.
"Gue minta maaf, Axel. Gue tau gue telah membuat kesalahan besar. Gue gak tahu harus berbuat apa untuk memperbaikinya," ujar Darren dengan nada rendah.
Axel merasa bahwa Darren memang benar-benar menyesal atas kesalahannya, tetapi ia masih tidak bisa menerima tindakan Darren. Dia juga tidak percaya, jika Alena sendiri yang menginginkan hal itu terjadi.
"Gue gak tahu apa yang harus gue katakan pada loe, Darren. Gue bener-bener kecewa sama loe, haahhh..." ujar Axel dengan suara pelan, setelahnya dia menghela nafas panjang.
Darren hanya bisa diam dan menunduk. Ia merasa sangat bersalah dan menyesal atas tindakannya. Ia berharap Axel bisa memaafkannya dan membantunya memperbaiki kesalahannya.
Setelah beberapa waktu, Darren akhirnya merasa tidak tahan lagi dengan situasi ini. Dia merasa bersalah dengan apa yang telah dilakukannya pada Alena, dan dia tahu bahwa Axel pasti sangat marah padanya.
"Gue tau loe marah karena apa yang terjadi dengan Alena. Dan sejujurnya, gue juga ngerasa bersalah dengan itu. Gue seharusnya tidak melakukan itu pada dia," kata Darren dengan suara rendah.
Axel mengangguk, tetapi masih terlihat marah. "Gue gak bisa maafin loe dengan mudah, Darren. Loe udah ngerusak hidup seorang gadis hanya untuk kepuasan loe sendiri," kata Axel dengan nada tajam.
__ADS_1
Darren merasa sangat menyesal. Dia tahu bahwa dia telah membuat kesalahan besar dengan melakukan apa yang dia lakukan pada Alena. "Gue tahu gue salah, Axel. Dan gue bersedia untuk bertanggung jawab atas apa yang telah gue lakuin. Tapi gue pengen loe tau bahwa gue gak ada maksud buat ngerusak hidup Alena. Gue hanya tidak bisa menahan diri saat dia terus memintaku untuk mencari obat p3rangsang biar bisa berhubungan dengan loe. Dia malu jika tidak dengan cara seperti itu," jelas Darren.
Axel terlihat sangat marah. Dia tidak percaya dengan apa yang diucapkan Darren. Dia tidak percaya jika Alena melakukan semua itu demi bisa mendapatkan dirinya.
"Ck, itu gak jadi alasan untuk ngelakuin apa yang loe lakukin sama a dia. Loe tau betul bahwa dia tidak mau berhubungan sama loe, jika loe gak memberinya obat p3rangsang," kata Axel tegas.
Darren mengangguk, menunjukkan penyesalannya. "Gue tahu gue salah. Tapi gue berharap loe bisa maafin gue dan kami bisa berdamai," ucap Darren dengan suara lembut.
Axel menghela nafas. Dia tahu bahwa dia juga harus bertanggung jawab atas sikapnya terhadap Darren.
"Baiklah. Gue maafin loe, Darren. Tapi gue juga harus ngakui bahwa gue gak akan biarin loe berbuat seenaknya lagi!"
Darren tersenyum lega. "Thanks, Axel. Gue bener-bener nyesal dengan apa yang telah terjadi, dan gue berharap kita bisa seperti biasanya," ucap Darren.
Axel tidak yakin apakah Darren berbohong atau tidak, tetapi ia merasa bahwa Alena tidak akan melakukan hal tersebut. Axel memutuskan untuk mencari tahu langsung dari Alena tentang apa yang sebenarnya terjadi. Ia ingin menemui Alena dan meminta maaf atas tindakan yang telah dilakukannya. Axel juga ingin meminta Alena untuk memberikan penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi dan apakah ia benar-benar meminta obat p3rangsang dari Darren.
***
"Apa bener itu, keterangan yang diberikan oleh Darren?" tanya Axel, yang berhasil mengajak Alena keluar untuk bicara.
__ADS_1
Alena sangat terpukul oleh tindakan yang telah dilakukan oleh Axel dan Darren. Namun, ia merasa bahwa ia harus memberikan penjelasan kepada Axel tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"T-idak. Itu tidak benar."
"A-ku, ini bukan seperti itu, kak Axel."
Alena gugup. Dia tidak bisa berbicara dengan lancar untuk memberikan penjelasan pada Axel mengenai kejadian yang sebenarnya.
Sekarang, Alena mengaku bahwa ia memang bertemu dengan Darren siang itu, tapi Darren yang menawarkan minuman kaleng padanya. Namun, ia tidak pernah meminta obat tersebut atau menawarkan uang sebagai imbalannya. Alena juga menjelaskan bahwa ia tidak merencanakan untuk melakukan hubungan seksual dengan Axel maupun dengan Darren. Dia hanya menginginkan pertemanan dengan Axel maupun Darren.
Setelah mendengarkan penjelasan dari Alena, Axel merasa sangat menyesal. Ia merasa bahwa ia telah mempercayai Darren terlalu banyak dan menyerahkan dirinya pada kepercayaan yang salah.
"Sorry, gue akan mengambil langkah untuk Darren yang berani berbohong."
Axel kemudian meminta maaf kepada Alena dan berjanji untuk membantunya menghadapi dampak yang telah terjadi. Axel juga merasa perlu untuk memberikan dukungan kepada Alena dalam proses pemulihan dan mengajaknya untuk mendapatkan perawatan medis yang tepat.
Setelah kejadian yang menimpanya, Alena memang menjadi sangat tertekan dan pendiam. Dia merasa malu dan takut jika rahasia ini akan tersebar ke orang lain, sehingga dia tidak banyak bicara dan berusaha untuk menyembunyikan perasaannya. Alena juga merasa marah dan kesal kepada dirinya sendiri karena telah terjebak dalam situasi yang tidak diinginkannya.
Axel tahu bahwa Alena sangat terpukul oleh kejadian itu dan mencoba untuk memahami perasaannya. Dia mencoba untuk menjadi pendengar yang baik dan memberikan dukungan kepada Alena, meskipun dalam hatinya dia masih merasa sangat marah terhadap Darren. Axel juga berusaha untuk memberikan solusi untuk mengatasi masalah ini agar Alena merasa lebih tenang dan aman.
__ADS_1
Namun, Alena tidak bisa menyingkirkan rasa takut dan ketidaknyamanannya. Dia merasa bahwa dia tidak punya pilihan selain mengikuti kemauan Axel agar foto dan video yang ada di tangan Axel tidak tersebar. Dia merasa tertekan karena merasa bahwa dia tidak memiliki kontrol atas situasi ini. Alena merasa bahwa kehidupannya telah berubah secara dramatis dan tidak lagi merasa aman di sekitar orang-orang.
Axel sendiri sebenarnya tertekan. Dia tidak bisa melepaskan diri dari rasa bersalah. Tapi karena rasa gengsinya yang terlalu besar, Axel tidak mau terlihat seperti orang yang lemah. Dia terbiasa kuat sehingga terlihat baik-baik saja di depan banyak orang termasuk Alena dan Darren.