Gairah Ketua Geng Motor

Gairah Ketua Geng Motor
Belum Bisa


__ADS_3

Axel tetap tidak mau mengakui Jika dia mencintai Alena. Gadis yang ingin dia tolong. Dia juga tidak bercerita pada kedua orang tuanya jika dia sudah melakukan kesalahan kepada gadis tersebut. Dia tidak mau jika rencananya gagal. Tapi sebagai orang tua, tentu saja mama dan papanya memahami apa yang terjadi pada anaknya.


"Axel, kami bisa merasakan bahwa ada lebih banyak hal yang tidak kamu ceritakan kepada kami. Kami adalah orang tuamu, kita mencintaimu dan ingin membantumu."


Mamanya mencoba untuk memberikan waktu kepada Axel, supaya mau berterus terang.


Dalam situasi ini, Axel memilih untuk tidak mengakui perasaannya terhadap Alena dan tidak mengungkapkan kesalahan yang sudah dia lakukan secara fatal. Dia juga tidak ingin menghadapi kemungkinan kegagalan rencananya. Sayangnya, mama dan papa terlalu peka sebagai orang tua, sehingga merasakan ada sesuatu yang tidak beres dan Axel enggan untuk berterus terang dengan apa yang terjadi sebenarnya.


Axel jadi terlihat gelisah setelah mendengar perkataan mamanya. Dia ragu dan juga merasa cemas, takut jika kedua orang tuanya marah karena telah merusak seorang gadis.


"Mama, papa, aku mengerti bahwa kalian mencoba memahami, tetapi aku tidak ingin membuat semuanya menjadi rumit. Aku hanya ingin membantu Alena dan membuka bisnis keluarga saja."


Sayangnya, sedetik kemudian Axel menutup mulutnya sendiri karena tersadar bahwa dia menyebutkan nama "Alena" sebagai nama gadis yang ingin dia bantu.


Papanya mengangguk paham. Dia pernah muda, jadi besar kecil dia tahu bagaimana keadaan remaja seumuran Axel.


"Papa dan Mama tidak ingin memaksa kamu untuk mengungkapkan hal yang tidak kamu siapkan, tapi sebagai orang tua, kami prihatin dengan keadaanmu. Jika ada sesuatu yang salah atau jika ada kesalahan yang kamu lakukan, kami ada di sini untuk mendukungmu dan membantumu memperbaikinya."

__ADS_1


"Kami ingin kamu tahu bahwa kami mencintaimu tanpa syarat. Jika rencanamu gagal atau ada hal-hal yang tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan, kita akan tetap ada di sini untukmu. Kamu tidak perlu menyembunyikan apapun dari kami, Axel."


Mamanya ikut menyakinkan, supaya Axel mau terbuka. Mereka merasa penasaran, apa yang membuat anak mereka itu jadi aneh dan tidak seperti biasanya.


Axel tertunduk, kemudian berkata dengan lirih. "Mama, papa, aku mengerti bahwa kalian mencintai aku dan selalu ada untukku. Tetapi, aku merasa tidak siap untuk menghadapi kenyataan ini. Aku takut jika mengakui perasaanku dan kesalahan yang telah aku lakukan akan membuat semuanya menjadi lebih rumit dan mempengaruhi semuanya. Dan aku tidak mau jika itu terjadi."


Jawaban yang diberikan oleh Axel, justru membuat keduanya saling pandang dengan mengerutkan kening.


"Axel, hubungan kita sebagai keluarga tidak akan hancur oleh kegagalan atau kesalahan. Kami akan selalu berada di sini untukmu, baik dalam kesuksesan maupun kesulitan. Kita belajar dari pengalaman hidup kita, dan itu termasuk menghadapi kegagalan dan memperbaiki kesalahan."


"Benar, Axel. Jangan takut untuk mengakui kelemahan dan meminta maaf kepada orang-orang yang mungkin telah kamu sakiti. Itu adalah bagian dari tumbuh dan belajar. Kami akan mendukungmu melalui proses itu."


"Terima kasih, mama, papa. Aku akan memikirkan apa yang kalian katakan. Mungkin sudah waktunya bagi aku untuk menghadapi kenyataan ini dan bertanggung jawab atas tindakanku."


Meskipun Axel masih enggan untuk mengungkapkan perasaan dan kesalahan yang sudah dia lakukan, mama dan papa sebagai orang tua tetap menyampaikan dukungan dan kehadiran mereka untuknya. Mereka mengingatkan Axel bahwa keluarga adalah tempat di mana dia dapat berbagi kelemahan, menghadapi kenyataan, dan tumbuh sebagai pribadi.


Axel, hanya berniat untuk memanfaatkan salah satu bangunan ruko milik orang tuanya untuk membuka rumah makan atau kafe, yang akan dikelola oleh Alena dan ibunya. Ini sudah dibicarakan oleh Axel pada Alena.

__ADS_1


Awalnya, Alena juga menolak. Dia tidak mau jika dikatakan sedang memanfaatkan kesempatan untuk bisa mendapatkan perhatian dari Axel atas apa yang terjadi pada mereka berdua sebulan yang lalu.


Tapi Axel tidak mau tahu, dan memaksa Alena untuk ikut keinginannya.


***


Di tempat lain, Darren sedang mengikuti mamanya yang dari kejauhan. Dia memata-matai mamanya, yang sudah lama tidak bertemu.


"Br3ngs3k! Sebegitu mudahnya dia memberikan perhatian pada orang yang bukan siapa-siapa. Tapi aku? Aku justru diabaikan olehnya!"


Darren geram sendiri melihat bagaimana mamanya yang sedang tersenyum bahagia di saat memeluk seorang laki-laki berperawakan bule. Darren yakin jika itu adalah laki-laki yang berbeda dengan pria yang pernah dia temui saat bersama dengan Alena. Sebab pria yang bersama Alena itu blesteran bule Indonesia.


"Siapa dia? Lalu, siapa pria yang merasa Alena? Padahal pria itu juga kekasih mama."


Darren terus memperhatikan bagaimana mamanya yang tampak akrab dan manja pada laki-laki tersebut.


"Awas kamu, Ma! Kamu akan mendapatkan ganjaran dari anakmu yang tidak pernah kamu perhatikan ini."

__ADS_1


Setelah bergumam dalam kemarahan, Darren melangkah dengan mantap menuju ke meja mamanya. Dia ingin tahu, apa reaksi yang terjadi pada mamanya, jika mendapati dirinya yang ada di tempat ini dan melihat semua kelakuan bejat mamanya dengan laki-laki lain.


Darren memang masih dendam dengan keadaan keluarganya yang berantakan karena perpisahan kedua orang tuanya. Apalagi pemicunya adalah ulah dari mamanya. Wanita yang sangat dia sayangi dan hormati.


__ADS_2