Gairah Ketua Geng Motor

Gairah Ketua Geng Motor
Penasaran


__ADS_3

"Akhirnya kita masuk final juga," ucap Evan.


"Tapi lawan kita hari ini lebih kuat daripada yg kemarin," jawab Kai kesal.


Mereka dari tim basket sedang bersiap-siap untuk pertandingan babak final sekaligus menutup kegiatan jeda tengah semester ini.


"Oh ya, tumben sekali Darren tidak pernah ikutan nimbrung ya?" tanya Evan tiba-tiba.


Memang sudah hampir sebulan ini Darren seperti menjauh dari mereka semua seandainya ada Axel. Begitu juga sebaliknya, Axel akan pergi dan tidak ikut bergabung dengan mereka jika ada Darren.


Kini mereka saling pandang kemudian bersamaan menatap kearah Axel. Yang di tatap pura-pura tidak tahu dan cuek saja.


"Xel,loe gak sedang bermasalah dengan Darren, kan?" tanya Kai penasaran.


Tapi Axel tidak menjawab, bahkan langsung pergi meninggalkan mereka semua tanpa berkata apa-apa lagi. Dia pergi ke ruang ganti, karena Axel ingin mencari keberadaan Alena.


Sudah tiga hari ini Alena tidak terlihat dan pesan maupun panggilan darinya juga tidak pernah tersambung.


"Kenapa sih, dia?" tanya Varro sedikit keras, berharap supaya Axel mendengar dan mau menjawab pertanyaannya karena bukan hanya di saja yang penasaran tapi juga temannya yang lain.


"Tau tuh! Anying emang. Masa gitu aja gak mau terbuka ma kita-kita." Evan menyahut dengan cepat dan juga sedikit dikeraskan.


"Mungkin ada masalah pribadi. Tapi, kita udah berkomitmen untuk saling terbuka. Ada apa, ya?" tanya Varro yang ikut penasaran juga.


"Coba loe tanya ke Darren, Kai! Siapa tau tuh mata empat mau terbuka ma loe."


"Bukan loe aja yang tanya ke Axel?" tanya Kai melempar tugas.


Sebenarnya mereka berlima biasa terbuka jika ada masalah. Bahkan, permasalahan keluarga saja mereka bisa terbuka. Tapi entah kenapa, seperti ada sesuatu yang disembunyikan oleh Axel dan Darren, dan sepertinya ini adalah permasalahan mereka berdua tanpa melibatkan mereka bertiga.


"Nanti kita tanya sama-sama saja, pas bareng Axel atau Darren." Akhirnya Varro membuat keputusan supaya adil dan tidak ada yang merasa diberikan beban tugas. Setelah selesai membuat keputusan, mereka langsung menuju ke ruang ganti kemudian pulang. Mereka harus mempersiapkan stamina untuk pertandingan besok.


Di depan sebuah rumah, yang biasanya Axel tuju saat mengantar Alena.

__ADS_1


Keadaan rumah sepi, sama seperti kebanyakan rumah-rumah besar yang ada di perumahan kota besar. Semua warga dan penghuni rumah sibuk dengan urusannya masing-masing, sehingga satu sama lain tidak pernah bertegur sapa maupun saling berbincang-bincang.


Tet tet tet


Axel memencet bel yang ada di pagar rumah tersebut. Dia berharap ada seseorang yang membukakan pintu pagar yang ada di depannya, karena keadaan pagar tersebut terkunci.


"Sepi banget, sih!" gerutu Axel karena tidak ada yang segera datang membukakan pintu untuknya.


Tet tet tet


Sekali lagi Axel memencet bel pagar, tapi hasilnya tetap saja nihil. Rumah itu seakan-akan tidak berpenghuni sehingga tidak ada satu pun orang yang datang menemuinya.


Hampir saja Axel nekad memanjat pagar rumah tersebut, karena dia ingin mengetahui keadaan Alena di dalam rumah sana. Dia takut jika terjadi sesuatu pada gadis tersebut. Apalagi, sudah tiga hari tidak melihatnya. Jadi Axel merasa khawatir dan cemas.


"Maaf, mas. Cari siapa ya?" tanya pedagang sayur yang kebetulan lewat dan melihat keberadaan Axel yang sedang kebingungan.


"Eh, emhhh... itu. Yang punya rumah ini ke mana, ya? Atau yang jaga dan pembantu mungkin, kok sepi banget ini, pak?" tanya Axel beruntun, mumpung ada seseorang yang peduli dengannya.


"Rumah ini udah hampir dua bulan sepi. Kata para pembantu yang ada di sekitar sini, orang yang jaga rumah itu diusir bersama anaknya. Tapi, saya tidak tahu, kemana mereka pergi."


"Memang siapa penjaga rumah ini, dan siapa sebenarnya pemilik rumah ini? tanya Axel yang ingin menuntaskan rasa penasarannya.


Dia berpikir bahwa, bulan kemarin batu saja mengantar Alena saat pingsan dan selesai diperiksa di rumah sakit. Sedangkan tukang sayur ini mengatakan sudah dua bulan yang lalu. Itu artinya...


'Apa Alena dan mamanya hanya penjaga rumah, atau mereka yang mengusir pembantunya?'


Batin Axel justru membuat banyak pertanyaan dan perkiraan yang dipikirkan sendiri.


"Orang yang punya rumah ini tadinya tak pernah di rumah, tapi di Australia. Baru dia bulan kemarin dia pulang dan menikahi seorang wanita yang telah lama hidup bersamanya di Australia juga. Dan wanita tersebut tidak mau jika membantunya yang dulu bersama dengan anaknya yang sudah gadis, hidup di rumah ini bersama dengan mereka. Jadi, terpaksa pembantu dan anak gadisnya itu diusir dari rumah ini."


Kening Axel semakin berlipat-lipat, sama seperti rasa penasaran dan kebingungan yang ada di dalam hatinya.


'Jadi...'

__ADS_1


"Udah ya mas, saya pergi keliling lagi!"


Axel segera mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada tukang sayur tersebut, karena sudah memberikan penjelasan padanya.


"Terima kasih, ya pak!"


Setelahnya, Axel masih terdiam dan menatap rumah di depannya yang berdiri kokoh seakan-akan menyombangkan dirinya yang dibangun dengan megahnya.


"Jadi, seperti itu. Tapi, kenapa Alena tidak pernah cerita?"


Pertanyaan Axel ini tentunya tidak ada yang menjawab, apalagi dirinya yang juga tidak tahu apa-apa. Dia akan bertanya pada Alena, jika bertemu dengan gadis itu.


"Alena, gue kangen."


***


Priitttt!


Wasit meniup peluit, sebagai tanda bahwa pertandingan telah dimulai.


Menit awal pertandingan, tim lawan banyak melakukan kekerasan pada anggota tim Axel. Tentu saja diperhatikan oleh Axel sejak awal.


Alex pun mulai menyadari, bahwa mereka bisa menang karena menggunakan kekerasan dalam bertanding tadi. Namun, kekerasan itu tidak akan berlaku untuk Axel yang selalu bertanding sportif dengan menggunakan akal dan kecerdasan serta strategi mereka.


Akhirnya babak pertama pun selesai, yg dimenangkan oleh lawan. Tapi tim Axel sama sekali tidak merasa kecewa, karena mereka semua tau bahwa tim lawan bermain kotor.


Babak kedua pun berlanjut. Axel mulai tidak tahan, dan ingin segera mengakhiri pertandingan itu. Dia dan tim-nya bermain dengan sangat sportif, hingga berhasil mencetak gol berkali-kali.


Tim lawan terlihat pasrah saat tiba-tiba wasit meniup peluit, sedangkan skor mereka tertinggal jauh dari skor tim Axel yang berasal dari sekolah SMA Higs Shool.


Tim Axel pun dinyatakan sebagai pemenang di babak kedua itu. Mereka kemudian memasuki babak terakhir yang akan menentukan juara satu dari pertandingan basket antar sekolah se-Jakarta tingkat SMA.


Axel dan tim-nya bermain dengan serius, agar bisa memenangkan pertandingan itu. Mereka berkonsentrasi penuh supaya segera menyelesaikan babak terakhir ini dengan kemenangan yang gemilang.

__ADS_1


"Biarin sekolah gue menang!" pinta salah satu pemain dari lawan saat Axel menggiring bola ke ring.


__ADS_2