Gairah Ketua Geng Motor

Gairah Ketua Geng Motor
Mainan Baru


__ADS_3

Obat perangsang yang di berikan oleh Darren benar-benar menguasai Alena. Dan insting laki-laki alami Axel, tentu saja tidak bisa menolak tawaran yang ada didepannya. Apalagi tingkah Alena benar-benar memacunya dalam gairah panas yang menyengat seluruh syaratnya..


Dua anak manusia itu, pasrah pada panasnya sensasi g4irah. Walaupun ini pertama kalinya untuk Alena dan tidak memiliki pengalaman. Tapi Axel tahu betul bagaimana caranya memuaskan lawan.


Mereka menyelam dan melayang dalam indahnya penyatuan dua insan. Jari jemari Axel begitu piawai dalam mencari madu cinta penyatuan. Bibir merah itu juga, melukiskan tanda miliknya pada tubuh gadis yang pasrah dalam kungkungan tubuhnya yang kekar.


Mereka berdua tenggelam dan melayang secara bersamaan. Melupakan semua rasa geli dan canggung satu sama lain, karena Alena tidak sadar dengan apa yang dia lakukan bersama dengan Axel.


Tidak ada penolakan, tidak ada rasa enggan, yang ada hanya insting yang saling terpacu satu sama lain untuk meraih kepuasan.


Alena bahkan tidak tahu, jika dia telah m3ndes4h, m31enguh, mengeluarkan suara yang bisa meningkatkan perasaan satu sama lain. Keringat yang saling membasahi tubuh mereka juga tidak menjadi penghalang mereka berdua mengejar puncak dunia nyata dari insting yang seharusnya tidak diperbolehkan.


Axel terus m3lum4t habis bibir Alena tanpa henti, membuat Alena yang sedang tidak sadar dan ada di puncak g41rah itu merasa keenakan dan bahkan mencari yang lebih.


"Eumhh... Ahhh..."


Bukannya melepaskan ciumannya, Axel justru semakin ganas dan semakin memperdalam ciumannya di bibir Alena yang sudah pasrah.


Axel memaksa lidahnya masuk kedalam mulut Alena, menekan tengkuk leher Alena. Dan sesuai keinginannya, Axel yang suka seenaknya itu, akhirnya lidahnya berhasil memasuki mulut Alena.


Axel melilit dan memainkan lidah Alena dengan lihai, membuat Alena bergerak tak karuan. Tapi pergerakan tubuhnya dikunci dengan tubuh Axel, sehingga tak dapat bergerak dengan bebas.


"Emhh... kakkk... umphh, ahhh..."


Alena meng3rang di sela-sela ciumannya, membuat Axel semakin bergairah.


Decakan demi decakan terdengar dari dalam gudang sekolah, dan kini gudang itu seakan-akan dikelilingi oleh hawa panas yang membuat Axel semakin bergairah.


Axel mengabsen setiap barisan gigi Alena. Sesekali dia menghisap lidah Alena yang terasa begitu manis untuknya.


Tangan Axel pun tak tinggal diam sedari tadi. Tangannya menyelusuri setiap inci tubuh Alena, dan menghentikannya tepat di atas gundukan milik Alena yang memang menggodanya sejak awal.


"Emhhh!"


Alena meremas pundak Axel dengan kuat dengan gerakan tubuhnya yang tidak teratur, ketika tangan Axel mulai meremas gundukan tersebut silih berganti.


Axel tersenyum miring di sela-sela ciumannya, dengan terus-menerus *******-***** lembut gundukan gunung kembar milik Alena yang semakin terasa kenyal dan menantangnya. Membuat Axel sangat puas dengan mainan barunya itu.


Keenan pun akhirnya menyudahi ciumannya. Nana pun akhirnya bisa bernafas lega ... namun ternyata Keenan belum menyelesaikan permainan nya itu.


Kini Axel turun ke leher Alena, dan menyesapnya dengan kuat. Leher jenjang nan putih milik Alena kini sampai terdapat bekas kepemilikan yang tampak memerah.

__ADS_1


Axel sangat ganas dengan semua g41rahnya, karena dia sangat tergoda dengan bentuk badan Alena yang kini telah polos sehingga terlihat sangat *3**1.


Alena pun meringis kesakitan, saat Axel mulai memasukann adiknya, ke lubang surga miliknya. Tapi gerakannya yang gelisah, menandakan bahwa dia ingin lebih.


Semua ini karena pengaruh obat p3r4ngsang yang diminum Alena. Dia tidak memiliki pikiran jelek saat diberi minuman oleh Darren


"Kakak... aahhh sakittt..."


Tapi meskipun mulutnya bilang sakit, gerakan tubuhnya Alena tidak bisa berbohong jika dia yang menantikan adiknya Axel masuk.


"Bentar lagi juga enak. Nanti biar gak sakit terus, harus sering kasih jatah gue ya! Hahaha..."


Axel yang waras tanpa obat, tentu saja bicara seenaknya. Alena juga tidak akan paham dengan perkataannya barusan, karena yang ada di otak akeva saat ini hanya terpenuhinya kebutuhan tubuhnya yang tidak tertahankan.


"Hmm iya, kak Axel."


Axel cukup terkejut dengan jawaban yang diberikan oleh Alena. Tapi sedetik kemudian dia tersenyum puas, karena ternyata, di saat tidak sadarkan diri seperti ini Alena masih mengenalinya.


"Apa loe suka ma, gue?" tanya Axel masih dengan aktivitasnya.


"Emhhh... suka," jawab Alena manja, dengan menggigit bibirnya sendiri, seakan-akan menggoda Axel.


Tapi ternyata Alena menggangguk mengiyakan, bahkan Alena menyerang bibirnya dengan rakus.


"Emhhh... arghhh!"


"Damn it! This is so delicious!"


"Alena, gue pastikan loe hanya buat gue!"


"Ohhh, shitt!"


Meskipun Alena kesakitan, tapi ekspresinya yang terpengaruh dengan obat menandakan bahwa dia memang menyukainya.


Alena pun mulai keenakan karena Axel semakin cepat dengan gerakannya.


"OhhOhh, crazy!"


"Alena, you are a joke!"


Beberapa saat kemudian.

__ADS_1


Deg


Mata Alena melotot sempurna, ketika dia membuka matanya dan melihat Axel sedang berada di atasnya tanpa mengunakan pakaian sama sekali. Dia berusaha mendorong tubuh Axel untuk menjauh darinya, namun tenaganya tidak kuat untuk sekedar menggulingkan tubuh cowok yang gagah dan berotot itu.


"Arghhh..."


"Kak Axel!"


Cup


"Emhhh... mmphh..."


Axel justru mencium bibir Alena dan mengulumnya, agar gadis yang sudah dia permainkan barusan tidak lagi berteriak.


Tangan Alena tidak mau diam. Dia terus memukul lengan dan dada Axel, tapi itu tidak mempengaruhi apapun yang dilakukan oleh cowok yang sudah sering membuatnya kesal.


"Diam dan nikmati! Bukankah kamu yang minta?" tanya Axel, game melepaskan tautan bibir mereka.


Mendengar perkataan dan pertanyaan yang diajukan oleh Axel, tentu saja membuat Alena mendelik tajam dan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Kamu mau buktinya?" tanya Axel menantang.


Ternyata Axel sudah menyiapkan segala sesuatunya, di saat Darren pergi dari gudang dan meninggalkan mereka berdua.


Kini Alena melihat rekaman video dari handphone Axel. Matanya melotot melihat bagaimana keadaan dirinya yang tidak tahu malu, merengek-rengek dan menggoda Axel seperti layaknya seorang j4l4n9.


"Tidak! Ini tidak mungkin!" teriak Alena histeris.


Tapi Axel menanggapi tangisan Alena dengan senyum licik. Dia ada bukti yang cukup kuat untuk memutar balikkan fakta, seandainya dia mendapatkan tuduhan telah memperkosa gadis tersebut.


"Hiksss hiks hiks..."


Brukkk


"Pakai! Aku antar kamu pulang."


Bukannya menenangkan dan meredakan tangisan Alena, Axel justru memintanya segera memakai pakaian karena sekarang sudah sore. Dia akan pengantar gadis tersebut pulang supaya tidak usah kembali ke dalam kelasnya.


"Huhuhu... kenapa? Kenapa ini terjadi?"


Alena hanya bisa menangis saat mengenakan pakaiannya satu persatu. Begitu juga dengan Axel, yang kembali mengenakan pakaiannya tanpa banyak bicara.

__ADS_1


__ADS_2