
“Ris, minggir! Jelas-jelas dia mau pulang sama gue.” Axel menatap tajam adiknya Varro Gaulam.
Iris tersenyum miring. “Gue tanya Alena, bukan loe, kak!”
Axel mengepalkan tangannya lalu dia beralih memegang tangan Alena dan mencengkeramnya kuat, seolah-olah mengisyaratkan bahwa Alena harus menolak ajakan Iris. Dia tidak mau berdebat dengan cewek, apalagi Varro pasti ngamuk jika adiknya kenapa-napa.
“Maaf Ris, aku pulang sama kak Axel aja. A-ku, aku gak enak tadi dia nolongin aku di lapangan, maaf ya. Kamu masuk kelas, gih!"
Axel tersenyum penuh kemenangan. Perlahan-lahan dia melepas cengkeramannya dari tangan Alena.
“Dengar, kan? Dia pulang sama gue, jadi loe minggir! Sana, hush hush hush!" Axel mengusir Iris supaya tidak ikut campur dengan urusannya bersama Alena.
Tiba-tiba Varro datang dan tidak terima melihat adiknya diusir oleh Axel. Dia mendorong bahu Axel hingga terjengkang ke belakang sambil berteriak kesal. "Apaan sih loe Xel?! Gak usah kasar ma cewek!"
“Sialan!” umpat Axel sembari memegang pantatnya yang mencium tanah.
Alena turun dari motor Axel lalu membantunya untuk berdiri. Alena meringis pelan saat Axel menepis tangannya.
“Naik!” perintah Axel sembari menyodorkan helmnya kepada Alena.
Alena hanya bisa menatap sedih Iris dan Varro. Dia sebenarnya tidak enak menolak Iris, mengingat semua kebaikan yang dia lakukan padanya. Apalagi hanya Iris yang mau berteman dengannya tanpa ada embel-embel niatan lain.
Tapi Axel sepertinya salah paham dan egois, dengan menganggap bahwa semua yang mendekati Alena ada maksud terselubung. Sama seperti yang dilakukan oleh Darren.
“Maaf Ris, kak Varro."
Iris dan Varro menggelengkan kepalanya bersamaan. Mereka berdua paham posisi Alena. Apalagi Varro tahu dan mengerti bagaimana sifat dan karakter Axel yang selama ini tidak pernah peduli dengan keadaan dan kejadian apapun. Apalagi dengan cewek-cewek yang biasa mengejarnya.
Breummm breummm breummm
Ngeeeng...
“Hati-hati ya, Len!"
Iris berteriak keras mengingatkan Alena. Dia tidak mau jika terjadi sesuatu pada temannya itu. Apalagi Alena pergi bersama dengan Axel. Dia takut seandainya Axel akan berbuat kasar pada Alena.
"Kak, Alena..."
__ADS_1
"Tenang. Sepertinya, Alena udah jadi pawangnya Axel."
Iris mengerutkan keningnya mendengar perkataan Varro yang tidak dia mengerti. Tapi Varro tahu betul bagaimana keadaan Axel yang beberapa waktu terakhir ini tidak sama seperti biasanya jika bersama dengan Alena.
***
Ngeeengggg....
"Pegangan! Nanti loe jatuh terus mati gue yang ribet!" pekik Axel sembari melihat Alena dari kaca spion.
Alena ragu untuk memeluk pinggang Axel. Takut jika Axel tidak nyaman dan berakhir marah padanya. Perlahan tapi pasti, Alena melingkarkan tangannya di perut Axel.
Jujur, rasanya nyaman sekali seperti pelukan yang dirindukan Alena selama ini. Hatinya berbunga-bunga, meskipun ada rasa was-was.
Axel melihat tangan Alena yang melingkar di perutnya. Hatinya berdesir aneh dengan jantung yang berdegup kencang. Axel buru-buru menggelengkan kepalanya. Dia menolak perasaan yang dia rasakan saat ini. Dia tidak boleh jatuh cinta pada cewek manapun, termasuk dengan Alena.
"Nyaman banget kayaknya loe peluk gue," ujar Axel dari balik helm full face yang dia pakai
"Apa, kak?"
Anna tidak mendengar perkataan Axel, karena Axel menjalankan motornya cukup kencang. Angin membawa terbang suara Axel.
Axel mengulang kembali perkataannya yang tadi, dengan sedikit menaikkan nada suaranya agar Alena bisa mendengarnya.
“Apa? Aku gak denger, kak Axel.”
Ternyata, meskipun sudah mengatakan dengan suara yang lebih keras, Alena tetap saja tidak bisa mendengarnya dengan baik.
"Terserah, loe. Dasar budeg!"
“Polisi? Kakak lihat polisi di mana? Apa polisi mengejar kita?" tanya Alena makin ngawur.
Axel berusaha menahan diri untuk tidak marah dan memaki-maki Alena. Ra Axel ingin menenggelamkan Alena ke dasar laut agar tidak bodoh dan budeg diborongnya sendiri.
"Ya, polisi. Tadi gue liat polisi ngejar-ngejar!"
Alena semakin mempererat pegangannya, sehingga seperti sedang memeluk pinggang Axel dengan erat. Dia takut jika Axel akan ngebut karena dikejar polisi.
__ADS_1
“Kakak liatnya dimana?” tanyanya penasaran.
Alena berusaha menoleh ke belakang agar bisa melihat dengan mata sendiri keberadaan polisi yang mengejar mereka saat ini. Tapi dia tidak melihat polisi ataupun mobil polisi yang mengejar di belakang.
Axel mengerjapkan matanya beberapa kali sambil berdecak. "Ck! Sekarang gak budeg, lantas tadi telinganya kemasukan apa? Gila!"
Tak lama kemudian, mereka sampai di rumah sakit. Padahal sebenarnya Alena tidak mau, tapi Axel memaksa sehingga Alena hanya bisa pasrah dan tidak mau berdebat.
"Kan, gak apa-apa."
Axel merasa lega karena setelah diperiksa, kondisi Alena baik-baik saja. Dokter hanya menyarankan untuk banyak beristirahat dan tidak banyak pikiran.
"Loe kayak orang tua! Banyak pikiran? Pa yang loe pikir?" tanya Axel kesal, karena Alena mengejeknya. Padahal ini dua lakukan untuk Alena juga.
Mendengar pertanyaan tersebut, Alena terdiam. Dia bukannya marah atau tersinggung, tapi dia memang sedang banyak pikiran akhir-akhir ini. Bagaimana tidak banyak pikiran, jika video dan foto yang dipegang Axel belum terhapus dari galeri Axel. Belum lagi masalah ibunya.
Rumah yang mereka tempati adakah rumah Bos orang tuanya, yang tinggal di Australia. Tapi sekarang pemilik rumah tersebut pulang dan menetap di Indonesia bersama dengan istrinya yang baru. Jadi, Alena dan ibunya tidak diperkenankan untuk tinggal di rumah itu lagi oleh istri baru dari Bos tersebut.
Alasannya adalah, istri barunya itu tidak mau jika suaminya tergoda dengan Alena maupun ibunya. Jadi ibunya Alena hanya akan bekerja jika di panggil ke rumah tersebut, itupun jika mereka sedang tidak ada di rumah karena sekarang ada banyak kamera cctv yang terpasang di rumah tersebut.
Padahal Alena dan ibunya sudah lama ikut bekerja dengan pria asal Australia tersebut. Tapi pria itu tidak mau bertengkar dengan istrinya sehingga menurut.
Kini Alena tinggal di rumah kontrakan kecil yang lumayan jauh dengan biaya sendiri. Biaya sekolahnya yang dulu di tangung Bos ibunya, juga dihentikan oleh istri baru dari Bos-nya tersebut.
Ngenggg...
Bruumm breummm breummm...
Axel kembali melajukan motornya untuk mengantar Alena pulang setelah membereskan administrasi dan mengambilnya obat sesuai dengan resep yang diberikan oleh dokter.
"Kak," panggil Alena saat Axel hampir masuk ke wilayah perumahan yang pernah dia masuki saat mengantar Alena pertama kalinya.
"Apa?" tanya Axel keras.
"A-ku..."
"Ck! Cepetan! Apaan, sih?" tanya Axel kesal.
__ADS_1
Alena menggelengkan kepalanya. Dia berpikir untuk tidak memberitahu Axel jika dia sudah tidak tinggal di rumah itu lagi. Dia akan berjalan kaki atau naik angkutan untuk pulang ke rumah, jika Axel telah pergi.