Gairah Ketua Geng Motor

Gairah Ketua Geng Motor
Pertengkaran Axel dan Alena


__ADS_3

Alena bangun pagi-pagi sekali dengan semangat yang tinggi. Dia ingin memulai hari dengan baik dan segera pergi ke sekolah.


Setelah mandi dan bersiap-siap, dia keluar dari rumah dan langsung menuju ke halte bus. Dia melihat seorang laki-laki sedang menunggu di halte yang sama. Alena menatapnya sekilas, dan dia merasa familiar dengan wajahnya.


Setelah beberapa saat, Alena menyadari bahwa laki-laki itu adalah Axel, kakak kelasnya yang suka membuatnya kesal. Dia tidak bisa membayangkan mengapa dia harus bertemu dengan Axel di pagi hari ini.


Axel sendiri, sebenarnya membawa motornya. Tapi dia sedang menunggu Darren, yang memintanya bertemu di halte tersebut.


"Ck, ngapain tuh cupu minta gue nunggu di sini?" gumam Axel dengan wajah kesal.


Tapi Alena memutuskan untuk mengabaikannya dan melanjutkan perjalanannya ke sekolah, dan tidak peduli dengan Axel yang sok jagoan dan kuat. Sudah dua kali Alena menolongnya, tapi sikap Axel tetap menyebalkan.


Sesampainya di sekolah, Alena langsung menuju ke kelasnya. Dia terkejut melihat Axel masuk ke kelasnya yang duduk di kursi di sampingnya. Dia menatap Axel dengan tatapan tajam dan berharap agar Axel tidak membuatnya kesal lagi. Tapi Alena kaget saat melihat bahwa Axel penuh dengan perban, tidak sama seperti saat bertemu di halte.


"Kenapa kakak penuh dengan perban?" tanya Alena dengan rasa penasaran.


"Ya, gue jatuh dari motor tadi pagi. Kenapa loe gak nolongin gue lagi?" jawab Axel dengan pertanyaan yang tidak dimengerti oleh Alena.


Alena memandang Axel dengan tatapan sinis. Dia ingin mengolok-olok Axel karena dia merasa senang melihat Axel yang biasanya sombong sekarang dalam kondisi yang menyedihkan. Namun, dia juga merasa sedikit kasihan pada Axel karena melihat kondisinya yang terluka.


"Aku akan membantumu," kata Alena tanpa sadar.


Axel mengangguk dengan ragu-ragu. Dia tahu bahwa Alena selalu membuatnya kesal, tapi kali ini dia merasa ada yang berbeda. Dia merasa bahwa Alena benar-benar ingin membantunya.


Beberapa menit kemudian, Alena membantu Axel untuk berjalan ke ruang perawatan. Axel merasa sedikit malu karena harus dibantu oleh Alena, tapi dia merasa senang bahwa ada seseorang yang peduli padanya.


Setelah Axel diperiksa oleh perawat jaga di UKS, Alena membantu Axel untuk berjalan ke kelasnya sendiri. Di dalam kelas, Alena mencoba untuk memperhatikan Axel, tapi dia tetap tidak bisa menahan diri untuk tidak mengejeknya.


"Bagaimana rasanya jatuh dari motor? Bukankah ini tidak seberapa dibandingkan dengan dikeroyok geng lain?" tanya Alena dengan nada mengejek.


Axel merasa kesal dan marah pada Alena. Dia merasa bahwa Alena tidak pernah berubah dan selalu membuatnya kesal.

__ADS_1


"Berhenti mengganggu dan banyak bicara, Alena," kata Axel dengan tegas.


Alena tersenyum dan berusaha untuk menenangkan Axel. Dia merasa bahwa dia harus berhenti membuat Axel kesal, sehingga dia cepat kembali ke kelasnya sendiri.


Setelah kelas selesai, pada jam istirahat, Alena dan Axel kebetulan bertemu di jalan menuju ke kantin sekolah. Namun, mereka tidak dapat menahan perasaan mereka satu sama lain. Mereka saling menatap dengan tatapan yang penuh dengan kemarahan, kekesalan dan memendam rasa keinginan dan rasa cinta yang sebenarnya mereka miliki.


"Kenapa gue mesti ketemu loe lagi?" tanya Axel dengan suara keras.


"Aku tidak tahu, mungkin karena jodoh!"


Alena langsung menutup mulutnya sendiri, karena tanpa sadar menjawab pertanyaan tersebut sesuai dengan apa yang ada di dalam hatinya.


"Apa loe bilang? Jodoh? Cuihhh!"


"Lalu, ngapain tadi kakak datang dan mencari ku hanya untuk minta tolong?" tanya Alena tidak terima.


"Ya... itu karena biasanya loe yang gercep dengan seseorang yang terluka," jawab Axel asal, sebab dia sendiri tidak tahu kenapa tadi pagi datang dan minta tolong pada Alena di kelasnya.


Tak lama kemudian, datang tiga orang cewek yang menyukai axel, tapi bertepuk sebelah tangan karena Axel tidak menyukai mereka. Sekarang mereka berpikir untuk membantu Axel dengan cara membully Alena, maka axel akan menyukai apa yang mereka lakukan dan bisa menerima cinta salah satu dari mereka.


"Apakah ada uler keket yang menganggu kakak?" tanya satunya lagi.


"Mungkin, kakak butuh kami untuk menyingkirkan uler keket tersebut."


Alena merasa sedikit khawatir ketika melihat tiga orang cewek yang berdiri di dekat Axel. Dia tahu bahwa ketiga cewek itu menyukai Axel dan sering mencoba mendekatinya, tapi Axel selalu menolak mereka.


Axel yang tidak menyukai ketiganya, hanya memberikan senyum yang dipaksakan sebagai tanggapan. Namun, ketiga cewek itu tidak terima dengan perlakuan Axel dan memutuskan untuk mengambil tindakan.


"Mungkin kita harus membantu kak Axel untuk ini," ujar mereka dengan memandang tajam ke arah Alena dengan suara lirih.


Alena terkejut mendengar rencana mereka dan merasa sangat marah. Dia tidak bisa mempercayai bahwa ada orang yang bisa berpikir sedemikian kasar. Dia berjalan menuju ke tiga cewek itu dan mencoba untuk menenangkan situasi.

__ADS_1


"Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian ingin membully ku?" tanya Alena dengan rasa tidak percaya. "Aku bukan uler keket! Dan kalianlah yang uler keket sebenarnya."


"Tidak apa-apa, Alena. Biarkan saja mereka," kata Axel sambil mengangkat bahu tidak peduli dengan keadaan.


Alena merasa sedih dan kecewa melihat reaksi Axel. Dia tidak bisa mempercayai bahwa Axel tidak peduli pada situasi ini.


"Huhfff... Tidak, aku tidak akan membiarkan mereka melakukan ini. Kalian harus tahu bahwa perbuatan ini tidak benar," kata Alena dengan tegas.


"Hahaha..."


"Hehehe..."


"Tips, betul. Dan kami tidak peduli."


Ketiga cewek itu hanya terkekeh dan meremehkan Alena. Mereka merasa bahwa Alena hanya orang yang tidak penting dan tidak bisa menghalangi rencana mereka.


"Tidak masalah, kita hanya bercanda. Tidak ada yang serius," kata salah satu dari tiga cewek itu.


Namun, Alena merasa bahwa dia harus melakukan sesuatu untuk menghentikan rencana jahat ketiga cewek itu. Dia tidak bisa membiarkan dirinya di-bully hanya karena mereka menyukai Axel.


"Kalian harus berhenti. Apa yang kalian lakukan tidak benar. Kalian tidak bisa menghakimi seseorang hanya karena dia berbeda dari kalian," kata Alena dengan tegas.


Ketiga cewek itu terdiam dan merasa malu karena diingatkan oleh Alena. Mereka tidak bisa mempercayai bahwa ada seseorang yang berani menentang mereka.


"Siapa loe? Loe pikir loe bisa menghentikan kita-kita?" tanya salah satu dari tiga cewek itu dengan nada sinis.


"Ya, aku bisa. Aku akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk melindungi diriku dan orang-orang di sekitarku," jawab Alena dengan rasa percaya diri.


Ketiga cewek itu hanya diam dan merasa tidak berdaya. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.


"Baiklah, kami akan berhenti. Tapi, kau harus tahu bahwa Axel tidak akan pernah menyukaimu," kata salah satu dari tiga cewek itu berikan peringatan.

__ADS_1


Alena tersenyum sinis dengan apa yang dikatakan oleh ketiganya. "Terserah kalian saja," ujarnya cuek.


Tapi ternyata pertengkaran mereka menyita perhatian guru, sehingga Axel dan Alena dipanggil ke ruang guru untuk mendapatkan hukuman. Karena ketiga cewek tadi memberikan kesaksian bahwa yang bertengkar adalah mereka berdua saja.


__ADS_2