
"Sorry ya, gaesss. Ini semua salah, gue?" ucap Axel meminta maaf pada teman-temannya.
"Ck, apaan sih! Gak ada yang salah. Yang salah itu mereka! Mereka harus mendapatkan balasan secepatnya."
Evan mengepalkan tangannya kuat saat menjawab pertanyaan dari Axel.
"Hahaha... balasan bagaimana? kaki loe aja baru di operasi." Axel justru tertawa meledeknya.
Brukkk
"Sialan, loe!"
"Hahaha..."
Evan melempar bantal ke arah Axel, tapi ternyata tidak kena dan itu membuat Axel tertawa terbahak-bahak melihat Evan yang kesal dengan ulahnya.
Kini mereka berbincang-bincang sambil tertawa, seakan-akan melupakan rasa sakit yang mereka rasakan.
"Gue pasti akan membalas semua perbuatan mereka!"
Axel bersumpah untuk melakukan apapun yang bisa dia lakukan untuk membantu teman-temannya dalam proses pemulihan dan memastikan bahwa mereka mendapatkan keadilan yang mereka butuhkan.
Teman-temannya memang ada yang terluka parah selama pertarungan dengan geng Skull Rider, dan harus dilarikan ke rumah sakit.
Setelah insiden tersebut, Axel merasa sangat terpukul. Dia merasa bahwa keamanan dan kenyamanan yang selama ini ia rasakan telah diambil oleh geng tersebut. Dia dan teman-temannya merasa tidak aman dan terancam oleh kehadiran geng Skull Rider. Padahal dia sendiri memiliki geng yang tak kalah dengan mereka.
Axel pun memutuskan untuk mencari tahu lebih banyak tentang geng Skull Rider. Dia memulai pencariannya dengan mencari informasi tentang geng tersebut dan meminta saran dari teman-temannya. Dalam pencariannya, Axel menemukan bahwa geng Skull Rider adalah geng yang terkenal dengan kekerasannya dan sering melakukan kejahatan di kota tersebut.
"Awas! Gue pastikan kalian semua merasakan akibatnya."
***
__ADS_1
Seseorang duduk di depan jendela, dengan pandangan yang kosong menghadap ke luar. Hati dan pikirannya dipenuhi dengan rasa cinta yang membara untuk seorang cowok yang tak terjangkau. Dia tak bisa menahan perasaannya, tapi dia tak mampu untuk mengungkapkannya.
Setiap kali mereka bertemu, hatinya berdegup kencang dan terasa seperti tangan-tangan yang mengepal kuat di dadanya. Dia merasakan rasa gugup dan kegelisahan yang tak terbendung ketika cowok itu ada di dekatnya. Dia merasa bahwa dia harus mengatakan sesuatu, memberi tahu cowok itu betapa besar cintanya, tapi dia takut dengan reaksi cowok tersebut.
Dia ingin menunjukkan cintanya dengan tulus, tapi dia takut dia akan diabaikan. Dia takut akan menimbulkan perasaan tidak nyaman pada cowok yang dingin itu, atau malah membuat hubungan mereka menjadi semakin buruk. Dia takut kehilangan kesempatan yang mereka miliki jika dia mengungkapkan cintanya.
Dia merasa sedih, merasa tidak adil karena tidak bisa mengekspresikan perasaannya. Dia terus memendam perasaannya dalam hati, merenungkan betapa sulitnya hidup dengan rasa cinta yang tidak terbalas. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi saat ini, dia hanya bisa berharap agar rasa cintanya bisa diterima suatu saat nanti.
Dia adalah seorang pemuda yang arogan dan dingin, yang membuatnya lebih memilih untuk menyimpan perasaannya sendiri daripada mengungkapkannya pada cowok tersebut.
Di tempat yang lain, seorang cowok sedang melamun. Mengeratkan rahangnya menahan rasa yang dia tahan.
Setiap kali dia berada di dekat gadis yang dia cintai, hatinya berdebar kencang dan dia merasa kesulitan untuk berbicara. Hanya kata kasar dan menyeramkan yang akhirnya bisa dia ucapkan.
Dia terus memperhatikan gadis itu dari kejauhan, mencoba mengetahui segala sesuatu tentangnya. Dia selalu ingin tahu apa yang membuat gadis itu tersenyum, atau apa yang membuatnya merasa senang. Dia merasa terobsesi dengan gadis itu, tetapi dia tidak pernah berani mengakui perasaannya.
Akhirnya, dia hanya bisa diam dan pura-pura tidak mau tahu apapun tentang gadis tersebut. Dia juga bersikap dingin dan acuh tak acuh pada gadis itu, seolah-olah dia tidak tertarik padanya sama sekali. Dia takut mengungkapkan perasaannya karena khawatir akan ditolak atau dianggap lemah oleh gadis itu. Dia merasa bahwa dengan bersikap dingin, dia bisa menjaga perasaannya tetap tersembunyi dan gadis itu tidak akan mengetahuinya.
Namun, meskipun dia bersikap dingin, dia tidak bisa menghentikan perasaannya. Setiap kali dia melihat gadis itu, perasaannya semakin kuat dan dia tidak bisa menahan keinginannya untuk mengungkapkan cintanya. Dia merasa dilema, terjebak antara keinginan untuk mengungkapkan perasaannya dan kekhawatiran akan ditolak.
"Hai, emhhh lagi apa sih?" tanya Axel.
Yang ditanya hanya melihat sekilas, kemudian mengalihkan perhatiannya ke tempat yang lainnya.
"Ngapain nanya, kak?" tanya Alena.
"Biasa aja kok, cuma tanya aja." Axel menjawab acuh tak acuh.
Sebenarnya, Axel menyapa untuk meminta maaf dan berterima kasih. Dia belum sempat menyampaikan rasa terima kasihnya setelah ditolong oleh Alena. Tapi, rasanya mau berkata dengan suara rendah atau sedikit lembut tidak bisa dia lakukan.
"Gak ada yang spesial kok, kak. Cuma lagi duduk-duduk aja." Terdengar jawaban Alena.
__ADS_1
Axel menganggukkan kepalanya paham. "Sekarang udah berapa lama kita kayak begini?"
"Apa maksudmu?" tanya Alena waspada.
"Gak. Gak ada."
Entah kenapa, Axel tiba-tiba tidak bisa mengeluarkan banyak kata yang sudah dia susun sebelumnya.
***
Di sebuah kafe dengan tema garden.
Darren menghisap rokok diantara bibir tipisnya, lalu membuang asapnya ke udara. Tiba-tiba saja Varro datang menepuk pundaknya.
Puk
"Sejak kapan kamu merokok?" tanya Varro sedikit terkejut.
Sebenarnya Darren juga terkejut, tapi dia segera mengendalikan diri untuk terlihat biasa saja.
"Sudah lama," jawab Darren singkat.
Mata Darren kembali melihat seseorang yang sangat dia kenal, sedang duduk bersama dengan seseorang yang sangat dia benci.
Dua orang tersebut duduk bersama di sudut kafe, dengan tangannya saling terkait dan mata mereka terus saling memandang. Mereka seperti sepasang kekasih yang sedang mabuk cinta, terlempar dalam dunia mereka sendiri yang penuh dengan kebahagiaan dan kehangatan. Mereka tidak peduli dengan orang di sekitar mereka yang sedang berbicara dan tertawa, karena mereka merasa seperti satu-satunya orang di ruangan itu.
Tidak ada yang bisa menghentikan perasaan mereka satu sama lain. Setiap kali mereka berbicara, terdengar seperti musik indah yang menyatukan mereka. Tidak ada kekhawatiran, tidak ada rasa takut atau cemas. Hanya ada kebahagiaan yang tulus, dan rasa cinta yang mendalam.
Saat mereka mabuk cinta, mereka saling memberi perhatian satu sama lain, mencium bibir dan mencoba memegang erat tangan satu sama lain. Mereka saling meyakinkan bahwa mereka saling mencintai dan tidak akan pernah meninggalkan satu sama lain. Segalanya terasa sempurna, seolah-olah dunia hanya mereka berdua.
Namun, begitu mabuk cinta berlalu, mereka akan menghadapi kenyataan yang mungkin jauh berbeda dari kebahagiaan yang mereka alami saat ini. Namun, di saat itu, mereka hanya menikmati kebahagiaan sementara yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
__ADS_1
"Aku benci mereka berdua!"
Varro bingung mendengar perkataan Darren yang tiba-tiba, dengan matanya yang nyalang.