Gairah Ketua Geng Motor

Gairah Ketua Geng Motor
Minta Maaf


__ADS_3

Setibanya di rumah sakit, Alena kembali merasakan rasa takut yang sangat kuat karena ada trauma yang belum sembuh. Dia merasa takut saat akan memasuki kamar rawat inap Darren.


Ketika Alena mulai gemetaran dan menunjukkan tanda-tanda ketakutan, Axel menyadarinya dan mengatakan bahwa dia akan melindungi Alena. Dia berjanji bahwa asalkan dia berada di samping Alena, tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi padanya. Axel ingin memberikan rasa aman dan kepercayaan kepada Alena, memastikan bahwa Darren tidak akan menyakiti Alena lagi.


Dengan suara yang gugup, Alena berkata, "Kak Axel, a-ku... a-ku takut untuk masuk."


Axel memperhatikan kegelisahan Alena, kemudian mengambil tangan gadis tersebut. Memberikan rasa nyaman dan aman.


"Tenanglah, Alena. Aku di sini untuk melindungimu. Aku tidak akan membiarkan apapun terjadi padamu selama aku ada di sampingmu."


"Benarkah, kak Axel? Aku benar-benar takut bahwa dia akan kembali melukai aku."


Axel tersenyum dan menggeleng cepat. "Aku berjanji, Alena. Aku tahu apa yang dia lakukan kepadamu dan aku tidak akan membiarkannya terjadi lagi. Kamu tidak sendiri dalam menghadapinya, aku akan ada di sampingmu."


Alena menghela nafas lega. "Terima kasih, kak Axel."


"Aku paham, Alena. Kita akan melaluinya bersama-sama. Kamu kuat dan aku akan menjaga agar kamu tetap aman. Kita bisa mengatasi ketakutan ini bersama." Axel kembali meyakinkan Alena.


Axel mencoba memberikan Alena kepercayaan diri dan memberikan dukungan emosional. Dia ingin memastikan bahwa Alena aman dan tidak sendiri dalam menghadapi situasi yang menakutkan. Dengan menegaskan bahwa dia akan melindungi Alena, Axel berusaha membantu Alena mengatasi trauma yang masih berlanjut.


Setelah memasuki kamar rawat inap Darren dengan pegangan yang kuat pada lengan Axel, Alena merasa lega saat menyadari bahwa Darren sedang tertidur karena masih tidak sadarkan diri setelah operasi yang dia jalani. Operasi tersebut berkaitan dengan cedera serius yang dialaminya akibat kecelakaan yang melibatkan Darren.


Alena berjalan mengikuti langkah Axel, kemudian berdiri di sisi tempat tidur Darren. Sementara Axel berada di dekatnya untuk memberikan dukungan dan kehadiran yang menenangkan. Kamar rawat inap terasa tenang, dengan bunyi peralatan medis yang lembut di samping tempat tidur Darren.

__ADS_1


Alena memandang Darren yang terbaring lemah di tempat tidur, masih terhubung dengan beberapa alat medis. Dia melihat perban di sekitar kaki dan punggung Darren, mengingat kecelakaan yang menimpa Darren.


Rasa takut dan ketegangan dalam dirinya mulai mereda seiring dengan kesadaran bahwa Darren tidak akan bisa melukainya dalam kondisi seperti saat ini.


Axel tetap berada di samping Alena, membiarkannya mengambil waktu untuk mengatasi emosinya. Dia memberikan dukungan dengan tetap tenang dan memahami situasi yang sedang Alena alami. Mereka saling berbagi pandangan yang penuh makna, menunjukkan bahwa mereka melalui perjalanan ini bersama-sama.


Alena memperhatikan pernapasan Darren yang tenang dan pergerakan lemah tangan yang tergantung di sisi tempat tidur. Dia merasa lega bahwa saat ini Darren tidak mampu memberikan ancaman langsung kepadanya. Namun, meskipun Darren tidak sadar, Alena masih menghadapi tantangan emosional yang terkait dengan trauma yang dialaminya.


Dalam suasana yang tenang di kamar rawat inap, Alena dan Axel dapat memanfaatkan momen ini untuk berbicara, memperkuat ikatan mereka, dan mendukung Alena dalam memulihkan diri dari trauma yang dialaminya.


Setelah beberapa waktu, Darren tiba-tiba sadar dari keadaannya yang tidak sadar di kamar rawat inap. Ketika dia membuka mata, dia terkejut melihat Axel berdiri di dekat tempat tidurnya, dan Alena yang terlihat pucat dan ketakutan di sampingnya. Dia merasa bingung dan tidak sepenuhnya menyadari keadaan di sekitarnya.


Darren tersadar dengan keadaannya yang terbaring di tempat tidur dengan tubuh yang terikat oleh beberapa alat medis. Dia merasa jika tubuhnya terasa lemah dan ketidaknyamanan akibat cederanya yang serius, sehingga dia meringis saat merasakan rasa sakit tersebut.


"Eghhh..."


Ketika Darren melihat Axel dan Alena, dia bisa merasakan ketegangan dan ketakutan yang terpancar dari wajah mereka. Darren jadi merasa bingung dan tidak mengerti mengapa mereka terlihat seperti itu. Dia belum menyadari atau belum memahami sepenuhnya keadaannya yang saat ini terbaring tak berdaya di rumah sakit.


"Ada apa?" tanya Darren dengan suara lirih.


Dia merasa cemas, karena tidak mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Dia berusaha mengingat kejadian-kejadian terakhir sebelum kecelakaan atau operasinya.


Darren juga merasakan kebingungan karena melihat ekspresi ketakutan di wajah Alena, yang bisa memicu pertanyaan dalam pikirannya tentang apa yang telah terjadi.

__ADS_1


Sementara itu, Axel dan Alena merasa campur aduk antara kelegaan karena Darren akhirnya sadar dan kekhawatiran tentang bagaimana dia akan merespons situasi ini. Mereka merasa tegang dan siap untuk menghadapi apapun yang akan terjadi setelah Darren menyadari keadaannya.


Perlahan-lahan Darren menggerakkan tubuhnya dengan cemas. "Alena? Axel? Apa yang terjadi? Mengapa kalian terlihat begitu khawatir?" tanyanya.


Alena dengan nada gemetar menjawab, "Kak Darren, kamu sudah sadar. Kamu mengalami kecelakaan yang cukup serius. Kamu sedang berada di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan."


Darren terkejut saat mendengar jawaban yang diberikan oleh Alena. "Kecelakaan? Apa yang terjadi? Aku tidak ingat apa-apa sebelum ini.


Axel berusaha tenang, memberikan penjelasan kepada temannya. "Darren, saat kecelakaan terjadi, kamu mengalami cedera yang serius di kaki dan punggungmu. Kamu telah menjalani operasi dan sedang dalam tahap pemulihan."


Darren menghela nafas panik. "Oh Tuhan, aku tidak bisa mempercayai ini."


Alena bingung dengan sikap Darren yang berubah. Darren tidak lagi bicara kasar, abang menyebut "loe gue" seperti biasanya.


Tapi setelah beberapa saat kemudian, Darren meraih dan menggenggam tangan Alena dengan lembut. Membuat Alena dan juga Alex terkejut dengan tindakannya ini. Namun, disaat mereka mendengar Darren bicara, keduanya diam mendengarkan.


"Aku sangat menyesal, Alena. Aku tidak tahu apa yang terjadi sebelum kecelakaan, tapi aku minta maaf atas kejadian waktu itu. Aku khilaf dan tidak berpikir panjang. Aku minta maaf padamu, Alena."


Alena dan Axel saling pandang, kemudian Axel mengangguk mengerti. Dia memberikan dukungan pada Darren yang meminta maaf pada Alena.


"Darren, apa yang terjadi di antara kalian berdua adalah sesuatu yang harus dilupakan. Semua udah berlalu, dan aku berharap kamu benar-benar menyadari kesalahanmu."


Darren, dengan suara penuh penyesalan kembali meminta maaf.

__ADS_1


"Saya meminta maaf, Alena. Saya tidak pernah bermaksud untuk menyakiti kamu seperti itu. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat segalanya menjadi lebih baik. Aku hanya sedang emosi karena pria yang bersamamu, sewaktu kamu masih sekolah dulu, adalah pria yang membuat mamaku pergi."


Alena dengan suara bergetar, mulai mengerti alasan Darren yang bersikap seperti itu kepadanya. Darren berpikir bahwa Alena adalah anggota keluarga dari mantan Bos ibunya, atau setidaknya memiliki hubungan dengan pria bule Australia tersebut.


__ADS_2