Gairah Ketua Geng Motor

Gairah Ketua Geng Motor
Harus Tahu


__ADS_3

Brukkk


Alena menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, begitu dia sampai di dalam kamarnya. Dia langsung menangis, mengingat semua kejadian yang sudah terjadi padanya.


"Huhuhu..."


"Aku sangat bodoh telah mempercayai Axel, aku seharusnya lebih hati-hati."


"Argh... Aku merasa sangat malu atas apa yang terjadi dan aku merasa seperti ini semua adalah salahku. Huwaaaa..."


"Aku merasa sangat tidak berdaya dan tertekan, aku tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Hiks hiks hiks..."


Situasi yang dihadapi oleh Alena sangat sulit dan penuh dengan tekanan psikologis yang besar. Alena merasa terjebak antara merasa malu atas apa yang terjadi dan merasa tidak percaya diri untuk melaporkan kejadian tersebut karena khawatir akan konsekuensi yang akan dialaminya.


Alena merasa tertekan dan terisolasi, karena ia tidak dapat berbicara kepada siapa pun tentang kekerasan seksual yang dilakukan oleh Axel padanya. Dia merasa sangat menyesal atas tindakan naifnya dan merasa bersalah bahwa ia mempercayai Axel.


"Aku tidak tahu bagaimana cara melaporkan kejadian ini dan takut bahwa orang-orang akan menyalahkan aku."


Alena merasa tidak aman dan takut setelah kejadian tersebut. Ia merasa ketakutan akan bertemu dengan Axel lagi atau merasa bahwa orang lain juga bisa melakukan hal yang sama padanya.


"Bagaimana ini? Axel tidak akan membiarkan aku menentangnya lagi. Dia pasti akan menuntutku dengan keberadaan foto dan video tersebut."


Alena juga merasa malu dan bersalah atas apa yang terjadi, "tapi ini salahku. Kenapa aku tidak berhati-hati dan waspada?"


Tapi dia tidak bisa berdiam diri di rumah, karena itu bukan hal yang baik karena dia akan dianggap lemah. Apalagi Axel, cowok yang memperkosanya juga memiliki bukti jika Axel tidak bersalah dan dialah yang bersalah karena merayu Axel terlebih dahulu.


"Huwaaaa... apa yang harus aku lakukan?"

__ADS_1


Bruk bruk bruk


Alena memukuli bantal yang ada di depannya, melampiaskan rasa kesal tanah marahnya. Dia tidak mungkin merusak barang-barang lain yang ada di kamarnya, karena semua ini tidak didapat dengan cara yang mudah.


***


Di rumah besar Axel.


Situasi yang dihadapi oleh Axel juga tidak mudah. Axel merasa sangat menyesal atas tindakan yang dilakukannya dan ingin meminta maaf kepada Alena, tetapi dia merasa gengsi dan tidak tahu cara menghadapinya. Hal ini dapat membuat Axel merasa tertekan dan cemas.


Axel juga merasa sulit untuk menerima bahwa tindakan yang dilakukannya adalah tindakan kekerasan seksual, dan lebih parahnya pada Alena yang ternyata masih gadis alias perawan.


"Ah, ini bukan salah gue."


Axel berusaha untuk menjustifikasi perilakunya dengan alasan bahwa Alena memperdayanya terlebih dahulu. Tapi dia juga ingat, semua dilakukan Alena karena tidak sadar. Gadis itu terpengaruh oleh obat p3rangsang yang diberikan oleh Darren.


"Itu si br3ngs3k kenapa, ya? Padahal Alena tidak pernah punya masalah dengannya?"


Pertanyaan demi pertanyaan muncul di benak Axel, atas tindakan dan keputusan yang dilakukan oleh Darren. Temannya yang memiliki mata empat itu tidak mungkin melakukan sesuatu tanpa alasan, apalagi gegabah dalam memberikan suatu hukuman.


Menurut Axel, apa yang dilakukan dari nini adalah bentuk dari sebuah hukuman. Jadi, apa kesalahan Alena pada Darren, sehingga membuat temannya yang terlihat cupu dan culun itu marah besar?


"Ah, si4l itu si cupu! Gara-gara dia, gue jadi melakukan itu pada Alena."


Axel ingin sekali menghajar Darren, temannya yang sebenarnya telah memberikan obat perangsang pada Alena. Dia ingin tahu, apa alasan Darren melakukan semua itu.


Axel merasa terpukul dan merasa bersalah karena telah memperkosa Alena. Meskipun dia tidak munafik, jika sudah sering bermain-main dengan para j4l4n9 di luar sana atau teman wanitanya, yang sebenarnya memang sudah memiliki profesi seperti itu.

__ADS_1


Ia juga tidak bisa menerima bahwa temannya, Darren, telah memberikan obat perangsang pada Alena sehingga tindakan kekerasan tersebut terjadi. Axel merasa bahwa ia harus melakukan sesuatu untuk memperbaiki kesalahannya dan membantu Alena, sementara itu dia juga ingin mengetahui alasan di balik tindakan Darren.


"Gue harus mencari tahu, apa alasan Darren."


Axel cepat mengambil ponselnya kemudian menghubungi Darren. Dia memang belum bertemu dengan temannya satu itu setelah kejadian di gudang tadi. Dia juga tidak memberitahu pada siapapun dari anggota geng Pandawa Lima, tentang kejadian yang menimpanya bersama Alena.


Tapi ternyata panggilan teleponnya tidak diterima Darren.


"Ck, pengecut!"


Setelah mengumpat, Axel mengirim pesan pada Darren. Dia ingi bicara secara pribadi, hanya berdua saja. Axel juga memberi ancaman supaya Darren segera bertemu dengannya, karena jika tidak, semua akan dilaporkan Axel ke pihak kepolisian. Axel memberikan alasan bahwa dia memiliki bukti sehingga Darren tidak akan bisa melawannya.


Sekarang, Axel dan Darren bertemu di sebuah kafe yang tidak pernah digunakan oleh mereka berkumpul. Axel duduk di meja di sudut kafe, menunggu kedatangan Darren. Setelah beberapa menit, Darren tiba dan duduk di depan Axel. Kedua teman tersebut saling menatap dengan pandangan yang penuh emosi.


Axel langsung mengeluarkan pertanyaan yang sudah lama dipendam di hatinya. "Kenapa loe memberikan obat p3rangsang pada Alena?" tanya Axel dengan suara ditekan agar tidak terdengar pengunjung yang lain.


Darren tampak terkejut dengan pertanyaan tersebut. "Apa yang loe bicarakan, Axel?" balas Darren, mencoba untuk mengelak dari pertanyaan Axel.


"Gue tau jika loe yang memberikan obat p3rangsang pada Alena, Darren. Jadi, jangan mencoba mengelak dari pertanyaan gue!" seru Axel dengan tatapan mata yang tajam.


Darren berusaha tenang dan menjawab, "Ya, gye memberikan obat p3rangsang pada Alena. Tapi itu karena dia memintanya."


Axel merasa tidak percaya dengan jawaban tersebut. "Apa yang loe bicarakan? Alena tidak mungkin meminta obat p3rangsang dari loe. Jangan mencoba berbohong sama gue, Darren!" ujar Axel dengan nada tegas.


Darren kemudian menjelaskan, "Dia memintanya dariku, Axel. Gue tahu ini terdengar aneh, tapi gue ini benar."


Ternyata Darren masih bersikeras dengan mengatakan bahwa semua ini adalah keinginan Alena sendiri. Jadi dia tidak bisa disalahkan oleh siapapun, termasuk Axel.

__ADS_1


Axel tidak bisa menerima jawaban tersebut. Ia semakin marah dan mulai merasa bahwa Darren tidak jujur. "Gue gak percaya sama omongan loe, Darren. Loe tau, loe udah menghancurkan Alena dengan tindakan loe itu. Dan sekarang, loe malah mencoba menutupi kesalahan loe dengan berbohong sama gue, ha?" tanya Axel dengan suara tegas dan mata yang tajam.


Suasana semakin panas karena dalam tidak mau mengakui kesalahannya, sedangkan Axel tidak sabar menunggu jawaban yang diberikan oleh Darren.


__ADS_2