
Perlahan Alena membuka matanya, kepalanya masih terasa pusing apalagi dia sekarang merasa mual. Perlahan, sosok tinggi itu terlihat. Alena mengerjapkan matanya beberapa kali, memastikan bahwa sekarang ini dia hanya mimpi.
"Loe nyusahin tahu gak!"
"Kak Axel?"
Entah Alena harus senang atau sedih untuk saat ini, tapi dia merasa senang karena Axel yang telah menolongnya. Sedangkan untuk kesedihan Alena karena Axel merasa direpotkan olehnya.
"Maaf, kak Axel. A-ku ngerepotin kak Axel, ya?" tanya Alena sembari menundukkan kepalanya gugup.
Diam-diam Axel mengumpat dengan suara lirih. "Sudah tahu merepotkan masih saja tanya! Loe itu berat, mana panas lagi. Lain kali kalo mau pingsan jangan di depan gue, gue males nolongin loe, tahu!"
Rasa senang Alena menghilang seketika.
Benar dia hanya merepotkan Axel saja. Dia berjanji jika lain kali tidak akan lemah seperti tadi. Dia akan menjadi kuat mulai sekarang, dan dengan demikian, dia juga tidak akan pernah berharap agar bisa lebih dekat dengan Axel yang telah membuatnya sedih seberapa saat terakhir kemarin hingga saat ini.
"Maaf, kak Axel."
Alena ingin meraih tangan Axel, kemudian ingin memegangnya dengan hangat. Tapi nyatanya Axel langsung menepis kasar tangan Alena.
"Jangan sentuh gue! Gue jijik sama cewek lemah kayak loe! Sok cari perhatian."
Hati Alena semakin sakit mendengarnya. Dia bisa menerima dengan ucapan Axel tadi, tapi kenapa yang barusan Alena dengar sulit untuk diterima olehnya.
Alena bukan cewek lemah dan tukang cari perhatian, dia pindah bukan karena kemauannya. Tapi keadaan dirinya yang memang tiba-tiba lemah dengan matanya yang mengabur.
Axel menatap Alena dalam saat merasakan sentuhan tangan Alena tadi. Axel seperti terbang ke gudang kemarin, saat dia merasakan sentuhan Alena yang lebih dari ini. Tiba-tiba dia ingin mengulanginya lagi.
"Pulang sekarang."
Axel duduk di samping Alena, di pinggir ranjang UKS sembari memainkan ponselnya.
Alena menatap bingung dengan sikap Axel yang tiba-tiba berubah. Dia tidak tahu apa yang diinginkan oleh cowok tersebut. Kadang lembut, kadang kasar dan menyebalkan.
"Nanti izin biar diurus pihak UKS. Lagian, ngapain juga sekolah kalau cuma tiduran aja di UKS. Mending pulang, istirahat di rumah."
Alena menganggukkan kepalanya lalu menyibak selimut dan turun dari atas tempat tidur. Alena memegangi kepalanya yang masih terasa pusing. Langkahnya sedikit terseok-seok sambil memegangi pinggiran tempat tidur. Saking tidak kuatnya Anna terjatuh dengan kepalanya terbentur lantai.
__ADS_1
Teg
Brukkk
"Ck! Lemah amat sih loe! Sakit gitu doang dibesar-besarin."
Axel menghampiri Anna lalu membantu Alena untuk berdiri atau duduk, tapi ternyata hidung Alena mimisan.
Melihat itu, Axel mengambil beberapa lembar tissue lalu memberikannya kepada Alena. "Jangan nunduk," perintahnya dengan nada tinggi, tapi juga cemas.
Alena menengadahkan kepalanya ke atas. Rasa pusing yang dirasakannya kian menjalar memenuhi kepalanya. Alena sudah tidak kuat lagi, tapi dia tidak ingin terlihat lemah dan berakhir Axel mengejeknya lagi.
"Maaf, kak Axel. Aku ngerepotin kakak lagi."
"Berisik!"
Axel menyahut cepat sembari menggendong Alena keluar dari dalam ruang UKS. Dia ingin membawa Alena ke rumah sakit saja.
"Mas..."
Axel memotong kalimat perawat UKS, saat perawat tersebut baru saja datang dan menegurnya.
Hari ini adalah hari Senin, dan tadi, saat upacara bendera Alena pingsan. Axel kebetulan tepat berada di belakangnya, sigap membopongnya ke UKS. Temannya yang lain, dua minta untuk tetap mengikuti upacara sampai selesai.
Darren, sudah beberapa hari tidak masuk sekolah sejak terakhir bertemu dengannya di kafe dan membahas tentang alasan Darren mengerjai Alena.
Alena dan Axel menjadi atensi semua mata yang melihat mereka. Tidak sedikit murid yang membicarakan mereka. Cibiran dan perkataan semakin banyak bahkan lebih mendominasi.
'Itu anak baru, kan? Dia sama kak Axel, kapten basket?”
"Kak Axel pacaran sama anak baru itu? Wah, beruntungnya anak baru itu bisa pacaran sama kak Axel."
"Tapi, gue denger-denger kak Axel lagi deket sama kak Clara, masa couple mereka bubar sih padahal chemistry-nya beralur banget.”
"Palingan murid baru itu caper kali, biasalah... anak baru belum tahu jika kak Clara bisa ngamuk. Hehehe..."
"Katanya kak Clara sama kak Axel udah deket lama, tapi kenapa malah sama si baru itu? atau kak Axel cuman mainin si baru doang?"
__ADS_1
Alena menyembunyikan wajahnya di dada bidang Axel saat mendengar semua omongan dan perkataan mereka yang tidak benar. Alena tidak ada hubungan dengan Axel, dan Axel sendiri sebenarnya tidak ada hubungan dengan Clara ataupun yang lain.
"Kak Axel, maaf."
"Berisik loe! Dari tadi maaf mulu yang loe ucapin." Axel kesal saat Alena mengucapkan permintaan maaf lagi.
Axel mendudukkan Alena di atas jok motornya, kemudian ia mengambil jaketnya dan mengikatnya di pinggang Alena.
Alena memandang semua yang dilakukan oleh Axel untuk keamanan dirinya. Jantungnya berdegup kencang melihat dan merasakan perhatian kecil Axel ini.
"Gak perlu, kak Axel. Aku bisa pulang sendiri, kok. Aku gak mau ngerepotin kamu lagi, kak." Alena hendak turun dari motor Axel, tapi Axel mencengkram pundaknya.
“Pulang sama gue atau gue banting loe di sini!" ancam Axel tanpa melepas cengkeramannya.
Alena meringis pelan. Cengkraman Axel cukup membuat pundaknya sakit. Akhirnya Alena menganggukkan kepalanya sebelum Leon berlaku lebih kasar padanya.
“Iya, kak."
"Alena!"
Iris berlari menghampiri Alena dan langsung memeluknya. "Lie gak apa-apa, kan?" tanyanya kemudian.
Alena tentu saja tersentak kaget. Dia melirik Axel yang sedang menatapnya tajam. Alena hanya meringis sambil tersenyum tipis mendengar pertanyaan dan rasa khawatir Iris. Dia berusaha melepas pelukan Iris perlahan-lahan. Alena tidak mau jika Axel harus menunggu lama, karena bisa dipastikan jika Iris akan memberikan banyak pertanyaan untuknya.
"Loe gak papa, kan Len? Gue denger dari anak-anak loe pingsan di lapangan. Loe gak papa, kan?" tanya Iris sembari meneliti seluruh badan Alena.
Tadi, Iris terlambat datang sehingga dia tidak mengikuti upacara bendera di lapangan. Jadi, saat semuanya bubar dan dia mendengar banyak yang membicarakan tentang Alena yang pingsan, Iris langsung mencari keberadaannya.
“Aku gak papa, kok.” jawab Alena sedikit gemetar, pasalnya sedari tadi Axel terus menatapnya tajam.
Iris menghela nafas lega. “Kita ke rumah sakit ya?” tawarnya kemudian dengan wajah yang khawatir.
Alena menggelengkan kepalanya. “Gak perlu, Ris. A-ku, aku gak papa, kok. Lagian a-ku udah mendingan, ini."
“Baiklah, loe pulang sama gue ya?” pinta Iris.
"Minggir!" Axel membentak Iris, dengan menyingkirkan Iris dari depannya.
__ADS_1