
Dengan sedikit gugup, Axelm mendekat ke tempat duduk papa dan mamanya. "Papa, mama, ada sesuatu yang ingin Axel bicarakan dengan kalian berdua."
Papanya Axel mengerutkan keningnya mendengar suara anaknya yang tampak serius. "Tentu, Axel. Apa yang ingin kamu sampaikan? Sepertinya ini hal yang penting.
Axel mengangguk mengiyakan. "Axel ingin meminta izin kepada kalian untuk menggunakan salah satu bangunan ruko milik kita. Axel ingin mengelolanya sebagai rumah makan atau kafe."
Mamanya sedikit terkejut dengan permintaan anaknya. Ini adalah hal yang luar biasa, yang dia dengar dari anak tunggalnya itu. Mamanya, Shena, juga merasa heran karena Axel berkata dengan lembut dan sopan. Tidak sama seperti biasanya.
"Oh, begitu. Itu memang terdengar menarik. Namun, kami merasa perlu mendapatkan penjelasan dan alasan yang lebih rinci dari kamu, Axel. Mengapa kamu ingin melakukan hal ini?" tanyanya ingin tahu.
"Maaf, mama, jika Axel tidak memberikan penjelasan yang memadai. Axel sangat bersemangat dengan ide ini dan telah melakukan banyak riset. Axel percaya bahwa membuka rumah makan atau kafe akan menjadi peluang bisnis yang menguntungkan untuk kita."
Sekarang Papanya yang terkejut. Anak manjanya ini, tidak terbiasa memikirkan banyak hal, terutama tentang bisnis. Axel terbiasa hanya bisa menghambur-hamburkan uang tanpa peduli dengan apapun.
"Tapi, apa yang membuat kamu yakin bahwa ini adalah langkah yang tepat untuk kamu, Axel? Apa rencana bisnismu?" tanya papanya, berusaha mengorek keterangan.
"Axel telah menyusun rencana bisnis yang komprehensif. Axel telah melakukan studi pasar dan melihat potensi pelanggan di area ini. Axel juga akan bermitra dengan seorang chef berpengalaman untuk menciptakan menu yang menarik dan berkualitas. Selain itu, Axel akan melakukan strategi pemasaran yang efektif untuk menarik pelanggan dan memastikan keberlanjutan usaha ini."
Mama dan papanya saling pandang. Mereka berdua tidak pernah menyangka jika anaknya bisa berbicara seserius ini tentang bisnis.
"Itu terdengar lebih baik. Namun, apakah ada faktor lain yang harus kami pertimbangkan dalam keputusan ini?" tanya Shena penasaran.
__ADS_1
"Axel memahami kekhawatiran kalian, papa dan mama. Selain manfaat finansial, Axel juga melihat ini sebagai kesempatan untuk membangun bisnis keluarga yang dapat kita wariskan kepada generasi mendatang. Selain itu, saya berkomitmen untuk memelihara dan menjaga bangunan ini dengan baik agar tetap menjadi aset berharga bagi keluarga kita."
Papanya semakin melonggo mendengar penjelasan yang diberikan oleh anaknya. "Kamu baik-baik saja, kan Xel?"
"Apa sih, Pa?" tanya Axel kesal.
Shena mengeleng beberapa kali melihat bagaimana kedua laki-laki yang menjadi bagian hidupnya saling berdebat. Hal ini membuatnya bahagia karena sudah lama tidak mendapatkan suasana hangat ini.
"Terima kasih atas penjelasannya, Axel. Kami menghargai ketulusanmu dalam mengemukakan ide ini. Kami akan mempertimbangkan permintaanmu dan membahasnya lebih lanjut nanti."
"Ya, kita akan membicarakannya dengan serius, Axel. Kami ingin memastikan bahwa ini adalah keputusan yang baik untuk kita semua."
Akhirnya mama dan papanya Axel mempertimbangkan permintaan Axel barusan. Mereka memiliki banyak bangunan ruko yang terpakai maupun yang tidak. Karena selain sebagai seorang pejabat, mereka juga seorang pembisnis yang tentunya memiliki banyak usaha karena kemudahan dari jabatan yang dimiliki oleh papanya Axel.
Mendengar pertanyaan yang mendesak untuk alasan permintaannya tadi, akhirnya terpaksa Axel memberitahu alasannya bahwa dia ingin menggunakan ruko tersebut untuk membantu seorang gadis yang sedang kesusahan. Dari cerita Axel, mama dan papanya justru memiliki pemikiran lain bahwa Axel pastinya mencintai gadis tersebut. Karena anaknya ini tidak biasa memperhatikan lawan jenis atau siapapun juga, jadi mereka menarik kesimpulan seperti itu.
Setelah dipaksa oleh rasa kejujuran, Axel akhirnya memberitahu papa dan mama bahwa alasan sebenarnya dia ingin menggunakan ruko tersebut adalah untuk membantu seorang gadis yang sedang kesusahan. Namun, reaksi dari mama dan papa tidak seperti yang dia harapkan.
"Jadi, alasan sebenarnya di balik permintaanmu adalah karena gadis itu? Apa maksudmu, Axel?" tanya Shena.
"Iya, mama. Gadis itu sedang mengalami kesulitan finansial dan aku ingin memberikan kesempatan kepadanya untuk membantu dalam mengelola rumah makan atau kafe. Aku percaya dia memiliki bakat dan potensi untuk sukses dalam industri ini."
__ADS_1
Axel berusaha memberikan penjelasan dengan memberikan gambaran tentang Alena. Dia tak bisa berkata sejujurnya pada mama dan papanya mengenai siapa Alena yang sebenarnya.
Dengan ekspresi ragu, papanya mengajukan pertanyaan. "Axel, apakah kamu yakin ini bukan karena kamu mencintainya? Kami belum pernah melihatmu begitu memperhatikan lawan jenis atau siapapun secara khusus sebelumnya."
Axel memicingkan matanya mendengar pertanyaan tersebut. "Papa, aku mengerti kekhawatiran kalian. Tetapi, ini bukan tentang cinta. Aku hanya ingin membantu dia dalam situasi sulitnya. Tujuanku adalah untuk memberikan kesempatan pada orang yang layak dan memperoleh keuntungan bisnis dari usaha ini."
Ternyata Axel tetap tidak ingin mengungkapkan perasaannya atau hubungannya dengan Alena. Apa yang sudah terjadi antara mereka berdua akibat obat p3rangsang yang diberikan oleh Darren.
"Tetapi Axel, membawa masalah pribadi ke dalam bisnis keluarga tidak selalu menjadi keputusan yang bijak. Apa yang terjadi jika hubunganmu dengan gadis itu berakhir atau ada masalah dalam kerja sama?" Shena mengajukan pertanyaan.
Dia sudah sangat berpengalaman dalam bisnis dengan berbagai macam jenis. Jadi, dia lebih berpengalaman dan tahu akan situasi kondisi di lapangan.
"Axel memahami kekhawatiran itu, mama. Namun, aku percaya bahwa dengan komitmen yang serius dan kesepakatan yang jelas, kita dapat mengelola bisnis ini dengan profesionalisme. Aku ingin membuktikan bahwa ini adalah keputusan yang tepat untuk membantu orang lain dan juga mengembangkan bisnis keluarga kita."
Papanya mengangguk saja. "Kami harus berpikir dengan matang tentang implikasi jangka panjang dari keputusan ini, Axel. Kami peduli dengan kebahagiaanmu dan kelangsungan bisnis keluarga."
Axel kecewa dengan sikap mama dan papanya, yang tidak bisa percaya dengannya 100%. Padahal dia sudah memberikan penjelasan yang detil.
"Axel mengerti, papa. Aku tidak bermaksud membuat keputusan ini tanpa pertimbangan. Aku siap untuk membahas dan menyelesaikan semua masalah yang mungkin timbul. Aku berharap kalian dapat mendukungku dalam menjalankan rencana kali ini."
Ketegangan, kekhawatiran tentu saja membuat situasi menjadi tidak nyaman. Ada hawa panas yang baru di antara Axel, mama, dan papanya. Axel harus membuktikan bahwa niatnya adalah untuk membantu dan mengembangkan bisnis keluarga, bukan semata-mata karena hubungan pribadinya dengan gadis tersebut. Penting bagi mereka untuk berkomunikasi terbuka dan mencari solusi bersama untuk mengatasi ketidakpastian dan kekhawatiran yang timbul.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya menjadi motivasi kamu, Axel?" tanya Shena sekali lagi.