
Setelah lama mereka mengobrol, mereka lupa bahwa ada Erna disitu yang mendengarnya.
" Aduh Erna, maaf ya kamu jadi dengar hal yang kaya gini. " Ujar Bu Ririn.
" Tidak apa-apa kok Bu, Namanya juga rumah tangga, pasti punya ujian masing masing. " Jawab Erna dengan lirih.
" Dia ini sejak kapan mah kerja disini? " Tanya Daniel sambil menunjuk ke Erna.
" Eh kamu ini pake tunjuk tunjuk lagi, ini tu namanya Erna, dia udah sebulan kerja dirumah kita. "
" Iya udah tau kok namanya, masih kecil kaya gitu memangnya bisa bekerja? " Jawab Daniel yang meragukan kemampuan Erna.
Erna tak menjawab apa apa ia hanya menundukkan kepalanya.
" Kamu ini, kecil kecil kaya gini dia itu gesit tau kerjanya, tenaga masih muda kan pasti masih cekatan, lagian Dinda juga suka kok sama Erna ini, jarang jarang kan Dinda bisa nempel sama orang lain kaya gini. " Ujar Bu Ririn.
" Oh. " Jawab Daniel dengan begitu judesnya.
" Laki laki ini sangat menyebalkan sekali, kalau bukan anaknya Bu Ririn awas saja. " Gerutu Erna di dalam hati.
" Maaf ya Erna, Daniel memang suka begitu. " Ujar Bu Ririn.
" Hehe iya Bu, tidak apa apa. " Jawab Erna dengan senyuman.
" Emang papah enggak kesini mah? " Tanya Daniel.
" Papah nanti kesini, papah lagi meeting katanya. " Jawab Bu Ririn.
Tak lama kemudian Dinda pun terbangun karena suara berisik mereka.
" Mah. " Suara Dinda yang lirih sambil membuka matanya.
" Iya nak, mau makan? atau mau apa? " Tanya Bu Ririn yang ribut menawarkan makan setelah melihat Dinda bangun dari tidurnya.
" Dinda, ini kakak sudah datang. " Ujar Daniel yang mendekat ke tempat tidur Dinda.
" Loh, kakak. " Ujar Dinda yang begitu senang melihat kakaknya akhirnya datang untuk menemaninya, sambil membentangkan tangannya untuk meminta pelukan dari Daniel.
" Iya kan kakak kesini buat kamu dek. " Jawab Daniel sambil memeluk adik kecilnya.
" Aku rindu sekali dengan kakak. " Ujar Dinda yang manja.
" Hem, kakak juga rindu sekali dengan dinda. " Jawab Daniel.
" Ah kakak bilang rindu tapi kok tidak pernah pulang kerumah papah? " Ujar Dinda yang sedikit merajuk.
__ADS_1
" Hehe, ya kan kakak sedang sibuk bekerja dek, jadi kakak belum sempat untuk ke rumah papah dan main sama kamu. "
" Kakak selalu saja begitu. "
Daniel pun mengusap kepala Dinda dengan lembut.
" Kakak, kak Jessica mana, kok tidak ada? " Sambung Dinda.
" Kak Jessica hari ini belum bisa kesini, Kak Jess lagi sibuk, nanti dia akan nyusul kesini kok kalau pekerjaannya sudah selesai. "
" Kak Jessica udah tidak kangen ya sama Dinda ya kak? " Tanya Dinda yang nampak melas.
" Kak Jessica pasti kangen dong sama Dinda, makanya nanti Kak Jessica nanti nyusul kesini, kalau nggak kangen kan nggak akan kesini dek. "
" Hem, ya sudahlah. "
" Mbak Erna Mbak Erna, Kenalin dong ini kakak aku, namanya Kak Daniel. " Ujar Dinda yang mencoba memperkenalkan Daniel dan Erna.
" Iya Non, Mbak Erna sudah tau kok tadi, Mamahnya Non Dinda sudah memberi tahu tadi. "
" Yahh keduluan sama mamah. " Ujar Dinda.
Mereka pun tersenyum melihat kelakuan Dinda yang menggemaskan itu.
Setelah beberapa lama mereka dirumah sakit, Pak Damar akhirnya datang juga, Pak Damar yang tak mengetahui Daniel datang ke situ pun terkejut, Pak Damar terus memeluk Daniel anak kebanggaannya itu.
" Sehat pah, papah sendiri gimana kabarnya? " Tanya Daniel balik.
" Sehat kok papah sehat. " Jawab Pak Damar.
" Mah, bagaimana keadaan Dinda? sudah mendingan belum? bagaimana kata dokter tadi? " Tanya Pak Damar kepada Bu Ririn.
" Kata Dokter, Dinda sudah mendingan pah, sudah ada perkembangan. " Jawab Bu Ririn yang sangat bahagia dengan perkembangan kesehatan Dinda.
" Oh, ya syukur deh kalau begitu. " Ujar Pak Damar dengan hati yang lega.
" Oh iya, Daniel nanti kalau kamu pulang, Erna biar pulang bareng sama kamu ya? " Ujar Bu Ririn.
" Apaan sih mah, dia kan bisa pulang sendiri. " Jawab si pria dingin itu.
" Ih kakak kok gitu sih, kan kasian Mbak Erna kalau harus pulang naik ojek, kakak ini pelit sekali. " Ujar Dinda yang memarahi kakaknya.
" Iya Daniel, kamu ini aneh orang pulangnya satu rumah juga, masak iya harus pulang sendiri sendiri. "
" Tidak Bu tidak usah tidak apa apa, saya bisa pulang sendiri kok Bu. " Ujar Erna.
__ADS_1
" Tuh, orang dia bisa pulang sendiri kok. " Ucap Daniel.
" Daniel, kamu ini nurut aja kenapa sih, sudah banget. " Ujar Bu Ririn yang kesal kepada putranya itu.
" Iya iya. " Jawab Daniel.
Akhirnya Daniel dan Erna pun pulang bersama, Erna mengikuti langkah Daniel ke parkiran rumah sakit, karena Erna belum tahu mobil Daniel yang mana, Daniel berjalan begitu cepat, Erna capek mengikuti langkah Daniel, Erna begitu kesal melihat kelakuan Daniel yang tidak peka dengan wanita, Erna berkali kali berhenti karena sudah ngos-ngosan mengikuti langkah Daniel.
" issshh, dasar laki laki tidak peka! tidak tahu apa kalau saya ini capek ngikutin dia! "Gerutu Erna.
" Apa apa? kamu bicara apa tadi? " Ujar Daniel yang samar samar mendengar suara Erna.
" Tidak Pak, saya tidak bicara apa apa, tadi cuma lihat orang lewat saja. " Jawab Erna yang gugup takut Daniel mendegar omonganya.
" Dasar gadis gila. " Gumam Daniel sambil menggelengkan kepalanya.
Mereka telah sampai di parkiran, Daniel segeran masuk ke mobilnya, Erna yang spontan duduk di belakang karena merasa tidak sopan kalau duduk didepan berdampingan dengan Pak Daniel.
" Lohh, kamu ngapain duduk di belakang? " Ujar Daniel.
" La terus saya harus duduk dimana Pak? " Jawab Erna yang kebingungan.
" Ya duduk depan lah, lagian kamu duduk di belakang enak banget, emangnya saya supir kamu apa? "
Erna segera turun dan pindah duduk di kursi samping Daniel.
Daniel segera melajukan mobilnya dengan kencang, Erna takut karena Daniel ngebut, Erna hanya diam dan memejamkan kedua matanya serta berharap tidak akan terjadi apa apa dengannya.
Daniel yang melihat Erna ketakutan hanya tersenyum tipis, setelah di lampu merah Erna membuka matanya, dan mengusap dadanya.
" Kamu ini kenapa sih, kaya nggak pernah naik mobil saja. " Ujar Daniel.
" Saya takut Pak, Bapak nyetirnya kencang sekali. "
.
" Haha dasar anak kecil. " Ujar Daniel sambil mengejek Erna.
" Kamu ini kecil kecil sudah kerja, memangnya kamu tidak sekolah? " Sambung Daniel.
" Tidak, saya putus sekolah Pak waktu kelas 2 SMA. " Jawab Erna.
" Kenapa? sudah bosan sekolah? "
" Bukan, bukan karena itu Pak, saya berasal dari keluarga yang kurang mampu Pak, ibu saya sakit sakitan butuh banyak biaya, bapak saya punya banyak hutang karena dulu uang itu dipergunakan untuk berobat ibu saya, jadi saya disini bekerja cari uang untuk melunasi hutang hutang bapak saya, serta untuk berobat ibu saya. "
__ADS_1
" Oh, jadi begitu. " Jawab Daniel dengan singkat dan padat.
" Apasih ni orang tanya tanya, ujung ujung-ujungnya nggak jelas banget, emang dasar dinginnya kaya kulkas tujuh pintu. " Gumam Erna dalam hatinya.