Gairah Sang Pembantu Muda

Gairah Sang Pembantu Muda
kekecewaan Anton


__ADS_3

Anton pun pulang dengan membawa kekecewaan di hatinya, cintanya yang ternyata bertepuk sebelah tangan dengan Erna.


Meski begitu, Anton tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan cintanya Erna, ia akan terus berjuang mendapatkan cintanya Erna.


Dan Erna pun merasa sangat tidak enak hati telah menolak Anton, karena Anton ini adalah orang yang selalu ada ketika Erna membutuhkannya, Erna takut kalau setelah ini Anton akan menjauhinya dan tidak mau berteman dengannya.


Tak lama kemudian Erna mendapatkan telfon dari Bu Ririn, yang mengatakan bahwa malam ini Dinda sudah bisa diajak pulang, dan Bu Ririn menyuruh Anton dan Erna untuk menyusul mereka ke rumah sakit.


Erna segera mencari Anton untuk mengajaknya ke rumah sakit.


" Mas Anton. " Panggil Erna kepada Anton yang sedang duduk di depan rumah.


" Oh, iya Er, ada apa? " Jawab Anton.


" Itu, ibuk nyuruh kita untuk menyusul ke rjmah sakit, karena Non Dinda sudah bisa diajak pulang malam ini. " Jawan Erna.


" Oh iya, aku siap siap sebentar. " Saut Anton.


" Iya Mas. "


Erna masih merasa tidak enak hati ketika bertemu dengan Anton, ia sangat merasa bersalah dengan apa yang ia katakan kepada Anton, Erna takut apa yang ia katakan itu menyinggung hatinya.


Begitu pula dengan Anton, hatinya masih terasa tidak karuan, ia merasa minder karena cintanya telah di tolak dengan Erna, Anton juga takut kalau setelah ini Erna akan menjauhinya.


Setelah siap mereka segera berangkat ke rumah sakit, di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, suasana di mobil nampak hening, hanya terdengar suara musik dari dalam mobil.


Erna yang memperhatikan Anton diam saja dari tadi semakin membuatnya merasa bersalah.


" Ee, Mas. " Panggil Erna yang memberanikan diri untuk membuka obrolan.


" Iya Er, kenapa? " Tanya Anton yang terdengar canggung dengan Erna.


" Emm, kamu marah ya Mas sama aku? " Tanya Erna.


" Enggak kok, kenapa harus marah? "


" Ya karena masalah tadi sore, maaf ya Mas kalau kata kataku menyinggung hati kamu. " Ujar Erna meminta maaf kepada Anton.


" Tidak apa apa, namanya hati nggak mungkin bisa di paksa, aku juga nggak berhak untuk memaksa kamu untuk nerima cintaku Er. " Jawab Anton.


" Tapi kamu tidak akan menjauhiku kan Mas setelah ini? "


" Tidak Er, ya anggap saja kalau aku tidak pernah mengatakan hal itu sama kamu, sudah lupakan saja. "

__ADS_1


" Baiklah Mas. "


Sesampainya di rumah sakit, Erna langsung menghampiri Dinda dan memeluknya.


" Mbak Erna, Dinda senang sekali akhirnya Dinda sudah bisa pulang, Dinda sudah sangat rindu sekali di bacakan cerita dongeng sama Mbak Erna. " Ujar Dinda dengan wajah sumringah nya.


" Iya, Mbak Erna juga kangen main sama Non Dinda, nanti Mbak Erna bacakan cerita dongeng yang baru deh. " Jawab Erna.


" Waaahhh, beneran Mbak? " Tanya Erna yang sudah tidak sabar mendengar cerita dongeng yang dibacakan sama Mbak Erna.


" Iya beneran, tapi Non Dinda harus pulang dulu ya, makan yang banyak biar cepef sembuh. "


" Siap komandan hehehe. " Jawab Dinda.


Bu Ririn tersenyum melihat Dinda sudah bisa tertawa riang seperti itu, Dinda terlihat begitu nyaman dengan Erna, begitu juga sebaliknya, Erna begitu sayang sekali dengan Dinda bagaikan adik sendiri.


Bi Sumi yang saat itu memperhatikan Anton pun heran, tumben Anton se pendiam seperti itu.


" Neng Erna, itu Mas Anton kenapa cemberut terus kaya gitu? lagi marahan ya? " Tanya Bi Sumi.


" Apasih Bibi, orang nggak kenapa kenapa juga. " Jawab Anton.


" Hiii la lagian tumben pada diem dieman."


" Enggak kok Bi, kita nggak lagi marahan. " Saut Erna.


" Oh iya Buk, mana barang barang yang mau dibawa pulang? , biar saya siapin Buk. " Tanya Erna kepada Bu Ririn.


" Itu di dalam lemari. " Jawab Bu Ririn.


" Mbak Erna, Dinda kangen deh sama Mbak Erna, kangen dianter sekolah sama Mbak Erna, makan disuapin Mbak Erna, main sama Mbak Erna, dibacain dongeng sama Mbak Erna. " Ujar Dinda kepada Erna.


" Mbak Erna juga kangen sekali sama Non Dinda. " Jawab Erna.


" Kalian ini sudah seperti kakak adik saja. " Ujar Bu Ririn.


" Iya ya Nya, baru kali ini ngelihat Non Dinda bisa sedekat ini sama orang lain, padahal sebelumnya enggak pernah. " Sambung Bi Sumi.


" Iya Bi, saya juga heran, entah apa yang membuat Dinda begitu nyaman kalau sama Erna. "


" Mbak Erna itu orangnya baik Mah, cantik, suka ngajarin aku belajar, ngajakin main, pokoknya semuanya deh. " Ujar Dinda.


" Non Dinda ini bisa aja. " Saut Erna.

__ADS_1


" Dinda sayang ya sama Mbak Erna? " Tanya Bu Ririn kepada putri kecilnya.


" Iya Mah, Dinda sayaaaaang banget sama Mbak Erna. " Jawab Dinda.


" Mamah seneng kalo liat Dinda bisa senyum kaya gini. "


" Mbak Erna, Mbak Erna di rumah punya Adik tidak? " Tanya Dinda kepada Erna.


" Tidak Non, Mbak Erna tidak punya adik, Mbak Erna ini anak satu satunya, jadi dirumah suka kesepian nggak ada teman. " Jawab Erna.


" Tapi kamu masih punya orang tua Er? " Tanya Bu Ririn kepada Erna.


" Masih Buk. " Jawab Erna.


" Kok kamu tidak pernah mengambil libur untuk pulang? selama kamu kerja disini kamu belum pernah libur loh. "


" Iya Buk, tidak apa apa, saya belum pengen libur kok. " Jawab Erna yang sebenarnya rindu sekali dengan kedua orang tuanya.


" Mamah, Mamah, bagaimana kalau kapan kapan kita anter Mbak Erna pulang? sambil main ke rumahnya Mbak Erna? " Seru Dinda.


" Hemmm, boleh juga tuh. " Jawab Bu Ririn.


Erna terkejut dengan jawaban Bu Ririn yang ingin berkunjung ke rumahnya, Erna langsung melirik ke arah Bi Sumi, yang menandakan bahwa ia bingung harus menjawab apa, karena ia takut kalau nanti akan di marahin oleh Pak Damar, Bo Sumi pun mengkode Erna dengan gelengan kepala.


" Eee, sebelumnya terimakasih Bu, tapi tidak usah, rumah saya jelek Bu, jauh pula. " Jawab Erna.


Anton hanya mendengarkan percakapan mereka, Anton takut kalau Erna tahu tentang Anton yang datang menemui orang tua Erna.


" Lohh ya tidak apa apa, yang penting kan kamu bisa pulang. " Ujar Bu Ririn.


" Saya bisa pulanh sendiri kok Buk, nanti malah merepotkan Ibuk. " Jawab Erna.


" Ah ya sudah lah terserah kamu. "


Tak lama kemudian mereka pun sudah siap untuk membawa Dinda pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, tak lama kemudian, Pak Damar baru saja pulang dari acara kantornya, wajah Pak Damar nampak sangat lesu, dan sepertinya Pak Damar sedang ada masalah.


" Erna! Erna!! " Teriak Pak Damar memanggil Erna.


" Iya Pak, ada apa? " Tanya Erna.


" Buatkan saya kopi hangat. " Perintah Pak Damar.

__ADS_1


" Baik Pak. " Jawab Erna.


Erna pun segera ke dapur dan membuatkan kopi untuk Pak Damar, namun saat Erna hendak menaruh kopi di meja, dan tak sengaja Erna tersandung sehingga kopi itu menyiram tubuh Pak Damar.


__ADS_2