
Tangis Erna tak kunjung berhenti di mobil itu, Pak Damar dan para bodyguardnya itu tak memperdulikan tangisan Erna, sepanjang jalan Erna hanya memikirkan keadaan kedua orang tuanya, siapa yang akan menjaga mereka nanti.
Namun tak lama kemudian Erna telah sampai dirumah Pak Damar, rumah yang begitu mewah dan besar.
Pak Damar segera membawa Erna masuk ke dalam rumahnya, sesampainya didalam ada seorang perempuan, namanya Bu Ririn dia adalah istrinya Pak Damar dan seorang gadis kecil perempuan duduk disamping bu ririn, namanya adalah Dinda anak bungsu Pak Damar dan Bu Ririn.
Pak Damar dan Bu Ririn sebenarnya mempunyai 2 orang anak, satu laki laki bernama Daniel dan satu perempuan bernama Dinda, Anak laki laki Pak Damar ini kabarnya sudah menikah dan menetap di kota.
Bu Ririn pun tidak tahu kalau Erna akan dibawa kerumah ini untuk menggantikan asisten rumah tangganya karena sebelumnya asisten rumah tangga mereka sudah tua jadi untuk mengerjakan rumah sebesar ini tidak bisa secepat yang masih muda.
" Loh pah, ini siapa? " Tanya Bu Ririn yang terkejut dengan kedatangan Pak Damar yang membawa Erna.
" Ini Erna namanya dia yang akan menggantikan bi sumi nanti kalau dia pulang kampung. " Ujar Pak Damar yang memperkenalkan Erna.
" Oh, tapi kok kelihatannya dia masih muda banget ya pah? " Tanya Bu Ririn lagi.
" Kakaknya cantik ya mah ya? "Ujar Dinda si gadis kecil.
Erna menanggapinya dengan senyuman, walaupun sebenarnya hatinya sedang berkecamuk tidak karuan.
" Bi Sumi mana mah? " Tanya Pak Damar yang mencari asisten rumah tangganya itu.
" Oh, Bi Sumi tadi sedang ke pasar pah dari tadi pagi belom pulang katanya dia sambil mau mampir kerumah sodaranya yang deket pasar itu. " Jawab Bu Ririn.
" Ya sudah ini antarkan dia ke kamar kosong samping Bi Sumi. " Ujar Pak Damar.
" Erna mari ikut saya. " Ujar Bu Ririn yang ramah.
" Iya Buk. " Jawab Erna.
Dinda si gadis kecil pun ikut mengantarkan Erna ke kamarnya.
" Adek ini umur berapa buk? " Tanya Erna supaya suasana tidak hening.
" Dinda ini baru berumur tujuh tahun, dia baru duduk di kelas 1 SD. " Jawab Bu Ririn.
__ADS_1
Dinda yang nampaknya suka dengan Erna ini melambaikan tangannya kepada Erna, Erna pun tersenyum melihat gadis kecil yang cantik itu.
Di samping itu Bu Ririn sambil menjelaskan apa saja yang harus di kerjakan Erna dirumah ini.
Waktu sudah menjelang malam, ternyata Bi Sumi sudah pulang, Erna pun berjalan ke dapur disitu dilihat Bi Sumi sedang memasak untuk persiapan makan malam, Bu Ririn juga berada disitu ia tengah membuatkan cemilan untuk Dinda, Bi Sumi yang terlihat bingung melihat Erna.
" Bi, ini Erna namanya, dia yang akan membantu bibi mengurus rumah ini. " Ujar Bu Rini.
" Oh iya nya. " Jawab Bi Sumi sambil tersenyum kepada Erna.
Erna pun membalasnya dengan senyuman serta menundukan kepala menunjukan rasa hormatnya kepada Bi Sumi yang lebih tua.
" Erna, sini bantu Bi Sumi masak. " Ujar Bu Ririn supaya Erna lebih akrab dengan orang dirumah.
" Baik Bu, eh nyonya. " Saut Erna.
" Sudah panggil ibu saja tidak apa apa. " Jawab Bu Ririn.
" Bi, mana yang bisa saya bantu. " Ujar Erna.
" Bisa Bi, saya dirumah juga sering masak. " Saut Erna .
" Wah kamu rajin juga ya di rumah. " Ujar Bi Sumi.
Bu Ririn kembali ke ruang TV untuk memberikan cemilan yang ia buat untuk Dinda, Erna pun segera menyelesaikan tugasnya membantu Bi Sumi.
Malam telah tiba kini waktunya Erna menyiapkan makanannya dimeja, Pak Damar, Bu Ririn dan Dinda pun segera menuju ke meja makan, Erna melayani majikannya dengan baik, Respon Bu Ririn sangat bagus namun beda dengan Pak Damar yang seakan akan acuh dengan keberadaan Erna disitu.
Setelah Keluarga Pak Damar selesai makan kini waktunya Erna dan Bi Sumi makan, Namun ketika Erna hendak memakan sesuap nasi ia kembali meneteskan air mata, ya dia teringat dengan orang tuanya memikirkan mereka apakah mereka disana sudah makan, dan bagaimana keadaan mereka disana apalagi ibunya.
Bi Sumi yang melihat Erna mengusap air matanya pun bingung ada apakah dengan Erna ini.
" Erna, kamu kenapa neng? kenapa kamu menangis? Bibi ada salah ya sama kamu? " Tanya Bi Sumi yang kebingungan.
" Tidak bi, tidak apa apa saya hanya teringat keluarga saya yang dirumah saja. " Ujar Erna mecoba menjawabnya dengan senyuman.
__ADS_1
" Memangnya ada apa dengan keluarga kamu? apakah keluarga kamu baik baik saja? " Tanya Bi Sumi yang semakin penasaran.
" Tidak bi, keluarga saya baik baik saja, saya hanya rindu saja dengan mereka karena sebelumnya saya belum pernah jauh dari orang tua saya. " Saut Erna yang mencoba menutupinya.
" Ya sudah kalau begitu, sudah kamu makan saja dulu keluarga kamu akan baik baik saja. " Ujar Bi Sumi.
Sehabis makan malam Erna menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu sebelum beristirahat.
Erna telah menyelesaikan tugasnya, kini waktunya ia beristirahat di kamar, setibanya dikamar Erna membuka telepon genggamnya, ia membuka galeri dan melihat foto kebersamaannya dengan keluarganya, air mata Erna tak mampu terbendung lagi, ia tidak bisa jauh dari kedua orang tuanya apalagi dengan kondisi seperti itu.
" Pak Buk, bagaimana keadaan kalian disana? apakah kalian baik baik saja? " Gumamnya sambil mengusap usap foto orang tuanya itu.
Air mata Erna terus berjatuhan hingga mengenai ponselnya, saat ini orang Pak Edo dan Bu Siti tidak mempunyai ponsel sama sekali, makannya Erna bingung bagaimana ia mengetahui keadaan orang tuanya sedangkan untuk telfon saja dia kesusahan.
Erna terus memandangi foto tersebut hingga ia. tertidur dalam tangisnya.
Suara alarm telah berbunyi menunjukkan hari sudah pagi, Erna segera bangun untuk melakukan pekerjaannya, Bi Sumi ternyata tengah memasak di dapur, Mereka pun bagi tugas, Bi Sumi yang memasak dan Erna yang membersihkan rumah.
Setelah keluarga Pak Damar selesai sarapan, Bu Ririn meminta Erna untuk mengantar Dinda ke sekolah, Karena Bu Ririn akan meeting dikantor pagi ini bersama pak Damar.
Erna dan Dinda berangkat ke sekolah diantarkan oleh supir pribadi keluarga Pak Damar, Namanya Anton, Anton adalah anak rantauan dari desa, dia baru berumur 27tahun jauh diatas umur Erna, Anton ini sudah dua tahun bekerja dirumah Pak Damar.
Diperjalanan menuju sekolahan Anton membuka obrolan terlebih dahulu.
" Mbak Erna, asalnya dari mana? " Tanya Anton kepada Erna, karena mereka sebelumnya telah diperkenalkan oleh Bu Ririn.
" Saya berasal dari Desa Sebrang mas. " Jawab Erna.
" Oh, pantesan saya belum pernah lihat kamu. " Ujar Anton.
" Om Anton, Mbak Erna cantik kan? " Gurau Dinda.
" Ah Non Dinda ini bisa saja. " Ujar Erna yang malu malu kucing.
Akhirnya mereka sampai disekolahan Dinda, Erna mengantarkan Dinda kedalam, dan segera kembali ke mobil untuk pulang dan menyelesaikan tugasnya dirumah.
__ADS_1