
Anton melihat Erna melamun dengan wajah yang begitu tertekan, Anton tidak teha melihat Erna seperti ini.
" Erna. " Panggil Anton, tapi Erna tidak mendengar suara Anton dan masih melamun.
" Ernaaa. " Panggil Anton kembali dengan nada yang lebih tinggi.
" Eh, iya Mas, kenapa? " Jawab Dinda kaget.
" Kamu lagi mikirin apaan sampai melamun gitu? " Tanya Anton.
" Emm, tidak mikirin apa apa kok Mas. "
" Alah kamu nggak usah bohong, mana mungkin nggak mikirin apa apa kalau sampai melamun seperti itu. "
" Beneran Mas, memang nggak mikirin apa apa. "
" Yakin? "
" Yakin Mas. " Jawab Dinda untuk meyakinkan.
" Nanti kalau ada apa apa kamu cerita ya, jangan di pendem sendiri. "
" Iya Mas, makasih ya. "
" Iya sama sama. "
" Yaudah yuk kita masuk lihat keadaan Dinda. " Ajak Anton.
" Yuk. " Seru Dinda.
Sesampainya di dalam Erna dan Anton melihat Bu Ririn dengan wajah yang begitu sedih, air matanya membasahi pipinya, Erna pun semakin merasa bersalah saat melihat seorang Ibu yang rapuh melihat anaknya yang terbaring lemah, Erna pun mendekati Bu Ririn.
" Buk, ibuk yang sabar ya, Non Dinda pasti bisa. lewatin masa kritisnya. " Ujar Dinda.
" Makasih ya Er. " Jawab Bu Ririn.
" Ibu jangan sedih terus ya Buk, ibu harus kuat biar Dinda juga kuat melewati ini. " Ujar Anton m
" Iya Nton, ibu sedang berusaha untuk kuat dan semangat demi kesembuhan Dinda. "
" Ibu sudah makan? " Tanya Erna.
Bu Ririn pun hanya menggelengkan kepalanya, yang bertanda bahwa ia belum makan.
" Erna belikan makanan dulu ya buk? "
" Tidak usah Er, lagian saya juga tidak lapar kok. "
" Nanti kalau Ibu tidak makan kalau ibu sakit bagaimana? siapa yang mau merawat Dinda? "
" Tidak kok, tidak apa apa. "
" Buk, yang dibilang Erna itu benar, lebih baik ibu makan dulu, ibu juga harus pikirin kesehatan ibu. " Ujar Anton.
__ADS_1
Bu Ririn hanya terdiam dan melihat Dinda dengan mata yang berkaca kaca.
" Makan dulu ya buk? " Sambung Erna.
" Ya sudah, sekalian belikan untuk Bapak ya, Bapak juga belum makan tadi. " Jawab Bu Ririn.
" Baik Bu, kami permisi dulu ya. "
Mereka pun langsung keluar mencari restoran terdekat dari rumah sakit.
Sepanjang perjalanan Erna hanya terdiam tanpa sepatah kata pun, Anton semakin penasaran dengan apa yang terjadi dengan Erna sebelum bekerja disini, namun Anton tak berani bertanya takut kalau akan menyinggung perasaan Erna, Anton hanya menunggu hingga saatnya Erna mau bercerita dengannya.
" Erna, kamu kenapa diam saja? " Tanya Anton.
" Tidak apa apa Mas. " Jawab Erna.
" Ah tidak mungkin orang dari tadi kamu itu melamun, diam saja, mana mungkin kalau tidak memikirkan sesuatu. "
" Aku cuma mikirin Dinda aja Mas, aku juga merasa bersalah. "
" Aku rasa semenjak kamu bicara sama Pak Damar tadi kamu jadi lebih banyak diamnya, memangnya tadi Pak Damar ngomong apa aja sama kamu? " Tanya Anton yang pura pura tidak tahu dan berharap Erna mau bercerita dengannya.
" Mas Anton sok tau banget sih, nggak kok Pak Damar nggak ngomong apa apa sama aku, ya seperti yang aku bilang ke Bu Ririn tadi, Pak Damar hanya mengingatkan aku supaya lebih hati hati menjaga Dinda, udah itu aja. "
" Kamu itu kayaknya ada yang kamu sembunyiin dari aku. "
" Nyembunyiin apaan sih Mas, aku nggak ada nyembunyiin apa apa kok dari kamu. "
" Kamu jangan bohong Erna, kamu itu kalau ada apa apa tolong cerita sama aku, aku nggak tega lihat kamu seperti ini. "
" Kamu tau nggak sih kalau aku itu sayang sama kamu. " Anton keceplosan dengan perasaannya kepada Erna karena emosi Erna benar benar tidak mau cerita.
" Hah? maksud kamu Mas? " Tanya Erna yang mulai kebingungan.
" E, e, Maksud akuu, yaaa aku sayang sama kamu karena kita udah lama kenal gitu loh. " Jawab Anton panik.
" Oh kirain apaan Mas. "
" Hehe, enggak kok. " Jawab Anton dengan muka merah.
Anton sebenarnya ingin sekali segera mengungkapkan perasaannya kepada Erna, namun belum mendapatkan saat yang tepat untuk mengutarakan isi hatinya.
Selesai membeli makanan mereka segera kembali ke rumah sakit, dan Pak Damar pun sudah kembali ke ruangan UGD menemani Dinda dan Bu Ririn.
" Pak, Buk, ini makanannya, silahkan dimakan dulu. " Ujar Erna sambil menaruh makanan di Meja.
" Ya, taroh disitu saja Er, nanti kami makan. " Jawab Bu Ririn.
" Sok manis sekali gadis ini. " Gerutu Pak Damar dalam hatinya.
" Oiya, kalian kalau mau pulang dulu, pulang saja, nanti kalau saya butuh bantuan saya akan kabari kalian. " Ujar Bu Ririn.
" Tidak apa apa Buk kalau kami pulang? " Tanya Erna.
__ADS_1
" Tidak apa apa, sudah sana kalian pulang dulu. "
" Nanti kalau Ibu mau pulang telfon saya saja ya buk nanti saya jemput. " Ujar Anton.
" Iya. " Jawab Bu Ririn.
" Kalau gitu kami pulang dulu ya Pak Buk. " Ujar Anton dan Erna berpamitan untuk pulang.
Setelah itu mereka kembali pulang ke rumah, di sepanjang perjalanan hati Anton tidak tenang karena ia sempat keceplosan mengatakan bahwa ia sayang kepada Erna, walaupun ia sudah beralasan bahwa itu hanya rasa sayang biasa tapi tetap saja membuatnya menjadi Canggung kepada Erna.
" Mas Anton tumben diem aja? " Tanya Erna.
" Oh, nggak apa apa cuma lagi fokus nyetir aja Er. " Jawab Anton.
" Oh yaudah kirain marah sama aku. "
" Enggak lah, lagian juga ngapain aku marah sama kamu. "
" Ya siapa tau, kamu kan tukang ngambek haha. "
" Ih, sok tau lu. "
" Hahaha kan emang gitu faktanya. "
" Dasar Bocil sok tau. "
" Biarin wlee. " Jawab Erna sambil menjulurkan lidahnya mengejek Anton.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di rumah, Bi Sumi yang mendengar suara mobil pun ribut segera keluar untuk menanyakan keadaan Dinda.
" Kalian sudah pulang? bagaimana keadaan Non Dinda? " Tanya Bi Sumi.
" Dinda kritis Bi, dia masih di ruang UGD. " Jawab Anton.
" Ya tuhan kasihan sekali Non Dinda. "
" Iya Bi, saya juga tidak tega melihat Non Dinda seperti itu, ini semua karena saya Bi, saya yang tidak bisa menjaga Non Dinda, sampai Non Dinda seperti ini. " Sambung Erna.
" Ini semua bukan salah kamu, ini semua itu memang sudah takdirnya, jadi kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri, lagi pula tidak ada yang mau kalau ditawarin musibah kaya gini. " Jawab Bi Sumi dengan halus.
" Hemm, iya Bi, saya masuk ke kamar dulu ya Bi, Mas. " Ujar Erna yang mungkin lelah.
Tanpa kata lagi Erna pun langsung berjalan menuju kamarnya, Bi Sumi pun heran dengan sikap Erna seperti itu, dan di tambah wajah Erna yang murung.
" Mas, itu si Erna kenapa kaya gitu ya? " Tanya Bi Sumi kepada Anton.
" Jadi tadi itu Pak Damar sempat menyalahkan Erna atas apa yang menimpa Dinda Bi, dan setelah itu Erna terus menyalahkan dirinya sendiri. " Jawab Anton.
" Seharusnya Pak Damar tidak boleh menyalahkan Erna seperti itu, Erna juga sudah menjaga dan merawat Dinda dengan baik, seharusnya tidak boleh begitu. "
" Iya Bi, saya juga sempat membantah Pak Damar, tapi Pak Damar malah balik memarahi saya Bi. "
" Memang seperti itu sifatnya Pak Damar, ia adalah seorang yang keras kepala, jadi susah mau dibilangin seperti apapun. "
__ADS_1
" Iya Bi bener banget. "