
Karena Daniel terjatuh dan tangannya terluka, jadi Pak Damar memutuskan agar Anton mengemudikan mobil Daniel.
Sebenarnya Anton sangat kesal satu mobil dengan Daniel dan Erna, namun bagaimana lagi saat ini posisi Anton hanyalah seorang supir, jadi ia harus menuruti perintah majikannya.
Setelah selesai mengemasi semua barang mereka langsung berangkat pulang, Dinda satu mobil dengan kedua orang tuanya, sedangkan Erna satu mobil dengan Anton dan Daniel.
Anton duduk di kursi depan, sedangkan Erna dan Daniel duduk di kursi belakang, Anton sangat tidak suka melihat mereka duduk berdampingan, hingga membuat Anton tidak fokus menyetir.
Ke tidak fokusan Anton dalam menyetir tak sengaja ia hampir menabrak kendaraan yang ada di depannya, spontan Anton langsung membanting stang untuk menghindari kendaraan tersebut, karena Anton membanting stang tadi membuat Erna dan Daniel tak sengaja berpelukan dan mereka pun saling bertatapan.
Anton yang terkejut melihat itu langsung menginjak rem secara mendadak, dan membuat Erna terbentur ke kursi depannya.
" Kamu ini bisa nyetir apa tidak? " Bentak Daniel.
" Maaf Mas Daniel, saya tidak sengaja tadi. " Jawab Anton.
" Tidak sengaja, tidak sengaja, kamu tidak lihat ini kepala Erna jadi memar seperti ini? " Ujar Daniel sambil menunjuk kening Erna yang memar.
" Erna, maafin saya ya, saya tidak sengaja. " Ujar Anton yang meminta maaf kepada Erna.
" Iya Mas, tidak apa apa kok. " Jawab Erna sambil mengusap usap keningnya yang memar.
" Makannya kalau nyetir itu yang fokus! " Ucap Daniel dengan nada tinggi.
" Baik Mas. " Jawab Anton.
" Ahh, Sial! " Gerutu Anton dalam hatinya.
" Kamu tidak apa apa Erna? " Tanya Daniel kepada Erna.
" Tidak Pak, tidak apa apa. " Jawab Erna.
" Mana coba lukanya saya lihat. " Ujar Daniel sambil membuka rambut poni Erna yang menutupi keningnya.
Wajah Erna dan Daniel berjarak begitu dekat, hingga membuat jantung Erna tidak karuan, begitu juga dengan Daniel yang merasakan perasaan yang sama dengan Erna.
" Sial! ini jantung kenapa sih. " Gumam Daniel dalam hatinya.
" Ya ampun, jatungku. " Gerutu Erna dalam hati.
" Uhuk uhukk." Suara batuk kecil Anton untuk memecahkan suasana.
__ADS_1
Erna dan Daniel yang kaget karena batuk Anton langsung memalingkan wajah mereka masing masing, Daniel pun nampak salah tingkah, begitu juga dengan Erna, Anton yang melihat itu kecemburuannya semakin membara, ia lantas mengemudi kan mobilnya dengan kencang supaya cepat sampai rumah.
Sesampainya dirumah wajah anton telihat sangat kesal sekali, tapi Erna tidak peka akan hal itu, sehingga Erna tidak menghiraukan mengapa Anton bisa begitu raut wajahnya.
Daniel masuk ke dalam rumah lebih dulu dari pada Erna, sedangkan Anton dan Erna membantu menurunkan barang barang dari mobil ke rumah, selesai memindahkan barang Erna segera membuatkan segelas kopi untuk Anton.
" Mas Anton, ini saya bikinin kopi buat Mas Anton. " Ujar Erna sambil menyodorkan segelas kopi kepada Anton.
" Wahhh, Makasih loh Erna, kamu ini tau saja kalau saya lagi pengen kopi. " Jawab anton sembari senyum senyum menerima kopi buatan Erna.
" Hehe iya dong Mas, ya sudah di minum dulu kopinya, nanti keburu dingin. "
" Iya, saya minum ya. "
Erna menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
" Sruupppp.. " Suara Anton menyeruput segelas kopi yang sangat ia nikmati.
" Wahh, kopi bikinan kamu enak sekali Na. " Ujar Anton memuji Erna.
" Ah, Mas Anton ini bisa saja, orang juga sama seperti kopi biasanya. "
" Hehe, Mas Anton ini ada ada saja. " Jawab Erna yang tersenyum bahagia.
" Apalagi kalau minumnya sambil mandangin kamu kaya gini, behhhh seger banget hahaha. " Gurau Anton yang tertawa lepas sambil mengode Erna.
" Apaan sih Mas Anton ini, ya sudah Mas aku mau masuk dulu mau beres beres. " Ujar Erna yang pipinya mulai merah.
" Ya sudah sana. " Jawab Anton.
Erna pun segera masuk dan menyelesaikan pekerjaannya.
Malam telah tiba, kini waktunya Erna untuk membantu Bi Sumi memasak dan mempersiapkan makan malam untuk keluarga Pak Damar.
Erna masih kepikiran dengan kejadian tadi siang, ia memandang wajah Daniel begitu dekat, dan tangan halus Daniel yang mengusap kening Erna, membuat Erna tidak bisa lupa akan hal itu, Erna yang melamun menjadi senyum senyum sendiri mengigat kejadian itu.
Bi Sumi yang melihat Erna senyum senyum sendiri pun mulai keheranan.
" Erna, kamu kenapa senyum senyum sendiri, kelihatannya lagi bahagia banget nih. " Ujar Bi Sumi.
" Ha, apa Bi? " Jawab Erna yang terlalu fokus melamun hingga tidak mendengarkan ucapan Bi Sumi.
__ADS_1
" Tuh kan, begini nih kalau anak muda ngelamun. "
" Hehehe, iya iya Bi Maaf, Bibi ngomong apa tadi? Erna tidak dengar. "
" Kamu kenapa senyum senyum sendiri? kelihatannya lagi bahagia banget. " Ujar Bi Sumi yang mengulang pertanyaannya.
" Ohh, tidak kok Bi, Erna tidak kenapa kenapa, mungkin emang lagi pengen senyum kali Bi. "
" Ah mana ada, kayanya ada yang lagi jatuh cinta nih, hayo jatuh cinta sama siapa? "
" Hah? Jatuh cinta? sama siapa Bi, ah Bibi ini ada ada saja. "
" Ya siapa tau, namanya juga anak muda. "
" Ih beneran Bi, Erna nggak lagi jatuh cinta. "
" Yakin nih nggak mau cerita sama Bibi? "
" Hehe, tidak Bibi, lain kali saja. "
Setelah selesai memasak, Erna dan Bi Sumi segera menyiapkannya di meja makan, semua keluarga Pak Damar pun sudah turun termasuk Daniel.
Dinda yang saat itu ikut turun, minta untuk di suapin sama Erna, dan Erna pun menuruti permintaan Dinda.
" Mbak Erna, suapin Dinda yuuuk, Dinda pengen di suapin sama Mbak Erna lagi. " Ujar Dinda si gadis kecil.
" Apaan si Dinda manja banget, udah gede juga masih minta di suapin, seperti bayi saja. " Ujar Daniel.
" Biarin Wleee. " Jawab Dinda yang mengejek kakaknya dengan menjulurkan lidahnya.
" Daniel, biarin kenapa sih, kan Dinda baru mau sembuh. " Ujar Bu Ririn.
" Iya iya, nanti biar keterusan jadi manja. " Ucap Daniel.
" Udah diem, yang penting adekmu mau makan dulu, biar cepet sehat. "
Erna pun segera mengambilkan makanan untuk Dinda, dan menyuapinya.
Dinda nampak lahap sekali di suapin Erna, Pak Damar yang awalnya acuh dengan kehadiran Erna kini mulai memperhatikan Erna, Pak Damar senang karena putrinya bisa se dekat itu dengan Erna, dan Dinda begitu terlihat nyaman sekali saat dekat dengan Erna.
Singkat cerita, pagi ini adalah waktunya Daniel untuk kembali ke kota, sebenarnya Daniel lebih nyaman disini dari pada di rumahnya sendiri, Daniel nampak malas sekali untuk pulang, namun ia juga harus segera melaksanakan tugasnya di kantor, jadi mau tak mau ia harus segera pulang.
__ADS_1