
Akhirnya Erna mau untuk dibawa ke rumah sakit dan diantar oleh Anton, setelah sampai rumah sakit Erna langsung di periksa oleh dokter, disitu Erna di diagnosa sakit asam lambung.
Ketika Dokter sedang memeriksa Erna, Anton yang sudah khawatir tidak sabar untuk mengetahui sebenarnya Erna ini sakit apa.
" Dok, bagaimana hasilnya? " Tanya Anton yang panik.
" Sebentar ya saya periksa dulu. " Jawab Dokter.
" Mba Erna ini sepertinya terkena asam lambung Mas. " Sambung Dokter.
" Hah? Asam lambung Dok? kok bisa? " Tanya Anton kembali.
" Mungkin bisa saja Mbak Erna ini telat makan, kurang tidur kecapean. " Jawab Dokter.
" Nah untuk Mbak Erna, Mbak Erna tidak boleh kecapean ya, tidak boleh telat makan, istirahat yang cukup dan dijaga pola makannya ya Mbak, dan jangan banyak pikiran ya Mbak ya? " Ujar Dokter kepada Erna.
" Baik Dok, terimakasih ya Dok. " Jawab Erna.
" Baik Mbak, semoga cepat sembuh ya, dan jangan lupa minum obatnya. " Ujar Dokter kembali.
" Baik Dok. "
Anton segera membantu Erna keluar dadi ruang periksa, tubuh Erna yang masih terlihat lemah, membuat Anton semakin tak tega melihatnya.
" Kamu kuat jalan nggak? kalau udah nggak kuat aku gendong saja sini. " Ujar Anton sambil menepuk pundaknya.
" Ah, Mas Anton lebay banget, aku kuat kok, masak udah gede mau di gendong kan malu Mas. " Jawab Erna.
" Lho ya nggak apa apa lah, namanya juga orang sakit. "
" Nggak mau ah mau jalan kaki saja. "
" Ya sudah tapi jangan pingsan lagi loh, nanti aku yang bingung. "
" Iya iya Mas, bawel banget sih. "
" Ih udah di tolongin malah ngatain bawel lagi, dasar bocah tengil. " Jawab Anton sambil mencoba menghibur Erna.
" Ih bocah bocah, aku ini udah gede lah Mas, jangan di katain bocah terus dong. "
" Bocil, bocil. " Ujar Anton sambil mengusap kepala Erna.
Mereka pun bercanda dan tertawa bahagia, seperti anak kecil yang bermain dengan temannya.
Sesampainya dirumah Bi Sumi langsung menghampiri Erna dan Anton.
" Mas Anton bagaimana Erna? " Tanya Bi Sumi.
" Ini Bi, kata Dokter Erna tadi katanya sakit Asam lambung." Jawab Anton kepada Bi Sumi.
__ADS_1
" Asam lambung? kok bisa? pasti Neng Erna telat makan ya? " Tanya Bi Sumi pada Erna.
" Nggak kok Bi, Erna nggak pernah telat makan, mungkin memang lagi kecapean aja Bi. " Jawab Erna.
" Lain kali istirahat yang cukup Neng, kalau capek ya istirahat jangan terlalu dipaksa. " Nasehat Bi Sumi.
" Iya iya Bi siap. " Jawab Erna sambil tersenyum dan mengacungkan jempolnya.
Bi Sumi pun kembali melanjutkan pekerjaannya meninggalkan Anton dan Erna berdua, Erna pun ingin kembali ke kamarnya, namun saat ia mau berdiri ia merasa tubuhnya seakan masih sangat lemah, ia pun hendak terjatuh tapi Anton lebih dulu menangkapnya sehingga Erna tidak jatuh ke lantai, Mereka pun menjadi bertatapan satu sama lain, jantung Anton berdetak begitu kencang hingga dirasakan oleh Erna, yang kebetulan posisi wajah Erna dekat dengan dada Anton.
" Duh jantungku rasanya mau copot kalau di suruh mandangin Erna dari deket kaya gini. " Gumam Anton dalam hatinya.
" Ini kenapa jantung Mas Anton bisa sekencang ini yah? apa benar yang dikatakan Bi Sumi tadi? ah, mana mungkin sih Mas Anton suka sama aku, mungkin hanya perasaan ku saja. " Gerutu Erna di dalam hati.
" Kamu tidak apa apa Erna? " Tanya Anton sambil melepaskan pegangannya ditubuh Erna.
" Emm, tidak apa apa Mas, tadi cuma sedikit pusing saja. " Jawab Erna.
" Ya sudah kamu langsung istirahat saja ya biar cepat sembuh. "
" Iya Mas, kalau gitu aku tak ke kamar dulu ya Mas? "
" Iya, istirahat ya. "
" Iya iya Bawel. " Gurau Erna.
" Bocil satu ini kalau di omongin juga, nggak ada terimakasih nya sama sekali. "
Anton pun geleng geleng dengan kelakuan Erna yang masih kaya anak kecil, kepolosan Erna yang membuat Anton begitu menyukainya, parasnya yang cantik, serta keluguannya, membuat Anton semakin mengaguminya.
Malam telah tiba, kini tiba saatnya untuk makan malam, malam ini Bi Sumi melarang Erna untuk membantunya menyiapkan makan malam, tapi Erna tetap kekeh untuk membantu Bi Sumi memasak.
" Udah Neng kamu istirahat saja dulu, kamu kan masih sakit. " Ujar Bi Sumi.
" Tidak Bi, tidak apa apa Erna sudah mendingan kok ini. " Jawab Erna.
" Ya sudah kalau begitu, kamu duduk saja lihatin Bibi masak. "
" Loh kok gitu Bi?, kan disini Erna mau bantuin Bibi masak, kok malah disuruh duduk saja, kan kasian Bibi masak sendiri. "
" Lebih kasian kamu ini yang lagi sakit, nanti kalau kamu lagi motongin sayuran kalau tangan kamu kena pisau gimana? siapa yang repot? "
" Tidak apa apa Bi, Erna bisa kok. "
" Ya sudah nanti kamu bantuin bawa makanan ini ke meja saja ya, Bibi masaknya bentar lagi selesai kok. "
" Oke Bibi ku sayang hehehe. "
" Dasar anak ngeyel. "
__ADS_1
Setelah selesai masak Erna dan Bi Sumi segera membawa makanan mereka ke meja, Bu Ririn yang sejak tadi memperhatikan wajah Erna yang pucat.
" Erna, kamu lagi sakit ya? " Tanya Bu Ririn.
" Ah tidak Bu, cuma kecapekan saja. " Jawab Erna.
" Kalau kamu sakit istirahat saja dulu Na. "
" Tidak kok Bu, saya tidak apa apa. "
" Ihh Mbak Erna, nanti kalau di suntik kaya Dinda loh. " Ujar si gadis kecil.
" Hehe enggak dong kan Mbak Erna kuat. " Jawab Erna.
" Ya sudah kalau gitu, nanti kamu cepat istirahat saja biar cepat pulih ya. " Ujar Bu Ririn.
" Baik Bu. " Jawab Erna dengan lembut.
Sebelum ke kamar Erna pun makan terlebih dahulu bersama Bi Sumi di dapur, dan tak lupa meminum obat sebelum tidur.
Di keheningan malam Erna teringat, biasanya kalau ia sedang sakit seperti ini ibunya yang selalu merawatnya hingga sembuh, tapi sekarang ia harus merawat dirinya sendiri.
" Kapan aku bisa pulang? " Gumam Erna dengan isak tangisnya.
Erna mengambil foto keluarga mereka yang ditaruh diatas meja kamar Erna.
" Bapak, ibuk, kalian sedang apa? apakah kalian rindu denganku? " Gumamnya dengan mengusap foto mereka.
" Aku rindu sekali dengan kalian. " Sesekali Erna menteskan air matanya.
Erna menangis hingga ketiduran dengan memeluk foto kedua orang tuanya.
Pagi ini Bi Sumi menyiapkan sarapan sendirian karena Erna belum bangun, dan Bi Sumi tidak tega untuk membangunkannya, karena Erna sedang tidak enak badan.
" Tumben Erna jam segini belum bangun, mungkin keadaanya belum mendingan, hmm biarkan saja lah dulu, kasian dia. " Gumam Bi Sumi.
Selesai memasak Bi Sumi langsung menyiapkannya di meja makan, Pak Damar dan Bu Ririn pun turun untuk sarapan.
" Loh Bi, Erna kemana? " Tanya Bi Sumi.
" Mungkin belum bangun Nya, kan semalem tidak enak badan. " Jawab Bi Sumi.
" Wahhh, enak banget ya jam segini belum bangun, dia kira ini rumah bapaknya. " Ujar Pak Damar.
" Ah papah ini apaan sih, namanya juga orang lagi sakit pah, maklumin saja. " Saut Bu Ririn.
" Iya di maklumin, nanti lama lama jadi kebiasaan. "
" Udah lah Pah, lagian selama dia kerja disini juga nggak pernah neko neko. "
__ADS_1
" Terserah mamah aja deh. "