
Saat membuka mata Erna terkejut melihat sinar matahari di jendelanya, ia pun segera bangun dan melihat jam, ia panik karena ia bangun kesiangan dan cepat cepat beranjak dari kasurnya.
" Ya ampun kenapa aku jam segini baru bangun. " Gerutu Erna.
Sesampainya di dapur ternyata Bi Sumi sudah selesai mencuci piring yang digunakan untuk sarapan tadi.
" Bi, Bibi kenapa tidak bangunin Erna tadi? " Tanya Erna dengan nafas ngos-ngosan.
" Bibi nggak tega Neng, takut kalau masih nggak enak badan. " Jawa Bi Sumi.
" Ya tidak apa apa Bi, kan aku jadi kesiangan kaya gini, takut kalau dimarahin Bapak Bi. "
" Iya, maafin Bibi ya, ya sudah kamu cepat beresin pekerjaan kamu. "
" Baik Bi. "
Erna segera melakukan pekerjaannya, saat ia menyapu ternyata Pak Damar dan Bu Ririn mau mengantarkan Dinda ke sekolah sekalian berangkat kerja.
" Wahhh, enak ya jam segini baru bangun, kaya dirumah sendiri aja. " Ujar Pak Damar.
" Papah apaan sih Pah. " Saut Bu Ririn.
" Emm, maaf Pak semalam saya sedang tidak enak badan, jadi bangunnya agak kesiangan. " Jawab Erna dengan menundukkan kepala.
" Wahh, jawabannya gampang sekali ya. " Timpa Pak Damar.
" Pah sudah dong, namanya juga orang lagi sakit. " Bela Bu Ririn.
" Kamu ini apaan sih Mah, malah belain orang lain, dia ini disini siapa Mah?, dia ini disini cuma pembantu! " Ujar Pak Damar dengan ketus.
" Sudah sudah, Erna kamu kembali ke belakang saja. " Perintah Bu Ririn.
" Baik Bu, saya permisi. " Jawab Erna dan segera kembali ke dapur.
" Papah jangan gitu dong, kasian Erna. " Ujar Bu Ririn kepada Pak Damar.
" Iya, Papah kok marahin Mbak Erna sih Pah? " Ujar Dinda kepada papanya.
" Sudah, ayo kita berangkat. " Saut Pak Damar tanpa menjawab pertanyaan mereka.
Sesampainya Erna di dapur ia pun menangis, Bi Sumi yang tadinya sedang membersihkan dapur pun menghampiri Erna karena mendengar isak tangisnya.
" Lohh Erna, kamu kenapa menangis? " Tanya Bi Sumi dan duduk di samping Erna.
" Tadi saya di marahin sama Bapak Bi, hikshiks. " Jawab Erna dengan menangis.
" Kenapa, kok Bapak bisa sampai marahin kamu? "
" Karena tadi saya bangun kesiangan Bi. "
" Ya sudah tidak perlu diambil hati, mungkin Bapak lagi banyak pikiran dikantor jadi kaya gitu, udah ya nggak usah nangis lagi. "
" Iya Bi. "
" Kamu sarapan dulu gih biar cepet pulih. "
" Makasih ya Bi, udah selalu baik sama saya. "
__ADS_1
" Iya Neng, kamu itu sudah Bibi anggap sebagai anak sendiri. " Ujar Bi Sumi sambil memeluk Erna.
Ketika Bi Sumi memeluk Erna, justru tangis Erna semakin menjadi jadi.
" Lohhh, kamu kenapa malah nangis lagi? "
" Aku jadi kangen sama Ibu saya Bi, rasanya ingin sekali dipeluk kedua orang tua saya. "
" Hmm, kamu yang sabar dulu ya Neng, kamu disini masih berjuang buat mereka, doakan saja semoga mereka disana baik baik saja. "
" Rasanya ingin sekali pulang Bi. "
" Iya Bibi faham dengan apa yang kamu rasakan, jauh dari keluarga, tidak punya tempat untuk bersandar, tapi kamu harus ingat tujuan kamu kerja disini untuk apa, dan kamu jangan pernah merasa sendiri disini, disini ada Bibi, Bibi sudah menanggap kamu sebagai anak Bibi sendiri, dan anggap saja Bibi ini sebagai ibu kamu. "
" Makasih banget ya Bi, Bibi udah baik banget sama saya disini. "
" Lohhh, ini kenapa pada nangis kaya gini? " Tanya Anton yang tiba tiba berada di dapur.
" Emm, emm, nggak kenapa kenapa kok Mas. " Jawab Erna sambil mengusap air matanya.
" Ah bohong! " Ketus Anton.
" Bi, ini ada apa? " Tanya Anton kembali kepada Bi Sumi.
" Ini tadi Erna dimarahin sama Pak Damar karena bangun kesiangan, dan juga Erna rindu sekali dengan keluarganya. "
" Apa apaan sih Pak Damar ini, kan Erna juga lagi sakitkan? kok nggak ngertiin gitu. " Ujar Anton.
" Emang kamu nggak bilang Na kalau kamu itu sakit? " Sambung Anton.
" Sudah Mas, aku udah bilang kalau sedang tidak enak badan, tapi aku juga kok Mas yang salah. " Jawab Erna.
" Iya Mas. "
" Kalau kamu kangen dengan keluarga kamu, coba kamu minta cuti sama Bu Ririn, siapa tau dikasih izin. " Ujar Anton memberi saran.
" Emm, aku nggak berani Mas, takut kalau Bapak marah, apalagi aku disini belum lama. "
" Ya namanya orang nyoba, kan nggak tau nanti, yang penting kamu coba ngomong aja gitu baik baik. "
" Emm, iya Mas, makasih ya sarannya. "
" Iya sama saka, udah nggak usah nangis lagi, kita semua yang ada disini juga seperti keluarga kamu kok. "
" Kalian baik banget sama aku. " Ujar Erna yang terharu dengan sikap Bi Sumi dan Anton.
" Kamu kalau nangis kaya gini udah kaya bocil aja. " Gurau Anton.
" Ih Mas Anton apaan sih. "
" Bi, tuh Mas Anton gitu sama aku. " Ujar Erna yang mengadu kepada Bi Sumi.
" Dasar anak muda. " Saut Bi Sumi.
Siang ini Dinda sudah pulang sekolah dijemput oleh Anton, Erna pun menghampiri Dinda dikamar untuk mengajaknya makan siang.
" Non, Non Dinda, ayo makan dulu. " Ujar Erna.
__ADS_1
" Iya Mbak sebentar. " Jawab Dinda.
Tak lama kemudian Dinda keluar dari kamarnya.
" Mbak Erna, Mbak Erna, yukk main. " Ujar Dinda.
" Hemm, main apa cantik? " Tanya Erna.
" Emm, apa ya??? bagaimana kalo main kejar kejaran? "
" Hemm, Oke siap. " Jawab Erna.
Mereka pun bermain lari-larian berdua, namun tak sengaja ketika Dinda dan Erna sedang bermain, Dinda yang hendak menuruni anak tangga sambil berlari ternyata malah terpeleset di tangga tersebut hingga membuat kepala Erna terluka.
" Aaaaaaa... " Teriak Dinda.
" Nooonnnnn... " Teriak Erna yang kaget.
Dinda terpeleset ditangga hingga terguling guling, dan Dinda pun pingsan karena kepalanya terbentur tembok.
Erna pun langsung lari turun untuk menolong Dinda, Erna pun menangis melihat keadaan Dinda.
" Nonnn, bangun Non. " Ujar Erna sambil memangku kepala Dinda.
" Non, banguuunnn hiks hiks. "
Erna menepuk-nepuk pipi Dinda dengan pelan, dan berharap Dinda tersadar, namun Dinda tak kunjung sadar, dan membuat Erna semakin bingung dan panik.
" Tolooonggg, tolooooonnngg! " Teriak Erna meminta pertolongan.
" Biii, Bi Sumiii, Mas Antoooonn! "
Anton yang berada di halaman rumah pun mendengar suara orang minta tolong.
" Kaya ada yang minta tolong, siapa ya? " Gumam Anton.
Dan Anton pun mengecek ke dalam.
Bi Sumi yang sedang menjemur baju dibelakang rumah pun juga mendengar teriakan Erna minta tolong.
" Seperti suara Erna minta tolong, Ya Tuhaaannn ada apa ini? " Ujar Bi Sumi dan segera menghampiri suara Erna.
" Erna, Ernaa, kamu dimana? " Teriak Anton.
" Disini Mas, di tangga. " Suara Erna yang terdengar sambil menangis.
" Kamu ke... Ya Tuhaannn, Dindaa! " Ujar Anton yang terkejut melihat Dinda tergeletak tak berdaya dan mengeluarkan darah dari kepalanya.
Bi Sumi yang mencari sumber suara Erna pun mendengar keramaian suara Erna dan Anton dekat tangga, Bi Sumi pun segera menghampirinya, dan.
" Ada apa ini? Astaga Non Dinda!! " Teriak Bi Sumi.
" Ini Dinda kenapa, kenapa bisa kaya gini? " Tanya Anton dan Bi Sumi kepada Erna.
" Tadi Dinda terpeleset Bi, Mas. "
" Ya sudah yang penting kita bawa dulu Dinda kerumah sakit, nanti Erna bisa cerita disana, yang penting sekarang keadannya Dinda.
__ADS_1
" Iya Mas. " Jawab Erna.