
Beberapa minggu Erna dirumah Pak Damar, Erna begitu merindukan kedua orang tuanya, Erna hanya bisa berdoa semoga tuhan melindungi kedua orang tuanya.
Malam ini Erna menangis menahan rindunya, namun ia hanya bisa melihat foto mereka dalam ponselnya, karena kemarin ponsel Pak Edo juga ikut terjual untuk tambah biaya sewaktu Bu Siti dirumah sakit, Erna tidak tahu harus bagaimana, ia hanya bisa memendam rasa sakit rindunya itu tanpa ia ceritakan ke siapa pun.
Karena kamar Erna dan kamar Bi Sumi dampingan, tak sengaja Bi Sumi mendengar sesegukan tangis Erna, Bi Sumi yang takut terjadi sesuatu pada Erna pun segera mengecek ke kamar Erna, namun disana Bi Sumi melihat Erna yang sedang melamun dan menangis, Bi Sumi lantas menghampiri Erna, Erna pun terkaget dengan kedatangan Bi Sumi yang tiba-tiba berada di kamarnya, ya karena memang pintu kamar Erna tidak pernah dikunci.
" Erna, kamu kenapa tengah malam begini menangis? " Tanya Bi Sumi sambil mengusap pundak Erna agar ia lebih tenang.
" Emmm, tidak apa apa Bi, Erna hanya mimpi buruk saja kok. " Ujar Erna yang berbohong.
" Ah tidak mungkin, masak kalau cuma karena mimpi buruk kamu nangis sampe sesegukan seperti ini. "
" Iya Bi, beneran Erna tidak apa apa. "
" Sudah cerita saja, barangkali Bibi bisa membantu kamu. "
" Tidak Bi, tidak apa apa. "
" Bibi ini sudah tua nak, Bibi sudah mengalami masa muda seperti kamu, sudah banyak melewati pahit manisnya hidup, jadi ceritakan saja apa yang kamu rasakan, barangkali Bibi bisa ngasih saran atau apa biar kamu enggak memendam ini sendirian, kasian kamu. " Ujar Bi Sumi yang sedikit memaksa agar Erna bercerita.
" Tapi Bi. " Ujar Erna yang takut kalau nanti Bi Sumi bercerita kepada Pak Damar, karena sebelumnya Pak Damar telah melarang saya untuk tidak bercerita kepada siapa pun kalau ia bekerja tidak akan dibayar sepeser pun.
" Sudah tidak apa apa, Bibi tidak akan bercerita kepada siapa siapa kok. " Jawab Bi Sumi untuk meyakinkan.
" Tapi janji ya Bi? "
" Iya Neng Erna, Bibi janji kok. "
" Jadi sebenarnya saya bisa kerja disini itu bukan karena saya niat kerja Bi, tapi karena orang tua saya mempunyai hutang yang sangat besar kepada Pak Damar dan kami tidak sanggup untuk melunasinya jadi Pak Damar membawa saya untuk bekerja disini tanpa dibayar. " Ujar Erna sambil menundukkan kepalanya.
" Memang uang sebanyak itu digunakan untuk apa? " Tanya Bi sumi.
" Dulu Ibu saya sakit sakitan Bi, sampai keluar masuk rumah sakit terus, karena bapak sibuk mengurus ibu jadi bapak saya hanya bisa bekerja diwaktu luang saja, atau ketika saya pulang sekolah gantian jagain ibu, saya tidak tega Bi melihat orang tua saya seperti itu, apalagi waktu kemarin Pak Damar datang kerumah saya bersama anak buahnya, ibu saya kaget karena sebelumnya ibu juga tidak tahu kalau bapak ternyata berhutang kepada Pak Damar sebanyak itu, sekarang ibu saya jadi kumat kumatan lagi Bi, hati ini hancur ketika melihat ibu saya terbaring lemah. " Ujar Erna yang tak kuat menahan tangisnya.
__ADS_1
" Astaga, kasian sekali kamu Erna, terus kamu masih sekolah atau bagaimana? dan sekarang bagaimana keadaan ibu kamu? "
" Iya Bi, saya masih kelas 2 SMA, dan sudah mau kenaikan kelas juga, keadaan ibu kemarin waktu saya tinggal jadi drop lagi Bi, karena tidak rela kalau saya dibawa kesini."
" Malang sekali nasibmu, kamu harus merelakan masa masa remaja mu disini. "
" Ya mau bagaimana lagi Bi, mungkin ini sudah takdir hidup saya, semua ini saya lakukan semata mata hanya demi kebaikan orang tua saya Bi, saya tidak apa apa tidak sekolah, tidak apa apa kalau cita cita saya tidak tercapai, asalkan kedua orang tua saya baik baik saja. "
" Orang tua kamu beruntung memiliki anak yang berbakti seperti kamu, kamu yang sabar ya Erna ya, Bibi tidak bisa membantu apa apa, hanya bisa mendengarkan ceritamu saja. "
" Tidak apa apa Bi, begini saja sudah membuat hati saya lega. "
Hari sudah larut malam, Bi Sumi kembali ke kamarnya meninggalkan Erna, agar Erna bisa segera tidur.
Pagi hari ini Erna menyiapkan sarapan pagi, namun Dinda tidak terlihat turun untuk sarapan, hanya ada Bu Ririn dan Pak Damar saja, Erna yang kebingungan akhirnya menanyakan Dinda.
" Maaf Pak, Non Dinda kemana ya, kok tidak ikut turun untuk sarapan? " Tanya Erna kepada Pak Damar.
" Ada perlu apa kamu tanya tanya, ganggu orang sarapan saja. " Jawab Pak Damar dengan ketus.
Pak Damar nampaknya tidak menanggapi ucapan istrinya tersebut, ia sangat acuh dengan Erna, ya mungkin Pak Damar masih kesal dengan orang tua Erna karena tidak bisa membayar hutangnya.
" Dinda sedang demam Erna, nanti kamu tolong urusin Dinda dulu ya, soalnya saya harus masuk kerja hari ini, tapi nanti saya akan pulang lebih awal. " Ujar Bu Ririn.
" Baik Bu. " Jawab Erna.
Selesai sarapan Pak Damar dan Bu Ririn akan segera bergegas pergi ke kantor, sebelum berangkat Bu Ririn tidak lupa berpamitan kepada putrinya dan Erna.
" Nak mamah kerja dulu ya, nanti dirumah sama Mbak Erna. "
" Kenapa sih mamah harus kerja? kan dinda masih sakit mah. " Ucap Dinda.
" Mamah kan harus cari uang dulu buat Dinda, Nanti mamah pulang lebih awal kok, biar bisa main sama Dinda. "
__ADS_1
Dinda hanya menjawabnya dengan anggukan kepala dengan raut wajah yang sedih.
" Erna, nanti kamu jangan lupa berikan obat yang di lemari itu ya, ini Dinda demamnya belum turun, nanti kalau ada apa apa kamu segera telfon ibu ya. " Ucap Bu Ririn.
" Baik Bu. " Jawab Erna.
Bu Ririn segera meninggalkan Dinda dan Erna, Erna langsung mengambilnya sarapan untuk Dinda, dan memberiksn obat kepada Dinda, sehabis makan dan minum obat Dinda meminta Erna untuk kembli membacakan cerita dongeng dan Dinda pun tertidur.
Karena Dinda sudah tidur, Erna segera melakukan pekerjaannya dirumah sendirian, karena seperti biasa Bi Sumi selalu ke pasar setiap pagi.
" Mbak Erna, Mbak Erna. " Suara Dinda yang merintih dari kamar.
Erna pun segera lari ke kamar dinda, ketika Erna membuka pintu, Erna terkejut melihat badan Dinda yang menggigil, Erna langsung kebingungan disitu karena hanya ada dia dirumah.
" Non, kamu kenapa Non? " Tanya Erna sambil memangku kepala Dinda.
" Sakit Mbak, badan Dinda panas, kepala Dinda pusing. " Ujar dinda yang kesakitan.
Demam Dinda sangat tinggi sekali, Erna tak tega melihat keadaan Dinda, ia langsung keluar mencari bantuan, disitu dilihat Anton sedang membersihkan garasi, Erna langsung meminta tolong kepada Anton untuk mengantarkan ke rah sakit.
" Mas Anton, Mas Anton, tolong antarkan ke rumah sakit sekarang. " Pinta Erna dengan gugup.
" Loh kamu kok panik sekali, minta dianterin ke rumah sakit, memang kamu sakit? " Tanya Anton.
" Tidak Mas, bukan saya yang sakit, tapi Non Dinda yang sakit, ayo cepat bantu saya. "
" Astaga, sekarang Dinda dimana? "
" Ada di kamar Mas. "
Mereka segera berlari ke kamar Dinda, untuk segera membawa Dinda ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit Dinda langsung di masukan ke dalam UGD, mereka berdua sudah sangat panik melihat Dinda berada di UDG.
__ADS_1
Erna meminta Anton untuk segera menghubungi Bu Ririn dan Pak Damar.