Gairah Sang Pembantu Muda

Gairah Sang Pembantu Muda
Anton mencari tahu


__ADS_3

" Kalau tidak salah namanya Erna Pak, dulu kayaknya dia masih sekolah, kok sekarang malah udah bekerja dirumah Pak Damar, saya kurang faham juga Pak. " Jawab Pak Sandi.


" Oh seperti itu ya, wah kasian sekali Pak Edo ini, kalau boleh saya tahu rumahnya Pak Edo ini sebelah mana Pak? saya mau berkunjung kesana nanti kalau ada waktu. "


" Rumahnya tidak Jauh dari sini Pak, dari ladang ini nanti lurus ada perempatan nanti ambil kanan, nanti itu ada masjid, nah rumahnya itu di belakang rumah persis. "


" Oh, baik baik Pak, terimakasih atas informasinya. "


" Sepertinya Pak Heru ini ingin tau sekali informasi tentang Pak Edo. " Ujar Pak Sandi yang mulai merasa curiga dengan Anton.


" Ah tidak Pak, siapa tau Pak Edo ini adalah saudara dari orang tua saya yang dulu sempat pindah rumah Pak, namanya juga sama, wajahnya juga hampir mirip, makannya saya banyak nanya sama Bapak, karena saya ingin memastikan bahwa Pak Edo ini benar Saudara orang tua saya yang di cari atau bukan Pak. " Alasan Anton supaya lebih meyakinkan.


" Oh seperti itu ya Pak, mohon maaf ya pak kalau begitu. "


" Iya Pak tidak apa apa. "


" Jadi bagaimana Pak kelanjutan Bisnis kita? "


" Wah sepertinya saya sangat minat untuk berbisnis dengan Bapak, kalau begitu saya boleh minta nomor telfon anda Pak? nanti kelanjutannya akan saya hubungi kembali. "


" Boleh Pak. "


Setelah itu Anton pura pura menyimpan nomor Pak Sandi, dan berkata bahwa ia akan mengubungi Pak Sandi kembali.


Setelah Anton mendapat info tentang Pak Edo, Anton pun bergegas pergi dari ladang agar Pak Sandi tidak curiga dengannya.


Anton pun kemudian berjalan menuju rumah Pak Edo dengan jalan yang ditunjukkan oleh Pak Sandi tadi, sesampainya di depan Rumah belakang masjid, Anton pun terkejut melihat bangunan rumah yang amat sangat sederhana, dan ada seorang perempuan paruh baya yang duduk di depan rumah dengan badan kurus dan wajah pucat, terlihat bahwa ibu itu sedang dalam kondisi tidak sehat, wajahnya sangat mirip dengan Erna.


" Apa ini rumah Erna? dan apakah itu Ibunya Erna? " Gumam Anton.


Anton pun memberanikan diri untuk mendekati rumah itu.


" Selamat Siang Buk. " Sapa Anton kepada Bu Siti.

__ADS_1


" Selamat Siang, maaf kamu siapa ya Nak? " Tanya Bu Siti kepada Anton.


" Apakah benar ini rumah Bapak Edo? "


" Ya benar, saya istrinya, ada perlu apa? tapi suami saya sedang tidak ada di rumah. "


" Oh tidak apa apa Bu, tidak ada perlu apa apa, apakah benar ibu ini ibunya Erna? "


" Erna?, kamu ini siapa nak? apakah kamu teman anak saya? kamu kenal dengan anak saya? kamu tau dimana anak saya? " Tanya Bu Siti yang mulai bingung mengapa Anton ini bisa tau tentang Erna.


" Saya Anton Buk, saya teman Erna bekerja. "


" Benarkah itu? "


" Iya Buk, saya kesini karena saya ingin tau mengapa Erna bisa bekerja di rumah Pak Damar, karena disana Erna seperti tertekan buk, saya tidak tega melihatnya, makannya saya kemari buk. "


Belum sampai Bu Siti menjawab pertanyaan Anton, Pak Edo pun sudah Pulang, dan kebingungan melihat orang asing yang berada di rumahnya.


" Siapa laki laki itu? " Gumam Pak Edo sambil berjalan ke rumah.


" Pak cepat kemari. " Ujar Bu Siti.


" Ada apa buk? dan siapa anak muda ini? sepertinya saya tadi melihatnya berada di ladang, tapi kenapa sekarang berada di rumah ini? " Tanya Pak Edo.


" Pak ini Mas Anton namanya, dia katanya teman bekerja Erna Pak. " Jawab Bu Siti.


" Benarkah itu Nak? " Tanya Pak Edo kepada Anton.


" Benar Pak, saya Anton, saya teman kerja Erna di rumah Pak Damar, saya ini supir di rumah Pak Damar Pak. "


" Maaf Nak, ada perlu apa kamu kesini? apakah Pak Damar yang menyuruhmu ke sini? " Tanya Pak Edo yang takut kalau ini adalah anak buah Pak Damar.


" Tidak Pak, saya tidak bukan orang suruhan pak Damar, saya kesini hanya ingin mencari tahu tentang Erna Pak. " Jawab Anton.

__ADS_1


" Untuk apa kamu mencari tahu tentang anak saya? "


" Begini Pak, akhir akhir ini saya melihat Erna seperti murung terus, sepertinya ada beban yang dipikirnya, karena sebelumnya saya pernah mendengar obrolan Pak Damar dan Erna itu seperti hutang piutang Pak, dan setiap Pak Damar membicarakan itu kepada Erna, Erna langsung murung dan terlihat ia sangat tertekan bekerja di situ, maaf Pak saya hanya ingin tahu dengan masalah apa yang sedang keluarga Erna alami, bukannya saya lancang ikut campur urusan keluarga Bapak, tapi saya benar benar tidak tega melihat Erna seperti itu Pak. "


" Semua ini karena saya, saya terlalu menyusahkan anak dan suami saya, hingga membuat mereka menderita seperti ini. " Ujar Bu Siti yang merasa bersalah.


" Buk, ini semua bukan salah Ibu, ini semua salah Bapak Buk, Bapak yang tidak bisa membahagiakan kalian, dan sekarang dalam situasi seperti ini pun Bapak tidak bisa berbuat apa apa Buk, Bapak ini memang orang yang tidak berguna. " Ujar Pak Edo yang mulai menyalahkan dirinya sendiri.


Anton pun semakin di buat bingung saat melihat orang tua Erna saling menyalahkan dirinya sendiri.


" Pak, Buk, kalian jangan menyalahkan diri kalian sendiri, mungkin ini sedang menjadi ujian keluarga kalian. " Ujar Anton mencoba menenangkan.


" Saya sangat merindukan anak saya, bagaimsns saya bisa menemui anak saya? " Ujar Bu Siti.


" Untuk itu saya kurang tau Buk, karena Pak Damar juga sudah melarang untuk tidak boleh ada yang menemui Erna, tapi saya akan mencoba membantu mempertemukan Ibu dengan Erna. " Jawab Anton.


" Benarkah itu Nak? "


" Benar Buk. "


" Kamu kenapa sebaik ini kepada Erna Nak? " Tanya Pak Edo.


" Saya hanya tidak tega melihat Erna Pak, sebenarnya ada apa? dan kenapa Erna bisa sampai masuk ke rumah Pak Damar? " Tanya Amton.


Pak Edo pun kemudian menceritakan dari awal mengapa mereka bisa terlilit hutang sebanyak itu kepada Pak Damar, dan kenapa Erna bisa masuk ke kandang macan.


Setelah mendengar penjelasan dari orang tua Erna, Anton pun semakin kagum dengan bakti Erna kepada orang tuanya.


Hari sudah menjelang sore, Anton pun segera berpamitan dan kembali ke rumah Pak Damar karena takut kalau ada yang mencurigainya.


" Pak, Buk, saya pamit dulu ya, saya janji krpada kalian, bahwa saya akan mempertemukan kalian kembali. " Ujar Anton sambil berpamitan.


" Baik Nak, kami sangat berterimakasih sekali denganmu. " Ujar Pak Anton.

__ADS_1


Sepanjang jalan Anton pun memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa mempertemukan Erna dengan kedua orang tuanya, sedangkan Erna tidak pernah di izinkam untuk keluar rumah oleh Pak Damar.


" Apa pura pura ngajak Erna ke rumah sakit aja ya, biar nggak pada curiga kalau Erna pergi sama aku. " Gumam Anton.


__ADS_2