
Anton kelihatannya kurang suka kalau Erna satu mobil dengan Daniel, rasa hatinya ingin melarang Erna untuk tidak satu mobil dengan Daniel, namun ia sadar kalau dia bukan siapa siapa bagi Erna dan Anton hanya bisa memendamnya saja.
Daniel dan Erna segera berangkat ke rumah sakit dan meningalkan Anton dirumah.
Setelah Erna dan Daniel sampai di rumah sakit, Bu Ririn dan Pak Damar langsung berpamitan untuk ke kantor.
" Nak mamah sama papah berangkat ke kantor dulu ya, nanti mamah sama papah pulangnya cepet kok. " Ujar Bu Ririn sambil membelai kepala Dinda.
" Emm, beneran ya mah pulangnya cepet. " Jawab Dinda.
" Iya sayang, Mamah janji selesai kerjaannya mamah langsung pulang ke sini nemenin dinda, tapi Dinda sekarang disini sama Kak Daniel sama Mbak Erna dulu ya, tidak apa apa kan? "
" Iya Mah, tidak apa apa kok, Dinda jadi punya temen main kalau ada Mbak Erna. "
" Ya sudah kalau begitu, Papah sama mamah pamit kerja dulu ya sayang, kamu mau di belikan apa nanti kalo papah pulang? " Ujar Pak Damar.
" Apa ya Pah, Dinda jadi bingung, aku mau permen marshmello saja pah hehehe. " Jawab Dinda.
" Baiklah anak pinter nanti papah belikan. " Ujar Pak Damar sambil mengecup kening Dinda.
" Kamu jangan nakal ya nak, nanti harus mau makan sama minum obat ya? "
" Biarin Mah, nanti kalau Dinda nakal biar aku jewer kupingnya. " Sambung Daniel menggoda Adiknya.
" Tuhkan Mah, Kak Daniel begitu. " Ujar Dinda dengan bibir manyun.
" Daniel! kamu ini ya, suka banget jahilin adik kamu. " Ujar Bu Ririn yang memarahi Daniel.
__ADS_1
" Hahaha, enggak kok Kakak kan cuma becanda doang. " Jawab Daniel.
" Daniel, Erna, Kami titip Dinda dulu ya, nanti kalau ada apa apa segera hubungi kami. " Pamit Bu Ririn dan Pak Damar.
" Baik Pak, Buk. "
" Iya Mah, Pah. " Jawab Erna dan Daniel bersamaan.
Pak Damar dan Bu Ririn pun segera berangkat ke kantor, kini Daniel dan Erna hanya berdua menemani Dinda di rumah sakit, awalnya mereka hanya diam diam saja, Erna sibuk menemani Dinda bermain dan Daniel nampak sibuk dengan ponselnya.
" Kriing, kriing. " Suara nada dering ponsel Daniel.
Daniel nampak menolak panggilan itu berulang kali, mungkin dia lelah dengan ponselnya yang berbunyi terus menerus, kali ini dia mengangkat panggilan itu dan ternyata itu adalah Jessica istrinya Daniel.
" Ada apa kamu menelfon saya? kalau kamu tidak mau kesini ya sudah, buat apa saya memaksa kamu kalau kamu saja tidak perduli, saya sudah capek kalau kamu mau kesini ya silahkan kalau tidak ya terserah kamu. " Ujar Danil sambil marah marah dengan Jessica dari ponselnya.
" Iya Mas, aku tau aku salah tidak bisa ikut kamu ke buat jengukin Dinda, maafin aku Mas aku belum bisa ke sana. " Jawab Jessica.
" Kok Mas gitu sih? kamu kan tau Mas aku disini kerja. " Jawab Jessica yang pasrah.
" Ya terserah. "
Daniel menutup teleponnya, dan ia bersandar di sofa terlihat raut wajah yang marah dan kecewa dengan sikap istrinya, Dinda yang memperhatikan kakaknya juga ikut bingung, dia masih kecil belum tau dengan masalah kakaknya, Erna juga hanya mendengarkan obrolan Daniel saja, Dinda yang makin kebingungan, ia langsung menanyakan penyebab kakaknya marah marah.
" Kak Daniel, kakak kenapa sih kok marah marah seperti itu?, memangnya Kak Jessica kenapa kak? " Tanya Dinda yang mulai penasaran.
" Tidak apa apa dek, biasa kak Jessica lagi marah marah. " Jawab Daniel.
__ADS_1
" Emm marah kenapa?, pasti Kak Jessica tidak mau kesini ya kak? tidak mau jengukin Dinda ya? "
" Kan Kak Jessica nya lagi kerja dek, jadi belum bisa kesini, nanti kalo udah ada waktu pasti Kak Jessica kesini kok. "
Daniel sangat kesal dengan Jessica, hanya karena pekerjaan dia benar benar tidak mau kesini.
" Jessica memang keterlaluan, bisa bisanya dia lebih mentingin kerjaannya dari pada keluarga saya. " Gerutu Daniel dalam hatinya.
Erna tidak mau ikut campur dengan keluarga Daniel, jadi Erna lebih memilih diam dan tidak mau bertanya tentang permasalahan rumah tangga Daniel.
Daniel keluar untuk mencari udara segar, Daniel duduk di kursi taman rumah sakit dan merenung, selama 4 tahun menikah belum dikaruniai seorang anak, Daniel masih mencoba bersabar karena istrinya yang masih mengejar karirnya, setiap bangun tidur tidak pernah dimasakan oleh istrinya, Jessica yang sering pulang larut malam, yang lebih suka nongkrong Bareng temen temennya, Daniel tidak pernah membatasi semua itu, sebenarnya Daniel sudah berulang kali menyuruh Jessica agar berhenti bekerja, supaya bisa progam hamil, namun Jessica selalu menolaknya, Daniel hanya bisa pasrah, karena mau memaksa seperti apapun Jessica tidak akan mau kalau tidak atas dasar keinginannya sendiri.
Kali ini Daniel sudah muak dengan alasan Jessica, ia marah kepada Jessica dan berniat untuk tidak menghubunginya selama ia berada di rumah kedua orang tuanya, Daniel sedang menguji Jessica bagaimana kalau Daniel tidak memberinya kabar, dan Daniel ingin tahu seberapa besar rasa peduli Jessica terhadapnya.
Hari ini adalah hari ke 5 Dinda berada di rumah sakit, dan hari ini adalah kabar baik, Dokter mengatakan bahwa Dinda sudah bisa dibawa pulang hari ini, Bu Ririn dan Pak Damar sangat bahagia mendengar kabar ini begitu juga dengan Erna dan Daniel.
Karena barang barang yang akan dibawa pulang terlalu banyak jadi Pak Damar memutuskan untuk meminta Anton kerumah sakit, apalagi Pak Damar dan Bu Ririn tadi pagi tidak membawa mobil, mereka hanya membawa satu mobil milik Daniel, jadi akhirnya mereka memanggil Anton untuk menjemput mereka.
Tak lama kemudian Anton pun sampai dirumah sakit, Erna segera membantu Bu Ririn untuk mengemasi barang yang akan dibawa pulang, Ketika Daniel ke kamar mandi tak sengaja ia terpleset di dalam, dan tangannya terluka akibat goresan ujung pintu, tangan Daniel berdarah dan memar, Erna yang panik langsung mencari betadin dan tissu untuk membersihkan darah ditangan Daniel, Anton yang melihat itu sangat cemburu sekali, tapi lagi lagi Anton harus memendam rasa kecemburuan nya itu, Antok hanya bisa merelakan Erna yang begitu perhatian terhadap Daniel.
Daniel yang melihat Erna dengan sigap mengobati lukanya seakan mulai tumbuh benih benih cinta dihatinya, namun Daniel tidak mau menghiraukan rasa itu, ia terus berfikir bahwa Erna hanya berniat untuk menolongnya.
" Pak Daniel tidak apa apa? " Tanya Erna sambil membersihkan lukanya.
" Tidak apa apa gimana, kamu tidak lihat tangan saya sampai seperti ini? " Jawab Daniel dengan ketus.
" Iya Pak saya tau, saya obati dulu ya pak. " Jawab Erna dengan kalem
__ADS_1
" Dasar laki laki kulkas, udah diobatin bukannya bilang makasih malah ngomel-ngomel lagi. " Gerutu Erna dalam hatinya.
Erna segera membawa Daniel ke ruang medis agar lukanya bisa segera diobati, setelah selesai mereka kembali ke ruangan Dinda di rawat.